Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Bunga melangkah setengah berlari menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan area pemakaman. Napasnya memburu, dan dadanya naik turun mengendalikan rasa cemas yang mendadak melingkupi perasaannya.
Melihat raut wajah Nyonya mudanya yang pucat pasi, Pak Asep terkejut dan bergegas membukakan pintu mobil.
"Nyonya Bunga? Ada apa, Nyonya? Wajah Nyonya kok pucat sekali seperti orang ketakutan?" tanya Pak Asep panik seraya mengamati sekeliling area makam yang mulai temaram oleh bayang-bayang senja.
Bunga tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu melompat masuk ke dalam mobil dan menunjuk ke arah jalan raya, mengisyaratkan agar Pak Asep segera menjalankan kendaraan tersebut.
"Baik, Nyonya! Kita langsung pulang ke mansion sekarang!" ujar Pak Asep sigap menancap gas, membelah jalanan sore menuju rumah keluarga Alexander.
Sementara itu, di balik rimbunnya pohon beringin tua di pemakaman, sosok pria misterius itu perlahan melangkah keluar dari balik bayangan. Pria paruh baya itu mengenakan topi hitam bertepi lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, di bawah terkaan sinar matahari yang kian meredup, bekas luka kecil di pelipis kirinya tampak begitu nyata, pria itu adalah Panca Wiguna.
Panca menatap kepergiaan mobil Bunga dengan pandangan dingin yang kelam. Jemarinya yang kasar memegang sebuah ponsel, lalu menempelkannya ke telinga.
"Tugas pengawasan selesai," ujar Panca dengan suara parau yang rendah. "Wanita itu baru saja mengunjungi makam Azka. Keanu membiarkannya bergerak dengan pengawalan longgar."
Dari seberang telepon, suara berat berwibawa seorang pria paruh baya membalas dengan nada dingin tak tersentuh. "Bagus. Jangan bertindak gegabah sebelum ada perintah dariku. Keanu mulai mencium keberadaan mu lewat lukisan wanita bisu itu. Buat pergerakanmu semakin bersih."
"Diterima, Bos. Wanita itu tidak akan lolos dari jangkauan kita," jawab Panca singkat sebelum mematikan sambungan telepon.
Setibanya di Mansion Alexander, Bunga langsung berlari kecil menuju kamarnya di lantai dua. Ia mengunci pintu dari dalam, menyandarkan punggungnya di daun pintu sembari menetralkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Bayangan tatapan tak kasat mata di pemakaman tadi benar-benar mengusik ketenangannya.
Tak lama kemudian, deru mesin mobil Keanu terdengar memasuki halaman mansion. Pria itu menyandarkan jasnya di lengan, melangkah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah lelah usai rapat panjang seharian.
"Tuan Keanu sudah pulang?" sapa Bik Ratih dari arah dapur.
"Iya, Bik. Bunga sudah di rumah?" tanya Keanu seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah yang sepi.
"Sudah dari tadi, Tuan. Tapi sepertinya Nyonya Bunga agak cemas waktu datang. Tadi pulang dari... eh," Bik Ratih mendadak menghentikan ucapannya, teringat pesan Pak Asep agar tidak membocorkan masalah mampir ke pemakaman.
Mata tajam Keanu seketika menyipit curiga. "Pulang dari mana, Bik? Jangan ada yang disembunyikan dariku!"
Bik Ratih menunduk takut. "N...Nyonya tadi mampir ke toko bunga dan pergi sebentar ke pemakaman Den Azka, Tuan... Pak Asep yang mengantarnya."
Deg!
Raut wajah Keanu mendadak berubah keras. Tanpa mengulur waktu, ia melangkah lebar menaiki anak tangga menuju kamar utama. Rasa khawatir dan gejolak cemburu yang tak beralasan mendadak bercampur aduk membebani dadanya.
Ceklek!
Keanu memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci rapat. Ia melihat Bunga sedang duduk di tepi ranjang, mendekap kedua lututnya sendiri dengan pandangan mata yang kosong menatap jendela.
"Bunga!" panggil Keanu dengan suara bernada berat dan menekan.
Bunga tersentak kaget, mendongak menatap Keanu yang melangkah mendekat dengan wajah mengeras.
"Kenapa kau pergi ke makam Azka tanpa mengabariku dulu?!" seru Keanu, meluapkan rasa cemasnya yang berubah menjadi nada ketus. "Kau baru saja sembuh dari anemia, dan kau keluyuran ke tempat sepi seperti itu seorang diri! Kau tahu betapa bahayanya jika Panca Wiguna atau orang-orangnya berkeliaran di luar sana?!"
