NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Langit pagi di dataran tinggi Pangalengan membentang bersih tanpa sehelai awan pun, memantulkan bias cahaya keemasan yang menghangatkan hamparan perkebunan teh hijau di sekitarnya. Udara pegunungan yang biasanya menusuk tulang kini terasa begitu sejuk dan menyegarkan, menyambut hari paling bersejarah bagi kawasan tersebut: upacara peletakan batu pertama pembangunan Azalea Sustainable Fashion Academy.

Di atas lahan seluas lima puluh hektare yang dikelilingi oleh barisan pohon pinus dan bukit-bukit hijau, sebuah panggung terbuka sederhana berhiaskan dekorasi kayu alami dan kain tenun tradisional Sunda telah berdiri kokoh. Ratusan tamu undangan—mulai dari tokoh masyarakat setempat, perwakilan kelompok perajin tenun tradisional, para direktur eksekutif Ar-Rasyid Group yang datang langsung dari Jakarta, hingga beberapa jurnalis media nasional—telah memadati kursi penonton yang disediakan.

Keisha Azalea Pramesti melangkah anggun menaiki anak tangga panggung utama. Ia mengenakan setelan blazer modern bernuansa krem lembut yang dipadukan dengan selendang tenun tradisional berukir motif khas Sunda, memancarkan aura keanggunan, profesionalisme, dan kehangatan seorang pendiri yayasan seni kelas dunia. Di sampingnya, Alexander Ar-Rasyid berjalan tegap dengan balutan kemeja linen putih lengan panjang dan celana bahan gelap, auranya yang dominan dan berwibawa seketika membuat suasana di sekitar panggung menjadi sedikit lebih tenang penuh hormat.

Siska, yang bertindak sebagai pengatur acara utama hari itu, memberikan isyarat kepada mikrofon podium. Suaranya yang jernih menggema ke seluruh penjuru lapangan terbuka.

"Selamat pagi para tamu undangan yang terhormat, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Pangalengan yang kami banggakan. Kita buka acara seremonial peletakan batu pertama Azalea Sustainable Fashion Academy—sebuah tonggak sejarah baru di mana tradisi seni lokal dan standar mode global bersatu dalam harmoni," suara Siska disambut oleh tepuk tangan meriah dari ratusan hadirin yang memadati area acara.

Keisha melangkah maju mendekati mikrofon utama. Senyuman tulus merekah di bibirnya, manik mata cokelatnya berbinar-binar menatap hamparan luas tanah di hadapannya, tempat di mana impian masa kecilnya kini berubah menjadi kenyataan yang megah.

"Terima kasih kepada seluruh pihak, teristimewa kepada suami tercinta saya, Alexander Ar-Rasyid, dan seluruh warga Pangalengan yang telah memberikan dukungan luar biasa," ucap Keisha dengan suara lembut namun tegas yang sarat akan emosi mendalam. "Akademi ini bukan sekadar bangunan fisik tempat merancang pakaian. Ini adalah rumah bagi setiap tangan terampil, setiap perajin lokal, dan setiap anak muda berbakat yang ingin membuktikan bahwa karya anak bangsa memiliki tempat terhormat di panggung dunia."

Tepuk tangan gemuruh kembali meledak memenuhi udara pegunungan. Para perajin lokal tampak tersenyum terharu, beberapa di antaranya bahkan menyeka sudut mata mereka karena tidak menyangka tradisi tenun warisan leluhur mereka kini mendapatkan apresiasi sebesar ini dari korporasi tingkat nasional.

Alexander, yang berdiri tepat di samping istrinya, menatap Keisha dengan sorot mata penuh pemujaan dan rasa bangga yang luar biasa. Bagi pria yang dulunya dikenal dingin, kaku, dan hanya dikendalikan oleh angka-angka profit bursa saham, melihat senyuman di wajah Keisha adalah pencapaian terbesar yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun di dunia ini.

Sesi inti acara tiba. Pak Karta, perwakilan tokoh masyarakat setempat, bersama Alexander dan Keisha, memegang sekop perak khusus untuk melakukan peletakan batu fondasi pertama di atas tugu prasasti akademi. Dentuman tepuk tangan dan kilatan blitz kamera dari para jurnalis mengabadikan momen sakral tersebut. Imperium keluarga Ar-Rasyid kini tidak lagi hanya berdiri di atas menara baja keuangan Jakarta, tetapi juga berakar kuat di dalam denyut nadi kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, di tengah kemeriahan acara seremonial yang berjalan sempurna di dataran tinggi Pangalengan, ratusan kilometer jauhnya di ibu kota Jakarta, sebuah dinamika berbeda tengah bergolak di balik dinding-dinding kaca ruang rapat darurat lantai empat puluh Ar-Rasyid Tower.

Wakil direktur pelaksana dan kepala divisi hukum korporasi tengah duduk mengitari meja rapat marmer hitam, mendengarkan laporan intelijen terbaru yang baru saja dikirimkan oleh tim investigasi eksternal Singapura.

Di atas layar proyektor besar, terpampang profil seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan sorot mata tajam—Marcus Vance, saudara kandung dari Richard Vance yang saat ini mendekam di sel isolasi tahanan menunggu proses peradilan federal internasional.

