NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Isekai
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.

Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.

Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.

Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemakan buah magis Grim, Snap, Rocky dan Mona

Setelah mendengar penjelasan dan cerita soal Lucifer, ketegangan dan kewaspadaan mereka perlahan sirna. Kini, mereka berempat bisa sedikit bersantai menikmati suasana di Castra Metropolis.

“Arsia, apakah artinya kota ini benar-benar aman dari gangguan?” tanya Cheeta. Sebagai orang yang rasional, ia berpikir pasti ada saja pihak iseng yang mencoba menyerang kota anomali seperti ini.

“Tentu saja! Kota ini sangat terpencil dan berdiri sendiri," jelas Arsia. "Walaupun namanya Castra Metropolis, tempat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nova Castra ataupun negara dan kerajaan lain. Tempat ini sebenarnya adalah wilayah pelarian dari zona merah sebuah zona yang dulunya merupakan Castra Metropolis asli, namun sekarang telah berubah menjadi medan perang antara Iblis dan Elf.”

Arsia tersenyum tipis lalu melanjutkan, “Hanya ada dua cara untuk bisa sampai ke sini: kamu memang tahu betul letak tempat ini, atau kamu tersesat.”

Mendengar itu, Ely dan Cheeta kompak menoleh ke arah Leo.

“Apa?! Tidak mungkin! Aku bisa sampai ke tempat ini karena insting ku yang tajam, jelas bukan karena tersesat!” seru Leo membela diri, gengsi mengakui bahwa mereka sebenarnya memang tersesat.

“Lalu bagaimana dengan pasukan Iblis dan Elf? Bukankah seharusnya mereka mencari pelarian seperti kalian?” tanya Cheeta lagi, masih penasaran.

“Nona, kamu benar-benar jeli, ya," puji Arsia. "Aku tidak tahu bagaimana dengan bangsa Elf. Tapi kalau dari ras Iblis, Lucifer sudah mengurus segalanya.”

“Lucifer?” sahut Cheeta bingung, bertanya-tanya bagaimana caranya.

“Iya, seperti yang kuceritakan tadi. Lucifer adalah panglima tertinggi. Dia memanipulasi laporan dan menyatakan bahwa status semua Iblis yang berada di kota ini sudah mati," jelas Arsia. "Ah, maaf kalau membuatmu bingung. Lucifer bukanlah pemimpin kota ini, dia hanya bertindak sebagai pelindung karena statusnya sendiri masih aktif sebagai panglima tertinggi Raja Iblis.”

Setelah puas mendengar cerita dan bertanya banyak hal, mereka pun melanjutkan transaksi dagang yang tertunda. Di luar dugaan, meski barang jarahan biasa mereka tidak seberapa, batu magis yang mereka rebut dari si bos laku dengan harga yang lumayan tinggi.

Sore harinya, Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely memutuskan untuk menetap di sana sementara waktu. Mereka segera mencari penginapan. Namun, setelah selesai mendaftar, mereka tidak langsung masuk ke kamar, melainkan memilih untuk makan malam terlebih dahulu di aula penginapan.

Ketika sedang asyik makan di sudut aula, tiba-tiba sekelompok orang asing menghampiri meja mereka.

“Selamat datang di Castra Metropolis. Kalian pasti orang baru di sini,” ucap salah satu dari mereka dengan ramah.

Mendengar sapaan yang begitu tiba-tiba, mereka berempat langsung menoleh dan membeku seketika.

“Ah, maafkan ketidaksopanan ku! Aku Grim. Dan ini rekan-rekanku: Snap, Rocky, dan yang seksi di sebelah sana namanya Mona,” ucap Grim memperkenalkan diri dan kelompoknya.

“Oh… aku Leo, pemuda yang…" Belum sempat Leo melanjutkan kalimatnya, ia melihat tas kecil Cheeta. Tidak jadi menyombongkan diri, ia langsung menunjuk teman-temannya. "Ini Rheno, ini Cheeta, dan yang cantik di sana namanya Ely!” sahut Leo cepat dengan nada kurang senang. Ia tidak mau kalah jika kelompok lawan memamerkan anggota yang seksi, maka kelompoknya punya anggota yang cantik.

*PLAKKK!*

Tas kecil Cheeta sudah menghantam wajahnya.

"Kenapa?! Aku kan tidak menyombongkan diri!" protes Leo sembari memegangi pipinya yang kesakitan.

Ternyata pelakunya adalah Ely, yang wajahnya kini memerah padam karena tidak kuat menahan malu dipuji Leo di depan umum. Entah bagaimana ceritanya, tas kecil milik Cheeta kini seolah telah menjadi properti bersama antara Cheeta dan Ely khusus untuk menghajar Leo.

