Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Para Konglomerat
Malam Gelora Bisnis Tahunan diselenggarakan di ballroom berlantai marmer milik Hotel Grand Imperium, gedung termewah di pusat kota. Lampu kristal raksasa menggantung anggun di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang menimpa ratusan tamu undangan dari kalangan elit, pejabat pemerintah, dan konglomerat papan atas.
Sebuah mobil sedan putih sederhana berhenti di area penjemputan valet.
Pintu belakang terbuka. Maya melangkah keluar dengan keanggunan yang memukau. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna biru malam bertabur mutiara halus, mempertegas lekuk tubuhnya yang indah dan kulitnya yang putih bersih. Rambut panjangnya ditata bergelombang ke samping, dipadu dengan anting berlian tipis yang berkilau.
Arka melangkah keluar dari sisi sebelah. Pria itu tampak sangat berbeda malam ini. Ia mengenakan setelan jas hitam tuxedo berbahan wol kualitas tinggi yang membalut tubuh tegapnya secara sempurna. Meski tanpa aksesori mewah, ketampanan yang dingin dan aura wibawa yang pekat terpancar sangat kuat dari penampilannya.
Maya menoleh, menatap Arka dari atas ke bawah dengan binar kagum yang tak bisa disembunyikan.
"Setelan jas ini sangat cocok padamu, Arka," puji Maya pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Sewa di tempat mana?"
Arka mengulas senyum hangatnya, merapikan lengan jasnya yang disiapkan khusus oleh Pak Wijaya tadi sore. "Hanya toko pakaian biasa dekat kontrakan kita, Maya."
Maya menggelengkan kepala pelan sambil tertawa kecil, melingkarkan lengannya di siku Arka dengan mesra. "Ayo masuk. Kita harus siap menghadapi tatapan sinis orang-orang malam ini."
Keduanya melangkah masuk menelusuri karpet merah menuju ballroom utama. Kehadiran Maya yang anggun dan Arka yang tegap langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Bisik-bisik kasak-kusuk mulai bergema di antara kerumunan tamu.
"Lihat, itu Maya Wibowo... Direktur Utama baru Wibowo Group."
"Pria di sampingnya itu suaminya, kan? Katanya cuma montir jalanan yang dinikahi demi warisan."
"Tampan sih, tapi kasihan ya, cuma dijadikan tameng politik keluarga."
Maya mengetatkan genggamannya di lengan Arka, mencoba tidak menghiraukan cemoohan tajam tersebut. Arka hanya menepuk pelan tangan Maya, menyalurkan rasa tenang yang membuat dada istrinya kembali sejuk.
Di ujung ruangan VIP, Pak Gunawan dan Sisca berdiri mendampingi Surya Wijaya. Sisca yang mengenakan gaun merah menyala langsung menyunggingkan senyum penuh kebencian tatkala melihat kedatangan pasangan tersebut.
"Tuan Surya, lihat mereka," bisik Pak Gunawan dengan nada penuh dendam. "Pria gembel itu berani datang mengenakan jas sewaan ke pesta sekelas ini."
Surya Wijaya menyesap anggur merah di gelas kristalnya. Matanya yang tajam bagaikan elang menatap lurus ke arah Arka yang berjalan tenang di tengah aula. Pengalaman puluhan tahun di dunia bisnis membuat Surya merasakan bahaya yang teramat pekat dari cara berjalan dan gestur Arka.
"Pria itu..." gumam Surya pelan pada dirinya sendiri. "Cara berjalannya tidak mencerminkan seorang buruh harian sama sekali."
Sisca melangkah maju mendahului ayahnya, menghampiri Maya dan Arka dengan langkah penuh keangkuhan.
"Wah, selamat malam, Ibu Direktur Utama!" ejek Sisca dengan suara cukup nyaring hingga memancing perhatian belasan konglomerat di sekitar mereka. "Berani sekali kamu membawa montir jalanan ke pesta puncak para pengusaha elit ini. Apa kamu tidak takut bikin malu nama besar almarhum Paman Wibowo?"
Maya menghentikan langkahnya, menatap Sisca dengan pandangan dingin dan penuh kewibawaan.
"Pesta ini adalah ajang silaturahmi pelaku bisnis resmi, Sisca," sahut Maya tenang. "Arka adalah suami sah saya. Kehadirannya di sini jauh lebih terhormat daripada orang yang datang hanya untuk menyebarkan kebencian."
Wajah Sisca memerah menahan kekesalan. "Terhormat dari mana?! Dia cuma pria miskin yang numpang hidup! Kamu pikir dengan pakaian jas sewaan ini dia bisa menyamarkan posisinya sebagai rakyat jelata?!"
Sebelum Maya sempat membalas, Surya Wijaya melangkah mendekat dengan tongkat kepala naga emasnya, diikuti oleh Pak Gunawan.
"Nona Maya," panggil Surya dengan suara berat yang menekan. "Keberanianmu memimpin Wibowo Group memang patut diacungi jempol. Tapi di dunia kelas atas ini, status sosial dan jaringan kekuasaan adalah segalanya. Membawa seorang pria tanpa latar belakang bisnis ke ruangan ini hanya akan menjadi bahan tertawaan."
Arka menoleh pelan, menatap Surya Wijaya. Tatapan mata Arka begitu tenang, namun kedalamannya sanggup membuat Surya merasa seolah sedang berdiri di hadapan puncak gunung es yang siap runtuh.
"Tuan Surya Wijaya dari Megah Pratama Group," panggil Arka dengan suara datar. "Status seseorang tidak ditentukan oleh omong kosong di pesta malam, melainkan oleh kekuatan nyata yang dipegangnya."
Pak Gunawan tertawa mencemooh. "Kekuatan nyata?! Bicara apa kamu, gembel?! Kamu pikir di sini kamu bisa main otot seperti di lapangan proyek kemarin?!"
Tiba-tiba, lampu utama ballroom mendadak meredup. Cahaya sorot putih memancar ke arah panggung utama.
Pembawa acara melangkah ke tengah panggung dengan mikrofon di tangan, menyuarakan pengumuman yang membuat seluruh isi ruangan mendadak hening seketika.
"Para hadirin dan tamu undangan yang terhormat!" seru pembawa acara dengan nada penuh semangat. "Malam ini adalah momen bersejarah bagi kita semua! Pimpinan tertinggi sekaligus Executive Chairman dari Konsorsium Nusantara Group telah hadir di gedung ini dan akan segera naik ke panggung untuk memberikan sambutan utama!"
Gemuruh tepuk tangan dan bisikan kagum langsung meledak di seluruh penjuru ballroom. Seluruh pengusaha besar, termasuk Surya Wijaya dan Pak Gunawan, membelalakkan mata dengan napas memburu. Pimpinan misterius Nusantara Group yang mengendalikan setengah roda ekonomi negara akhirnya muncul di hadapan publik.
Sisca tersenyum culas menatap Maya. "Dengar itu, Maya! Tokoh paling berkuasa di negeri ini ada di sini! Pria sekelas dialah yang pantas dihormati, bukan suami montirmu yang kotor ini!"
Arka hanya menyunggingkan senyum tipis yang sangat misterius. Pria itu merogoh saku jas tuxedo-nya, mengeluarkan sebuah ponsel lipat hitam, lalu menekan satu tombol pesan singkat tanpa terlihat oleh siapa pun di sekitarnya.
Beberapa detik kemudian, pintu VIP di samping panggung terbuka. Pak Wijaya melangkah keluar dengan seragam Direktur Utama Nusantara Group, memegang sebuah map emas. Pak Wijaya menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, lalu melangkah turun dari panggung lurus berjalan menuju ke arah tempat Maya dan Arka berdiri.
Pak Gunawan dan Surya Wijaya yang melihat Pak Wijaya berjalan mendekati mereka seketika merapikan jas dan mengulas senyum paling ramah yang mereka miliki.
"Pak Wijaya!" panggil Pak Gunawan berburu-buru menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Suatu kehormatan besar bisa melihat Anda di sini!"
Namun, Pak Wijaya melangkah melewati Pak Gunawan dan Surya Wijaya begitu saja tanpa memandang mereka sedikit pun.
Pak Wijaya menghentikan langkahnya tepat di hadapan Arka dan Maya. Di hadapan ratusan pasang mata konglomerat yang menonton dengan mulut ternganga, Pak Wijaya membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat dengan rasa hormat yang amat mendalam.
"Selamat malam, Tuan," sapa Pak Wijaya dengan suara nyaring dan tegas. "Panggung utama dan seluruh laporan konsorsium telah disiapkan sesuai dengan perintah Anda."
itu.