Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hitung Mundur Dua Minggu
Kirana pulang dari makan malam itu dengan pikiran yang berkecamuk, namun ia tahu waktu adalah hal yang paling berharga sekarang. Begitu sampai di rumah, meski sudah larut malam, ia langsung mengumpulkan Sari, Denis, dan menghubungi Pak Wibowo melalui panggilan video untuk menyampaikan seluruh informasi yang berhasil ia gali dari Fajar.
"Dua minggu," Sari mengulang informasi itu dengan wajah tegang, mencatat cepat di buku catatannya. "Mereka akan mengajukan tawaran akuisisi begitu laporan kuartalan dipublikasikan, dengan asumsi kondisi finansial kita masih terlihat rentan."
"Kita perlu mempersiapkan laporan itu dengan sangat hati-hati," Pak Wibowo menambahkan dari layar panggilan video. "Jika kita bisa menunjukkan bahwa perusahaan sebenarnya dalam kondisi lebih stabil dari yang mereka perkirakan, ini bisa mematahkan alasan utama mereka untuk mengajukan tawaran di bawah nilai pasar."
Denis, yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama, mengusulkan sesuatu. "Bagaimana kalau kita juga mempertimbangkan mencari investor alternatif yang lebih ramah, untuk menunjukkan bahwa kita punya opsi lain selain harus tunduk pada tawaran Meridian? Ini bisa memperkuat posisi tawar kita."
"Itu ide bagus," Pak Wibowo mengangguk setuju. "Aku punya beberapa kontak di industri keuangan yang mungkin tertarik menjadi mitra strategis, bukan pengakuisisi. Aku akan mulai menghubungi mereka besok pagi."
Kirana, meski lelah secara emosional setelah pertemuan dengan Fajar, tetap berusaha fokus pada strategi yang sedang mereka susun. "Ada satu hal lagi. Fajar bilang dia tidak ingin menjadi bagian dari rencana yang menyakiti keluarga kita. Dia mungkin bisa jadi sumber informasi tambahan kalau kita membutuhkannya."
"Bisakah kita mempercayainya sepenuhnya?" tanya Sari, skeptis. "Dia tetap bekerja untuk pihak yang menjadi ancaman kita."
"Aku tidak yakin sepenuhnya," Kirana mengakui jujur. "Tapi informasi yang dia berikan malam ini terbukti akurat dan sangat berharga. Untuk sekarang, mungkin kita bisa memanfaatkan itu dengan hati-hati, tanpa terlalu bergantung padanya."
Diskusi strategi berlangsung hingga larut malam, menyusun berbagai skenario dan langkah antisipasi untuk menghadapi ancaman yang kini memiliki tenggat waktu yang jelas. Meski melelahkan, ada semangat baru yang tumbuh di antara mereka—bukan lagi kepanikan seperti menghadapi krisis kesehatan Bapak beberapa bulan lalu, melainkan kesiapan strategis yang lebih matang, hasil dari pembelajaran mereka menghadapi berbagai tantangan sebelumnya.
Setelah panggilan dengan Pak Wibowo berakhir, dan Denis pamit pulang ke apartemennya, Sari dan Kirana masih duduk berdua di ruang kerja, menikmati keheningan sejenak setelah diskusi yang intens.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sari, memperhatikan raut wajah adiknya yang masih menyimpan beban emosional dari pertemuan dengan Fajar.
"Aku tidak tahu harus merasa apa," Kirana mengakui jujur. "Di satu sisi, aku marah karena dia awalnya mendekatiku dengan motif tersembunyi. Di sisi lain, aku juga menghargai keberaniannya untuk akhirnya jujur dan memberi kita informasi penting."
"Perasaan itu wajar," Sari menjawab bijak. "Situasi ini memang rumit, mencampurkan urusan bisnis dengan urusan hati. Yang penting, kau tetap fokus pada apa yang benar-benar penting—melindungi keluarga kita."
"Bagaimana dengan Raka?" Sari melanjutkan, sedikit hati-hati. "Kau sudah cerita semuanya padanya?"
Kirana menggeleng. "Belum. Aku janji akan cerita besok, setelah aku punya waktu untuk memproses semuanya sendiri malam ini."
"Jangan tunda terlalu lama," Sari mengingatkan lembut. "Kau tahu sendiri betapa pentingnya kejujuran dalam hubungan, terutama setelah kesalahpahaman kemarin."
"Aku tahu," Kirana mengangguk. "Aku akan menghubunginya besok pagi-pagi sekali."
