Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kian yang Serius
Pukul delapan malam, bel rumah gue berbunyi.
Begitu mendengar suara Kian di depan pintu, Mama langsung menyambutnya dengan heboh. Dari dalam kamar, gue bisa mendengar Mama menawari Kian makan malam, sementara Papa yang lagi baca koran di ruang tamu menyapa Kian dengan nada akrab khas teman lama.
Nggak lama kemudian, pintu kamar gue diketok pelan. Kian memunculkan kepalanya di balik pintu, membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat buatan Mama dan satu piring martabak manis rasa keju-cokelat yang dia bawa. Tas ranselnya yang berat, pasti berisi laptop dan tumpukan buku panduan statistik, tersampir santai di bahunya.
"Lapor. Seksi bantuan skripsi siap bertugas," ujar Kian, memamerkan senyum tipis yang mendadak bikin beban di pundak gue agak terangkat.
Gue menyuruhnya masuk. Kian langsung mengambil posisi lesehan di depan meja lipat kayu di karpet kamar gue. Dia melepas jaketnya, menggulung kemeja hitamnya sampai ke siku, dan menyalakan laptopnya sendiri sebelum menarik laptop gue mendekat.
"Makan dulu," perintah Kian, menyodorkan potongan martabak ke arah gue. "Gue enggak mau nemenin orang pingsan gara-gara maag kumat pas ngolah SPSS."
Gue cuma menurut. Sambil mengunyah makanan, gue memperhatikan gerakan jemari Kian yang lincah menari di atas keyboard. Sebagai asisten Laboratorium Komputasi di FISIP, Kian emang udah biasa berhadapan dengan data angka, syntax, dan aplikasi analitis. Cara dia bekerja kelihatan tenang, runtut, dan teratur banget. Sangat berbanding terbalik sama kebiasaan dia yang suka tengil dan usil kalau di luar jam kuliah.
"Data mentah lu sebenarnya enggak salah, Ra," kata Kian fokus menatap layar. Matanya yang tajam melirik baris-baris angka di lembar kerja SPSS. "Yang bikin semuanya kelihatan ngawur itu pengodean variabelnya ketuker pas lu input ke SPSS. Jadi Pak Bambang tadi ngelihat output yang udah salah dari awal."
Gue mendongak dari piring. "Jadi... data gue enggak usah dibuang semua? Gue enggak perlu nyari lima puluh responden baru?"
"Belum tentu," sahut Kian santai. Dia menoleh ke arah gue, tatapannya mendadak dalam dan hangat. "Kalau coding-nya dibenerin, kita coba uji ulang dulu. Nanti sebelum tengah malam, draf Bab 4 lu udah bersih."
Rasa lega perlahan merayap di dada gue. Suasana kamar belajar gue yang hening malam ini terasa tenang. Cuma ada suara dentikan keyboard, usikan angin malam di luar jendela, dan napas teratur Kian di sebelah gue.
Setiap kali gue kelihatan mengantuk atau menghela napas frustrasi, Kian bakal mengusap pelan puncak kepala gue atau menyodorkan gelas minum tanpa sepatah kata pun. Kian bener-bener bertransformasi jadi sosok cowok yang sangat bisa diandalkan.
Sekitar jam satu malam, Kian meregangkan badannya. "Selesai. Uji validitas, reliabilitas, sama regresinya udah tembus semua. Tinggal lu susun narasi pembahasannya dikit lagi."
Gue menatap layar laptop gue yang kini dipenuhi grafik dan angka-angka yang sudah rapi. Perasaan lega yang luar biasa memenuhi dada gue.
"Ki..." panggil gue pelan.
Kian menoleh, menyandarkan punggungnya ke tepi kasur gue. Muka cowok itu kelihatan lumayan lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tapi tersenyum tulus ke arah gue. "Kenapa?"
"Makasih ya," bisik gue jujur. "Gue enggak tahu gimana jadinya kalau enggak ada lu."
Kian tertawa kecil. Dia mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut gue dengan lembut, lalu membiarkan telapak tangannya bertengger hangat di pipi gue. Ibu jarinya mengusap kulit pipi gue perlahan.
"Gue kan udah bilang, Ra," suara Kian terdengar rendah dan serak karena kantuk. "Urusan lu itu urusan gue juga. Selama gue masih ada, lu enggak usah ngerasa berjuang sendirian."
Gue menatap mata Kian dari jarak yang sangat dekat. Wajahnya yang diterpa remang lampu meja belajar kelihatan sangat tampan dan dewasa. Jantung gue berdegup kencang, cowok di depan gue ini benar-benar berhasil bikin gue jatuh cinta makin dalam.
Gue melihat Kian berkali-kali menguap lebar. Kelopak matanya sudah kelihatan sangat berat. Gue yang nggak tega melihatnya kelelahan begini langsung menepuk sisi kasur gue.
"Udah, Ki... Lu tiduran dulu aja di kasur," suruh gue pelan. "Gue mau lanjut ngetik narasi pembahasannya sebentar. Biar gue selesaikan sisanya."
Kian menatap gue ragu. "Lu gak apa-apa gue tinggal tidur duluan?"
"Gak apa-apa, kan datanya udah rapi semua tinggal gue rangkai kalimatnya. Udah sana, naik." desak gue.
Tanpa banyak protes lagi, Kian akhirnya menuruti ucapan gue. Dia merangkak naik ke atas kasur dan merebahkan tubuh jangkungnya di sana. Nggak butuh waktu semenit, deru napasnya teratur menandakan dia sudah terlelap saking lelahnya.
Gue kembali menghadap laptop, jemari gue mulai bergerak menyusun narasi Bab 4 sesuai petunjuk yang tadi sempat dijelaskan Kian. Sekitar satu jam kemudian, seluruh pembahasan skripsi gue akhirnya tuntas sempurna. Gue menyimpan dokumen itu dan menghela napas lega luar biasa.
Gue berbalik badan, menatap Kian yang sudah tertidur pulas. Gue tersenyum tipis menatap wajah tidurnya yang kelihatan polos tanpa sisa persona tengilnya. Mengingat batas kesopanan, gue memutuskan buat pindah tidur di kamar Mama, sementara Papa pindah tidur di kamar gue buat nemenin Kian.
Sebelum keluar kamar, gue menyempatkan diri menarik selimut tebal, menyelimuti tubuh Kian yang tertidur pulas.
Gue berbisik sangat pelan di dekat telinganya. "Selamat malam, Kian..."
Keesokan Paginya...
Gue yang lagi bantu Mama menyiapkan sarapan di dapur mendadak dikejutkan oleh suara jeritan jantan melengking berfrekuensi tinggi dari arah kamar gue!
"AAGHHH!!!!!!!"
Gue dan Mama langsung berkejaran lari menuju kamar. Begitu pintu terbuka, pemandangan paling spektakuler sepanjang sejarah peradaban keluarga kami tersaji di depan mata.
Di atas kasur, Papa berdiri tegap dengan sarung yang miring dan muka syok berat. Sementara Kian duduk mematung dengan muka bantal, matanya berkedip linglung.
"Kamu ini gimana sih, Kian?!" semprot Papa sambil mengusap-usap pipi kanannya. "Baru bangun tidur mendadak meluk om terus nyium pipi om sambil bilang 'Selamat pagi, Sayang'! Jatuh cinta kamu sama om?!"
Nyawa Kian yang baru kumpul lima persen langsung meledak seketika! Kesadarannya pulih seratus persen begitu sadar sosok yang barusan dia peluk dan cium pipinya hangat-hangat dalam kondisi merem bukanlah gue, melainkan calon mertuanya sendiri!
"O-om?! MAAF, OM!!! Sumpah demi Allah, Kian kira om itu Elora!" cerocos Kian histeris. "Kian nggak maksud ngelecehin om! Nyawa Kian belum kekumpul tadi!"
Mendengar pengakuan jujur Kian, muka Papa yang tadinya cuma kaget langsung berubah melotot tajam. Urat di dahinya mendadak menegang, tanda-tanda naik pitam level dewa!
"Ooooh... jadi kalau yang di samping kamu itu Elora, kamu bakal ngelakuin hal yang sama, gitu?!" semprot Papa dengan suara bass-nya yang menggelegar.
Kian membeku.
Gue membeku.
Mama yang berdiri di belakang gue bahkan sampai menutup mulut, menahan tawa.
Sementara Kian menatap Papa dengan ekspresi seorang terdakwa yang baru sadar pengacaranya ternyata sedang cuti.
"Om..." suara Kian terdengar kecil.
"Apa?!!"
"Kalau Kian jawab jujur, telinga Kian masih bisa diselamatkan?"
Papa menyipitkan mata. "Enggak."
Tangan Papa yang kekar sudah melayang cepat menyambar dan memelintir telinga kanan Kian tanpa ampun.
"AKKKK!!!! AMPUN, OM!!!!"