Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Pagi ini semuanya beraktivitas seperti biasa. Mereka sudah tidak memikirkan dengan desas-desus dan berita yang beredar. Keluarga hanya fokus untuk mencari siapa dalang dari semua ini. Dan apa tujuannya. Biarlah orang bicara apa, mereka sudah tidak peduli lagi.
Sejauh tidak menimbulkan korban jiwa, pihak keluarga masih bisa bersikap tenang. Namun tetap bergerak mencari informasi ke segala penjuru. Tak terkecuali Ran dan Rama.
Pagi itu sembari berangkat kerja, Ran berjalan dengan pendengaran yang dia pasang lebar-lebar. Siapa tahu di jalan dia mendengar sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Sekecil apapun dia selalu berusaha untuk mendapatkannya. Namun entah mengapa belum ada satupun perkataan dan perbuatan seseorang yang bisa dia jadikan acuan penyelidikan.
Contohnya Paijo, sejak kejadian hari di mana dia ke rumah, tidak sekalipun Ran bertemu dengannya. Paijo seperti hilang ditelan bumi. Bahkan pernah suatu hari Ran berangkat kerja sengaja melewati rumah Paijo. Namun sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
" Ke mana perginya si Paijo itu sih. Kenapa dia menghilang.."
Ran menggerutu sepanjang jalan. Pasalnya penyelidikannya menemui titik buntu. Fian juga belum memberi kabar sama sekali. Bara juga belum menghubunginya. Ran malu jika harus menghubungi mereka terlebih dahulu.
Tapi Ran tidak akan putus asa. dia akan terus berusaha semaksimal mungkin. Bahkan Ran berharap sosok arwah itu datang menemuinya kembali. Karena memang dua hari ini, sama sekali dia tidak mengalami kejadian yang aneh lagi.
Akhirnya Ran mempercepat langkahnya. Karena jarum jam terus berjalan dan dia harus segera bekerja. Ran juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Walaupun Yanto memberi dia uang, namun Ran tidak ingin menggunakannya. Ran menyimpannya. Siapa tahu nanti bisa digunakan dalam keadaan darurat.
Sebenarnya dia tidak ingin menerima pemberiannya tersebut, namun Yanto memaksa. Akhirnya Ran menerimanya walaupun tidak dia gunakan.
Ran tiba di tempat kerja tepat waktu. Dengan cekatan dia mengerjakan pekerjaannya. Dia ingin hari ini cepat berlalu dan cepat kembali ke rumah. Entah mengapa perasaannya kali ini merasa tidak nyaman.
Namun apa daya, hari ini malah terasa sangat lambat. Walaupun mau dipaksain seperti apapun, waktu tetap berjalan seperti adanya. Memang sudah ada aturannya, sudah diatur seperti layaknya. Tidak akan bisa dipercepat atau pun diperlambat.
Akhirnya sore hari pun tiba. Ran merasa sangat lega. Sebentar lagi dia bisa segera sampai di rumah. Ingin segera merebahkan tubuhnya di atas pembaringan yang empuk. Namun di saat dia mengambil piring kotor, Ran terkejut melihat pandangan di depan sana.
Ran melihat orang yang sangat dia kenal. Ran benar-benar tidak menyangka bisa bertemu disini.
" Bapak di sini.."
Ran mendekati orang tersebut dan menyalaminya dengan takzim.
" Lhaaa... kamu ndhuk. Kamu kerja disini. ?" Orang tersebut mengusap kepala Ran dengan penuh kasih sayang.
" Iya Pak, sudah dua Mingguan. Bapak kapan datang..? Kok bapak tidak mengunjungi aku di sana ..?"
" Bapak baru sampai. Ada urusan sedikit di sini. Nanti malam bapak mampir ke rumah. Tapi jangan bilang bapak angkat kamu kalau bapak ada di jakarta.."
" Baik pak.. Ran lanjut kerja dulu ya. Oh ya, Bapak mau minum apa..? Atau mau makan apa ? Biar Ran buatin."
" Kopi hitam saja. Makannya nanti saja ."
" Baik Pak, Ran siapin dulu ya.."
Ran berjalan kembali ke dalam stand untuk membuat secangkir kopi hitam sesuai pesanan dari Ustadz Yusuf. Ran sebenarnya sangat tidak menyangka bisa bertemu dengan sang pemilik panti itu, disini. Ada degupan aneh dalam dadanya.
