NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Malam Beraroma Kuah

Daun jendela kayu berderit pelan sewaktu angin petang menyeruak masuk, mengusik tumpukan gulungan arsip yang menindih meja. Cahaya yang tadinya kuning pekat perlahan menggelincir menjadi jingga, lalu lambat-lambat disapu merah tua dari arah gerbang kota.

Dari lantai bawah, derik roda gerobak konvoi yang baru kembali dari jalur pegunungan bercampur dengan suara para pedagang yang menurunkan barang dagangannya di pasar sayur. Seekor anjing menggonggong di kejauhan, lalu semuanya kembali menjadi suara-suara rumah sewa yang biasa: air guci yang dituang, potongan percakapan di seberang dinding, dan derit anak tangga.

Nuri berdiri di depan tungku yang masih menyisakan bara, sementara pikirannya sama sekali tidak sedamai ruangan itu. Setiap kali ia mengedipkan mata, yang ia lihat bukanlah dapur sempit ini, melainkan wajah bermata abu-abu yang kemarin berdiri di ambang pintu sambil mengucapkan sebuah hukum yang dingin.

Orang-orang yang terlibat dalam perkara semacam itu biasanya mati bersama-sama. Aku masih hidup? Sungguh beruntung aku masih bernapas? Kata-kata penyidik bermata abu-abu itu bergema di kepalanya, dan dadanya menegang kaku seolah kena seikat baja.

Nyaris saja ia melempar gulungan arsip bersegel lilin merah untuk mengejar para penyidik yang telah turun dari rumah sewa itu sore kemarin, memohon dijadikan saksi yang dilindungi.

Namun begitu telapaknya menyentuh gagang pintu, ia berhenti seperti terkena semacam sumpah.

Kalau benar ada bahaya yang mengancam nyawa, mengapa mereka tidak menjaganya—seorang saksi penting, petunjuk utama sebuah perkara?

Bukankah itu terlalu ceroboh?

Atau mereka hanya sedang mengujinya? Atau ini semacam umpan?

Segala macam dugaan berdesakan. Nuri mulai mencurigai bahwa para penyidik masih diam-diam mengawasi dari kejauhan, menunggu reaksi yang akan ia perlihatkan.

Setelah berpikir begitu, kegelisahannya justru menyurut. Ia membuka pintu secara perlahan dan sengaja berteriak dengan suara bergetar menuju lorong tangga, "Kalian akan melindungiku, bukan?"

Tuk. Tuk. Tuk. Tidak ada sahutan, dan irama sepatu yang menggesek anak tangga kayu tidak berubah sedikit pun.

"Aku tahu! Kalian pasti melakukannya!" teriaknya lagi dengan nada yakin yang dibuat-buat, berlagak seperti orang kebanyakan yang terguncang oleh bahaya.

Suara langkah itu semakin lamat, akhirnya tenggelam di lantai dasar rumah sewa.

Nuri mendengus lalu tergelak pelan. "Responsnya terlalu dibuat-buat. Akting mereka jauh dari kata layak."

Ia tidak mengejar mereka. Ia berbalik, memutar pengunci pintu, dan kembali ke dalam kamar.

Selama beberapa jam berikutnya, ia memperagakan kegelisahan, kegugupan, dan kegundahan seorang pemuda yang nyaris kehilangan nyawa—mondar-mandir di sepanjang ruangan, sesekali menggumam kata-kata yang bahkan tidak ia mengerti, dan menatap kosong ke arah jendela seolah memikirkan kaburnya ke luar kota. Ia tidak kendur meskipun tidak ada seorang pun yang menyaksikan.

Inilah yang disebut latihan seorang pemeran. Nuri menertawakan dirinya sendiri di dalam hati.

Di sela-sela kepura-puraan itu, ia berulang kali menyentuh gagang belati yang terselip di balik bajunya. Ia tidak tahu dari mana benda itu berasal—apakah warisan, rampasan, atau sesuatu yang sengaja ditinggalkan orang—tetapi insting seorang peramal rasi yang terbiasa menanti langit di malam-malam paling gelap berbisik bahwa mempercayai benda mencurigakan sama berbahayanya dengan melupakannya sepenuhnya.

Untuk sekarang, cukup ia simpan di tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun, dan berharap jawaban datang sebelum bahaya mengetuk pintunya sendiri.

---

Ketika matahari condong ke barat dan awan di ufuk tampak kemerah-jinggaan, para penghuni rumah sewa pulang satu per satu. Perhatian Nuri berpindah ke sisi lain.

"Sena hampir selesai pelajarannya di Sekolah Teknik..." Ia menatap tungku, mengangkat cerek, dan mengeluarkan belati yang ia selipkan di celah balik kotak arang ketika pulang tadi.

Tanpa jeda, ia merunduk ke sisi bawah tempat tidur bertingkat dan menjulurkan tangan ke balik papan di bagian belakang, tempat belasan bilah kayu tersusun tidak beraturan.

Setelah menyelipkan gagang belati di antara bilah dan papan, ia menegakkan diri dan menunggu dengan gelisah, takut para penyidik akan mendobrak pintu dan menyerbu masuk dengan senjata terhunus.

Kalau ini dunia yang sederhana tanpa kekuatan aneh, ia yakin tak seorang pun akan melihat gerakannya tadi. Namun di sini ada hal-hal yang jauh di luar akal sehat—yang barusan ia buktikan sendiri lewat pengalamannya.

Beberapa menit berlalu tanpa gerakan apa pun di pintu. Hanya terdengar celoteh dua penyewa yang hendak menuju kedai minuman di Jalan Pintu Besi.

"Fiuh." Nuri menghela napas lega.

---

Kini yang ia perlukan hanyalah menunggu Sena pulang, lalu memasakkan rebusan kambing berpadu kacang polong muda.

Begitu gagasan itu melintas, mulutnya seolah merasakan gurihnya kuah. Ia teringat bagaimana Sena biasa memasaknya: pertama-tama air direbus dan daging ditumis sebentar; lalu bawang, garam, sedikit merica, dan air dimasukkan; setelah beberapa saat kacang polong dan kentang dicampurkan, dan rebusan itu dimasak kembali selama beberapa puluh menit dengan tutup tertutup rapat.

"Ini memang cara yang sederhana, bahkan kasar. Sepenuhnya bertumpu pada rasa daging itu sendiri!" Nuri menggeleng-gelengkan kepala.

Namun tidak ada jalan lain bagi orang kebanyakan. Sulit bagi mereka yang hanya menyantap daging sekali atau dua kali dalam sepekan untuk memikirkan bumbu berlapis dan teknik yang rumit; yang penting dagingnya tidak gosong atau basi.

Nuri sendiri sebenarnya bukan juru masak yang baik dan lebih sering membeli makanan dari penjual kaki lima. Tetapi dengan memasak tiga atau empat kali dalam sepekan, setelah berminggu-minggu berlatih, ia memiliki standar yang lumayan dan merasa tidak akan mengecewakan dua kati daging kambing yang sudah ia beli.

"Kalau Sena pulang lalu baru memasaknya, pasti lewat pukul setengah tujuh. Ia akan kelaparan sampai saat itu... Sudah saatnya ia melihat apa arti memasak yang sesungguhnya!" Nuri mencari alasan untuk dirinya sendiri.

Pertama, ia mengipasi bara kembali menyala, pergi ke kamar mandi mengambil air, lalu membasuh daging kambing itu. Kemudian ia mengeluarkan papan dan pisau dapur, dan membelah daging hingga tiap potongnya kecil dan merata.

Untuk kemampuan masaknya yang tiba-tiba menanjak, ia memutuskan untuk menyerahkan semua pujian kepada Tuan Hyun yang sudah meninggal—seseorang yang bukan hanya mempekerjakan juru masak yang mahir dengan cita rasa khas wilayah selatan, tetapi juga sering meracik hidangan sendiri dan mengundang orang-orang untuk mencicipinya.

Orang mati tidak akan bisa membantah!

Tetapi, astaga, ini adalah dunia dengan para Praktisi; orang mati belum tentu tidak dapat berbicara. Dengan pikiran itu, hati Nuri terasa sedikit bersalah.

Ia membuang pikiran yang berantakan itu dan memasukkan potongan daging ke dalam mangkuk. Lalu ia mengambil kotak bumbu, menuangkan sesendok garam kasar yang setengahnya mulai menguning, dan dengan hati-hati menaburkan sejumput butiran merica hitam dari botol kecil khusus, lalu mengaduknya hingga daging terbumbui rata.

Ia meletakkan panci di atas tungku, dan sambil menunggu panci panas, mengobrak-abrik keranjang untuk menemukan sisa wortel kemarin, lalu memotongnya bersama bawang yang ia beli hari ini.

Begitu persiapan selesai, ia mengambil kaleng kecil dari lemari dan membukanya. Tinggal sedikit lemak di dalamnya.

Nuri menyendok sesendok lemak, memasukkannya ke dalam panci, dan membiarkannya meleleh. Ia menambahkan wortel dan bawang, lalu mengaduknya sebentar.

Begitu aroma mulai menyebar, Nuri menuangkan seluruh daging kambing ke dalam panci dan menumisnya dengan sabar beberapa lama.

Seharusnya ia menambahkan arak masak dalam proses itu, atau setidaknya anggur merah. Namun keluarga Kang tidak memiliki kemewahan semacam itu; seminggu sekali mereka cukup senang dengan segelas bir murah. Nuri harus menerima apa adanya dan menuangkan air matang ke dalam panci.

Setelah direbus cukup lama, ia membuka tutupnya, memasukkan kacang polong muda dan kentang yang sudah dipotong, lalu menambahkan secangkir air panas dan dua sendok garam.

Ia menutup kembali tutupnya, mengecilkan bara, dan menghela napas puas, menunggu sang adik tiba di rumah.

Detik berganti menit, dan aroma di ruangan itu semakin pekat. Ada gurihnya daging, wanginya kentang, dan kesegaran bawang yang semuanya bercampur menjadi satu. Dari waktu ke waktu Nuri menelan ludah sambil mengecek waktu pada kalung arloji emas warisan ayahnya.

Setelah selang yang cukup lama, terdengar langkah yang tidak terlalu cepat namun berirama mendekat. Sebuah kunci dimasukkan, gagang pintu diputar, dan pintu terbuka.

Belum lagi melangkah masuk, Sena sudah berbisik ragu-ragu, "Enak baunya..."

Dengan tas buku masih tersampir di tangan, ia masuk dan melirik ke arah tungku.

"Kau yang memasaknya?" Sena melepas topi jaring usang peninggalan ibunya dan tangannya terhenti di udara, menatap Nuri dengan takjub.

Ia mengendus aroma itu dalam-dalam. Matanya perlahan melembut, dan ia tampak mendapat sedikit keyakinan.

"Kau yang memasaknya?" tanyanya sekali lagi.

"Apakah kau takut aku akan menyia-nyiakan daging itu?" Nuri tersenyum dan membalas dengan sebuah pertanyaan. Tanpa menunggu jawaban, ia berkata dengan tenang, "Jangan khawatir. Aku sengaja meminta Tuan Hyun mengajari cara memasak hidangan ini. Kau tahu, dia punya juru masak yang hebat."

"Pertama kali?" Alis Sena berkerut tanpa sengaja, lalu menjadi halus kembali tersentuh aroma.

"Sepertinya aku memang berbakat." Nuri tertawa. "Hampir selesai. Letakkan dulu buku dan topimu. Cuci tangan, cuci muka, dan bersiaplah untuk mencicipi. Aku sangat yakin."

Mendengar aturan-aturan kakaknya yang tertata rapi dan melihat senyumnya yang lembut serta tenang, Sena berdiri terpaku di ambang pintu dan gagal menanggapi dalam kebingungannya.

"Apakah kau lebih suka dagingnya dimasak lebih lama?" desak Nuri sambil tertawa.

"Ah, baik, baik!" Sena tersentak kembali ke kesadarannya. Dengan tas dan topi masing-masing di tangan, ia buru-buru melesat masuk ke dalam kamar.

Ketika tutup panci diangkat, semburan uap tiba-tiba mengepul di depan mata Nuri. Dua potong roti gandum sudah diletakkan di samping rebusan daging dan kacang polong, membiarkan keduanya menyerap aroma dan kehangatan hingga menjadi lembut.

Pada saat Sena selesai merapikan barangnya, mencuci tangan dan wajahnya, lalu kembali, sepiring rebusan kambing dengan kacang polong, kentang, wortel, dan bawang sudah tersaji di atas meja. Dua potong roti gandum yang diwarnai celupan tipis kuah menanti di piring masing-masing.

"Silakan, coba." Nuri menunjuk garpu dan sendok kayu di samping piring.

Sena masih sedikit bingung. Ia tidak menolak; ia menyodok sepotong kentang dengan garpunya, memasukkannya ke dalam mulut, dan menggigit pelan.

Rasa kentang yang bertepung dan gurihnya kuah membanjiri mulutnya. Air liurnya mengalir liar, dan ia melahap habis kentang itu dalam beberapa suapan.

"Coba dagingnya." Nuri memberi isyarat dengan dagunya ke arah piring.

Ia sendiri telah mencicipinya barusan. Menurutnya rasanya baru sekadar lulus, tetapi itu sudah cukup bagi seorang gadis yang jarang bersentuhan dengan daging.

Mata Sena dipenuhi harapan. Ia dengan hati-hati menyodok sepotong daging.

Dagingnya amat empuk dan, begitu masuk ke dalam mulut, nyaris meleleh. Aromanya meledak, memenuhi mulutnya dengan sari-sari yang lezat.

Itu adalah pengalaman yang belum pernah terjadi, dan membuat Sena tidak bisa berhenti menyantap.

Ketika ia tersadar, ia sudah menghabiskan beberapa potong daging.

"Aku... aku... Minho, ini seharusnya untukmu..." Sena memerah dan berbicara gagap.

"Aku sudah mencicipi sedikit tadi. Itulah hak istimewa seorang juru masak." Nuri tersenyum menenangkan adiknya. Ia mengambil garpu dan sendoknya sendiri; sesekali makan sepotong daging, sesekali mengisi mulutnya dengan kacang polong, dan di lain waktu meletakkan peralatannya, menyobek roti gandum untuk dicelupkan ke dalam kuah.

Sena menjadi tenang dan tenggelam kembali ke dalam kelezatan itu oleh perilaku kakaknya yang biasa-biasa saja.

"Benar-benar lezat. Sepertinya kau bukan baru pertama kali melakukannya." Sena menatap piring yang kosong dan memujinya dengan sepenuh hati. Bahkan kuahnya pun habis.

"Ini masih jauh dari juru masak milik Tuan Hyun. Kalau aku kaya nanti, aku akan mengajakmu dan Wonho ke rumah makan yang lebih baik!" kata Nuri. Ia mulai menantikannya sendiri.

"Tentang wawancaramu... erps...!" Sena tidak menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba mengeluarkan bunyi sendawa pendek tanpa sadar.

Ia segera menutup mulutnya dengan tangan dan tampak sangat malu.

Semua itu salah kuah barusan. Terlalu lezat.

Nuri tertawa dalam hati dan memutuskan tidak mengolok-olok adiknya. Ia menunjuk piring yang kosong dan berkata, "Ini tugasmu."

"Baiklah!" Sena langsung berdiri, mengambil baskom, dan melesat keluar pintu.

Ketika kembali, ia membuka lemari dan memeriksa kotak bumbu serta benda-benda lain seperti biasanya.

"Kau baru saja memakainya?" Sena terkejut, memegang botol merica hitam dan kaleng lemak sambil menoleh ke arah Nuri.

Nuri mengangkat bahu dan tertawa. "Hanya sedikit. Itulah harga sebuah kelezatan."

Mata Sena berbinar, dan ekspresinya berubah-ubah sesaat sebelum akhirnya ia berkata, "Biarkan aku yang memasak mulai sekarang."

"Hmm... Kau harus segera mempersiapkan diri untuk wawancara. Kau harus memikirkan pekerjaanmu."

Nuri tertawa kecil dan mengangguk, menerima godaan adiknya dengan lapang dada.

---

Malam itu, setelah Sena tertidur pulas dan Bulan Rubi naik memerah di antara awan, Nuri duduk sendirian di tepi tikar, menatap lembaran yang tersembunyi rapat di balik tumpukan arsip—kertas tua penuh angka berdesakan, panah-panah kecil, dan simbol-simbol mirip mata.

Wajah yang tadi hangat oleh tawa perlahan meredup kembali.

Orang-orang yang terlibat seharusnya mati bersama. Itulah hukum yang diucapkan penyidik bermata abu-abu itu dengan dingin.

Ia telah selamat, tetapi keselamatan hanyalah kesempatan, bukan jaminan. Para penyidik itu masih mengawasi, dan sang "ahli" yang dijanjikan akan datang untuk membedah ingatannya. Besok, atau lusa, ia mungkin harus duduk berhadapan dengan orang yang mampu membaca jejak di dalam jiwanya. Ia harus berlari lebih cepat dari ketakutan itu, atau ia menjadi korban berikutnya yang jatuh di tengah jalan.

Dengan satu tarikan napas panjang, Nuri menyembunyikan kembali lembaran itu dan berbaring, membiarkan aroma rebusan yang masih memenuhi ruangan menidurkannya. Untuk malam ini, ia telah menjadi kakak yang baik. Untuk esok, ia harus menjadi Nuri yang cukup cerdik untuk tetap hidup.

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!