Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kematian seorang pengusaha
Enam bulan berlalu tanpa terasa.
Musim dingin telah sepenuhnya berganti dengan kehangatan musim panas di Distrik 1.
Di kantin Markas Kepolisian Distrik 1, Reno menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyesap es teh manisnya sampai tandas.
"Wah, panas banget hari ini," keluh Reno sambil meletakkan gelasnya. "Enam bulan belakangan ini adem ayem banget, ya. Cuma ngurusin maling ayam sama curanmor kecil."
Niko yang sedang mengupas jeruk tertawa pelan. "Bukannya bagus? Berarti distrik kita aman."
Nathan yang duduk di hadapan mereka hanya diam sambil membaca dokumen di tangannya. "Jangan asal bicara, Reno. Biasanya kalau kamu mulai bilang 'adem ayem', sesuatu yang buruk bakal terjadi."
"Ah, kamu mah terlalu paranoid, Nat!" kekeh Reno.
Belum sempat Reno menyelesaikan kalimatnya, pintu kantin terbuka lebar. Seorang petugas polisi muda berlari terengah-engah menghampiri meja mereka.
"Pak Nathan! Pak Reno! Pak Niko! Kalian dipanggil Pak Martin ke ruang rapat utama sekarang juga!" seru petugas itu.
Reno mendelik kaget, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Tuh kan... mulutmu bener-bener keramat, Ren," bisik Niko sambil berdiri.
Reno mengusap wajahnya pasrah. "Aduh, padahal es tehku baru habis..."
Di dalam ruang rapat utama, suasana terasa tegang. Pak Martin berdiri di depan papan tulis putih yang sudah dipenuhi beberapa foto tempat kejadian perkara dan dokumen berkas.
Begitu Nathan, Reno, dan Niko masuk, Martin langsung menunjuk ke arah papan.
"Duduk kalian bertiga. Kita punya kasus besar," buka Martin tegas.
Nathan memandangi foto-foto di papan. "Kasus apa, Pak?"
"Kasus kematian tidak wajar dari seorang pengusaha properti terkenal di Distrik 1, Pak Hendra. Dia ditemukan tewas tadi pagi di ruang kerjanya," jelas Martin.
Reno mengangkat alisnya. "Kematian tidak wajar? Maksudnya serangan jantung?"
"Bukan," jawab Martin seraya mengetuk foto korban. "Pintu dan jendela ruang kerjanya terkunci rapat dari dalam. Tidak ada tanda-tanda pembobolan paksa. Kuncinya bahkan masih menggantung di lubang pintu bagian dalam."
Niko membelalak. "Kasus ruang tertutup?"
"Bukan cuma itu," lanjut Martin. "Tidak ada bekas luka luar pada tubuh korban, dan pemeriksaan racun sementara menunjukkan hasil negatif. Tapi wajah korban saat ditemukan membiru dan matanya terbelalak ketakutan, seolah-olah dia melihat sesuatu yang sangat mengerikan sebelum tewas."
Nathan menyipitkan matanya, mengamati detail foto posisi jasad korban. "Kalau tidak ada racun dan tidak ada luka... apa yang membuat dia tewas?"
"Itulah yang harus kita cari tahu," sahut Martin. "Dan yang paling membuat masalah ini makin rumit..."
Martin menempelkan satu foto lagi di papan. Foto itu memperlihatkan sebuah benda kecil yang tergeletak di meja kerja korban.
"Ini adalah korban kedua dalam kurun waktu empat hari dengan pola kematian yang sama persis," ujar Martin serius.
"Korban pertama siapa, Pak?" tanya Nathan cepat.
"Seorang pemilik galeri seni dan kolektor barang antik kaya raya bernama Pak Surya. Empat hari lalu dia ditemukan tewas di ruang koleksi pribadinya yang juga terkunci dari dalam. Dan di meja kedua korban, pelaku meninggalkan benda yang sama."
Reno maju beberapa langkah untuk melihat foto benda tersebut lebih dekat. "Bidak catur? Bidak Kuda Hitam?"
"Benar," tegas Martin. "Pelaku sengaja meninggalkan bidak catur Kuda Hitam di dekat jasad para korban. Ini adalah kasus pembunuhan berantai yang terencana."
Niko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dua pengusaha kaya, mati di ruangan terkunci dari dalam, tanpa luka, dan ada bidak catur... Apa ini pembunuh bayaran?"
"Atau persaingan bisnis berdarah," tambah Reno. "Pak Hendra sama Pak Surya kan pernah terlibat proyek kerja sama beberapa tahun lalu."
Nathan berdiri, mengambil topi dinasnya dari meja. "Pak Martin, kami izin langsung ke TKP rumah Pak Hendra sekarang."
"Pergilah. Olah TKP masih berlangsung. Cari tahu bagaimana pelaku bisa masuk dan keluar dari ruangan terkunci itu tanpa meninggalkan jejak," perintah Martin.
Dalam perjalanan menuju lokasi kejadian menggunakan sedan hitam, Reno mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi sementara Niko sibuk membaca berkas profil kedua korban di kursi belakang.
"Jujur ya, ini aneh banget," kata Niko dari belakang. "Rumah Pak Hendra itu punya sistem keamanan tingkat tinggi. Ada kamera CCTV di setiap sudut koridor, sensor gerak, dan penjaga 24 jam. Tapi tidak ada satu pun pergerakan mencurigakan yang terekam semalam."
Reno menatap kaca spion tengah. "Gimana menurutmu, Nat? Kamu dari tadi diam aja."
Nathan yang duduk di kursi penumpang depan sedang memperhatikan layar ponselnya. Sebuah pesan singkat baru saja masuk dari Lisa.
[Aku sudah membobol server CCTV rumah korban. Ada yang aneh di menit ke-02.15 pagi. Layar CCTV koridor depan kamar korban sempat mengalami 'glitch' atau gangguan sinyal selama tepat tiga detik.]
Nathan membalas pesan itu dengan cepat: "Bisa kau pulihkan gambarnya?"
Satu detik kemudian, balasan Lisa muncul: "Sedang kuproses, Kakek Nathan. Tapi yang jelas, gangguan sinyal itu sengaja dibuat menggunakan alat pemancar frekuensi jarak pendek."
Nathan mengembalikan ponselnya ke dalam saku, lalu menoleh ke arah Reno. "Pelakunya bukan cuma pintar, tapi dia paham betul sistem teknologi keamanan modern."
"Maksudmu dia meretas CCTV?" tanya Reno heran.
"Lebih dari itu," sahut Nathan dingin. "Dia mematikan sinyal CCTV selama beberapa detik untuk lewat, masuk ke ruangan, menghabisi korban tanpa sentuhan fisik, mengunci pintu dari dalam, lalu keluar lagi tanpa di ketahui siapa pun."
Niko menghela napas berat. "Kedengarannya kayak keajaiban atau sihir."
"Enggak ada sihir di dunia nyata, Ko," tegas Nathan saat mobil mereka mulai berbelok memasuki pekarangan sebuah rumah mewah berlantai tiga. "Cuma ada trik yang belum terbongkar."
Mobil mereka berhenti tepat di depan garis polisi yang membatasi pintu masuk utama. Nathan membuka pintu mobil dan melangkah turun.
"Ayo," ajak Nathan pada Reno dan Niko. "Kita lihat seberapa rapi permainan catur si pelaku kali ini."