Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reno misses his biological child
Keheningan malam di kediaman Reno terasa begitu mencekik. Lampu kristal yang menggantung megah di ruang tamu seolah kehilangan sinarnya, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari di dinding. Di luar, hujan turun rintik-rintik, menambah suasana melankolis yang menyelimuti perasaan Reno. Pria paruh baya itu duduk di sofa kulit berwarna gelap, matanya tertuju pada sebuah figura perak yang diletakkan di atas meja utama.
Itu adalah foto masa lalu—masa di mana kebahagiaan masih terasa utuh dan nyata. Dalam bingkai itu, Reno tampak tersenyum lebar, merangkul bahu istri tercintanya, Sarah, yang sedang tertawa manis ke arah kamera. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang gadis kecil dengan kuncir kuda, Aera, putri tunggal kesayangan mereka. Aera kecil dengan mata berbinar penuh kepolosan, simbol cinta mereka yang paling berharga.
Tangan Reno gemetar saat menyentuh kaca figura tersebut. Kerinduan yang menyesakkan dada kini berubah menjadi rasa perih yang luar biasa. Sudah berbulan-bulan sejak malam itu—malam di mana segalanya hancur.
Malam itu, Reno menemukan foto yang dikirim oleh seseorang tak dikenal. Foto yang memperlihatkan Aera berada di sebuah klub malam yang remang-remang, duduk berdekatan dengan seorang pria dewasa yang tampak jauh lebih tua darinya. Kemarahan yang membabi buta menyulut emosi Reno.
Tanpa memberi kesempatan bagi Aera untuk menjelaskan, tanpa mendengar sepatah kata pun dari bibir anaknya sendiri, Reno mengusir Aera keluar dari rumah. Dengan kata-kata tajam yang menyayat hati, ia memutuskan hubungan darah yang seharusnya tak terputuskan.
"Di mana kamu sekarang, Aera?" gumam Reno lirih. Suaranya pecah, hampir tak terdengar di tengah sunyi ruang tamu. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
Apakah Aera mendapatkan tempat berteduh yang layak? Apakah dia makan dengan teratur? Bagaimana jika dia sakit? Bagaimana jika dunia luar yang kejam itu menghancurkan gadisnya yang dulu selalu tumbuh dalam kasih sayang yang melimpah?
Setiap malam, Reno dihantui bayangan Aera yang mungkin sedang meringkuk di sudut jalan atau menahan dingin di bawah langit yang tidak ramah. Penyesalan perlahan mulai merayap, melilit jantungnya dengan rasa bersalah yang amat dalam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang lembut memecah keheningan. Aroma parfum yang manis dan menusuk—aroma yang selalu digunakan Belva—tercium sebelum wanita itu muncul di ruang tamu. Belva, istri kedua Reno, berjalan dengan anggun menuju suaminya.
Belva adalah sosok wanita yang selalu tampak sempurna di depan Reno. Ia adalah wanita yang datang menggantikan posisi Sarah setelah kepergian sang istri karena kecelakaan tragis bertahun-tahun lalu. Namun, jauh di balik senyum manis dan tutur katanya yang lembut, Belva menyimpan agenda gelap yang selama ini tersembunyi rapat dari jangkauan pandang Reno.
Belva mendekat, lalu dengan gerakan manja yang terukur, ia melingkarkan tangannya di bahu Reno, bersandar di dada suaminya.
"Mas, kenapa masih belum tidur? Ini sudah larut," ucapnya dengan nada yang dibuat selembut mungkin, matanya menatap Reno dengan tatapan yang penuh perhatian palsu.
Reno tidak langsung menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya dari figura foto ke arah jendela. Belva, yang menyadari arah pandang Reno, melirik sekilas pada foto keluarga itu. Seringai tipis, sangat tipis, sempat muncul di sudut bibir Belva sebelum akhirnya ia kembali memasang wajah penuh empati.
"Kamu masih memikirkannya lagi, bukan?" tanya Belva, suaranya terdengar seperti bisikan yang menenangkan.
"Mas, lupakan dia. Anak itu... dia sudah memilih jalannya sendiri. Kamu tidak perlu membuang energi untuk seseorang yang sudah mengkhianati kepercayaanmu."
Kata-kata Belva adalah racun yang dibungkus madu. Itulah cara Belva sejak dulu, perlahan-lahan memisahkan Reno dari orang-orang yang dicintainya, hingga hanya dia yang tersisa di sisi Reno. Belva lah dalang di balik semua kehancuran ini.
Foto Aera di klub malam itu? Itu adalah rekayasa jahat Belva, sebuah manipulasi foto menggunakan teknologi untuk menjatuhkan mental Aera dan memicu kemarahan Reno. Dan jika Reno tahu yang sebenarnya, bahwa Belva pulalah orang yang menyebabkan kecelakaan tragis yang merenggut nyawa Sarah—ibu kandung Aera—dunia Reno mungkin akan benar-benar runtuh seketika.
