NovelToon NovelToon
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
​Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.

​Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.

​"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario

​Aroma sedap dari semur daging sapi dan sup ayam kampung menyeruak, memenuhi seisi ruang makan berlantai marmer ini. Di atas meja makan jati yang panjang, beberapa piring hidangan ditata dengan sangat apik dan estetis oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga kepercayaanku. Cahaya temaram dari lampu gantung kristal di atas meja memberikan pantulan hangat yang berkilau di atas piring-piring keramik putih bersih.

​Aku duduk dengan anggun di kursi utama, mengenakan gaun rumah kasual berbahan satin lembut berwarna biru gelap. Rambutku kubiarkan tergerai rapi. Di tanganku, sebuah tablet menampilkan grafik perkembangan saham Glowinc Group yang terus merangkak naik. Pemandangan yang sangat kontras dengan badai hancurnya bisnis kuliner suamiku yang baru saja dimulai siang tadi.

​"Tita, ya ampun... harum sekali masakan malam ini!"

​Suara nyaring Ibu Rahma memecah keheningan. Wanita paruh baya itu melangkah masuk ke ruang makan dengan wajah yang luar biasa cerah. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tas kertas belanjaan bermerek dari butik La Rose. Rupanya, kurir khusus yang diutus Siska tadi pagi sudah mengantarkan voucher belanja lima puluh juta rupiah itu dan Jessica bersama Ibu Rahma tidak membuang waktu sedetik pun untuk langsung menghabiskannya.

​"Jessica senang sekali, Tita! Tadi siang dia langsung menyeret Ibu ke butik untuk mengambil tas ini. Mertuanya pasti akan sangat bangga dan tidak akan berani meremehkan Jessica lagi di acara ulang tahun nanti," cerocos Ibu Rahma sembari memamerkan tas kertas mewah itu di hadapanku dengan mata yang berbinar-binar penuh kesombongan.

​Aku mendongak dari layar tablet, lalu mengulas senyum paling manis yang kubisa. "Syukurlah kalau Jessica suka, Bu. Tita juga ikut senang jika kado itu bisa menjaga wibawa keluarga kita."

​"Tentu saja! Jessica tadi bahkan sampai menangis terharu. Dia bilang, punya kakak ipar seperti kamu itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya," puji Ibu Rahma setinggi langit, mendudukkan dirinya di kursi tepat di sebelah kananku. Ia meletakkan tas kertas itu dengan sangat hati-hati di kursi kosong di sampingnya, seolah benda itu adalah harta karun yang paling berharga.

​"Sama-sama, Bu. Jessica sudah Tita anggap seperti adik kandung sendiri," jawabku lembut, sembari dalam hati membisikkan kalimat kelanjutannya. "Nikmati saja tas mewah itu, Jessica. Siska sudah memastikan kamu menandatangani surat tanda terima voucher yang di dalamnya terselip klausul pengalihan piutang hukum atas nama pribadimu. Begitu aku menggugat cerai Aris, tas itu akan menjadi utang nyata yang harus kamu bayar dengan menyicilnya seumur hidup."

​Cklek.

​Suara pintu utama yang terbuka mengalihkan perhatian kami berdua. Langkah kaki yang terdengar berat, lambat, dan tidak bersemangat terdengar mendekat ke arah ruang makan.

​Aris telah pulang.

​Aku menatap ke arah koridor pintu masuk. Sosok suamiku muncul dengan penampilan yang sangat jauh berbeda dari kegagahannya siang tadi. Kemejanya tampak kusut, kancing teratasnya terbuka, dan dasinya sudah entah hilang ke mana. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini tampak acak-acakan karena sering diusap dengan frustrasi. Wajahnya pucat pasi, dengan lingkaran hitam yang mulai samar terlihat di bawah matanya. Bahunya merosot, memikul beban utang tiga miliar rupiah yang kini menghimpit pundaknya.

​Begitu matanya bertemu dengan mataku, Aris tampak terkejut sejenak. Namun, dengan sisa-sisa kemampuan aktingnya yang patut diacungi jempol, ia segera memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang kuyu.

​"Sayang... kamu sudah pulang?" sapa Aris dengan suara yang terdengar parau dan lelah. Ia melangkah mendekat ke arahku.

​"Mas Aris! Baru saja Tita mau menyuruh Bi Sumi memanaskan sayurnya," aku langsung berdiri dari kursi, menyambutnya dengan wajah yang penuh dengan kecemasan yang dibuat-buat. Aku mendekat, merapikan kerah kemejanya yang kusut dengan gerakan lembut yang penuh kepura-puraan. "Kamu kok kelihatan lelah sekali, Mas? Wajahmu juga pucat. Apa urusan dengan suplier daging di restoran cabang ketiga tadi sangat menguras energimu?"

​Mendengar kata suplier daging, tubuh Aris tampak menegang sesaat. Aku bisa merasakan bagaimana otot-otot di bahunya mengeras di bawah sentuhan tanganku. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab.

​"Ah... iya, Sayang. Urusannya agak rumit dan memakan waktu lama. Mas sampai harus berdebat dengan kepala distributornya tadi," dusta Aris, mengusap tengkuknya dengan cemas. Ia tidak tahu bahwa aku tahu persis bahwa sepanjang sore tadi dia tidak berada di restoran cabang ketiga, melainkan sedang mondar-mandir di kantor pusat Bank Yudha untuk memohon-mohon penangguhan penarikan sertifikat ruko miliku yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh pihak bank.

​"Ya ampun, Mas Aris... suamiku yang malang," aku mengusap pipinya yang terasa dingin dengan telapak tanganku yang hangat, menatapnya dengan mata yang sengaja kubuat berkaca-kaca penuh rasa bersalah. "Ini semua salahku, Mas. Gara-gara audit internal mendadak di perusahaan Tita, kamu jadi terkena dampaknya. Masalah jaminan ruko siang tadi... apa pihak bank benar-benar mempersulitmu?"

​Aris menatapku, mencoba mencari tahu apakah ada kecurigaan di dalam mataku. Namun, kemampuan aktingku yang sempurna berhasil mengecohnya. Ia hanya melihat seorang istri bucin yang merasa sangat bersalah karena telah menyulitkan suaminya.

​"Ngak kok, Sayang. Ini bukan salahmu," Aris menggenggam tanganku, mencoba menenangkanku padahal tangannya sendiri masih gemetar halus. "Ini murni masalah birokrasi perbankan saja. Mas sedang mengurusnya dan semuanya... semuanya pasti akan baik-baik saja dalam beberapa hari ini. Kamu nggak usah terlalu memikirkannya, ya?"

​"Benar, Mas? Kamu tidak sedang menyembunyikan masalah besar dariku, kan?" tanyaku lagi, mendesaknya dengan nada manja yang menggemaskan.

​"Tentu saja tidak, Sayang. Sejak kapan Mas menyembunyikan sesuatu darimu?" jawab Aris dengan senyum palsu yang paling manis yang bisa ia sunggingkan.

​Sejak kamu memutuskan untuk menikah siri dengan Larasati enam bulan lalu di belakangku, Mas, jawabku di dalam hati dengan seringai dingin yang kutahan setengah mati di balik wajah polosku.

​"Aris, kamu itu kalau pulang jangan langsung membahas kerjaan terus," sela Ibu Rahma, menengahi percakapan kami sembari menyendokkan nasi putih hangat ke atas piring Aris. "Ayo duduk dulu, makan malam yang banyak. Tita sudah menyuruh Bi Sumi memasak makanan kesukaanmu ini. Oh iya, kamu harus lihat ini..."

​Ibu Rahma dengan tidak tahu diri langsung menggeser tas kertas mewah dari butik 'La Rose' ke hadapan Aris. "Tita tadi memberikan Jessica voucher belanja lima puluh juta rupiah! Jessica langsung mengambil tas mewah ini untuk kado mertuanya. Mertua Jessica pasti akan langsung bungkam dan menghormati keluarga kita sekarang!"

​Aris menatap tas kertas mewah itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di saat kepalanya hampir pecah memikirkan cara melunasi utang tiga miliar rupiah dalam waktu tiga puluh hari agar semua aset restorannya tidak disita, ibunya justru dengan bangganya memamerkan tas mewah seharga puluhan juta hasil memeras menantunya sendiri.

​"Ibu... jangan sekarang bahas masalah tas itu," bisik Aris dengan nada tertahan, matanya melirikku dengan cemas. Ia takut jika ibunya terlalu serakah, aku akan mulai merasa risih dan menutup aliran dana bulanan mereka.

​"Lho, kenapa? Ibu kan cuma mau pamer ke kamu kalau istrimu ini sangat berbakti dan royal pada keluarga kita," sahut Ibu Rahma dengan nada tidak senang, merasa kegembiraannya diganggu oleh ketegangan anaknya.

​"Tidak apa-apa, Mas. Tita senang kok kalau bisa membantu Jessica," aku menimpali dengan nada lembut, kembali mendudukkan diriku di kursi utama.

"Ayo, Mas, dimakan sayurnya selagi hangat. Tita ambilkan dagingnya, ya?"

​Aku mengambilkan sepotong besar daging semur dan meletakkannya di atas piring Aris dengan penuh perhatian. Aris menatap piringnya dengan pandangan kosong. Ia memegang sendok dan garpunya dengan gerakan lambat, lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

​Aku memperhatikan bagaimana dia mengunyah makanan itu dengan susah payah. Hidangan semur daging sapi yang biasanya menjadi makanan favoritnya dan selalu dilahapnya dengan rakus, kini tampak terasa seperti pasir yang hambar di dalam mulutnya. Wajahnya yang tegang dan tatapannya yang kosong menunjukkan dengan jelas bahwa pikirannya sedang melayang jauh, memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kelima cabang restoran Aris Kitchen miliknya yang terancam gulung tikar jika rekening operasionalnya dibekukan oleh bank dalam waktu tiga hari kerja ke depan.

​"Bagaimana rasa semurnya, Mas? Enak?" tanyaku dengan nada ceria, menopang daguku dengan kedua tangan sembari menatapnya lekat-lekat.

​Aris tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru menelan makanannya dengan susah payah. "E-enak, Sayang. Masakan Bi Sumi selalu luar biasa."

​"Kalau enak, habiskan yang banyak ya, Mas. Akhir-akhir ini kamu kelihatan kurusan. Aku tidak mau suamiku yang hebat ini jatuh sakit karena terlalu keras bekerja," kataku dengan nada penuh kasih sayang yang sangat manis.

​Setiap kata perhatian yang kuucapkan malam ini adalah racun yang secara perlahan merusak ketenangan batin Aris. Aku ingin dia merasa sangat dicintai, sangat dipercayai, dan sangat didukung olehku, sehingga rasa bersalah, kepanikan, dan ketakutannya akan terbongkar akan berlipat ganda di dalam kepalanya. Aku ingin dia menderita di dalam kesunyian dunianya sendiri tanpa bisa membagikan beban itu kepada siapa pun bahkan tidak kepada ibu mertuaku yang egois ini, atau kepada istri siri mudanya yang gila harta itu.

​"Oh iya, Tita," Ibu Rahma kembali membuka suara setelah menyelesaikan suapan nasinya. "Bicara tentang Aris yang kelihatan lelah... Ibu pikir, tidak ada salahnya kalau minggu depan kalian berdua pergi berlibur sejenak. Ke Bali atau ke luar negeri mungkin? Ibu kasihan melihat Aris yang terus-menerus mengurus restoran tanpa ada waktu istahat. Liburan berdua juga bagus kan untuk program kehamilan kalian? Siapa tahu setelah pulang dari liburan, rahimmu bisa mendadak subur dan memberikan keajaiban cucu untuk Ibu."

​Uhuk! Uhuk!

​Aris mendadak tersedak makanannya sendiri mendengar usulan ibunya. Ia buru-buru meraih gelas air putih di sampingnya dan meneguknya hingga setengah kosong, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi kemerahan karena tersedak dan panik.

​"Aris! Kamu ini kalau makan hati-hati, jangan seperti anak kecil!" tegur Ibu Rahma dengan nada kesal.

​"Maaf, Bu... Aris cuma tersedak saja," jawab Aris dengan suara parau, mengusap mulutnya dengan tisu. Ia menatap ibunya dengan tatapan mata yang seolah berteriak: Ibu, tolong diam! Keuangan kita sedang di ujung tanduk dan Ibu malah meminta kami pergi berlibur mewah ke luar negeri?!

​Aku tersenyum dalam hati melihat kepanikan Aris yang begitu indah. "Usul Ibu sebenarnya sangat bagus. Tita juga ingin sekali pergi berlibur dengan Mas Aris. Tapi sepertinya dalam waktu dekat ini tidak bisa, Bu. Mas Aris kan sedang sangat sibuk mengurus restorannya, dan Tita juga harus mengawasi proses audit internal perusahaan."

​"Ah, sayang sekali ya... padahal Ibu sangat berharap mukjizat kehamilan itu bisa segera datang," keluh Ibu Rahma dengan helaan napas panjang yang dramatis, sengaja menyindir kekuranganku lagi di depan Aris.

​"Ibu, sudahlah! Jangan bahas masalah kehamilan terus di depan Tita! Kasihan Tita jadi tertekan!"

​Tiba-tiba Aris membentak dengan nada suara yang cukup tinggi, membuat Ibu Rahma tersentak kaget di kursinya. Sendok di tangan Ibu Rahma bahkan sempat beradu dengan piring keramiknya, menciptakan suara berdenting yang nyaring di ruang makan yang sunyi itu.

​Aku pura-pura terkejut, menatap Aris dengan mata yang melebar penuh ketakutan. "M-Mas Aris... kamu kenapa? Kenapa mendadak membentak Ibu? Tita tidak apa-apa kok kalau Ibu membahas masalah itu."

​Aris yang menyadari bahwa emosinya baru saja lepas kendali karena tekanan batin yang teramat sangat, langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena panik.

​"Maaf... maafkan Mas, Tita. Mas tidak bermaksud membentak Ibu," kata Aris dengan nada suara yang melunak, menatapku dengan pandangan memohon maaf yang sangat cemas. "Mas... Mas hanya sedang lelah saja karena urusan restoran tadi siang. Mas tidak mau kamu merasa sedih karena terus-menerus dituntut masalah anak oleh Ibu."

​Ibu Rahma mengerucutkan bibirnya dengan kesal, menatap anaknya dengan pandangan tidak senang karena baru saja dibentak di depan menantunya.

Namun, karena dia masih membutuhkan aliran uang dari Aris dan aku, dia memilih untuk diam dan melanjutkan makannya dengan bersungut-sungut.

​"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti kamu sedang lelah," jawabku lembut, menggenggam tangannya yang berada di atas meja dengan penuh perhatian.

"Kalau kamu sudah selesai makan, sebaiknya kamu langsung mandi dan istirahat di kamar tamu bawah saja malam ini ya? Biar tidurmu tidak terganggu olehku yang masih harus menyelesaikan beberapa sisa berkas kerjaan di kamar atas."

​"I-iya, Sayang. Terima kasih banyak atas pengertianmu," jawab Aris, wajahnya tampak sangat lega mendengarkan usulanku.

​Tentu saja dia lega. Malam ini, dia tidak perlu tidur satu ranjang denganku di kamar utama. Dia tidak perlu memaksakan diri memelukku dan berpura-pura mencintaiku sembari menahan beban kepanikan finansialnya yang amat sangat. Dan yang paling penting bagi Tita... aku tidak perlu berbagi ruang tidur yang sama dengan seorang pria pengkhianat yang aromanya kini terasa begitu asing dan menjijikkan bagiku.

​Aku berdiri dari kursi makanku setelah menyelesaikan makanku yang hanya sedikit. "Tita ke kamar atas dulu ya, Bu, Mas. Mau menyelesaikan sisa berkas audit dulu."

​"Iya, Tita. Terima kasih ya untuk kadonya Jessica," sahut Ibu Rahma yang suasana hatinya langsung membaik begitu mengingat tas mewah bermerek di sampingnya.

​"Sama-sama, Bu."

​Aku melangkah meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang santai dan senyuman dingin yang kembali menguasai wajahku. Begitu aku menapaki anak tangga menuju lantai dua, aku mengeluarkan ponsel pribadiku dari saku gaun rumahku. Aku membuka aplikasi obrolan dan mengirimkan pesan singkat kepada Siska.

​Tita.

"Siska, besok pagi pukul sembilan, minta manajer keuangan kita untuk secara resmi mengirimkan surat pembatalan kerja sama penjaminan kontrak kerja sama dengan para suplier bahan baku utama seluruh cabang Aris Kitchen. Pastikan dokumennya langsung sampai ke tangan pihak suplier sebelum jam makan siang dimulai."

​Satu detik kemudian, balasan dari Siska masuk.

​Siska.

"Baik, Bu Tita. Semuanya sudah siap dan akan dilaksanakan sesuai perintah Ibu. Besok akan menjadi hari yang sangat sibuk bagi Pak Aris."

​Aku menatap layar ponselku dengan senyum kemenangan yang berkilat tajam di kegelapan koridor lantai dua.

​Nikmati malam terakhirmu yang tenang di rumah mewahku ini, Aris Pratama. Karena besok pagi, badai kehancuran yang sesungguhnya akan mulai meruntuhkan seluruh dunia kecil yang telah kamu bangun dengan uangku.

1
Noey Aprilia
Udh nebak dr awl kl felix emng ada rsa sm tita...kl ga mh,ga mngkn rela ninggalin smuanya dmi mmbela tita...ykin bgt kl smua prosesnya cpt krna cmpr tngan dia.....😁😁😁....
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
Noey Aprilia
Do'amu d kbulkn y jesika....bntr lg klian bkl ktmu sm mntan,bedanya sma2 jd gembel.....😛😛😛
Arieee
bagus👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wega Luna
babat habis orang kayak mereka yg maunya instan dan gratisan🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha nikmati saat terakhir kamu Reno, kamu dan mama kamu juga akan jadi gembel
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai, terima saja konsekuensinya 🤣🤣😂😂
Noey Aprilia
Nmanya hkum tabur tuai...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
Muft Smoker
dtggu season si Jessica tinggal di kolong jembatan kak 😒😒😒😒
Noey Aprilia
Ngsih mkan ank2nya dr hsil nipu sih,jdinya ya ky gt....yg 1 d sel,yg 1 mlah ga mau nampung emaknya....dfnisi hkum krma ta smnis kurma.....😛😛😛
Anita Rahayu
Thor adiknya masa gk kena miskin sih thor gk adil dong masa berat sebelah penebusan karmanya😤😤😤😤😤😤😤😤😤
blcak areng: sabar kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Aku lg byangin....hkumn apa yg bkl mreka ksih????d gebukin dlu,atw pke balok gt...ga mngkn sling jmbak kn y,scra bkn emak2 yg lg lbrak pelakor.....🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
waah semoga jantung si Aris Bae Bae aj ,,
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
Muft Smoker: hadiiir kakk ,, duh jgn panggil2 gt doonk ,, gx kmn2 koq ,, msh di pantau si Aris dr sini ,, 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
aduuh si Aris otw jd perkedel niih ,,
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker
waaah raja singa yg sesungguh ny ,, msh otw ke jakarta ,,
😱😱😱😱😱
Muft Smoker
bagus tita ,, hama Kya mereka yg gx pandai bersyukur mending hempas kan saja ,,
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
Noey Aprilia
tragis jg y nsib mreka.....stlh msuk bui,gliran emaknya otw jd gmbel...
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
Wega Luna
💪💪💪tita kamu keren perempuan kuat GK akan mengisi penghianatan,
Noey Aprilia
Ga msti viral krna jambak2an,toh akhrnya mreka kalah sndri....tkang tipu vs korban tipu...😛😛😛
Muft Smoker: kompak kn mereka kak ,, sang penipu dan si tertipu ,,
😂😂😂😂
total 1 replies
Lee Mba Young
keren istri sah🔥🔥🔥🔥
Noey Aprilia
Ckkk.....abg labil....
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!