Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Pekerjaan Menguji Kesabaran
Kepala bagian memanggil Dewi setelah beberapa hari mengikuti pelatihan. Ia meminta Dewi menyerahkan laporan hasil interview kerja yang sebelumnya menjadi bagian dari proses seleksi. Bukan sekadar jawaban saat wawancara, tetapi juga konsep dan pengamatan yang pernah Dewi sampaikan.
Dewi sempat terkejut. Ia mengira semua yang ia sampaikan saat interview hanya menjadi bahan penilaian untuk menentukan apakah dirinya diterima atau tidak. Ternyata, kepala bagian justru menganggap gagasan tersebut cukup menarik untuk dikembangkan lebih lanjut.
"Kamu masih ingat target yang kamu sampaikan waktu interview?" tanya kepala bagian.
Dewi mengangguk.
"Saya ingin melihat kemampuanmu mencapai peningkatan sekitar dua puluh persen dalam dua bulan. Kamu juga bisa melakukan observasi di beberapa tempat untuk melihat bagaimana produk dan pelayanan makanan diterima pelanggan."
Dewi terdiam beberapa saat. Tantangan itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Ia bahkan belum lama menjadi karyawan baru, tetapi sudah diberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya melalui target nyata. Ada rasa gugup, tetapi juga semangat yang perlahan tumbuh dalam dirinya.
Yang tidak Dewi ketahui, kepala bagian ternyata menyukai cara berpikirnya sejak interview. Dewi tidak hanya menjawab pertanyaan dengan teori, tetapi mampu melihat makanan dari sisi pengalaman pelanggan dan pengembangan bisnis.
Laporan tersebut bahkan akhirnya menarik perhatian manajer. Mereka melihat ada potensi dalam diri Dewi yang mungkin bisa dikembangkan jika diberikan ruang untuk belajar dan melakukan observasi langsung.
Dewi sendiri masih belum menyadari seberapa besar perhatian yang mulai diberikan kepadanya. Ia hanya berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa pendidikannya di luar negeri tidak berhenti sebagai gelar di atas kertas.
Dengan membawa catatan dan rencana observasinya, Dewi mulai menyusun langkah pertama. Target dua puluh persen dalam dua bulan terasa menantang, tetapi justru itulah yang membuatnya semakin bersemangat.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya pantas berada di Arunika bukan karena pernah belajar di Amerika, bukan pula karena menjadi kekasih Julian, melainkan karena kemampuan yang benar-benar ia miliki.
Dewi akhirnya diminta datang ke ruangan Raffi untuk membicarakan laporan dan target yang diberikan kepadanya. Begitu berdiri di depan pintu, rasa gugup mulai muncul. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk dan masuk.
"Silakan masuk."
Dewi melangkah perlahan. Raffi yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, tetapi cukup membuat Dewi kembali merasa tegang.
"Kamu Dewi, kan? Saya sudah membaca laporanmu."
Dewi mengangguk. "Iya, Pak."
Raffi kemudian mulai menanyakan beberapa hal mengenai target peningkatan dua puluh persen dalam dua bulan, termasuk alasan Dewi memilih melakukan observasi di beberapa tempat dan bagaimana ia akan mengukur hasilnya.
Pertanyaan demi pertanyaan membuat Dewi sempat gugup. Ia takut jawabannya terdengar kurang meyakinkan, apalagi yang bertanya adalah pemimpin utama Arunika Food Group.
Namun, perlahan Dewi mulai menguasai dirinya. Ia menjelaskan rencananya dengan lebih percaya diri, mulai dari mengamati kebiasaan pelanggan, mengevaluasi kualitas produk, hingga mencari cara agar makanan Arunika tetap memiliki cita rasa khas tetapi bisa diterima lebih banyak orang.
Raffi mendengarkan tanpa banyak menyela. Sesekali ia mencatat sesuatu di dokumen di hadapannya.
"Kalau hasil observasimu tidak sesuai harapan, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.
Dewi terdiam sesaat, lalu menjawab dengan yakin.
"Saya akan mencari tahu penyebabnya dan memperbaiki rencananya. Menurut saya, target bukan sesuatu yang harus dicapai dengan memaksakan satu cara. Kalau cara pertama tidak berhasil, berarti saya harus mencari cara lain."
Raffi menatapnya beberapa detik. Jawaban itu membuatnya sedikit tertarik.
Dewi sendiri merasa lega setelah pembicaraan berakhir. Rasa gugup yang sejak tadi memenuhi dirinya perlahan menghilang. Ia sadar bahwa berhadapan langsung dengan Raffi memang membuatnya tegang, tetapi ia tidak boleh membiarkan rasa takut menghalangi kemampuannya.
Saat keluar dari ruangan, Dewi menarik napas panjang. Ia kembali mengingat tujuannya sejak awal.
Ia ingin membuktikan dirinya melalui kemampuan sendiri.
Dan pertemuan singkat dengan Raffi justru membuatnya semakin yakin untuk menjalankan tantangan tersebut.
Raffi masih memandang laporan Dewi dengan serius. Ia tertarik dengan rencana yang disusun perempuan itu, tetapi ia tidak ingin memberikan penilaian hanya berdasarkan teori di atas kertas.
"Saya akan mengamati perkembanganmu selama dua bulan," ujar Raffi tegas. "Kalau target yang kamu ajukan berhasil, kita bisa melihat sejauh mana kemampuanmu bisa dikembangkan."
Dewi mengangguk. Ia tahu kesempatan seperti itu tidak boleh disia-siakan. Namun, sebelum meninggalkan ruangan, Raffi kembali memberikan penegasan bahwa hasil akhir tetap menjadi pertimbangan utama.
Dewi menarik napas panjang.
"Kalau saya tidak berhasil mencapai target yang sudah saya ajukan, saya bersedia mundur dari perusahaan."
Raffi sedikit terkejut mendengar keberanian Dewi. Ia menatap perempuan itu sejenak, memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar berasal dari keyakinannya sendiri.
"Kamu yakin?"
Dewi mengangguk mantap.
"Saya yakin, Pak. Saya tidak ingin berada di perusahaan hanya karena diberi kesempatan. Kalau saya memang tidak mampu memenuhi tanggung jawab yang diberikan, saya siap menerima konsekuensinya."
Raffi terdiam. Ada keseriusan dalam tatapan Dewi yang membuatnya tidak bisa menganggap pernyataan itu sebagai sekadar ucapan.
"Bukan soal kamu harus mundur atau tidak," kata Raffi akhirnya. "Yang saya ingin lihat adalah bagaimana kamu berusaha mencapai target itu."
Dewi mengangguk kembali. Meski dalam hatinya mulai muncul tekanan, ia tidak menyesali keputusannya.
Dua bulan ke depan akan menjadi pembuktian baginya. Ia harus menunjukkan bahwa pendidikan, pengalaman, dan semua yang telah dipelajarinya bukan sekadar gelar.
Raffi masih memperhatikan Dewi yang bersiap meninggalkan ruangannya. Sebelum perempuan itu benar-benar keluar, ia tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat langkah Dewi terhenti.
"Kalau kamu gagal, mungkin kamu bisa kembali meminta bantuan Julian."
Dewi menoleh dengan kening berkerut.
Raffi tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kamu pacarnya Julian. Siapa tahu nanti kamu benar-benar menjadi calon menantu keluarga pemilik perusahaan ini."
Dewi langsung merasa tidak nyaman. Ia tahu ucapan Raffi terdengar seperti sindiran, seolah keberadaannya di Arunika bisa saja dikaitkan dengan hubungannya bersama Julian.
"Saya tidak datang ke sini karena Julian, Pak," jawab Dewi tegas.
Raffi mengangkat alis, seakan sengaja menguji keyakinannya.
