Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.
Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.
Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.
Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.
Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
...--------------...
"Habib. Kita mau kemana?"
Zahra terus bertanya.
Walau berjalan dengan cepat, tapi masih terasa kalau Ansell dengan begitu lembut menggenggam tangannya.
Enggan untuk menjawab, Ansell terus berjalan menarik Zahra. Sampai kini mereka berada di depan mobilnya.
"Masuk!"
Ansell dengan cepat membuka pintu mobil belakang. Mau tidak mau Zahra pun masuk ke dalam.
"Habib kita mau kemana? Kenapa Afham di tinggal."
Zahra makin heran. Apa yang akan di lakukan suaminya. Kenapa pula dia mengajaknya ke mobil tapi Afham malah di titipkan pada temannya.
Alih-alih menjawab. Ansell malah ikut masuk ke dalam, bukanya duduk di kursi kemudi, Ansell malah duduk di samping Zahra. Mengunci mobil itu agar tidak ada yang bisa mengganggunya.
Ansell dengan cepat mendorong tubuh Zahra. mengunci tubuh itu dengan kedua tangannya agar Zahra bersandar pada kursi mobil yang di dudukinya. Menatap lekat wajah Zahra dan perlahan membuka kerudungnya.
"Habib!"
Zahra terkejut, ingin bicara. Namun Ansell malah membungkam bibir itu dengan bibirnya. Mencium dan menggulum bibir Zahra dengan waktu yang cukup lama. Zahra sampai tidak bisa mengatur nafas karena tingkahnya.
"Bernafas, Dek."
Bibir berhenti, kini tangan yang beraksi. Ansell melepas ikatan rambut Zahra, sampai rambut itu tergerai jatuh mengenai pundaknya.
"Habib. Habib kenapa?"
Zahra makin heran. Dia tidak bisa menghentikan pergerakan Ansell. Setiap sentuhan Ansell terasa lebih buas tidak seperti biasanya.
"Adek masih bertanya! Ini hukuman untuk Adek."
Iya, rupanya Ansell sedang melampiaskan kekesalannya. Menggerayangi tubuh Zahra dengan sesukanya.
Bibir itu kini kembali beraksi turun ke leher jenjang Zahra. Mencium sana sini dan sesekali menggigitnya.
"Habib, sakit."
Zahra tanpa sadar mendesah. Membuat Ansell tersenyum kecil. Dan melanjutkan aksinya.
"Aku yang lebih sakit Dek. Apa Adek tahu betapa sakitnya Aku saat Adek menatap laki laki itu dengan mata ini." Bibir Ansell berpindah. Yang awalnya menggerayangi leher Zahra kini mendarat di kedua bola mata Zahra. Mengecupnya berkali kali dan kini turun ke bibirnya. "Apa Adek tahu betapa sakitnya Aku saat Adek memanggil laki laki itu dengan bibir ini." Ansell mengecup bibir Zahra. Tangannya dengan lembut merangkul tengkuknya. Menatap nya dengan sendu seolah butuh penjelasan.
Kenapa Zahra sampai seperti itu mantap Fahri. Kenapa sampai begitu terkejut saat tahu laki laki itu yang akan di jodohkan dengan Rani. Apa Zahra menyimpan perasaan padanya?
"Habib, maaf."
Zahra menunduk. Dia baru sadar kalau Ansell akan sesakit itu karena sikapnya.
Dia manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Dia salah karena tidak bisa mengendalikan keterkejutannya.
"Kenapa menunduk. Tatap mata ku! Sebenarnya siapa dia?"
Ansell menjentikkan jari telunjuknya. Mengangkat dagu Zahra agar dia kembali menatap nya.
"Dia guru ngaji ku, Bib." Zahra berucap lirih, hanya itu jawabannya.
Namun sepertinya jawaban itu tidak menjadi kepuasan bagi suaminya.
"Hanya itu? Adek tahu kan kalau kejujuran adalah landasan dalam sebuah hubungan. Adek tidak bermaksud membohongi ku kan? Aku sudah menceritakan setiap masa lalu ku. Tapi aku tidak pernah tahu seperti apa masa lalu Adek."
Ansell terus bertanya. Satu tangan yang tadinya merangkul punggung Zahra kini beralih meraih resleting depan baju Zahra dan menurunkan nya.
"Kita dulu memang pernah saling suka, Bib. Tapi itu sudah lama. Jauh saat aku masih SMA."
Zahra kembali bicara. Terkejut saat Ansell sudah setengah dada melucuti pakaiannya.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari bibir
Ansell, dia tidak terlalu terkejut. Karena sedari tadi itu yang ada dalam pikirannya.
Dari pada terus bertanya dia lebih memilih membenamkan wajah di dada istrinya.
"Habib."
Zahra kembali mendesah. Suaminya itu benar benar gencar menggerayangi tubuhnya.
Ansell memang pantas menghukumnya. Dan dia pun mengakui kesalahannya.
"Iya maaf. Maaf aku salah. Aku khilaf. Tapi bukan karena aku masih punya rasa padanya. Aku hanya terkejut saja. Terkejut karena sudah lama tidak bertemu dengan nya."
Zahra berusaha menjelaskan. Ansell memang sudah biasa menyentuhnya. Namun sentuhan kali ini berbeda karena suasana hati Ansell pun tidak seperti biasanya.
"Maaf. Habib memaafkan Aku."
Kepayahan terdengar dari suara Zahra.
Ansell pun menghentikan aktivitasnya. Dan menatap lekat istrinya.
"Jangan pernah melakukan itu lagi. Asal Adek tahu. Aku begitu takut Dek. Lelaki itu terlalu sempurna. Aku hanya butiran debu jika di bandingkan dengan nya. Aku takut Adek akan meninggalkan ku dan kembali padanya."
Ansell menatap dalam Zahra, mengeluarkan segala kegelisahannya.
Dan pengakuannya itu sukses meluluhkan hati Zahra.
"Astagfirullah. Sebesar itukah kesalahan ku sampai menyakiti suamiku. Ya Allah. Ampunilah dosaku. Sungguh aku tidak bermaksud menyakitinya."
Hati Zahra menjerit. Air matanya terjatuh. Dia ikut sakit mendengar keluhan suaminya. Dengan cepat Zahra mengulurkan tangan. Menyentuh pipi Ansell dan mengelusnya.
Tidak menyangka, tingkah yang terlihat sepele tapi berdampak besar bagi suaminya.
"Habib suamiku. Di mataku Habib begitu sempurna tidak bisa di bandingkan dengan yang lain. Jadi jangan pernah meredahkan diri Habib karena laki laki lain. Aku istri Habib. Aku makmum Habib.
Aku wanita yang akan selalu menyayangi Habib. Aku tidak akan pernah meninggalkan Habib."
Bibir Zahra sampai bergetar. Dia tidak menyangka Ansell akan sebesar itu menyayangi nya.
Kali ini bukan Ansell yang beraksi. Melainkan kedua tangan Zahra yang merangkul tengkuk Ansell dan berakhir melabuhkan bibirnya. Mencium bibir Ansell dengan waktu yang lama. Membuktikan sebesar apa kasih sayang nya.
Ciuman itu makin lama. Ansell pun sampai terbuai akan suasana yang di ciptakan Zahra.
"Dek, kenapa Adek jadi nakal. Aku tidak bisa bernafas, Sayang."
Ansell menyeringai. Hanya dengan ciuman Zahra, kekesalan nya sudah menghilang entah kemana.
"Habib tidak suka? Kalau tidak suka aku tidak akan pernah lagi melakukannya."
Zahra memalingkan wajah. Wajahnya jadi memerah. Jujur dia begitu malu saat melakukannya. Entah keberanian dari mana sampai Zahra seagresif ini mencium suaminya.
"Hei lihat sini! Siapa yang bilang aku tidak suka. Aku sangat suka. Bahkan lebih dari itu aku sangat menantikannya."
Ansell tersenyum puas. Rasanya kekesalan tadi terbayarkan saat melihat rona malu istrinya.
