Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please... Ngomong dong!!!
Bug...
Punggungku menabrak badan besar kak Aldrian dari samping, bukan hanya sentuhan tetapi kali ini benar benar dia menahan punggungku dengan tangannya.
Kali ini rasanya bukan hanya seperti petir yang melintas.
Mata kami saling bertatapan 3 detik,
Semua pandangan mata tertuju ke tabrakan 3 detik.
Aku "Mmmmaaf kak..."
Dia cuma ngangguk 2 x nggak ada kata yang terucap dari bibirnya, cuma diem tetap berjalan biasa aja kearah kak Firuly.
Kak Firuly "Kalian nggak kenapa napa kan?"
Aku "Nggak apa apa kok kak, mungkin dadanya kak Aldrian ntar bisa memar habis tabrakan sama punggung besarku"
Kak Firuly "Kalian nggak ada apa apa kan?"
Putri sambil senyum senyum "Ihhh kak Fir, harus gitu pertanyaannya..."
Tamiya "Ehemm ehemm.... Berarti ntar kalau kak Aldrian kenapa napa biar Aya aja yang tanggung jawab"
Kak Firuly "Gimana Al kamu baik baik aja atau kenapa napa atau ada apa???"
Kak Aldrian "Iya"
Kak Firuly "Jawaban yang ambigu, Jangan bikin Aya jadi bertanggung jawab Al"
Kak Firuly masih saja bercandain kak Aldrian, seperti biasa kak Aldrian hanya menjawab secara singkat padat dan kadang nggak jelas.
Mereka berjalan didepan menuju kelas.
Aku, Putri dan Tamiya dibelakang, kami bicara berbisik bisik, mereka masih menggodaku perihal tabrakan tadi.
Putri "Aya bagaimana rasanya berdekatan dengan kakak idola??"
Tamiya "Bukan bukan berdekatan, tapi tabrakan jadi pelukan"
Aku "Apaan sih, biasa aja kali. Coba aja sendiri sana. Posisi udah pas nih kita dibelakangnya mereka, pura pura saja kesandung ntar jatuhnya pas, tinggal diarahin aja tuh mau ke kak Aldrian atau kak Firuly"
Putri sambil tertawa penuh tanya "Berarti tadi kamu sengaja nabrakin ke kak Aldrian gitu??? Ihh Aya sebegitunya"
Putri dan Tamiya tertawa bersama.
Aku "Enak aja, dia tuh yang sengaja nabrakin. Udah tau aku udah berdiri"
Jantungku masih deg degkan, entah karena tabrakan tadi atau 3 menit ini udah jalan bareng.
Ditangga ada kak Dara yang udah nunggu kak Aldrian dan kak Firuly. Mereka berjalan menaiki tangga bersama.
Kak Dara "Kalian udah baca grup apa belum? atau perlu aku jelasin sekarang"
Kak Firuly "Udah.. Nggak usahlah, tar endingnya biar apa adanya aja, bener nggak Al?"
Kak Aldrian "Kasih kertas aja, biar pada nulis kesan pesannya ke kita, nggak usah dikasih nama penulisnya"
Kak Firuly "Bener banget Al, udah gitu aja Dar! nggak usah ribet ribet kita nggak ada banyak waktu, udah mau sore"
Kak Dara "Itukan hanya sekedar masukan, aku sih nurut suara terbanyak aja"
Kali ini dia terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Suaranya terdengar lebih panjang, lebih merdu.
Mendengar suaranya aku seperti merasakan semilir angin yang behembus hingga menggoyangkan rambutku.
Ku pikir suaranya hanya keluar "hem, iya, ok"
Beda banget sama dia pas nyanyi tadi bukan seperti Aldrian. Atau hanya sekedar perasaanku yang terlalu mengidolakan idola sekolah.
Pembicaraan mereka menjadi lebih serius, terjadi perbedaan pendapat.
Sepertinya mereka sedang membicarakan konsep acara perpisahan di kelas,
Sepanjang perjalanan ke kelas mereka masih saja serius. Akhirnya tiba juga dikelas, kami mengekor dibelakangnya lalu duduk dikursi.
Kak Firuly dan kak Dara hanya berdiri didepan papan tulis, Kak Aldrian duduk santai di kursi guru.
Kak Firuly "Sepertinya udah lengkap ini kelasnya ya, jadi kita bisa mulai acaranya, kita nggak usah berlama lama. Nanti adek adek tulis diselembar kertas, tulis aja kesan pesanya, kesiapa apa bebas ke kakak, kak Aldrian atau kak Septia, atau ke kita bertiga juga boleh"
Kak Dara "Ditasnya ada buku kan???"
Kami menjadi ramai dikelas, penasaran mau nulis apa buat siapa tapi serempak menjawab "Ada"
Kak Dara "Oke kalau gitu ambil selembar kertas dari buku kalian ya, bebas mau nulis apa saja, kakak tunggu 10 menit. Nulis yang panjang boleh masih ada waktu, pendek aja juga boleh. Biar nggak kelamaan ntar pulangnya kita nggak kesorean"
Kak Firuly "Silahkan adek adek bisa dimulai dari sekarang, yang sudah selesai kertasnya boleh digulung ditaruh dimeja depan kak Aldrian"
Aku yang pasti harus nulis sesuatu buat kak Aldrian, tapi nulis apa, ntar ketahuan aku yang nulis apa nggak ya, jadi bingung.
"Aya... Tulis aja buat kak Aldrian, sudah punya orang yang disuka atau belum" Putri berbisik sambil tersenyum.
Mataku langsung saja melotot kearahnya sambil aku cubit tanganya.
Aku "Nggak usah mulai rese Put, tar orangnya dengerkan jadi bahaya kita"
Putri "Bahaya kita??? Kamu aja kali yang bahaya. Emang kenapa juga, cuma pertanyaan gitu doang"
Aku dan Putri masih saja memperdebatkan pesan yang akan ditulis. Putri memberikan banyak masukan yang menurutku semua tidak masuk akal. Aku terlalu banyak berfikir. Waktu tinggal 2 menit aku sudah tidak bisa berfikir harus nulis apa.
Kak Dara "Udah habis waktunya, ayo sini yang belum selesai dikumpulin didepan meja kak Aldrian"
Aku gulung gulung kertasku, kutitipkan Putri untuk dibawa kemeja depan kak Aldrian.
Kak Firuly "Kira kira ini tulisan tulisan adek adek perlu kita bacain nggak ini??"
Situasi mulai rame, ada yang menjawab jangan ada yang menjawab baca aja kak, termasuk Putri yang ngebet banget pengen dibaca.
Sedangkan aku masih bingung bagaimana nanti kalau kakak kakak tau tulisanku, Aku menenangkan hatiku, tarik nafas dalam dalam.
Kak Dara "Kita.bacain saja ya, kan siapa tau bisa buat motivasi atau masukan buat kakak kakak jadi kita tau nih 3 hari kita kurangnya dimana, Oke???"
"Oke kakak" jawaban kita
Kak Dara dan kak Firuly bergantian mulai membaca satu satu tulisan dikertas yang sudah terkumpul dari kak Aldrian yang membuka kertas dari gulungan gulungannya.
"Kakak kakak baik banget"
"Makasih kakak kakak cakep"
"Kak firuly tadi ngeband nya keren"
"Kak Aldrian kebanyakan diem"
"Sampai bertemu lagi ya kak"
Kak Aldrian membuka gulungan kertas, kali ini dia memegangnya agak lama sambil tersenyum tipis, tipis sekali hampir tidak terlihat kalau bibirnya naik sedikit.
Jangan jangan itu kertas yang aku tulis, dadaku dag dig dug dari tadi nunggu tulisanku yang belum dibaca.
Kerta diambil kak Firuly lalu dibacanya : "Kak Aldrian please, aku nunggu kakak ngomong"
Suasana menjadi ramai riuh, hampir semua berkomentar.
Kak Dara "Sudah sudah, ini yang nulis bener juga sih ya, kakak Al ngomong dong?! Ditunggu loh suaramu kakak Al"
Kak Firuly menepuk pundak kak aldrian berbicara sambil tersenyum "Bagaimana kak Aldrian?? Sudah ada yang menunggu ini, please... Ngomong dong!!!"
"Oke, habis pembacaan selesai nanti kak Firuly panggil satu satu langsung ke saya, ada gift kecil buat kalian"
DUUAAARRRRRRRR
Kagetkankan tiba tiba setelah 3 hari akhirnya penantian yang tak sia sia datang juga, suaranya terdengar juga dikelas.
Akhirnya dia ngomong karena permintaanku, udah gitu mau ngasih gift lagi.
Mendengar suara kak Aldrian yang menggelegar teman teman seperti terhipnotis, mereka saling memandang satu sama lain, begitupun dengan aku yang terhipnotis hanya memandang kearah suara.
Pembacaan kesan dan pesan telah selesai, kak Firuly memanggil satu persatu dari kami.
Semua kebagian permen satu satu dari tangan kak Aldrian...
Namaku dipanggil terakhir.
Kak Firuly dan kak Dara pamit duluan, pergi meninggalkan kami berdua. Sekarang hanya ada Aku dan kak Aldrian.
Aku berjalan kearahnya, berdiri tepat didepanya yang hanya berjarak 50 meter.
Kak Aldrian merogoh tas nya tp kosong.
Dia diem natap mataku 2 detik.