Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mereka pernah kecelakaan
Setelah Ali menghilang dari pandangan. Rangga menatap kearah Nisa yang tatapannya kini kosong
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan," kata Rangga memandang dalam wajah mantan istrinya.
"Mas Rangga tidak perlu berterima kasih, lagian aku juga ingin bicara banyak dengan Mas. Oh ya, tunggu sebentar ya! Aku akan berganti pakaian dulu." tanpa ikatan, Nisa jadi berbicara dengan lepas dan santai.
"Iya, baik." jawab Rangga sembari menggerakkan langkah hendak memasuki rumah itu. Namun, apa yang tidak di duganya. Nisa menutup pintu rumahnya dengan cepat tepat di depan wajahnya. Untuk seperkian detik Rangga bahkan ragu kalau Nisa itu buta saat ini.
"Hei! Kenapa kau tutup pintunya? Aku belum masuk." nada protes terdengar dari bilah bibir Rangga
"Tidak seharusnya dua insan manusia berbeda gender dan bukan mahram berada di suatu ruangan yang tertutup berdua saja, karena yang ketiganya adalah setan," ujar Nisa dari dalam yang menyuarakan sebuah peringatan berdasarkan dari hadis yang di pelajarinya. Tapi apakah tepat menggunakan kalimat itu di saat seperti sekarang?
Wajah Rangga tersentak sesaat sebelum sebuah senyum geli timbul di wajahnya
"Dasar! Padahal dia pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar berduaan," gumam Rangga yang teringat bagaimana dulu Nisa mengikatnya dalam pernikahan dengan cara menjebaknya. Mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh dari kata berduaan saja. Walau semua yang Nisa katakan itu benar, tapi tetap saja Rangga tertawa geli mendengarnya.
Matanya melirik lembut pada papan pintu dimana ada Annisa di baliknya. Rasa bahagia mendadak datang menyeruak dalam hatinya saat membayangkan akan pergi jalan-jalan bersama Nisa.
🍀🍀🍀
Seperti yang sudah di duga oleh Ali sebelumnya. Fatma benar-benar mengambek padanya sekarang karena di suruh menunggu terlalu lama. Wajah gadis itu terlihat berkerut dalam kekesalan. Ali benar- benar sangat terlambat dari waktu janji mereka, padahal Ali tahu kalau calon istrinya itu sangat benci sama keterlambatan. Fatma sudah terbiasa hidup disiplin dan konsisten.
Kini, Ali hanya mampu menyetir mobilnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dia sudah benar- benar kehilangan seluruh alasan yang dapat dibeberkan, tapi kecanggungan yang membalutnya bersama dengan Fatma di sebelahnya sangatlah menyiksanya. Ali tidak suka suasana seperti itu.
"Fatma, aku minta maaf! Aku tidak bermaksud telat menjemputmu. Tadi ada kendala di jalan." alasan yang terdengar logis dan Ali mencoba untuk menjelaskannya walau itu tidak sepenuhnya benar.
"Mas Ali alasan saja bisanya. Padahal kan biasanya juga Mas Ali selalu terlambat dari waktu yang di janjikan," timpal Fatma secara lembut yang membuat Ali sontak menunduk menyadari kesalahannya. Dia biasa terlambat karena sibuk dengan urusan kantornya.
"Iya, maaf. Itu karena aku tidak bisa meninggalkan kantor waktu itu. Kamu kan tahu kalau perusahaan aku sedang membuka cabang baru." Ali kembali menjelaskan
"Aku bisa mengerti alasan keterlambatan Mas beberapa kali dulu. Tapi apa kendala hingga mas Ali terlambat hari ini?"
Pegangan Ali di setir mobil mengetat, dia mengalihkan tatapannya ke samping tepat ke wajah Fatma yang sedang menuntut jawaban jujurnya. Hembusan nafas kasar Ali hempaskan sebelum memutuskan menjawab.
"Tadi, Rangga datang lagi ke rumah. Pria itu mau mengajak Nisa jalan- jalan." Ali akhirnya menceritakannya, setelah sebelumnya merasa begitu berat hati untuk mengungkapkan hal itu. Fatma tampak terkejut mendengarnya.
"Buat apa dia mengajak Nisa pergi jalan? Bukankah mereka tidak ada ikatan lagi?" Fatma bertanya buru-buru seakan mengharap Ali untuk menjawabnya cepat. Tatapan wanita itu terlihat penuh harap pada Ali yang sedang fokus menyetir. Fatma berharap Ali tidak akan memutuskan untuk membohonginya dengan alasan demi kebaikannya.
