Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Malam Tanpa Mama, Teror Foto Newborn, dan Doa Syukuran Zavia
Malam Minggu pukul 22.00 WIB, suasana rumah berlantai dua milik Dimas mendadak diliputi kecemasan halus.
Kiara yang kelelahan pasca-melahirkan menderita demam ringan akibat sumbatan kelenjar ASI. Setelah meminum obat dan memompa ASI, Dimas memaksa istrinya untuk istirahat total di kamar utama.
"Malam ini kamu istirahat aja....tidur yang nyenyak, Ra. Titik. Gak usah mikirin apa pun. Zavia sama Rayyan sepenuhnya tanggung jawab Mas," tegas Dimas seraya membetulkan selimut Kiara dan mengecup keningnya yang hangat.
Kiara yang matanya sudah berat hanya bisa mengangguk pasrah.
"Mas... kalau Zavia butuh ASI perah ada di kulkas, kalau rewel bangunin aku ya Mas..."
"Mas bisa, Cinta. Percaya sama suami kamu," bisik Dimas percaya diri.
Namun, rasa percaya diri sang pejabat tegap itu diuji tepat pada pukul 01.30 pagi.
Zavia terbangun dan menangis melengking meminta ganti popok dan susu hangat. Di saat yang bersamaan, Rayyan mendadak terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk, berlari keluar kamar seraya menyeret guling kelincinya.
"Paaaa! Ada monster hijau di bawah kasur Rayyan!" jerit Rayyan parau seraya memeluk erat kaki kiri Dimas.
Pemandangan di kamar bayi pukul dua pagi itu luar biasa absurd.
Dimas berdiri menggendong Zavia dengan tangan kirinya seraya menepuk-nepuk punggung si bayi agar bersendawa pasca minum botol.
Sementara tangan kanannya mendekap leher Rayyan. Baju kaos oblong hitam Dimas sudah ternoda sedikit noda susu perah, sementara mukanya pucat menahan kantuk.
"Tenang, Ray... Monster hijau-nya sudah Papa usir pakai jurus silat," bisik Dimas dengan suara serak, mencoba menjaga vokalnya tetap lembut agar Zavia tidak kaget.
"Sekarang Rayyan duduk di samping boks Zavia, bantu Papa nyanyi lagu pengantar tidur ya?"
Rayyan mengusap matanya yang sembap, menatap adiknya yang mendengkur halus.
"Lagu apa, Pa? Lagu Balonku Ada Lima versi rock kayak dulu?"
"Jangan versi rock, Ray! Nanti Dedek Zavia melompat dari kasur!" potong Dimas panik setengah berbisik.
Selama satu jam berikutnya, Dimas memimpin "piket malam" dengan memangku kedua anaknya sekaligus di sofa.
Dengan suara baritonnya yang dalam dan hangat, Dimas menyanyikan senandung lembut hingga Zavia dan Rayyan akhirnya tertidur lelap di dada dan pangkuannya.
Ketika Kiara terbangun jam lima pagi dan turun ke ruang tengah, air mata harunya hampir menetes melihat suaminya tertidur lelap dalam posisi duduk dengan kedua anak mereka tertidur pulas dalam pelukannya.
Sore hari, saat kondisi Kiara sudah membaik, giliran Fahri dan Widya yang berkunjung membawa oleh-oleh vitamin dan buah-buahan.
Sementara Widya menemani Kiara di teras belakang, Fahri duduk di meja kerja Dimas seraya memamerkan sebuah dokumen tebal berkonsep slide deck dari laptopnya.
"Dim, coba lu tinjau draft ini," ujar Fahri kaku seraya membetulkan tata kacamata emasnya.
"Ini adalah Roadmap Kesiapan Finansial dan Parenting 5 Tahun yang saya susun buat keluarga kecil saya dan Widya."
Dimas yang sedang menyeruput kopi hitam nyaris tersedak. Ia menatap layar laptop Fahri yang berisi diagram lingkaran dan alokasi dana pendidikan anak hingga jenjang universitas.
"Fahri... lu sama Widya kan baru nikah sebulan. Widya juga belum hamil," cetus Dimas melongo.
"Lu sudah bikin alokasi dana asuransi kesehatan anak ketiga?!"
"Antisipasi presisi, Dimas!" tegap Fahri membela diri.
"Setiap langkah harus terukur agar tidak terjadi lonjakan inflasi domestik!"
Tiba-tiba Widya melangkah masuk dari teras, menyambar laptop Fahri dengan senyuman jahil, lalu menutup layar laptop tersebut
KLAK!
"Mas Fahri..." panggil Widya lembut namun penuh aura intimidasi manis.
"Daripada pusing mikirin dana kuliah anak ketiga, sekarang tugas mas sebagai suami adalah mengantar istrinya makan es krim puter di Lapangan Sukabumi malam ini tanpa bawa dokumen satu lembar pun!"
Fahri terpaku, memandang istrinya dengan mata berkedip-kedip kaku.
"T-Tapi Widya... evaluasi katering mingguan kita—"
"Gak ada tapi-tapi, Mas Fahri!" potong Widya renyah seraya menarik tangan suaminya berdiri.
Dimas tertawa terpingkal-pingkal menatap sang penyidik kaku yang akhirnya pasrah ditarik keluar rumah oleh istrinya sendiri.
...***...
Dua hari kemudian...
Geng Harmony kembali berkumpul di rumah Dimas untuk membantu persiapan acara Syukuran dan Aqiqah Zavia.
Dave, yang merasa memiliki bakat fotografi terpendam, berinisiatif menggelar sesi foto Newborn mandiri di ruang tengah tanpa menyewa fotografer profesional.
"Gue jamin hasilnya sekelas majalah internasional, Bos!" seru Dave penuh percaya diri.
Ia menata kain bulu-bulu sintetis warna krem di atas karpet, memasang lampu lighting studio, dan menyiapkan bermacam-macam aksesori: mahkota mungil, sayap malaikat bulu putih, dan bando bunga.
Bagas ditunjuk sebagai asisten penata gaya, sementara Menik dan Tamara membantu memegangi reflektor cahaya.
"Oke, Princess Zavia... senyum sedikit ke kamera Paman Dave ya!" goda Dave yang merangkak di lantai dengan kamera DSLR mahal di tangannya.
Zavia yang mengenakan gaun putih mungil lengkap dengan sayap malaikat tampak sangat menggemaskan. Namun tepat saat Dave menghitung "Satu... dua... tiga! smile!"—
SURRR...
Zavia yang tidak memakai popok selama sesi foto mendadak memancurkan air seni hangat yang mengenai kain bulu-bulu mahal milik Dave! Tak berhenti di situ, bayinya mendadak menggeliat dan mengeluarkan bunyi preeet! khas pup bayi baru lahir!
"ASTAGA DAVE! KAIN SUTRA LU DIBASAHI ZAVIA!" jerit Bagas tertawa terbahak-bahak sampai berguling di sofa.
"KAMERA GUE! KENA CIPRATAN AIR SENI KEPONAKAN!" teriak Dave histeris namun tak berani marah.
Pria itu justru memotret momen kepanikan itu berkali-kali. "Tapi gak papa! Ini estetika momen alami!"
Seluruh ruangan seketika pecah oleh tawa riuh. Dimas hanya bisa menepuk dahi seraya tertawa lebar, sementara Kiara dan Menik dengan sigap membersihkan tubuh Zavia.
Malam harinya, acara Syukuran dan Aqiqah Zavia Nayla Shanum berlangsung dengan begitu syahdu dan khidmat. Tenda putih berhias tirai pastel dan lampu hias temaram berdiri anggun di halaman depan rumah.
Kerabat dekat, tetangga komplek, Pak RT, serta seluruh keluarga besar Geng Harmony hadir mengenakan busana muslim bernuansa putih bersih. Suara lantunan Shalawat dan doa kebaikan mengalun merdu, menggetarkan dada setiap orang yang hadir.
Dimas menggendong Zavia yang tertidur lelap dalam balutan kain selendang sutra, berjalan memutar menghampiri para sepuh dan sahabat untuk prosesi pemotongan sedikit helai rambut sang bayi. Di sampingnya, Kiara berjalan anggun menggandeng jemari mungil Rayyan.
Saat tiba di hadapan barisan Geng Harmony, Fahri, Arga, Bagas, Dave, Galang, Daffa, dan Rendra bergantian mengusap lembut kepala bayi Zavia seraya memanjatkan doa terbaik.
"Tumbuh jadi anak yang solehah, cerdas, dan penuh kasih sayang ya, Zavia..." bisik Fahri tulus.
Selesai acara, saat para tamu mulai pamit pulang, Dimas dan Kiara berdiri di teras depan. Sinar rembulan Kota Sukabumi membiaskan pendar hangat di wajah mereka.
Dimas merangkul pinggang Kiara dari samping, merapatkan tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Zavia tertidur lelap di boks dalam rumah, sementara Rayyan sudah tertidur lelap di kamar atas bersama bonekanya.
"Terima kasih ya, Ra..." bisik Dimas lembut, mendaratkan kecupan hangat di pelipis Kiara.
"Terima kasih sudah menghadirkan Zavia, merawat Rayyan, dan memberi Mas kehidupan yang sangat indah ini."
Kiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.
"Aku yang harusnya terima kasih, Mas..." balas Kiara dengan mata berbinar bahagia.
"Terima kasih sudah jadi pahlawan pelindung, suami paling sabar, dan Papa paling sempurna buat keluarga kita."
Di bawah naungan langit malam Sukabumi yang tenang, Dimas dan Kiara menyadari bahwa perjalanan panjang penuh luka, fitnah, dan perjuangan masa lalu telah bermuara pada satu titik takdir yang sempurna:
sebuah keluarga yang terikat oleh cinta abadi, kesetiaan tanpa batas, dan kebahagiaan sejati.