Dia merasa Yusuf berbeda dengan yang dia kenal selama ini. Sepertinya ada sesuatu yang Yusuf sembunyikan. Namun Ran. tidak ingin berprasangka. Pasti saat waktunya tiba, semua akan terbuka dengan sendirinya.
Setelah mengantar kopi ke meja Yusuf , Ran melanjutkan pekerjaannya. Sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang dan sebentar lagi dia akan pulang. Ran segera menyelesaikan semua pekerjaan yang harus dia selesaikan. Agar bisa cepat pulang. Dia sudah sangat lelah ingin segera merebahkan tubuhnya.
Waktu terus bergulir, waktunya pulang telah tiba. Ran berjalan perlahan meninggalkan kios. Dia berharap bisa pulang dengan Yusuf ke rumah Yanto. Namun dia sudah tidak melihat Yusuf di tempat duduknya. Mungkin Yusuf sudah pergi.
" Bapak ke mana. Tadi bilang mau bareng ke rumah ayah. Tapi kenapa tidak ada."
Ran melihat ke sekeliling. Dia sama sekali tidak melihat satu orang pun. Lantai 3A food court ini memang sepi. Apalagi sehabis Magrib. Satu dua orang saja yang makan di tempat ini. Apalagi sekarang sudah tutup. Tidak mungkin ada orang yang berani ke mari.
"Itu siapa ya. Yang berdiri di samping tiang.."
Ran memicingkan mata. Ran melihat satu bayangan di tengah ruangan, di bawah tiang penyangga. Di tengah ruangan tersebut ada empat buah tiang besar, sebagai penyangga. Dan di salah satunya terlihat bayangan dan baju yang berkibar.
" Astaghfirullah..."
Ran terkejut ketika bayangan itu memperlihatkan wujudnya. Sesosok makhluk itu datang lagi. Perempuan berambut panjang dengan muka yang rusak. Darah menetes dari lukanya tersebut. Bau anyir dan amis darah tercium begitu santer.
Ran terpaku. Selalu begitu. Ketika sosok itu datang, Ran seperti dipaksa untuk melihat dan menatap ke arahnya. Seolah Ran harus melihat wajah yang penuh luka tersebut.
" Tooolooong.... Tooolooong.."
Walaupun ada perasaan takut, namun kali ini Ran terlihat lebih tenang. Sudah tidak gemetaran lagi. Walaupun degup jantungnya masih kenceng namun dia sudah bisa menerima penampakan tersebut.
" Apa yang bisa gue bantu..." Ran memberanikan diri untuk bertanya.
" Tooolooong saya.. Saya tidak bersalah....."
" Apa hubungannya dengan gue.." Ran menjawab lagi perkataan si makhluk tadi.
" Tooolooong... Tooolooong...."
Sosok itu terbang sambil menunjuk ke satu arah. Ran mengikuti arah yang ditunjuk sang makhluk tersebut. Dia terkejut ketika melihat suatu benda ada di atas meja. Ran mendekati meja tersebut.
" Ini apa..."
Ran menemukan sebuah bungkusan kecil . Bungkusan berwarna putih dari bahan kain, sepertinya itu adalah ksin mori. Ran mengambilnya dan mengamatinya dengan seksama. Namun Ran ragu untuk membuka bungkusan itu.
" Ini seperti kain mori. Isinya apa ya.?"
Ran membolak-balik bungkusan itu. Ingin membuka namun takut. Dia melihat ke sekeliling. Tidak terlihat satu orang pun. Dia orang terakhir yang berada di tempat tersebut.
" Ini tadi di sini tempat duduk bapak. Apa mungkin barang bapak ketinggalan.."
Ran mencoba menelaah apa yang terjadi. Dia terus mengamati benda tersebut. Dia penasaran tapi takut untuk membukanya, karena memang bukan milik dia.
" Mending gue taruh saja disini. Ga tau ini milik siapa. Nanti malah salah.."
Gumam Ran pelan. Dia mengembalikan bungkusan itu di tempatnya semula. Dan kemudian dia berjalan keluar gedung untuk segera pulang. Karena dia merasa ada hawa yang aneh dalam ruangan tersebut.