Bunga terpaku menatap suaminya. Ia memegang buku catatannya, jemarinya yang gemetar menuliskan jawaban:
'Aku hanya rindu Mas Azka, Kak... Aku hanya ingin berdoa sebentar untuknya.'
Keanu membaca tulisan itu. Kata 'rindu Mas Azka' terasa bagaikan sembilu yang menancap halus di hatinya, memicu rasa sakit yang tak berwujud. Namun di saat yang sama, ia melihat tubuh Bunga yang masih sedikit gemetar.
Keanu menghela napas panjang, meredakan emosinya yang membumbung tinggi. Ia mendudukkan dirinya di samping Bunga, menatap wanita itu dari dekat.
"Ada apa, Bunga?" tanya Keanu dengan nada yang perlahan melunak, menyadari raut trauma di wajah istrinya. "Terjadi sesuatu di makam tadi?"
Bunga menatap Keanu, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes. Ia kembali meremas pulpen dan menorehkan kata-kata yang membuat raut wajah Keanu seketika membeku:
'Kak... di makam tadi, aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dari balik pohon. Perasaanku persis seperti saat malam orang tuaku dibunuh... Aku takut, Kak Keanu...'
Raut wajah Keanu seketika mengeras. Rasa cemburu yang sempat melingkupi dadanya menguap habis, berganti dengan insting perlindungan yang begitu tajam. Pria itu menyambar buku catatan Bunga, membaca tulisan itu sekali lagi sebelum akhirnya menatap Bunga yang sedang terisak pelan di sampingnya.
Keanu meraih kedua bahunya Bunga, menarik tubuh mungil yang gemetar itu ke dalam pelukannya. Tangan tegapnya mengusap lembut punggungnya Bunga yang terbalut kain hijab, mencoba menyalurkan rasa aman yang paling dalam.
"Sssttt... Tenang, Bunga. Kau aman di sini," bisik Keanu dengan suara bernada rendah dan menenangkan. "Aku di sini. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu."
Bunga membenamkan wajahnya di dada bidang Keanu, meremas kemeja suaminya seraya meluapkan ketakutan yang sejak tadi menekan dadanya. Hembusan napas hangat dan aroma maskulin dari tubuh Keanu perlahan-lahan meredakan gemetar di jemarinya.
Setelah isakan Bunga mereda, Keanu melonggarkan pelukannya, namun kedua tangannya tetap menggenggam jemari dingin istrinya.
"Pria itu pasti Panca Wiguna atau orang utusannya," ujar Keanu dengan tatapan mata yang berkilat dingin dan penuh bahaya. "Mereka mulai sadar kalau kau mengenali wajahnya. Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun tanpa pengawalan ketat."
Bunga mendongak pelan, mengusap sisa air mata di pipinya. Ia mengangguk pasrah, menyadari bahwa keselamatannya memang sedang terancam.
Keanu mengambil ponsel dari saku jasnya, menekan nomor telepon Adrian dengan cepat.
"Adrian, ketatkan penjagaan di sekitar Mansion Alexander malam ini," perintah Keanu tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung. "Periksa juga CCTV lalu lintas di sekitar pemakaman umum sore ini. Panca Wiguna atau anak buahnya sempat membuntuti Bunga."
"Baik, Tuan Keanu! Saya akan mengerahkan tim keamanan internal sekarang juga dan berkoordinasi dengan petugas lapangan," sahut Adrian sigap dari seberang telepon.
"Pastikan tidak ada celah sekecil apa pun," pangkas Keanu sebelum mematikan telepon.
Keanu meletakkan ponselnya di meja nakas, lalu kembali menatap Bunga yang masih terpaku menatapnya. Pria itu menghela napas panjang, mengusap puncak kepala Bunga dengan lembut.
"Malam ini, tidurlah di ranjang," ucap Keanu dengan nada datar namun hangat. "Aku akan menjagamu di sini."
Bunga meraih buku catatannya dengan cepat:
'Lalu Kak Keanu tidur di mana?'
"Aku tidur di sofa," jawab Keanu tegas. Ia menyelimuti tubuh Bunga hingga batas dada, lalu beranjak menuju sofa di sudut kamar. "Jangan banyak berpikir lagi. Tidurlah, kau butuh istirahat."
Bunga menarik selimutnya lebih rapat, menatap punggung tegap Keanu yang kini berbaring di atas sofa. Di balik ancaman bahaya yang kian mendekat dari bayang-bayang Panca Wiguna, Bunga merasakan kehangatan yang tak pernah ia duga sebelumnya, kehangatan dari seorang Keanu Alexander yang bersumpah akan melindunginya dengan mempertaruhkan segalanya.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander