NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

"Kamu... kamu dengar dari mana, Nad? Jangan asal tuduh dulu," tegas Abi, mencoba tetap tenang meski dadanya mulai memanas. Sebagai seorang kakak, rasanya tidak terima mendengar adiknya yang sedang hamil diperlakukan seperti itu.

"Aku ngga asal tuduh, Mas!" potong Nadia histeris. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur dengan tangan gemetar, lalu menyodorkannya ke arah Abi.

"Nih, lihat sendiri! Teman satu kompleks rumah kirim foto ini tadi pagi!"

Abi menerima ponsel itu. Di layarnya, terlihat sebuah foto yang diambil dari kejauhan dari area parkir sebuah hotel. Seorang pria berpakaian bebas, yang sangat mirip dengan Arya, tampak berjalan merangkul seorang wanita berambut panjang menuju ke dalam mobil.

Bu Marni ikut mengintip layar ponsel tersebut dari balik bahu Abi. Mata tuanya langsung membelalak lebar. "Astagfirullahaladzim! Itu... itu benar-benar si Arya, Bi?!"

"Aku telepon nomornya bertubi-tubi setelah dapat foto ini, tapi malah dimatikan! Nomor aku langsung tidak aktif!" tangis Nadia makin pecah, tubuhnya gemetar hebat sampai memegangi perutnya yang mulai membuncit.

"Dia jahat, Mas! Aku lagi hamil anaknya, dia malah enak-enakan sama perempuan lain di luar sana!"

Abi mencengkeram ponsel Nadia dengan erat. Rahangnya mengeras menahan emosi yang tiba-tiba membumbung tinggi. Namun, melihat Nadia yang mulai kesakitan memegangi perutnya, Abi berusaha meredam amarahnya demi sang adik.

"Sudah, Nad... sudah, kamu tenang dulu," ucap Abi lembut seraya mengambil kembali ponsel Nadia dan meletakkannya di meja. Ia merangkul pundak adiknya yang berguncang.

"Ingat bayimu. Jangan stres begini, kasihan anakmu."

"Gimana aku bisa tenang, Mas..." bisik Nadia pasrah, menyandarkan kepalanya di dada Abi.

"Sudah, Nad... sekarang kamu istirahat dulu di kamar. Ngga usah mikirin apa-apa lagi," ucap Abi lembut seraya menuntun Nadia untuk berbaring di atas kasur. Ia menarik selimut tipis hingga menutup dada adiknya.

"Tenang, ya. Ada Mas Abi. Mas yang bakal nyelesain masalah ini."

Nadia hanya mampu mengangguk lemah dengan mata membengkak dan sembap.

Abi bangkit berdiri lalu menoleh ke arah ibunya. "Bu, tolong jagain Nadia dulu ya. Jangan biarkan dia pikiran."

"Iya, Bi. Kamu tenang saja," bisik Bu Marni.

Abi mengangguk pelan lalu melangkah keluar dari kamar. Perasaannya campur aduk, antara marah pada adik iparnya dan khawatir akan kondisi Nadia.

Di ruang tamu, Akbar dan Aqil mendongak saat melihat ayahnya keluar dari lorong kamar.

"Yuk, kita pulang sekarang," ajak Abi seraya mengelus kepala kedua putranya.

"Asyik! Pulang!" seru Aqil polos, belum mengerti keruhan yang baru saja terjadi.

Sebelum melangkah keluar rumah, Abi menuntun kedua anaknya untuk berpamitan. "Sungkem dulu sama Nenek, terus pamit sama Tante Nadia di kamar."

Kedua bocah itu menurut. Akbar dan Aqil bergantian menyalami dan mencium tangan Bu Marni. "Nenek, Akbar sama Aqil pulang dulu ya..." ucap Akbar dengan sopan.

"Iya, Cucu-cucu Nenek yang pinter. Hati-hati di jalan ya," sahut Bu Marni mengusap lembut kepala kedua cucunya.

Setelah itu, mereka berdua berjalan jinjit mendekati pintu kamar Nadia yang terbuka sedikit. "Tante Nadia... kami pulang dulu ya. Tante cepat sembuh," bisik Aqil pelan dari ambang pintu.

Nadia yang berbaring di dalam kamar memaksakan ukiran senyum tipis di bibirnya yang pucat. "Iya, Sayang... hati-hati ya."

Abi menuntun sepeda motornya berputar di pekarangan rumah Bu Marni yang beralaskan tanah keras. Setelah posisinya pas menghadap ke arah jalan raya, ia menaiki motor dan menstarter mesinnya hingga terdengar dengung halus.

Akbar dengan cekatan langsung naik dan duduk di jok belakang, sementara Aqil yang masih kecil diangkat oleh Abi untuk duduk di bagian depan.

Saat Abi baru saja hendak memutar gagang gas, tangan mungil Aqil menepuk-nepuk setang motor. Bocah itu mendongak menatap ayahnya.

"Yah... beli gorengan ya?" celetuk Aqil dengan nada membujuk yang polos. "Sama es teh, Yah! Haus..."

Mendengar permintaan si bungsu, rasa panas dan tegang di dada Abi akibat masalah Nadia perlahan sedikit mengendur. Ia menatap wajah polos anaknya, lalu tersenyum tipis seraya mengusap puncak kepala Aqil yang tertutup topi kecilnya.

"Gorengan terus," sahut Abi terkekeh pelan. "Ya sudah, kita mampir ke warung Bu Tejo depan jalan ya. Tapi ingat, makan gorengannya jangan banyak-banyak, nanti batuk."

"Siap, Ayah!" seru Aqil kegirangan, sementara Akbar di belakang ikut bersorak riang.

Abi memutar gas pelan-pelan, membawa kedua buah hatinya menyusuri jalanan desa menuju warung gorengan.

Motor tua Abi melaju pelan menyusuri jalanan desa yang mulai dinaungi bayang-bayang pohon kelapa. Udara sore terasa sejuk, berbanding terbalik dengan benak Abi yang masih riuh memikirkan masalah Nadia dan Arya. Namun, setiap kali mendengar celoteh girang Aqil di depan dan seruan Akbar di belakang, Abi berusaha sekuat tenaga menjaga napasnya tetap stabil. Ia tak ingin rasa gusarnya menular pada kedua anaknya.

Tak sampai lima menit, Abi memelankan laju motornya dan merapat di depan warung panggung kayu milik Bu Tejo. Bau harum adonan tepung digoreng, pisang manis, dan tempe mendoan hangat langsung menyergap indra penciuman mereka begitu mesin motor dimatikan.

"Hore! Gorengan!" Aqil langsung turun dari jok depan dengan semangat, hampir saja terpeleset kalau tidak ditahan oleh tangan kekar Abi.

"Sabar, Cil, jangan grusa-grusuk," tegur Akbar sok dewasa sambil ikut melompat turun dari jok belakang.

Dari balik gerobak kaca yang berasap tipis, Bu Tejo menyapa ramah seraya mengibaskan kain lap di bahunya.

"Ealah, Mas Abi... bawa pasukan rupanya. Mau beli apa ini, Jagoan?"

"Bu Tejo! Beli bakwan sama pisang goreng ya! Sama es teh dua!" seru Aqil mendahului ayahnya, membuat Bu Tejo tertawa terkekeh-kekeh.

"Pinter banget kalau nyuruh," sahut Abi terkekeh pelan seraya merogoh dompet dari saku belakang celananya.

"Bu Tejo, bakwannya empat, pisang gorengnya empat, sama tempe mendoan dua ya. Sama es tehnya satu saja buat mereka berdua dibagi dua, jangan manis-manis amat."

"Siap, Mas Abi. Tumben sore-sore dari tempat Bu Marni? Tadi saya lihat Nadia kayaknya baru pulang juga, ya?" tanya Bu Tejo santai seraya jemarinya lincah membalik gorengan di wajan panas.

Pertanyaan sederhana itu sempat membuat pergerakan tangan Abi terhenti sejenak. Desa kecil seperti ini memang sulit menyimpan rahasia, tapi Abi tahu betul bagaimana rumor bisa menyebar liar jika ia salah merespons.

Abi tersenyum tipis, sebisa mungkin memasang raut wajah tenang. "Iya, Bu. Nadia cuma lagi kangen rumah, makanya main pulang sebentar."

"Oalah, nggih-nggih..." sahut Bu Tejo seraya membungkus gorengan ke dalam kantong plastik.

Belum sempat Bu Tejo menyerahkan bungkusan itu, seorang wanita bertubuh ramping dengan pakaian cukup mencolok melangkah mendekati gerobak. Itu Yanti, janda muda ujung lor jalan yang memang kerap jadi bahan pembicaraan warga.

Melihat keberadaan Abi, mata Yanti seketika berbinar. Ia membetulkan posisi rambutnya seraya melempar senyum manis yang dibuat-buat.

"Eh, Mas Abi..." goda Yanti dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan.

"Sore-sore gini beli gorengan sendiri aja? Kok ndak ada yang nemenin sih, Mas? Kapan-kapan kalau butuh temen ngobrol atau mau dibikinin kopi di rumah, bilang aja ya, Mas..."

Abi yang merasa tidak nyaman hanya tersenyum canggung dan mengangguk singkat tanpa niat membalas godaan tersebut.

Melihat tingkah Yanti yang dinilai kurang tahu tempat, Bu Tejo langsung mendengkus pelan seraya menepuk meja gerobaknya.

"Halah, Ti, Ti! Mbok ya introspeksi diri kata orang sekarang!" semprot Bu Tejo blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.

"Mas Abi ini lagi fokus ngurus anak-anak sama sawah, ndak usah kamu gatel goda-godain begitu. Malu sama umur!"

Muka Yanti seketika memerah padam karena malu disemprot di depan umum. Ia cemberut, menyambar belanjaannya, lalu ngeloyor pergi begitu saja.

Abi terkekeh pelan melihat reaksi Bu Tejo, lalu menerima kantong plastik gorengan hangat dan menyerahkan uang pas.

"Matur nuwun ya, Bu Tejo. Yuk, anak-anak, naik lagi."

Kedua anaknya menurut dengan wajah sumringah. Namun, baru saja Abi menaiki motor dan hendak memutar kunci kontak, ponsel di dalam saku celananya bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk tertera di layar.

1
Elly Maryani
mas Abi diam" suka neng Kayla nih... gercep bgt... mau ngapain mas nanti lebaran haji kerumah neng Kayla?🤭😅😂
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
Fitri Yah
jadi sediihh bacanya /Sweat/
falea sezi
lanjut cpet nikah sat set
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!