Ran mempercepat langkahnya. Dia segera masuk lift yang terlihat terbuka. Hanya ada satu orang dalam lift tersebut. Ketika pintu lift tertutup, Ran baru menyadari, orang yang di dalam lift terlihat aneh.
Seorang perempuan yang berdiri disampingnya hanya diam dan menunduk. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. Tiba-tiba bulu kuduk Ran meremang. Dia merasakan hawa yang lain di dalam lift tersebut. Ran hanya diam, namun sambil melafazkan dia dalam hati. Dia yakin yang berdiri di samping nya bukan manusia.
Lift terasa lama berjalan. Seperti tidak bergerak sama sekali. Biasanya butuh waktu 30 detik sudah sampai di lantai yang dituju. Apalagi dalam keadaan sepi begini. Tidak berhenti di lantai yang lain.
Ran tidak berani memandang sosok yang disebelah nya. Dia yakin pasti jika dia menoleh sosok tersebut akan menunjukkan wajah aslinya. Ran tidak akan siap untuk itu. Ini ada di dalam ruangan tertutup. Sungguh sangat menyeramkan baginya.
Ran terus membaca doa-doa. Dia sudah tidak tahan berada di dalam lift. Lama sekali tidak sampai juga. Namun tiba-tiba. Sosok itu mengangkat wajahnya. Wajah penuh luka terlihat sangat mengerikan. Bau anyir dan amis tercium sangat santer. Apalagi dalam jarak sedekat ini.
" Tooolooong... Hanya kamu yang bisa menolong..."
Ran hanya bisa diam sambil memandang wajah sang sosok. Selalu begitu . Di saat sosok itu muncul, seolah Ran harus memandang wajahnya. Seperti ada sesuatu pesan yang harus Ran tangkap.
" Kenapa harus gue..."
Ran merasa harus bertanya. Karena sosok tersebut selalu meminta tolong padanya. Walaupun sebenarnya takut, tapi Ran harus memberanikan diri. Karena Ran merasa ini semua ada hubungannya dengan berita yang beredar di kampungnya.
"Tooolooong... Tooolooong..."
" Baiklah... Tapi gue harus bagaimana.."
Wajah sosok itu berubah. Terlihat tidak mengerikan lagi. Walaupun masih terlihat ada luka, namun luka itu hanya luka biasa tanpa mengeluarkan darah atau pun bau amis. Dan wajah itu berubah-ubah. Sebentar menyerupai Arin. Dan sebentar kemudian menjadi wajah orang lain.
Ran dengan seksama memperlihatkan semua itu. Walaupun masih ada rasa takut, tapi dia yakin sosok itu tidak akan berbuat jahat padanya.
" Hihihihiii.... Hihihihiii.."
Tak lama kemudian sosok itu terlihat tersenyum dan kemudian diiringi tawa dia menghilang. Dan pintu lift terbuka di lantai yang Ran tuju.
Begitu Ran keluar dia melihat jam di dinding dia terkejut. Jam itu menunju pada angka yang sama seperti saat dia masuk lift tadi. Jadi ternyata dia hanya sebentar di selama lift. Mungkin hanya karena dia bersama dengan makhluk alam lain jadi terasa lama.
Ran menggelengkan kepala. Dia sungguh merasa lelah dan capek. Juga bingung. Apalagi ketika memikirkan bagaimana cara dia menolong sosok tersebut. Harus dari mana dia memulainya dia tidak tahu sama sekali.
" Kak Ran.. Ayo pulang.."
Ran terkejut mendengar teriakkan Rama. Ternyata Rama sudah menunggunya di parkiran. Setiap hari memang Ran di jemput Rama. Menghemat ongkos dan juga agar lebih aman.
Sesampainya di rumah Ran langsung mandi . Tubuhnya terasa lengket. Ran ingin segera merebahkan tubuhnya. Dia sangat lelah hari ini. Warungnya sangat ramai hari ini.
Setelah mandi dan mengerjakan sholat isya , Ran mengambil tasnya untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Namun dia kaget ketika tangannya menyentuh sesuatu.
" Hah apa ini..."
Ran terkejut. dia sungguh tidak menyangka. Dia tertegun melihat benda yang ada di tangannya.
Bersambung
Apa sebenarnya yang Ran temukan? Bisa jadi sebuah benda yang bisa menjadi awal penyelidikannya. Semoga saja......
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir. Love buat kalian semua ❤️❤️❤️
"
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya