NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Rumah Baru, Ancaman Lama

Beberapa hari setelah golok Bilal patah, hidup di Larissa Couture terlihat normal lagi.

Pintu rumah Anindya sudah diganti. Rekaman, foto kerusakan, nomor laporan, dan keterangan petugas keamanan kompleks tersimpan dalam satu folder. Darman belum ditemukan, tetapi sedannya diamankan dari lokasi kecelakaan. Tidak ada korban lain akibat pelariannya malam itu.

Bahu kiri Bima juga tidak lagi nyeri saat diangkat. Ia tetap melakukan peregangan ringan sebelum mulai bekerja dan tidak menganggap pulih sebagai alasan untuk mencari pertarungan baru.

Pagi itu ia membawa map jadwal pengiriman melewati koridor kantor ketika Vira keluar dari ruang pemasaran.

"Bang Bima."

Kepala pemasaran itu mengenakan blus merah marun dan membawa setumpuk contoh kain. Ia memandang Bima dari ujung rambut sampai sepatu, lalu menyentuh ringan lengan seragamnya.

"Ada yang berbeda."

"Seragam saya sudah dicuci."

"Bukan. Wajahmu terlihat seperti laki-laki yang tidur cukup."

"Itu tuduhan berat. Saya punya saksi bahwa semalam saya ronda."

Vira mendekat sedikit. "Kalau begitu, mungkin ada orang yang membuatmu ingin cepat pulang setelah ronda."

"Bu Vira sekarang bagian pemeriksaan internal?"

"Kalau objek pemeriksaannya menarik, saya bersedia lembur."

Ujung jarinya baru saja merapikan lipatan kecil pada lengan Bima ketika suara langkah cepat datang dari belakang.

"Aku baru pergi beberapa hari dan kantor sudah membuka layanan perapian seragam?" tanya Gita.

Vira menarik tangan tanpa terburu-buru. "Pelayanan karyawan, Bu Gita."

"Sangat berdedikasi."

Gita baru kembali dari Bandung. Wajahnya tampak lebih segar setelah menemani Denny menjalani kontrol leher dan berbicara dengan keluarga. Ia menatap Bima, lalu map di tangannya.

"Bang Bima, ikut aku. Ada kabar dari Eyang."

"Saya harus mengantar jadwal ini ke Bu Vanya."

"Bagus. Aku juga mau ke sana. Bu Vira bisa melanjutkan pelayanan khususnya nanti."

Vira tertawa kecil. "Saya selalu punya jadwal."

Di ruang kerja Vanya, suasana kembali profesional. Vanya menandatangani jadwal pengiriman setelah memeriksa rute dan jumlah kendaraan. Ia memastikan BMW perusahaan hanya dipakai untuk tugas resmi, sementara Xenia Bima tercatat sebagai kendaraan pribadi yang masuk area melalui izin karyawan biasa.

"Sekarang kabar dari Bandung," kata Gita setelah urusan kerja selesai. "Kang Denny membaik. Dokter masih melarang latihan berat, tetapi tidak ada kerusakan permanen."

Bima mengangguk. "Syukurlah."

"Aku juga menceritakan kematian Guntur kepada Eyang. Tidak semua detail, hanya yang boleh diketahui keluarga. Eyang sudah mendengar versi lain dari beberapa sesepuh."

"Ki Wisesa berkata apa?" tanya Vanya.

"Dia tidak mau ikut sengketa Darman yang sudah diputus. Tapi kalau ada pihak baru memakai nama perguruan besar untuk menyerang sepihak, Eyang bersedia membantu memastikan aturan adat tidak dipelintir."

Gita menoleh kepada Bima. "Dia belum berjanji akan bertarung untukmu. Jangan senang dulu."

"Saya justru lega. Kalau semua orang menawarkan bertarung, saya harus menyediakan konsumsi."

Vanya menahan senyum. Gita memutar mata, tetapi nada suaranya melunak.

"Intinya, kamu tidak sendirian."

Kalimat itu sederhana. Bima menerimanya dengan anggukan yang lebih serius.

Saat jam istirahat, ia menelepon Laras dari area belakang gudang. Ia menceritakan tawaran terbatas Ki Wisesa tanpa melebihkan isinya.

"Itu kabar baik," kata Laras. "Ki Wisesa disegani bukan hanya karena ilmu. Dia dikenal menjaga kata-kata dan tidak mudah berpihak. Jika beliau bersedia memastikan adat berjalan lurus, pihak yang bersembunyi di belakang Darman akan lebih sulit membuat aturan sendiri."

"Apakah beliau Manunggal?"

"Saya tidak akan menilai tingkat seorang sesepuh hanya dari rumor. Yang pasti, pengaruhnya besar di Bandung dan didengar banyak perguruan."

"Berarti bantuan itu belum perlu diaktifkan."

"Benar. Simpan sebagai jalur komunikasi, bukan senjata."

Bima menyukai kesimpulan itu. Ia mengakhiri panggilan dan kembali bekerja.

Hari berjalan tanpa serangan. Tidak ada golok, tidak ada telepon ancaman, dan tidak ada sedan mencurigakan di belakang Xenia. Justru ketenangan itu membuat Bima beberapa kali memeriksa kaca spion lebih lama. Musuh profesional tidak selalu bergerak saat orang lain siap.

Malamnya, Anindya menunggunya di rumah dengan dua kotak kosong dan gulungan selotip.

"Apa ini?" tanya Bima.

"Peralatan pindahan."

"Siapa yang pindah?"

Anindya menatapnya seolah pertanyaan itu menghina kecerdasannya. "Kamu."

Sasa sudah tidur di kamar setelah seharian sekolah dan bermain. Mereka bicara pelan di ruang makan agar tidak membangunkannya.

"Aku tidak mau kamu hanya datang kalau ada bahaya lalu kembali ke kos setelah semuanya tenang," kata Anindya. "Kalau kamu memang mau belajar tinggal, tinggal dengan benar. Bukan sebagai tamu."

Bima melihat dua kotak itu. "Kak Anin yakin?"

"Aku mengajakmu hidup bersama, bukan menandatangani pernikahan malam ini. Kita tetap bicara kalau ada masalah. Kita bagi pengeluaran. Kamu tidak mengambil alih rumah atau membuat keputusan untuk Sasa tanpa aku."

Syarat-syarat itu justru membuat dada Bima terasa lebih ringan. Anindya tidak meminta dongeng tentang hidup tanpa risiko. Ia meminta kehadiran, batas, dan percakapan.

"Baik," katanya. "Aku pindah."

"Sekarang. Sebelum kamu berubah pikiran."

Mereka menaiki Xenia dan pergi ke kos. Barang Bima ternyata tidak memenuhi dua kotak. Beberapa pakaian, sepatu, perlengkapan mandi, dokumen, dan satu koper lama sudah mencakup hampir seluruh hidup yang ia bawa pulang ke Indonesia.

Di dasar koper tersimpan foto lama dirinya bersama Surya.

Bima memegang bingkai itu beberapa detik. Anindya tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengambil kain bersih, mengusap permukaan kaca, lalu menyerahkannya kembali.

"Taruh di tempat yang kamu pilih sendiri," katanya.

Di rumah, Bima memilih rak kecil di kamar. Bukan ruang tersembunyi, bukan pula tempat yang dipamerkan. Foto itu dapat terlihat jika seseorang masuk, tetapi tetap cukup dekat untuk ia jangkau.

Mereka merapikan pakaian sambil berdebat soal ruang lemari. Bima mendapat satu bagian sempit.

"Ini bahkan tidak cukup untuk seragam," protesnya.

"Kamu punya tiga kaus dengan warna yang sama. Jangan sok menjadi korban mode."

"Bu Vira bilang seragam saya menarik."

Anindya berhenti melipat baju. "Bu Vira bilang apa?"

"Saya baru ingat masih ada satu kotak di mobil."

Bima bergerak menuju pintu, tetapi Anindya menangkap bagian belakang kausnya. Ia ditarik kembali, kehilangan keseimbangan, dan jatuh duduk di tepi ranjang. Anindya berdiri di antara kedua lututnya, tatapan tegasnya rusak oleh senyum kecil.

"Tidak ada kotak lagi," katanya.

"Kalau begitu saya terjebak."

"Bagus."

Ia mencium Bima perlahan. Tidak ada rasa terburu-buru seperti di mobil beberapa malam lalu. Bima memeluk pinggangnya dan membiarkan kehangatan rumah yang asing itu menetap. Ketika lampu kamar dipadamkan, percakapan mereka berlanjut dalam bisikan sampai kata-kata tidak lagi diperlukan.

Pagi datang bersama aroma telur dadar dan suara Sasa mencari kaus kaki sekolah. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Surabaya, Bima bangun bukan di kamar sewaan, melainkan di rumah yang memintanya tinggal.

Ketenangan itu bertahan sampai siang berikutnya.

Dua mobil polisi berhenti mendadak di depan gedung Larissa Couture. Karyawan di lobi menoleh, lalu mulai berbisik ketika beberapa petugas turun dan berjalan menuju pintu utama.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!