"Saya harap begitu."
Dewi menatapnya dengan tenang. "Kalau saya diterima hanya karena saya pacarnya Julian, saya tidak perlu berusaha sekeras ini. Saya ingin membuktikan kemampuan saya sendiri."
Raffi terdiam sesaat. Jawaban itu terdengar jauh lebih tegas daripada yang ia perkirakan.
Dewi kemudian melanjutkan, "Saya juga tidak pernah meminta Julian membantu saya mendapatkan pekerjaan ini."
Raffi hanya mengangguk kecil. Meski sindirannya tadi memang sengaja dilontarkan, ia justru semakin penasaran dengan perempuan yang berdiri di hadapannya.
Dewi akhirnya keluar dari ruangan dengan hati sedikit panas. Ia tidak ingin siapa pun menganggap dirinya mendapatkan tempat di Arunika karena hubungan dengan Julian.
Baginya, tantangan dua bulan itu bukan lagi sekadar target pekerjaan.
Itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa nama Dewi Arselia cukup kuat untuk berdiri dengan kemampuannya sendiri.
Sena kembali menemui Raffi dengan membawa sebuah laporan kerja. Kali ini ia ingin menunjukkan hasil pengamatannya selama mengikuti proses pelatihan. Dengan penuh percaya diri, ia menyerahkan laporan tersebut kepada Raffi.
"Aku punya usulan untuk pengembangan menu, kak. Bagaimana kalau kita mencoba menggunakan daging kambing kualitas tinggi?"
Raffi membaca laporan itu dengan teliti. Ia melihat Sena mencoba menawarkan perpaduan daging kambing premium sebagai alternatif menu baru. Namun, semakin ia membaca, semakin jelas bahwa usulan tersebut tidak sesuai dengan arah utama yang sedang dibangun Arunika.
"Idemu bagus, Sena. Tapi untuk saat ini kita tetap fokus pada daging sapi."
Sena terlihat sedikit kecewa. Ia menjelaskan bahwa daging kambing yang ia tawarkan memiliki kualitas tinggi dan bahkan berasal dari peternakan keluarganya sendiri. Menurutnya, hal itu bisa menjadi peluang kerja sama yang menguntungkan.
Namun Raffi tetap menggeleng.
"Arunika dibangun dari sup daging sapi. Itu bukan sekadar menu. Itu bagian dari identitas perusahaan."
Ia tidak ingin mengubah fokus utama hanya karena ada peluang bisnis dari keluarga sendiri. Jika suatu hari Arunika memang ingin mengembangkan menu berbahan daging kambing, keputusan itu harus berdasarkan kebutuhan perusahaan, bukan karena hubungan keluarga.
Sena akhirnya terdiam. Ia mulai memahami bahwa Raffi benar-benar memisahkan urusan keluarga dengan perusahaan.
Namun ketika nenek Ratih mengetahui bahwa Sena sempat menawarkan daging kambing dari keluarga mereka, ekspresinya langsung berubah. Ia tidak ingin keputusan seperti itu dibuat tanpa mempertimbangkan sejarah Arunika.
"Jangan sampai kita mengubah sesuatu yang menjadi awal perjuangan keluarga hanya karena ingin mengejar keuntungan sesaat," ujar Bu Ratih tegas.
Sena menunduk. Ia merasa sedikit kecewa, tetapi sekaligus mulai memahami mengapa Raffi begitu keras mempertahankan daging sapi sebagai fokus utama.
Sena tidak langsung menerima keputusan Raffi. Ia menatap pamannya dengan perasaan kecewa, lalu menjelaskan bahwa baginya usulan itu bukan semata-mata tentang menjual daging kambing dari peternakan keluarganya.
"Perusahaan ini juga dibangun oleh ayahnya" ujar Sena. "Jadi buat keluarga kami, ini juga bagian dari sejarah. Aku cuma ingin sesuatu dari keluarga kami tetap punya tempat di Arunika."
Raffi terdiam mendengar perkataan itu. Ia memahami perasaan Sena, tetapi tetap tidak bisa mengubah keputusan hanya karena alasan hubungan keluarga. Menurutnya, setiap produk yang masuk ke Arunika harus memiliki alasan yang kuat dan sesuai dengan arah perusahaan.
"Aku menghargai sejarah keluargamu, Sena. Tapi kita juga harus melihat kebutuhan perusahaan," jawab Raffi tenang.
Sena merasa perkataannya belum benar-benar dipahami. Ia menggenggam laporan yang tadi dibawanya dengan erat. Ada rasa kecewa karena usahanya seolah tidak mendapatkan tempat.
"Kalau begitu, mungkin aku memang tidak cocok bekerja dengan cara seperti ini," ucapnya lirih.
Raffi tidak menahannya. Ia tahu Sena harus belajar menerima bahwa dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Sena kemudian pergi meninggalkan ruangan. Langkahnya terlihat berat, tetapi ia tetap berusaha menjaga harga dirinya.
Di dalam hatinya, Sena merasa Arunika bukan hanya milik satu pihak. Ada sejarah keluarganya juga di dalam perusahaan itu, dan ia ingin warisan tersebut tetap dihargai.
Sementara Raffi kembali menatap laporan yang ditinggalkan Sena. Ia tidak ingin memusuhi keponakannya. Namun, sebagai pemimpin, ia harus mampu membedakan antara menjaga warisan keluarga dan mengambil keputusan bisnis.
Baginya, sejarah memang penting. Tetapi sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan arah masa depan perusahaan.
Sena keluar dari ruangan Raffi dengan wajah masih dipenuhi kekesalan. Langkahnya cukup cepat hingga beberapa karyawan yang berpapasan dengannya hanya bisa menyingkir memberi jalan. Ia merasa usulannya kembali ditolak, padahal menurutnya daging kambing dari keluarganya juga memiliki kualitas yang tidak kalah bagus.
Saat tiba di kantin perusahaan, Sena melihat Dewi sedang makan siang bersama beberapa karyawan baru lainnya. Tanpa banyak berpikir, Sena langsung menarik kursi dan duduk bersama mereka.
"Aku benar-benar kesal sama kak Raffi," gerutunya.
Beberapa teman Dewi saling berpandangan, sementara Dewi hanya tersenyum kecil. Ia tidak ingin ikut menilai persoalan Sena dan Raffi karena tidak mengetahui seluruh pembicaraan mereka.
Ponsel Dewi kemudian bergetar. Ia melihat pesan dari Julian yang menanyakan apakah dirinya sudah makan siang. Dewi membalas sambil tersenyum kecil, memberitahu bahwa hari itu ia mungkin pulang lebih malam karena masih harus menyelesaikan laporan dan mengikuti pelatihan.
"Aku mungkin pulang malam. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan tunggu aku."
Setelah mengirim pesan, Dewi kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sena yang melihatnya sempat melirik.
"Kamu masih sering komunikasi sama Julian?"
Dewi mengangguk santai. "Iya. Tapi dia juga sedang sibuk di hotel."
Sena menghela napas panjang. Kekesalannya kepada Raffi masih belum hilang. Ia merasa sulit bekerja di perusahaan yang ternyata begitu ketat dalam mempertahankan aturan.
Sementara Dewi justru berusaha tetap fokus pada pekerjaannya. Ia tahu dua bulan ke depan akan menentukan masa depannya di Arunika. Karena itu, ia tidak ingin masalah keluarga ataupun hubungan orang lain mengganggu konsentrasinya.
Di tengah makan siang itu, Dewi kembali membuka catatan pekerjaannya. Ia mulai memikirkan observasi yang harus dilakukan sore nanti.
Baginya, pulang malam bukan masalah selama ada sesuatu yang bisa ia pelajari dan buktikan hari itu.