Bahkan saking malunya, Zahra langsung membenamkan wajah di dada bidangnya.
"Ayo keluar. Afham pasti sudah mengoceh mencari keberadaan kita."
Tidak mau hasrat makin tersulut. Ansell mengajak Zahra keluar. Perlahan meraih ikut rambut dan membantu Zahra untuk mengikat rambutnya.
Walau dia ingin terus menggoda Zahra. Tapi waktu dan tempat sangat tidak mendukung kegiatannya.
Rambut Zahra sudah terikat sempurna.
Tangan Ansell kini beralih merapihkan pakaian Zahra. Hingga bisa melihat dengan jelas bekas merah hasil gigitannya.
"Maaf. Apa ini sakit?"
Ansell kembali menunduk. Mengecup bekas merah itu dengan begitu lembut.
"Tidak apa-apa."
Zahra menunduk. Dia menjadi malu karena Ansell menjadi begitu lembut memperlakukannya.
"Sini, aku pakaian kerudungnya."
Merasa bersalah akan semua yang telah di lakukan. Ansell kini ingin membantu merapihkan pakaian Zahra. Penampilan Zahra yang a acak-acakan seperti itupun karena ulahnya.
"Tidak usah Bib aku bisa melakukan nya sendiri."
Zahra menolak. Malu karena Ansell dari tadi membantunya. Bahkan bra yang sudah copot pun, Ansell sendiri yang kembali memasangkan nya.
"Ayo."
Ansell membuka kunci mobil. Mengulurkan tangan bermaksud membantu Zahra untuk keluar bersama.
"Tunggu! Habib akan keluar dengan seperti itu."
Zahra tersenyum malu. Sepertinya karena pergulatan tadi lipstik tips yang di pakai nya berpindah ke bibir Ansell sampai sedikit belepotan di sekitar belahan bibir suaminya.
"Memangnya kenapa?"
Ansell langsung melihat penampilan bajunya. Tapi merasa tidak ada yang berubah dari sebelumnya.
"Itu. Emm." Zahra malu malu untuk menjawab. Akhirnya menyuruh Ansell untuk melihat pantulan wajahnya di kaca spion mobil di depannya.
"Akh. Ini gara gara Adek yang nakal mencium ku. Jadinya seperti ini."
Ansell menyeringai. Lagi lagi ada bahasan untuk menggoda Zahra.
Mengambil selembar tisu dan lekas membersihkan noda lipstiknya.
"Kok menyalakan ku. Kan Habib yang mulai."
Zahra berprotes manja.
Perdebatan mereka malah seperti pengantin baru yang usai melewatkan malam pertama saja.
Lupa dengan orang-orang di luar sana yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Apalagi Afham yang sudah mengoceh sana sini terus menanyakan orang tuanya.
"Om. Aka. Umie dan Abie ana? campe cekalang kok belum ada?"
Benar saja. Afham sedari tadi menanyakan Ansell dan Zahra. Terus melihat ke arah pintu mengharapkan kehadiran mereka.
"Mereka ada urusan sebentar. Jadi Afham tunggu di sini."
Raka bersuara semanis mungkin. Meyakinkan Afham agar tetap diam tidak kemana mana.
"Ulucan apa. Kenapa lama cekali?"
"Itu urusan orang dewasa. Afham tidak perlu mengetahuinya. Biar Abie bersenang senang dengan urusan nya."
Raka tersenyum lebar.
Dialah yang paling peka. Dari saat melihat ekspresi Ansell dia sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Bos nya.
"Bercenang-cenang? kok Afham tidak di ajak."
Afham kembali mengoceh. Raka sepertinya salah bicara, sampai kewalahan mendengar setiap pertanyaan Afham.
"Anak kecil diam saja. Duduk yang manis dan tunggu Umie dan Abie sampai mereka selesai dengan urusannya. Afham diam ya!"
Raka kini menyimpulkan perkataannya. Akan terus mengoceh jika Raka terus meladeni bocah kecil ini, apalagi sampai dia salah bicara.
Afham pasti tidak akan gentar terus bertanya pada nya.
...***...
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