"Perhatikan data pergerakan finansial ini," ucap kepala divisi hukum korporasi sambil menunjuk grafik aliran dana di layar proyektor. "Meskipun jaringan Richard Vance di Eropa sudah dilumpuhkan total, Marcus Vance baru saja mendarat di Singapura kemarin malam dengan membawa sisa dana likuiditas sebesar lima puluh juta dolar dari sindikat perbankan bayangan."

Para direktur di dalam ruangan saling berpandangan dengan ekspresi cemas.

"Apa target utama Marcus Vance?" tanya wakil direktur pelaksana dengan nada serius.

"Ia tidak mengincar bursa saham atau sektor energi hijau lagi," jawab sang kepala investigasi melalui sambungan video terenkripsi. "Target utamanya adalah properti dan rantai pasokan logistik domestik kita di Jawa Barat—secara khusus, ia sedang mencoba memprovokasi beberapa kelompok kontraktor lokal di sekitar wilayah pembangunan akademi baru Tuan Alexander di Pangalengan untuk memicu konflik agraria dan sabotase proyek."

Suasana di dalam ruang rapat mendadak menjadi tegang. Para eksekutif tahu persis bahwa Marcus Vance jauh lebih berbahaya dan nekat dibandingkan saudaranya, karena ia tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertahankan setelah seluruh kekaisaran finansial keluarganya runtuh di tangan Alexander.

"Segera kirimkan laporan darurat ini langsung ke perangkat pribadi Tuan Alexander di Pangalengan," perintah sang wakil direktur dengan nada tegas tanpa kompromi. "Pastikan sistem pengamanan di sekitar lokasi akademi ditingkatkan ke level siaga tertinggi."

Kembali di Pangalengan, matahari kini beranjak condong ke barat, memancarkan bias cahaya senja berwarna jingga tua keemasan yang memantul indah di atas atap vila peristirahatan. Acara seremonial peletakan batu pertama telah selesai dengan sukses besar, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga dan tamu undangan yang hadir.

Keisha dan Alexander duduk berdua di beranda belakang vila, menikmati ketenangan sore hari sambil menyesap teh hangat. Angin pegunungan bertiup pelan, membawa kesejukan yang menenangkan jiwa.

"Hari ini benar-benar sempurna, Alexander," ucap Keisha pelan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Aku masih merasa seperti sedang bermimpi melihat senyuman para perajin tadi pagi."

Alex merangkul pinggang istrinya erat-erat, mengecup puncak kepala Keisha dengan penuh kelembutan. "Itu bukan mimpi, Keisha. Itu adalah awal dari kenyataan baru yang kubangun untukmu."

Namun, di tengah momen damai tersebut, getaran pelan terasa dari ponsel pintar terenkripsi yang berada di atas meja kayu di sebelah mereka. Layar kecil itu menyala, menampilkan lampu indikator merah berkedip—tanda panggilan darurat tingkat tinggi dari ruang kendali pusat Jakarta.

Alex mengernyitkan dahi. Ia mengambil ponsel tersebut, membuka kuncinya dengan pemindai sidik jari, dan membaca pesan singkat terenkripsi yang dikirimkan langsung oleh Siska.

Peringatan Darurat: Marcus Vance terpantau berada di Asia Tenggara. Bergerak menuju koridor Jawa Barat dengan rencana sabotase proksi terhadap proyek akademi baru. Tim pengamanan tambahan sudah dikerahkan menuju lokasi.

Manik mata kelam Alexander menyipit tajam seketika. Aura dingin dan mematikan yang sempat mereda selama beberapa hari terakhir kembali menguar dari tubuh pria itu, mengubah atmosfer di sekitar beranda menjadi tegang.

Keisha, yang merasakan perubahan drastis pada tubuh suaminya, mengangkat kepalanya dan menatap manik mata Alex dengan insting tajam yang tidak pernah meleset.

"Ada apa, Alex?" tanya Keisha tenang namun tegas. "Laporan dari Jakarta?"

Alex menatap istrinya lekat-lekat, menyadari bahwa ia tidak bisa dan tidak pernah ingin menyembunyikan apa pun dari wanita hebat di hadapannya ini. Ia menghela napas perlahan sebelum menjawab.

"Marcus Vance," ucap Alex dingin. "Kakak kandung Richard Vance. Ia datang ke Asia Tenggara membawa sisa dana gelap, dan target sasarannya saat ini adalah mencoba memprovokasi wilayah sekitar akademi kita di Pangalengan."

Alih-alih menunjukkan rasa takut atau panik, sudut bibir Keisha justru terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh ketegasan baja. Ia menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya tanpa keraguan sedikit pun.

"Rupanya keluarga Vance benar-benar tidak memiliki akal sehat untuk belajar dari kesalahan saudara-saudara mereka," ucap Keisha tenang, suaranya terdengar dingin dan berwibawa.

Alex meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat-erat dengan penuh keyakinan mutlak. "Jangan khawatir, Keisha. Aku sudah mengerahkan tim pengamanan taktis elit untuk menyisir seluruh perbatasan wilayah ini. Marcus Vance tidak akan pernah bisa menyentuh satu jengkal pun tanah akademi ini."

Alex berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya, lalu menatap cakrawala senja di hadapan mereka dengan tatapan predator yang siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangan keluarganya. Badai baru mungkin sedang merangkak mendekat di balik kabut tebal pegunungan Priangan, namun Alexander dan Keisha berdiri berdampingan sebagai satu kekuatan mutlak yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh siapapun di dunia ini.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!