NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Aku Suka Kamu, Kak

Kata yang tidak terucap itu bertahan beberapa hari.

Pada suatu sore setelah hujan, Josie menelepon sambil terburu-buru. Ia harus pergi ke House of AN untuk membantu tata rias gladi bersih peragaan busana Cik Anna.

"Jangan lupa istirahat," katanya kepada Karina. "Dan jangan baca grup arisan. Isinya sedang bodoh."

Peringatan itu justru membuat Karina membuka pesan yang dimaksud.

Sebelum pesan itu datang, harinya berjalan baik. Metamorfosa baru menerima nomor usaha, artikel perdana selesai disunting, dan Cik Anna mengirim undangan gladi bersih House of AN. Popo bahkan mengirim foto rangkaian bunga Karina yang masih segar di dekat jendela.

Nathan meninggalkan catatan di kulkas sebelum kuliah: minum vitamin pukul sepuluh, jangan mengangkat kotak sampel, dan jangan merindukannya terlalu banyak. Karina mencoret kata terakhir lalu menulis selesaikan tugasmu.

Hubungan mereka tampak seperti perkawinan sungguhan dalam hal-hal kecil. Nathan hafal sisi tempat tidur yang membuat pinggangnya tidak sakit. Karina tahu kopi harus disembunyikan agar Nathan tidak minum setelah tengah malam. Mereka berdebat tentang warna kamar bayi, bergantian memilih musik, dan menunggu satu sama lain pulang.

Justru keutuhan sehari-hari itu membuat Karina gentar. Ia tidak bisa lagi berpura-pura Nathan hanya rekan membesarkan anak. Kehilangan rekan akan sulit. Kehilangan lelaki yang telah menjadi rumah kedua akan menghancurkannya.

Seorang kenalan jauh membagikan foto Nathan di gala kampus lama, lalu menempelkan foto buram Karina. Komentarnya penuh tawa: bagaimana mungkin seorang janda mendapatkan brondong kaya? Pasti ada rahasia, mungkin hamil agar laki-laki itu tidak bisa kabur.

Ada yang menghitung usia mereka dan menulis bahwa ketika Nathan tiga puluh, Karina akan memasuki empat puluh. Akun lain bertanya apakah pewaris bank akan puas seumur hidup dengan bekas istri orang.

Seseorang memakai foto lama Karina bersama Andri di acara kantor, meletakkannya di samping foto Nathan, lalu meminta anggota grup memilih pasangan mana yang tampak lebih pantas. Perkawinan, tubuh, dan kemungkinan wajahnya menua diperlakukan seperti permainan sore.

Karina hampir mengetik jawaban. Ia ingin menunjukkan putusan cerai, kontrak kerja, dan seluruh malam ketika Nathan menjaganya di rumah sakit. Namun tidak ada bukti yang memuaskan orang yang memilih kesimpulan sebelum bertanya.

Karina menutup layar, tetapi kalimat-kalimat itu terus berbunyi di kepalanya.

Usia kandungannya sudah sekitar enam bulan. Tiga bayi bergerak jelas, membuat gaunnya tak mungkin lagi menyembunyikan perut. Setiap kali melihat cermin, ia melihat calon ibu yang berusia tiga puluh, pernah gagal mempertahankan perkawinan, dan sekarang berdiri di samping mahasiswa dua puluh tahun yang baru mulai dikenal dunia.

Nathan pulang saat langit mulai berubah jingga. Ia menemukan Karina berdiri di depan jendela, memeluk lengannya sendiri.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah."

"Bohong. Piringnya masih utuh."

Ia memanaskan sup, membawa mangkuk ke meja kecil, dan menunggu sampai Karina menghabiskan setengah. Nathan tidak menanyakan penyebab diamnya sampai ia yakin wajah Karina tidak pucat.

"Siapa yang membuatmu sedih?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu apa?"

Karina menyodorkan ponsel. Nathan membaca pesan grup, dan rahangnya langsung mengeras.

"Kirim nama mereka ke Jerry."

"Mereka cuma bergosip."

"Mereka menuduhmu menjebakku dengan kehamilan."

"Bukankah kehamilan memang membuat kita menikah?"

Nathan meletakkan ponsel terlalu keras di meja. "Bukan alasan aku tinggal."

Karina menatap hujan yang tersisa di kaca. Ia ingin percaya sepenuhnya. Justru karena ingin, rasa takutnya semakin besar.

"Nathan, kita harus realistis. Setelah anak-anak lahir, hidupmu akan berubah. Kamu masih punya kuliah, karier, mungkin harus ke Singapura."

"Dan?"

"Aku tidak mau kamu bangun lima tahun lagi lalu menyadari masa mudamu habis untuk istri yang sepuluh tahun lebih tua."

Nathan berdiri. "Kamu mulai lagi."

"Aku hanya bilang kita tidak perlu memaksa sesuatu bertahan selamanya. Kalau nanti kamu ingin bebas, registrasi ini bisa kita urus. Anak-anak tetap akan punya ayah."

"Selesai?"

Nada suaranya begitu tenang hingga Karina akhirnya menoleh.

"Maksudku bukan sekarang."

"Aku tahu persis maksudmu. Kamu sedang menyiapkan perceraian sebelum kita belajar memilih warna kamar bayi."

"Aku memberimu pilihan."

"Tidak. Kamu mengambil pilihanku, lalu menyebutnya pengorbanan."

Nathan melangkah mendekat. Karina mundur sampai punggungnya menyentuh kaca dingin. Ia tidak takut Nathan akan menyakitinya. Ia takut pada kesungguhan di wajah pemuda itu.

"Kamu menganggapku apa?" tanyanya. "Anak Kevin yang kebetulan membuatmu hamil? Laki-laki yang harus diberi jalan pulang setelah tanggung jawab selesai?"

"Kamu baru dua puluh."

"Umurku tidak membuat semua keputusan otomatis salah."

"Lima tahun lagi kamu bisa berubah."

"Kamu juga bisa berubah. Kita semua bisa. Kenapa hanya aku yang dianggap pasti pergi?"

Karina tidak punya jawaban yang adil. Ia tahu sumbernya bukan Nathan, melainkan Andri. Delapan tahun janji dari seorang lelaki dewasa ternyata tidak cukup. Bagaimana ia bisa mempercayai janji seorang pemuda yang belum genap dua puluh satu?

Nathan meraih pergelangan tangannya. Gerakannya tegas, namun begitu melihat Karina menegang, genggamannya langsung melonggar. Ia menempelkan telapak Karina ke dadanya sendiri.

Detak jantung di balik kaus itu cepat dan keras.

"Rasakan," katanya. "Aku bukan kontrak yang bisa kamu tutup sebelum rugi."

"Nathan."

"Katakan apa yang sebenarnya kamu takutkan."

Karina menelan ludah. "Aku takut suatu hari kamu malu berdiri di sampingku. Aku takut anak-anak membuatmu tinggal ketika hatimu sudah pergi. Aku takut semua orang ternyata benar."

"Tentang apa?"

"Bahwa seorang janda sepertiku seharusnya tahu diri."

Nathan menjauh setengah langkah agar dapat menatap seluruh wajahnya. "Kalau status janda membuatmu kurang pantas, apa status laki-laki yang mengkhianati istrinya membuat Andri kurang pantas hidup normal?"

"Orang tidak menilainya dengan cara yang sama."

"Aku bukan mereka. Engkong, Popo, Mama, Papa, Kevin, dan teman-temanmu tahu semuanya lalu tetap berdiri di sampingmu. Kenapa suara orang yang tidak datang saat kamu berdarah lebih kuat daripada kami?"

Pertanyaan itu menusuk karena benar. Karina telah menempatkan komentar tanpa nama di atas tindakan orang nyata. Bukan karena ia tidak menghargai mereka, melainkan karena penghinaan itu memakai suara yang sudah lama tinggal di kepalanya.

"Aku belum belajar percaya pada hidup yang baik," bisiknya.

"Kalau begitu belajar bersamaku. Jangan mengusir gurunya."

Kemarahan Nathan pecah sesaat di matanya, tetapi bukan kepada Karina. Ia menoleh ke ponsel yang berisi komentar orang-orang.

"Jangan pakai mulut mereka untuk bicara kepadaku."

"Kamu tidak hidup di tubuhku. Kamu tidak tahu rasanya masuk ruangan dan merasa semua orang menghitung umur, bekas pernikahan, dan perutku."

"Benar. Aku tidak tahu." Suaranya menurun. "Tapi aku tahu rasanya setiap kali kamu memberi jalan keluar, seolah aku tidak cukup dipercaya untuk memilihmu."

Karina menatap tangan mereka. Detak Nathan belum melambat.

"Pada malam balapan," katanya, "aku melihatmu terluka dan merasa sesuatu di dalamku ikut sakit. Sejak itu aku berhenti menganggapmu sekadar ayah anak-anak. Tapi kalau aku mengakuinya, semuanya menjadi nyata."

"Aku sudah nyata."

"Dan bisa hilang."

Nathan melepaskan pergelangan tangannya, lalu mengangkat wajah Karina dengan lembut. Hujan telah berhenti. Cahaya senja masuk melalui kaca, menyorot garis lelah di wajahnya dan ketakutan yang selama ini disembunyikan di balik candaan.

"Aku tidak bisa menjamin kita tidak pernah bertengkar," katanya. "Aku tidak bisa menjamin bisnis, keluarga, atau hidup tidak menjadi buruk. Tapi aku bisa bilang kenapa aku tetap di sini."

Karina ingin memalingkan wajah. Nathan tidak menahan dengan kekuatan, hanya berdiri begitu dekat sehingga kejujurannya tidak dapat dihindari.

"Awalnya aku tertarik karena kamu datang memelukku di hotel seperti perempuan yang siap membakar dunia," lanjutnya. "Lalu aku melihatmu tetap berdiri setelah dikhianati, menjaga keluargamu meski mereka terlambat memahami, dan memikirkan masa depan tiga bayi saat tubuhmu sendiri ketakutan."

"Aku tidak sekuat itu."

"Aku tahu. Kamu menangis diam-diam, pura-pura tidak mual, dan menyimpan uang darurat meski rumah ini atas namamu. Aku melihat semuanya."

Air mata Karina kembali naik.

Nathan menyeka satu tetes dengan ibu jari. "Aku suka sisi kuatmu. Aku juga suka sisi yang takut dan cerewet. Aku bahkan suka kamu memeriksa kontrakku tiga kali lalu memarahiku karena tidak membaca email Jerry."

"Itu bukan alasan romantis."

"Aku bukan sedang menjual iklan."

Senyum Karina muncul sebentar, kemudian hilang ketika Nathan menjadi serius lagi.

"Aku tinggal bukan karena bayi. Kalau tidak ada anak pun, aku tetap akan mencarimu setelah malam itu. Aku menikah bukan cuma karena tanggung jawab. Aku menikah karena gagasan kamu pergi bersama orang lain membuatku gila."

Karina merasakan tiga gerakan kecil di perut, seolah anak-anak ikut mengetuk dinding pertahanannya.

Nathan menundukkan kepala sampai dahi mereka bertemu. Napasnya bergetar.

"Aku suka kamu, Kak," katanya. "Bukan karena anak, bukan karena tanggung jawab."

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Karina seharusnya menjawab. Ia sudah tahu kalimat apa yang tinggal di dadanya. Namun sepuluh tahun perbedaan usia, delapan tahun perkawinan yang gagal, dan ratusan suara yang menyebutnya tidak pantas menahan lidahnya.

Nathan menunggu, dahi tetap menempel pada dahinya.

Detik jam terdengar dari dinding. Di luar, air hujan terakhir jatuh dari tepi balkon. Tidak ada suara lain yang bisa dipakai Karina untuk bersembunyi dari jawaban yang sudah diketahui keduanya, atau dari rasa takut yang masih menguasai seluruh tubuhnya.

Karina tidak mampu mengeluarkan suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!