"Iya, tentu saja! Aku bahkan tidak mengizinkannya untuk bertemu Nisa. Namun adikku itu meminta agar aku memberinya izin. Katanya dia hendak memperjelas dan mengakhiri semuanya dengan Rangga. Aku benar-benar tidak suka pada pria itu." ungkap Ali yang memang begitulah kenyataannya. Sejak awal Nisa mengungkapkan kesalahannya yang terpaku pada Rangga. Ali sudah tidak menyukai pria itu.
"Jadi selama ini Mas Ali sudah tahu tentang hubungan semuanya antara Tiwi, Rangga dan Nisa?" tanya Fatma setelah menyadari sesuatu. Ali menatap Fatma sebelum mengangguk pasti.
"Iya, aku pernah melihat Tiwi dan Rangga berduaan dengan sangat mesra. Dulu aku sempat akan marah besar pada pasangan itu, tapi adikku Nisa menghentikanku." kenang Ali yang tertawa hambar, merasa lucu dengan takdir adiknya yang seakan sedang mempermainkannya. Fatma mengerutkan kening melihat reaksi yang Ali tampilkan.
"Aku masih bingung Mas! Jika Mas Ali mengenal Tiwi, mengapa Mas tampak biasa saja saat aku mengenalkan Tiwi dulu? Lalu Rangga juga? Mas terlihat biasa saja dengan Rangga saat awal ku perkenalkan? Dan lagi, kenapa Tiwi seperti tidak mengenal Mas Ali?" pertanyaan beruntun itu keluar lancar dari bibir Fatma. Wanita itu benar-benar mengeluarkan semua yang terpendam dalam pikirannya.
Ali terkekeh pelan dengan pertanyaan itu. Ia kemudian mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan penuh rasa penasaran yang calon istrinya layangkan.
"Itu karena aku menjaga perasaanmu Fatma sayang. Awalnya aku juga terkejut saat mengetahui kamu kakaknya Tiwi, namun perlahan-lahan aku mulai mengerti kalau kamu juga korban dari kebohongan yang Rangga dan Tiwi ciptakan. Aku juga sebenarnya sangat ingin menghajar Rangga saat dulu kita bertemu dia di Teater, tapi kembali lagi. Aku sedang menjaga perasaanmu, Sayang! Dan soal Tiwi yang tidak mengenalku... Dia memang tidak mengenalku karena kami memang tidak pernah berkenalan. Kurasa Tiwi pun tidak tahu kalau aku kakak laki-lakinya Nisa." jelas Ali yang kembali memfokuskan pandangannya ke depan untuk menyetir. Tapi wajah Fatma masih sarat akan kebingungan.
"Lalu bagaimana dengan Nisa yang menjebak Rangga? Maksudku bagaimana caranya? Bukankah Nisa seorang tuna netra? Dan satu lagi, katanya Nisa sempat mengandung, lalu apa yang membuatnya keguguran?" tanya Fatma lagi. Cengkeraman Ali di setir kembali mengetat dan wajahnya tersenyum perih saat ingatannya kembali mengingat apa yang pernah menimpa adiknya.
"Dulu adikku normal. Matanya tidak cacat, namun karena kecelakaan itu Nisa keguguran dan Rangga mengalami kebutaan yang membuat adikku bersikeras mendonorkan kornea matanya pada Rangga untuk menebus semua kesalahannya yang pernah diperbuatnya pada pria itu. Dan... ya! Seperti yang kamu lihat, adikku kini buta." Ali menjelaskan secara singkat sembari menekan perasaan terlukanya.
"Kecelakaan? Mereka berdua kecelakaan?"
"Iya, lebih tepatnya mereka bertiga kecelakaan, termasuk Tiwi." sahut Ali tenang
"Apa maksudnya? Kecelakaan apa?" Fatma semakin di buat bingung dengan jawaban Ali.
Ali yang sedang fokus menyetir kembali menatap pada Fatma sembari memelankan laju mobilnya. Sekarang gantian wajahnya yang tampak kebingungan
"Kamu tidak tahu kalau Tiwi, Nisa dan Rangga pernah kecelakaan secara bersamaan?"
.
.
.
oh tidak bisa
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean