NovelToon NovelToon
Bangkitnya Putri Terbuang

Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Ruang Ajaib
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.

Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.

Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.

Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Matahari sudah tinggi menerangi kediaman Feng, namun pintu dan jendela paviliun Feng Wu masih tertutup rapat. Di atas ranjang, Feng Wu terbaring tenang di balik selimut, matanya terpejam namun kesadarannya terjaga sepenuhnya. Ia sengaja belum bangun, sengaja membiarkan waktu berlalu, ia tahu hal itu pasti akan memicu amarah Selir Yu yang tak pernah sabar.

Benar saja, tak lama kemudian pintu terbuka kasar. Selir Yu melangkah masuk dengan wajah merah padam, langkahnya berat penuh amarah. Ia sudah mencari Feng Wu sejak tadi pagi, dan mengetahui gadis itu masih berbaring di tempat tidur saat jam sudah begitu siang baginya adalah penghinaan besar.

"Dasar gadis tak tahu diri!" bentaknya keras, berniat menarik kasar selimut itu dan mencambuk Feng Wu hingga bangun. "Sudah siang bolong masih tidur! Kau kira kau si....."

Belum sempat tangannya menyentuh ujung ranjang, kakinya sendiri terpleset lantai yang sedikit licin, atau mungkin bukan kebetulan sama sekali. Selir Yu kehilangan keseimbangan seketika, tubuhnya melayang ke depan, dan bruk! Wajahnya menghantam lantai keras-keras. Suara benturan itu nyaring bergema di ruangan.

Feng Wu membuka matanya perlahan, duduk pelan-pelan seakan baru terbangun. Ia menatap wanita yang sedang tersungkur di lantai itu tanpa sedikit pun berniat membantu. Tatapannya datar, dingin, dan bahkan ada kilatan hiburan tipis di sana.

"Ya ampun, Selir Yu?" ucapnya pelan, malah seakan-akan heran. "Kau ini... datang-datang malah bersujud di hadapanku? Padahal tak perlu sejauh itu untuk menyapaku."

Selir Yu bangkit dengan susah payah, hidungnya memerah dan bibirnya terasa perih berdarah. Rambutnya berantakan, wajahnya kotor terkena debu lantai. Ia gemetar menahan sakit sekaligus murka yang memuncak hingga ubun-ubun.

"Kau... gadis kurang ajar!" teriaknya nyaris meledak, menunjuk Feng Wu dengan tangan gemetar. "Kau sengaja! Kau sengaja membuatku jatuh! Aku akan membunuhmu—!"

"Sengaja?" Feng Wu turun dari ranjang perlahan, merapikan bajunya dengan tenang. Langkahnya ringan hingga berdiri tepat di hadapan Selir Yu, namun aura yang terpancar begitu kuat hingga wanita itu tanpa sadar mundur selangkah. "Selir Yu sendiri yang masuk tanpa izin, melangkah terburu-buru tanpa melihat jalan. Lalu malah menuduh orang lain? Apakah jatuh itu membuat otakmu ikut terguncang hingga tak bisa membedakan kesalahan sendiri?"

Feng Wu tersenyum tipis, senyum yang begitu tenang namun penuh ancaman. "Hati-hati, Selir Yu. Lantai di sini licin. Jika kau jatuh untuk kedua kalinya, mungkin tak hanya wajah yang terluka."

Selir Yu menggertakkan gigi, kuku telapak tangannya mencengkeram hingga memutih. Ia ingin sekali menyerang, ingin sekali mencabik wajah gadis itu namun entah mengapa, tatapan Feng Wu yang begitu tenang dan yakin itu membuatnya merinding. Seakan-akan jika ia bergerak sedikit saja, hal yang jauh lebih mengerikan akan terjadi padanya.

"Kau tunggu saja!" desis Selir Yu akhirnya, tak berani melanjutkan niatnya. "Hari ini... hari ini aku biarkan kau dulu! Tapi jangan pikir kemenanganmu lama!"

Ia berbalik pergi dengan langkah gontai dan penuh kemarahan, wajahnya bengkak merah. Feng Wu menatap punggungnya yang menjauh, lalu menggeleng pelan.

"Ini baru permulaan," gumamnya pelan pada diri sendiri. "Semakin kau marah, semakin mudah kau jatuh ke dalam perangkuhanmu sendiri."

Qing Su yang berdiri di sudut ruangan sejak tadi menahan senyum, lalu mendekat dengan berbisik. "Nona sungguh hebat. Tanpa mengangkat jari saja, Selir Yu sudah celaka sendiri."

Feng Wu tersenyum tipis. "Dia yang datang mencari masalah. Aku hanya menyambutnya dengan baik. Bersiaplah, Qing Su. Dia takkan diam saja setelah dipermalukan begini. Selanjutnya pasti akan lebih licik."

Berita undangan dari Istana Kekaisaran menggema di seluruh kediaman Feng. Pesta Bunga di kediaman Permaisuri, di mana seluruh wanita bangsawan berkewajiban hadir. Feng Yuan memanggil Selir Yu dan berpesan tegas: "Kali ini bawa Feng Wu bersamamu. Ia adalah Putri Utama kediaman Feng, tak pantas jika ia tidak hadir."

Selir Yu mendengus kesal namun tak berani menolak. Di dalam kamarnya, Feng Wu justru tersenyum tipis mendengar kabar itu. Rencana di kepalanya sudah tersusun rapi, ini kesempatan sempurna untuk memberi pelajaran pada kedua putri Selir Yu, Feng Xia dan Feng Jia, yang selama ini kerap menghinanya.