Belva mulai mengusap dada Reno, mencoba mengalihkan perhatian suaminya. "Lihat aku, Mas. Aku di sini. Aku yang akan selalu menemani hari-harimu. Jangan biarkan masa lalu dan anak yang tidak tahu berterima kasih itu menghancurkan kebahagiaan kita sekarang."
Reno hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa lelah, sangat lelah. Di satu sisi, kerinduannya pada Aera membuncah, namun di sisi lain, ia merasa terkunci oleh pengaruh Belva yang begitu dominan. Ia tidak sadar bahwa wanita yang sedang memeluknya dengan begitu mesra adalah monster yang sebenarnya, sosok yang sedang tertawa puas di dalam hatinya karena berhasil menyingkirkan satu-satunya penghalang utama dalam rencananya untuk menguasai harta Reno sepenuhnya.
Di luar sana, hujan semakin lebat. Di suatu tempat yang jauh dari kemewahan rumah ini, Aera mungkin sedang menatap hujan yang sama, berharap ayahnya akan menjemputnya pulang. Namun, di rumah besar yang sunyi ini, Reno tetap terjebak dalam pelukan sang pemangsa, tidak tahu bahwa di balik kelembutan istrinya, ada pisau yang siap menusuknya kapan saja.
Reno memejamkan mata, membiarkan Belva terus berbicara dengan kata-kata manisnya, sementara pikirannya tetap melayang pada gadis kecil dalam foto yang dulu pernah ia panggil putri kesayangan. Kebenaran mungkin terkubur di bawah tumpukan kebohongan Belva, namun sampai kapan topeng itu akan bertahan? Itu hanyalah masalah waktu sebelum semuanya terbongkar, dan pada saat itu, penyesalan Reno tidak akan lagi memiliki tempat untuk berlabuh.
Reno masih terpaku pada figura perak di tangannya. Aroma parfum Belva yang tadinya terasa menenangkan, entah mengapa malam ini justru terasa menyesakkan, seolah mencekik pernapasan Reno secara perlahan. Tatapan Reno masih tertuju pada senyuman Sarah di dalam foto, senyuman yang kini terasa seperti sebuah teguran bisu dari masa lalu.
"Mas, kamu mendengarku tidak?" suara Belva kembali menginterupsi, kini sedikit lebih menekan, namun tetap dibalut dengan nada manja yang dibuat-buat. Belva mengubah posisinya, kini ia berdiri di depan Reno, menatap tepat ke dalam manik mata pria itu dengan sorot mata yang dirancang untuk memanipulasi.
Reno memaksakan sebuah senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Ya, Bel. Aku mendengarmu. Hanya saja... entahlah. Hati seorang ayah tidak pernah bisa benar-benar tenang, bukan?"
Belva mendengus pelan, sebuah suara yang hampir tak tertangkap jika suasana tidak sesunyi ini. Ia kemudian duduk di samping Reno, jemarinya yang lentik mulai memijat pelipis suaminya dengan gerakan yang sangat terampil.
"Ayah yang baik adalah ayah yang tegas, Mas. Kamu sudah melakukan hal yang benar untuk menjaga martabat keluarga kita. Aera sudah terlalu jauh melangkah, dan kamu tidak bisa membiarkan satu orang merusak nama baik yang sudah kamu bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun."
Setiap kata yang keluar dari mulut Belva bagaikan tetesan air yang terus menggerus batu karang. Sedikit demi sedikit, keyakinan Reno terhadap keputusannya sendiri mulai goyah. Belva sangat ahli dalam hal ini ia akan menyalahkan korban agar pelaku merasa sebagai pahlawan.
Sementara Reno berusaha menenangkan diri di bawah sentuhan jemari Belva, pikirannya justru melayang jauh. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu. Aera, dengan mata yang sembap dan wajah pucat, berdiri di depan pintu rumah ini. Saat itu, Aera tidak menangis meraung-raung. Ia hanya diam, menatap Reno dengan tatapan yang penuh dengan ketidakpercayaan dan luka yang dalam.
Aera mencoba berbicara, mencoba menjelaskan bahwa foto itu palsu, bahwa ia tidak pernah berada di klub malam tersebut. Namun, Reno—yang saat itu sudah teracuni oleh narasi-narasi halus Belva—menutup telinganya rapat-rapat.
"Saya tidak punya anak sepertimu!" bentak Reno saat itu.
Bayangan wajah Aera yang terpukul saat ia akhirnya berbalik dan melangkah pergi di bawah hujan badai kini menghantam hati Reno seolah pukulan godam. Mengapa ia begitu bodoh? Mengapa ia lebih memilih mempercayai foto-foto yang entah datang dari mana daripada mendengarkan suara putri kandungnya sendiri?
Belva, yang merasakan ketegangan pada otot bahu Reno, semakin mempererat pelukannya. Di dalam pikirannya yang licik, Belva sedang merencanakan langkah selanjutnya. Ia tahu bahwa keraguan mulai tumbuh di hati suaminya. Jika Reno sampai berhasil melacak keberadaan Aera dan mendengar penjelasan gadis itu, maka tamatlah riwayatnya. Belva tahu bahwa ia harus bergerak lebih cepat, entah itu dengan memanipulasi informasi, atau jika perlu, menyingkirkan Aera secara permanen dari dunia ini.
"Mas," bisik Belva, suaranya kini terdengar lebih rapuh, seolah ia yang paling terluka di sini.
"Kadang aku merasa bersalah. Mungkin jika aku menjadi ibu sambung yang lebih baik, Aera tidak akan merasa perlu mencari perhatian di luar sana. Mungkin jika aku lebih sering mengawasinya, hal ini tidak akan terjadi."
Reno menoleh, menatap wajah istrinya. Belva kini terlihat seperti seorang wanita yang penuh penyesalan, matanya bahkan tampak berkaca-kaca. "Bukan salahmu, Bel. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aera memang sudah berubah, dan mungkin pergaulannya di luar yang membuat dia seperti itu."
"Aku hanya ingin kita bahagia, Mas. Tanpa gangguan, tanpa drama. Bisakah kita fokus pada masa depan kita saja? Mungkin... mungkin kita bisa merencanakan liburan? Ke luar negeri, jauh dari sini?"
Reno menghela napas panjang. Ia merasa seolah sedang terjebak dalam labirin yang tidak ada ujungnya. Belva memberikan segalanya yang ia butuhkan secara fisik—perhatian, pelayanan, dan kenyamanan—namun ia tidak bisa memberikan apa yang Reno butuhkan secara batin, kedamaian karena telah melakukan hal yang benar.
...----------------...
Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela kamar Aera dengan lembut, membawa sisa embun yang belum menguap sepenuhnya. Aera baru saja selesai merapikan buku-bukunya ke dalam tas ketika dering notifikasi ponsel di atas meja nakas memecah keheningan. Ia meraih ponselnya, sebuah pesan singkat dari Leo muncul di layar.
"Pagi, Aera. Aku sudah siap. Boleh aku jemput kamu di rumah Oma hari ini untuk berangkat ke kampus bersama?"
Aera tersenyum tipis. Ia teringat kejadian kemarin di basecamp Alaxtar saat mereka bertukar nomor telepon. Tanpa ragu, jemarinya lincah mengetik balasan. "Pagi, Leo. Tentu, boleh. Aku tunggu ya, aku sedang di rumah Oma."
Setelah mengirim pesan itu, Aera bergegas turun ke dapur. Oma Saraswati, wanita anggun dengan rambut yang mulai memutih namun masih terlihat bugar, sedang menyeduh teh hangat. Aroma melati menyeruak, memenuhi ruangan yang terasa tenang dan penuh kenangan itu.
"Siapa yang jemput, Ra?" tanya Oma sambil meletakkan cangkir porselen di meja kayu jati.
"Teman baru, Oma. Namanya Leo. Katanya dia mau jemput Aera ke kampus," jawab Aera santai.
Tidak butuh waktu lama bagi Leo untuk sampai. Suara deru mesin motor sport yang halus namun bertenaga terdengar memasuki pekarangan rumah Oma yang asri. Aera segera pamit dan berjalan menuju teras. Di sana, Leo sudah berdiri di samping motor sport hitam miliknya yang tampak kontras namun memikat di bawah sinar matahari pagi. Mengenakan jaket bomber hitam dan helm yang sudah terbuka, Leo terlihat sangat rapi dan berwibawa.
"Pagi, Aera," sapa Leo dengan senyum yang meneduhkan, membuat Aera merasa sedikit canggung namun nyaman.
"Pagi, Leo. Kamu sudah sampai?"
"Baru saja. Ayo berangkat sebelum kita terlambat," ajak Leo.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah jauh, pintu depan terbuka. Oma Saraswati keluar untuk melihat sosok laki-laki yang membuat cucunya tampak lebih ceria belakangan ini. Saat mata Oma tertuju pada Leo, ia tiba-tiba terpaku. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu.
Oma menatap Leo lekat-lekat. Ia melihat sosok laki-laki yang selama ini tidak banyak ia tahu, namun telah mendengar ceritanya dari Aera. Laki-laki yang begitu gigih menjaga Aera, yang dengan tulus memberikan tempat tinggal dan bantuan ketika Aera diusir dengan kejam oleh ayah kandungnya sendiri demi urusan harta dan nama baik keluarga.
Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda yang tidak hanya tampan secara fisik, tetapi memancarkan aura keramahan dan kebaikan hati yang jarang ditemui pada pria seusianya. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekaguman. Wajah Leo terasa sangat akrab. Ingatan Oma memutar kembali kaset masa lalu, mencari potongan memori yang tertanam di sudut pikirannya.
"Nak, tunggu sebentar," suara Oma sedikit bergetar, namun penuh wibawa.
Leo yang hendak menaiki motornya segera turun kembali dan memberikan hormat dengan sopan kepada Oma Saraswati. "Iya, Oma? Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapa nama lengkapmu, Nak? Dan siapa orang tuamu?"
Deg.