Malam itu, sebelum tidur, Kirana menuliskan beberapa catatan di ponselnya, merangkum semua informasi penting yang perlu ia sampaikan pada Raka besok—bukan hanya soal ancaman bisnis, tapi juga soal perasaannya yang kompleks terhadap pertemuan dengan Fajar, memastikan tidak ada yang tersembunyi kali ini.
Ia menatap keluar jendela kamarnya, melihat langit malam yang tenang, jauh berbeda dari gejolak yang sedang berlangsung di balik dinding-dinding kantor perusahaan keluarga mereka. Dua minggu ke depan akan menjadi ujian besar lainnya bagi keluarga Wijaya—bukan hanya soal mempertahankan bisnis yang dibangun Bapak dengan susah payah, tapi juga soal mempertahankan integritas dan kejujuran yang baru saja mereka pelajari dengan begitu menyakitkan selama beberapa bulan terakhir.
Dengan tekad itu, Kirana akhirnya bisa memejamkan mata, mempersiapkan diri untuk hari-hari penuh tantangan yang menanti di depan.
Keesokan paginya, seperti janjinya semalam, ia menghubungi Raka lebih awal untuk menceritakan seluruh detail pertemuannya dengan Fajar, termasuk informasi penting soal tenggat waktu dua minggu yang kini menjadi fokus utama strategi keluarga.
"Aku bangga padamu," Raka berkata setelah mendengar cerita lengkap itu. "Kau berhasil mendapatkan informasi penting tanpa kehilangan kendali atas situasi, meski pasti tidak mudah menghadapi kembali perasaan lama yang mungkin masih ada di antara kalian."
"Aku hanya fokus pada tujuan melindungi keluarga," Kirana menjawab, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu percakapan dengan Fajar semalam meninggalkan kesan yang lebih kompleks dari yang ia akui pada diri sendiri.
Setelah menutup telepon dengan Raka, Kirana bergegas menuju kantor keluarga untuk bergabung dengan Sari dan Denis yang sudah mulai menyusun jadwal kerja intensif untuk dua minggu ke depan. Papan tulis besar di ruang rapat kini dipenuhi dengan garis waktu dan daftar tugas, mengingatkan mereka semua pada betapa banyak yang harus diselesaikan dalam waktu yang begitu singkat.
"Kita akan membagi tugas berdasarkan keahlian masing-masing," Sari menjelaskan, menunjuk pada papan yang telah ia siapkan. "Waktu kita sangat terbatas, jadi setiap jam akan sangat berharga mulai hari ini."
Denis mengangguk, mencatat setiap detail pembagian tugas dengan seksama. "Aku akan fokus pada penyusunan laporan keuangan yang lebih transparan dan mudah dipahami. Kirana, kau bisa membantu dengan komunikasi eksternal dan hubungan dengan calon investor?"
"Tentu," Kirana menjawab, meski rasa lelah masih terlihat jelas di wajahnya setelah malam yang panjang. "Aku juga akan terus memantau perkembangan dari sisi Fajar, kalau-kalau ada informasi tambahan yang bisa membantu kita."
Sari menatap sekeliling ruang rapat yang kini dipenuhi semangat baru, jauh berbeda dari suasana panik yang mendominasi awal-awal krisis mereka menghadapi kesehatan Bapak beberapa bulan lalu. "Kita sudah melalui begitu banyak hal bersama tahun ini. Aku yakin kita bisa melalui ini juga."
Kata-kata penuh keyakinan itu memberi semangat baru bagi seluruh tim, mempersiapkan diri untuk dua minggu penuh kerja keras yang akan menentukan masa depan perusahaan yang telah dibangun Bapak dengan susah payah selama puluhan tahun.
Sebelum pertemuan strategi itu berakhir, Denis menambahkan satu poin penting. "Kita juga perlu memikirkan bagaimana menjaga semangat kita tetap tinggi selama dua minggu ke depan. Ini akan jadi maraton, bukan sprint, dan kita perlu menjaga energi kita agar tidak kehabisan tenaga di tengah jalan."
"Kau benar," Sari mengakui, teringat pada pelajaran yang mereka petik dari insiden kesehatan Bapak sebelumnya. "Mari kita pastikan tetap menjadwalkan waktu istirahat yang cukup, meski tekanan waktu terasa begitu mendesak."
Kesepakatan itu menjadi prinsip penting yang akan memandu mereka sepanjang dua minggu penuh tantangan yang akan datang—bekerja keras, namun tetap bijaksana dalam menjaga keseimbangan yang telah mereka pelajari dengan cara yang sulit sepanjang tahun ini.
---
*Bersambung ke Bab 35...*