Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Luar Logika
Pada awalnya, Abas terus melirik jam tangannya. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, menunggu kedatangan Nayla. Namun, lambat laun, dia terlihat menikmati penampilan Melodi tanpa memusingkan Nayla yang tak kunjung datang.
Sesekali, Abas melihat Melodi menatapnya. Dan setiap kali mereka bertemu mata, jantung Abas berdetak sedikit lebih kencang.
'Mengapa dia harus menatapku seperti itu?'
Sementara itu, di atas panggung, Melodi tak bisa untuk tidak melihat ke arah Abas. Sejak dia menyadari kehadiran pria itu di Ruang Kopi, entah mengapa, mata Melodi selalu tertuju pada pria itu.
Panji memperhatikan Melodi dari samping. Hari itu, Melodi sama sekali tidak menoleh ke arahnya kecuali hanya untuk memberitahu lagu yang akan dia nyanyikan berikutnya. Panji melihat Melodi menatap ke arah meja pengunjung. Tatapannya mengikuti kemana Melodi menatap.
Dada Panji terasa sesak saat melihat siapa yang duduk di antara pengunjung kafe.
Abas.
Panji berusaha profesional dan tetap memainkan gitar seperti biasa, meskipun perasaan dan pikirannya sedang kacau.
"Senja Dalam Diam, Pan," kata Melodi.
"Eh?"
"Lagu berikutnya. Senja Dalam Diam," kata Melodi. Panji mengangguk. Dia melirik sesaat ke arah Abas —yang ternyata melihat ke arahnya— sebelum memainkan gitarnya.
Melodi sudah menyanyikan verse pertama Senja Dalam Diam. Perhatian Abas kembali pada Melodi. Dia teringat bagaimana dia pertama kali melihat Melodi bernyanyi di bawah cahaya senja.
Saat menyanyikan bagian chorus Senja Dalam Diam, tatapan Abas kembali bertemu dengan Melodi. Napas Abas tertahan sesaat. Dadanya terasa sesak saat Melodi menatapnya lurus.
Sementara itu, di meja nomor tujuh. Bara dan Nayla duduk sambil mengamati Abas. Keduanya mengenakan topi dan kacamata yang mereka beli di toko aksesoris tak jauh dari Ruang Kopi.
"Yakin, nih, nggak bakal ketahuan?" tanya Bara. Nayla menatap Bara.
"Mm. Aman,"
Bara kembali melihat Abas yang duduk sendirian di meja lima.
"Dia kelihatannya nggak peduli kamu dateng apa nggak," kata Bara.
"Itu artinya, dia memang pengen kesini, dengan atau tanpa aku," kata Nayla.
"Dasar, Pangeran Es! Pengen kesini ya tinggal kesini aja. Jaga image banget," gerutu Bara. Nayla tersenyum menahan tawa.
"Kebayang banget tiap hari kalian berdua," kata Nayla.
"Nggak usah dibayangin. Aku yang ngejalanin aja gemes," kata Bara sambil terus memperhatikan Melodi dan Abas. Nayla tersenyum.
Saat sedang memperhatikan Melodi di panggung, mata Bara menangkap Panji yang menatap ke arah Abas. Bara menaikkan kedua alisnya.
"Wah! Bakalan seru nih!" komentar Bara.
"Eh? Kenapa?" tanya Nayla penasaran.
"Kamu lihat cowok yang di samping Melodi?" tanya Bara. Nayla mengangguk sambil menatap Panji.
"Cowok itu kayaknya suka juga sama Melodi," kata Bara.
"Eh? Masa'?"
"Lihat aja!"
Nayla memperhatikan Panji yang sesekali menatap Melodi lalu sesekali menatap Abas. Dia lalu menoleh ke arah Bara.
"Ih! Gemes nggak sih? Aku pikir cuma ada di drakor aja kayak gini," kata Nayla.
"Kaaan? Jadi kepo parah gimana episode selanjutnya," kata Bara. Nayla mengangguk.
Di atas panggung, Melodi selesai menyanyikan Senja Dalam Diam. Dia lalu mengangguk ke arah Panji, mengisyaratkannya untuk jeda sebentar. Panji lalu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju meja di samping panggung.
Melodi dan Panji duduk dalam diam. Panji sesekali melirik ke arah Melodi yang terlihat mencuri pandang ke arah Abas.
"Nggak kamu samperin?" tanya Panji.
"Eh?"
"Cowok itu. Dari tadi kamu lihatin dia terus,"
"Eh? Masa'?"
"Samperin aja,"
"Nggak ah. Lagi kerja,"
Panji menatap Melodi.
"Maaf," ucapnya.
Melodi menoleh, menatap Panji. Panji tertunduk
"Soal tadi siang," lanjut Panji.
Melodi tersenyum.
