NovelToon NovelToon
Your Obsession

Your Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Cemburu yang Tersisa dan Kepungan di Area Parkir

Pria di depannya benar. Tindakannya malam ini memang terasa berlebihan bagi orang lain, namun bagi Aldo, tak ada kata berlebihan jika itu menyangkut Raisha. Dulu, Aldo bertindak destruktif demi memuaskan dorongan ego dan ketertarikan abnormalnya pada wanita berpasangan. Namun sekarang, setiap langkah manipulatif yang dieksekusinya memiliki arah yang berlawanan: murni untuk melindungi wanita melajang yang telah berhasil meretas pertahanan hatinya.

​"Dia beda," bisik Aldo lirih pada gelas krisil di tangannya, hampir tak terdengar di tengah gaung musik bar.

​Aldo meneguk habis sisa wiskinya, meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja bar, lalu berdiri tegak seraya menyampirkan jaketnya. Malam semakin larut, dan permainannya menyingkirkan ancaman Mita telah usai secara mutlak. Kini, satu-satunya fokus yang tersisa di kepalanya adalah bagaimana cara meyakinkan Raisha besok pagi bahwa hatinya telah sepenuhnya bersih dari noda masa lalu.

Teman bartender-nya meletakkan kembali kain lap di atas meja kayu, matanya memperhatikan gerakan Aldo yang sedang merapikan kerah jaketnya. Rasa penasaran di wajah sang bartender makin menjadi-jadi setelah mendengar nada suara Aldo yang tidak biasa saat menyebut nama wanita tersebut.

"Aku cuma penasaran aja, Al... Nggak berani macam-macam juga sama mainannya Tuan Muda... Aldo," ucap temannya seraya terkekeh pelan, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat memadat.

"Lagian, kenapa juga sih kamu harus cosplay jadi budak korporat segala? Padahal kalau mau, hidupmu kan jauh lebih santai sebagai pewaris perusahaan."

Aldo tidak membalas gurauan itu. Pria itu menyampirkan jaketnya ke bahu, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tak tersentuh emosi luar.

"Aku pergi," ujar Aldo singkat, memutar badannya dan melangkah keluar membelah pintu kaca bar, meninggalkan teman lamanya yang hanya bisa menyunggingkan senyum menggeleng-gelengkan kepala di balik meja counter.

Keesokan paginya, matahari baru saja merayap naik menembus sela-sela gedung tinggi Jakarta. Seperti sebuah rutinitas baru yang tak tertulis, Aldo sudah bertengger di atas motor sport hitamnya tepat di depan gerbang apartemen Raisha.

Ketika Raisha melangkah keluar dari lobi dengan tas kerja menyampir di bahunya, langkahnya seketika terhenti. Pandangannya mendarat pada sosok Aldo yang sudah menunggunya seraya melemparkan senyuman tipis yang hangat. Raisha terdiam sejenak, membiarkan dadanya bergemuruh oleh kombinasi antara rasa hangat dan cemas yang saling beradu.

Raisha melangkah mendekat, namun alih-alih langsung meraih helm yang disodorkan, dia menatap Aldo dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya.

"Besok kamu nggak usah jemput aku lagi, Al," ujar Raisha pelan tapi tegas.

Aldo mengernyitkan dahinya, menghentikan gerakannya yang hendak menyerahkan helm. "Kenapa?"

"Rumor di kantor kan belum sepenuhnya mereda, apalagi..." Raisha mendadak memutus kalimatnya, menggigit bibir bawahnya ragu. Bayangan pesan beracun dari Mita kemarin sore kembali berputar di kepalanya, menimbulkan riak ketakutan bahwa keberadaan Mita akan makin memperkeruh suasana.

Aldo menatap mata Raisha dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum tipis seolah bisa membaca arah pikiran wanita di hadapannya.

"Mita mengancam kamu?" tebak Aldo tepat sasaran.

Raisha sedikit terkejut, matanya membelalak pelan. Bagaimana pria ini bisa tahu dengan sangat cepat?

"Dia juga mengirim pesan ancaman sama aku," sahut Aldo santai, menyodorkan helm itu kembali ke jemari Raisha. "Nggak usah kamu gubris. Nanti juga dia bakalan kena sial sendiri karena perbuatannya."

Raisha menatap Aldo dan helm di tangannya bergantian. Ada sedikit keraguan yang mengganjal di dalam dadanya, apakah pernyataan Aldo bisa dipercaya sepenuhnya? Namun, melihat raut wajah Aldo yang sangat tenang dan meyakinkan, Raisha akhirnya mengalah. Dia menghela napas panjang, mengenakan helm tersebut, lalu naik dibonceng di belakang Aldo membelah kemacetan pagi.

Begitu motor Aldo memasuki area parkir gedung kantor, kebersamaan mereka yang tersaji terang-terangan di depan publik sudah bukan lagi hal yang mengejutkan bagi para karyawan.

Bisik-bisik di koridor bahkan sudah berkembang sangat jauh: mayoritas staf di lantai lima meyakini bahwa Raisha dan Aldo kini resmi berpacaran, mengabaikan fakta bahwa belum ada komitmen terucap di antara keduanya.

Setelah mematikan mesin motor dan melepas helm, Raisha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia melirik Aldo yang sedang mengancingkan kancing kemeja atasnya.

"Al, nanti pulangnya kamu duluan aja ya. Aku mau bareng Reno," kata Raisha santai seraya berbalik hendak melangkah menuju lif.

Aldo yang baru saja melangkah dua jalan spontan berbalik mendadak.

Tanpa memberi jeda peringatan, Aldo melangkah cepat memotong jalur Raisha. Sebelum Raisha sempat menghindar, Aldo mengikis jarak di antara mereka, mengunci pergerakan Raisha hingga wanita itu mundur dan terpojok di antara bodi motor sport yang dingin dan tubuh tinggi Aldo yang tegap.

Raisha gelagapan seketika. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Sensasi hangat dari tubuh Aldo dan aroma parfum kayu cendananya yang pekat langsung mengepung indra penciumannya, membuat napas Raisha tertahan di tenggorokan.

"Reno lagi? Ada keperluan apa?" introgasi Aldo dengan suara rendah yang menekan, matanya berkilat memancarkan rasa tidak suka yang amat transparan.

Raisha panik, matanya bergerak liar mengedarkan pandangan ke sekeliling area parkir basement yang mulai dipadati karyawan yang baru berdatangan.

"Al! Jangan begini, nanti dilihat orang lain!" bisik Raisha setengah memekik, kedua tangannya mengudara mencoba mendorong dada bidang Aldo untuk menciptakan jarak.

Namun tubuh Aldo bergemiring bagai dinding batu. Pria itu sama sekali tidak bergeming oleh dorongan lemah Raisha, pandangan matanya yang tajam tetap mengunci iris mata Raisha tanpa alih.

"Ada urusan apa sama Reno?" ulang Aldo lagi, nadanya kali ini menuntut jawaban yang pasti.

Raisha menghela napas gusar, heran setengah mati dengan sikap Aldo yang mendadak berubah sangat posesif dan mendominasi hanya karena nama Reno disebutkan.

"Cuma ada perlu aja! Sama pacarnya juga!" jawab Raisha cepat, mencoba menjelaskan fakta yang sebenarnya agar pria di hadapannya ini menyadari betapa konyolnya rasa cemburu tersebut.

"Sisil ajak aku makan malam bertiga sekalian mau bahas acara liburan kecil nanti."

Mendengar nama kekasih Reno ikut diseret dalam alasan tersebut, otot-otot tegang di rahang Aldo perlahan mereda. Kilatan bahaya di matanya surut, berganti dengan ekspresi datar yang kembali terkontrol.

Aldo sedikit mundur satu langkah, melepaskan kepungannya dan memberi ruang napas bagi Raisha yang dadanya masih naik-turun karena kaget.

"Oke," jawab Aldo singkat, teramat datar tanpa ada permintaan maaf atas tindakan impulsifnya barusan.

Pria itu memutar badannya dan berjalan lebih dulu menuju pintu lif utama, meninggalkan Raisha yang berdiri mengelus dadanya di samping motor, sadar betul bahwa terlepas dari hilangnya pengaruh Mita, rasa posesif dalam diri Aldo adalah ancaman baru yang jauh lebih sulit untuk dikendalikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!