Setelah obrolan kecil itu, kelompok Grim akhirnya ikut bergabung di meja mereka. Sementara itu, seperti biasa, Cheeta hanya bisa memijat dahinya yang mendadak pusing. Di dalam hatinya ia membatin cemas: *Orang asing yang mencurigakan bisa langsung dianggap aman hanya karena mereka saling tahu nama dalam hitungan detik. Leo, apakah kita akan baik-baik saja dengan sifatmu yang seperti ini?*

Namun, kekhawatiran Cheeta ternyata bukan sekadar paranoia belaka. Tanpa mereka sadari, kelompok empat orang yang baru saja bergabung itu sebenarnya adalah mata-mata. Mereka tidak bekerja untuk mengawasi Castra Metropolis secara khusus, melainkan bekerja untuk faksi manusia licik yang menginginkan agar perang antara Iblis dan Elf terus berkobar selamanya.

“Kalian!” Grim menjeda kalimatnya, memastikan fokus mereka sepenuhnya terkunci. “Pemakan buah magis?” ucapnya dengan nada sedikit berbisik.

Mendengar itu, mereka berempat hanya terdiam dengan tatapan heran. Karena nyatanya, pemakan buah magis sangat jarang dan tabu.

Otak waras dan rasional Cheeta memberontak mendengar pernyataan itu.

“Dari mana kamu bisa tahu?” ucap Cheeta dengan nada pelan, menjaga perhatian agar tidak memancing kecurigaan sekitar.

Grim tidak bicara. Dia hanya menunjukkan belatinya, dan seketika batu yang tertanam di belati itu bersinar. Cheeta, Leo, dan Rheno hanya terpaku melihatnya. Mereka mungkin sering berurusan dengan si bos dan anak buahnya, namun bos dan anak buahnya adalah tipe penyihir tongkat, dan baru kali ini mereka bertemu dengan pemakan buah magis bertipe senjata.

Berbeda dengan Ely yang hanya kebingungan tanpa tahu harus bagaimana. Ely menganggap manusia yang bisa memakai sihir hanyalah hal biasa, seperti bangsa Elf lain di dunianya.

Singkat cerita, kelompok Grim saat itu hanya punya tujuan untuk berbaur. Tanpa mengetahui apa pun, kini Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely hanya ngobrol santai dan bercanda gurau. Namun yang pasti, Grim dan kelompoknya sedang merencanakan sesuatu.

Setelah puas ngobrol dan makan, hari pun sudah malam. Mereka berempat Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely berpisah dengan kelompok Grim lalu naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamar yang mereka sewa.

“Tunggu dulu!” teriak Ely histeris saat mengetahui mereka hanya menyewa satu kamar. Walaupun ukurannya besar, namun hanya ada satu kasur besar di sana. “Kita berempat tidur di kasur yang sama?!”

“Ada apa Ely? Suaramu keras sekali, kamu bisa mengganggu kamar sebelah,” ucap Leo santai. Bagi mereka bertiga, tidur bersama atau terpisah itu adalah hal biasa mengingat mereka sudah berjuang bersama sejak kanak-kanak.

Mereka melepas semua atribut di tubuh mereka, lalu Cheeta membantu Ely. Walaupun niatnya membantu, namun dari sudut pandang Ely, gerakan Cheeta seperti sedang memaksanya untuk segera berbaring.

“T…tunggu! Eh…” ucap Ely panik. Seketika wajahnya memerah padam saat diseret tidur; di sebelah kananya ada Leo dan Rheno, sedangkan di sebelah kirinya ada Cheeta.

Sebagai bangsawan yang telah mendapatkan ruang privasi sejak usia dini, dan juga sebagai wanita di mana di sana ada Leo dan Rheno, Ely pun panik bukan main dan terduduk tegang.

“Eh…!” ucap Leo refleks, lalu menyeret Ely untuk tidur kembali sembari mengelus kepalanya dengan lembut.

Di pikiran Leo, Ely hanya sedang gugup sama seperti Cheeta saat pertama kali bergabung dulu. Menurut logikanya, mengelus kepala pasti akan berhasil menenangkan Ely, persis seperti yang dilakukannya pada Cheeta dulu.

Namun di sisi Ely, situasi ini adalah kondisi gawat darurat. Selain wajahnya sudah memerah padam sampai benar-benar terlihat seperti kulit ras Elf memang merah, jantungnya pun berdebar teramat kencang.

Malam itu semua orang tertidur lelap, kecuali Ely yang terpaksa terjaga semalaman.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!