"Nggak apa-apa," kata Melodi.
Panji mengangkat kepalanya lagi. Dia menatap Melodi yang tersenyum. Meski begitu, senyuman Melodi terasa berbeda.
"Tugas Pak Herman udah selesai?" tanya Melodi.
"Eh? Belum," kata Panji.
"Sama,"
"Besok pagi dikumpulin,"
"Ntar abis ini diselesaiin,"
"Di kos?"
"Di mana lagi? Udah malem,"
"KAC masih rame,"
"Iya sih. Tapi... di kos aja,"
"Tinggal nge-mix aja?" tanya Panji. Melodi mengangguk.
"Sama,"
"Begadang,"
"Kayaknya,"
Keduanya saling tatap lalu tertawa. Panji merasa lega saat melihat tawa Melodi kembali.
"Ehem,"
Suara deheman menghentikan tawa Panji dan Melodi. Panji menatap pria di belakang Melodi. Melodi menoleh ke belakang. Kedua alisnya terangkat seketika.
"Eh? Kamu. Makasih udah dateng," kata Melodi. Abas mengangguk tipis.
"Sendirian aja? Nggak sama adikmu?" tanya Melodi sambil melongok ke arah kursi Abas semula duduk.
"Dia di rumah," jawab Abas sambil menatap Melodi.
"Mmm..."
Panji menatap Melodi dan Abas bergantian.
"Setelah ini..." kata Abas dengan suara sedikit serak.
"Ya?"
"Ehem... bisa temani saya ke KAC?"
"Malem-malem gini? Sama saya aja," sahut Panji cepat.
Abas melirik tajam ke arah Panji. Panji terdiam. Melodi menatap Abas lalu menatap Panji. Dia menarik napas dalam-dalam.
"Ya udah bertiga aja. Seru pasti rame-rame," kata Melodi sambil tersenyum dan menatap dua pria di samping kanan kirinya bergantian.
Abas dan Panji saling tatap.
"Tapi, Mel, katanya kamu mau nugas?" tanya Panji.
"Kamu juga,"
"Aku bisa kerjain abis dari sana,"
"Sama,"
"Mel,"
"Ehem,"
Abas kembali berdehem.
"Maaf. Saya tidak tahu kamu sibuk," kata Abas.
"Eh?"
"Besok pagi saja saya mampir KAC. Terimakasih," kata Abas lalu kembali berlalu.
Melodi menatap Abas. Dia pikir Abas akan kembali duduk di kursinya. Tapi, tidak. Abas terus berjalan menuju pintu keluar. Dia melihat Abas berdiri sejenak di ambang pintu kafe dan kemudian... menghilang.
Panji menatap Melodi yang terlihat kecewa. Dadanya berdenyut perih. Dia menunduk, menatap cangkir cappucinonya. Panji semakin yakin bahwa Melodi mulai tertarik dengan pria itu.
"Oke," kata Melodi sambil beranjak dari duduknya, membuat Panji sedikit kaget.
"Ayo, Pan. Lagu berikutnya agak sedikit menantang," kata Melodi sambil menoleh ke arah Panji dan tersenyum.
"Apa?"
"One Ok Rock - Heartache," kata Melodi sambil meringis.
Kedua alis Panji terangkat. Pilihan lagu Melodi hari ini, entah mengapa, seperti sedang menggambarkan isi hatinya.
Melodi berjalan kembali ke panggung. Panji mengikuti di belakangnya.
Di meja tujuh, Bara dan Nayla yang melihat Abas berjalan menghampiri Melodi dan Panji mulai berkasak-kusuk.
"Mau ngapain tuh, Kak Abas?" tanya Bara.
"Cemburu dia,"
"Iya. Tapi mau ngapain? Nembak? Nggak mungkin kan?"
"Mmm... Mau nantangin tuh cowok,"
"Hah?! Berantem?"
"Bukan, Bara. Semacem sinyal... 'Hey, jangan deket-deket sama dia,' gitu lah," jelas Nayla.
"Kayaknya Kak Abas bakal kalah sama tuh cowok,"
"Yakin banget?"
"Soalnya, tuh cowok temen sekelas Melodi. Udah gitu sering manggung bareng. Banyak kesamaan sama Melodi," kata Bara.
"Mmm... terkadang orang justru tertarik sama orang yang memiliki sisi yang berbeda darinya," kata Nayla.
"Serius?"
Nayla mengangguk.
"Eh, Abas jalan ke sini," kata Nayla sambil menutup mulutnya dengan tangan. Bara yang menyadari hal itu segera menunduk.
Nayla dan Bara menatap Abas yang berjalan melewati mereka begitu saja. Mereka melihat Abas keluar dari kafe. Nayla dan Bara saling tatap.
'Apa yang terjadi?'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