Saat kereta kuda kediaman Feng berhenti di gerbang istana, Feng Xia dan Feng Jia turun perlahan. Di belakangnya menyusul Feng Wu. Kedua putri selir itu berharap bisa bersaing kecantikan dengan putri bangsawan lain. Tanpa terlihat, Feng Wu melambaikan tangan halus bubuk gatal buatan tangannya beterbangan dan menempel pada gaun kedua gadis itu, tak terlihat oleh siapa pun.

Sesampainya di Paviliun Mekar, tempat pesta berlangsung yang penuh bunga harum dan wanita bangsawan berhias indah, Feng Wu berjalan tenang menuju sudut tempat minuman, sementara Feng Xia dan Feng Jia dengan bangga melangkah ke tengah ruangan untuk memamerkan gaun mahal mereka.

Belum beberapa menit berdiri, Feng Xia tiba-tiba menggaruk lengannya dengan kasar. "Aduh... kenapa tubuhku tiba-tiba gatal sekali?"

Feng Jia di sampingnya pun mulai gelisah, tangannya tak berhenti menggaruk leher dan pipinya. "Iya... aku juga! Gatalnya sampai ke dalam kulit!"

Kedua gadis itu mulai menggaruk semakin kencang, wajah mereka memerah dan bintik-bintik kecil mulai bermunculan di bawah kulit. Mereka berusaha menahan diri, namun rasa gatal itu seakan membakar seluruh tubuh semakin ditahan, semakin menyiksa.

Feng Xia tak tahan lagi, menggaruk punggungnya hingga gaunnya sedikit berantakan. "Ibu! Tolong! Gatal sekali!"

Selir Yu yang berdiri tak jauh dari sana menahan marah, wajahnya memerah menahan malu. Ia mendekat dan berbisik tajam, cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mendengar: "Diam! Berhenti menggaruk! Kalian ini mau mempermalukan ibu dan kediaman Feng di depan semua orang?! Tahan!"

"Tidak bisa, Ibu!" rengek Feng Jia, matanya berkaca-kaca menahan siksaan. "Gatalnya bukan main... rasanya seperti digigit ribu semut!"

Kedua gadis itu akhirnya tak peduli lagi pada tatapan orang lain, menggaruk sekujur tubuh dengan liar, wajah dan leher mereka semakin merah dan bintik-bintik itu semakin banyak. Beberapa putri bangsawan yang melihat mulai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk, menahan tawa.

"Lihat itu... bukankah itu putri dari kediaman Feng?"

"Kok bertingkah begitu ya? Aneh sekali."

"Jangan-jangan mereka membawa penyakit menular?"

Bisikan itu terdengar jelas di telinga Selir Yu. Ia merasa wajahnya dibakar malu. Ia menoleh ke arah Feng Wu, gadis itu berdiri tenang di sudut ruangan, meminum teh perlahan, seakan tak tahu apa-apa. Namun sudut bibir Feng Wu terangkat tipis, sejenak saja, lalu kembali datar. Selir Yu menggertakkan gigi, ia yakin jika ada kaitannya dengan Feng Wu, tapi tak punya bukti sama sekali.

Feng Wu melangkah mendekat dengan wajah polos seakan baru menyadari kejadian itu. "Ya ampun, Saudaraku? Kenapa wajah dan tubuh kalian begitu merah dan penuh bintik? Apakah alergi bunga di sini? Atau... ada kutu yang menempel saat di kereta tadi?"

Pertanyaan polos itu justru semakin membuat orang lain menduga-duga. Feng Xia dan Feng Jia semakin malu sekaligus kesal, namun rasa gatal itu belum juga hilang.

"Kau..." Selir Yu menatap tajam, tapi tak bisa berbuat apa-apa di tempat itu.

"Selir Yu," ucap Feng Wu pelan namun cukup didengar, "sepertinya kedua putrimu kurang beruntung hari ini. Lebih baik ajak mereka beristirahat di luar, jangan sampai mengganggu kesenangan Permaisuri dan para hadirin."

Selir Yu terpaksa menurut, menarik kedua putrinya yang masih sibuk menggaruk dan merintih keluar dari paviliun itu dengan penuh malu dan kemarahan. Feng Wu tersenyum tipis melihat punggung mereka yang menjauh ini baru sedikit balasan untuk semua penghinaan yang pernah mereka berikan dulu.

Di sudut lain, di balik deretan bunga yang rimbun, Pangeran Ketiga berdiri diam. Ia melihat seluruh kejadian itu dengan jelas. Pengawal bayangannya berdiri di belakang dengan wajah tertahan tawa.

"Yang Mulia... Nona Feng Wu ini benar-benar..."

"Licik dan cerdik," potong Pangeran Ketiga, sudut bibirnya terangkat jelas kali ini. "Semakin menarik, bukan? Dia baru saja memulai, tapi sudah membuat kediaman Feng malu sejadi-jadinya. Awasi terus. Jangan sampai Permaisuri tahu siapa pelakunya."

1
jenny
jangan² pria selingkuhan selir Yu nih yang menebarkan racun atas usulan selir Yu
Dian Utami
feng Wu terlalu egois thor dan bertindak sesuka hati, giliran di perhatikan dia kesel
ummu syafanah
lanjut thor
jenny
semoga wen qi tersadar dan gak perlu marah² ke su meng
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please🙏Thor, thank you 🌹
jenny
permainan segera dimulai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!