Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Tak Bisa Menyangkal
"Cewek tadi, orang baru disini?" tanya Caca, teman masa kecil Alto, wanita yang membuat Sabrina buru-buru keluar dari Alto Cafe. Alto mengangguk.
"Udah sekitar seminggu lebih disini. Katanya lagi berantem sama papanya, gitu," kata Alto.
"Nggak dicariin bokapnya?" tanya Caca. Alto menaikkan kedua bahunya.
"Aku sendiri nggak tahu dia dateng darimana, masalahnya apa," kata Alto.
"Kebiasaan,"
"Mau gimana lagi?"
"Emang dasar kamu nggak tegaan orangnya,"
"Tahu kaaan?"
"Iya, iya,"
Alto tersenyum.
"Aldo sering kesini?" tanya Caca. Alto mengangguk.
"Tiap malem ngisi di sini. Cuma pas hari ini aja dia minta libur," kata Alto.
"Hmmm..."
Alto melirik ke arah Caca.
"Kalian berantem?" tanya Alto. Caca tersenyum. Alto menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kali ini apa masalahnya?" tanyanya lagi.
"Dia ngajakin aku nikah,"
"Wuiiih... Congrats,"
"Aku tolak,"
"Eh?"
Caca menghela napas panjang.
"Kamu tahu aku kan, Al," kata Caca. Alto tertawa kecil sambil mengangguk.
"Ya udaaah... Kamu ajak aja dia keliling dunia, travelling berdua. Apa susahnya?" kata Alto. Caca mendengus.
"Tanya aja sama dia, kenapa nggak mau," jawab Caca.
Alto menarik napas dalam-dalam. Dia menatap sahabat kecilnya lekat-lekat.
"Kamu sayang dia kan?" tanya Alto. Caca menatap Alto. Dia menggigit bibirnya.
"Tapi dia nggak bisa ngertiin duniaku," kata Caca.
"Mau sampe kapan kamu travelling terus, Ca? Kamu nggak pengen nikah? Punya anak?" tanya Alto. Caca menghela napas panjang.
"Seru kayak gini," kata Caca sambil menatap cangkir minumnya.
Alto menatap Caca.
"Iya. Sekarang memang seru. Tapi, Ca, kita bakal semakin tua. Dan kita nggak tahu apa yang akan terjadi sama kita nantinya," kata Alto.
"Suatu saat kita juga bakal butuh tempat yang kita sebut rumah. Tempat dimana kita bisa pulang. Tempat dimana kita berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi," lanjutnya. Caca terdiam.
Hening. Alto masih menatap Caca.
"Tapi, itu hidupmu. Pilihanmu. Aku cuma ngasih saran aja. Ngasih pandangan. Biar kamu bisa ngambil keputusan yang nggak bakal kamu sesali nantinya," kata Alto lalu kembali sibuk melayani pengunjung yang baru saja duduk di pantrinya.
Caca menatap Alto. Dia tahu perasaan Alto padanya tak pernah berubah. Dia tahu Alto hanya melihatnya sebagai sahabat. Tapi, Caca juga tak bisa membohongi dirinya.
'Apa aku harus menikah dengan Aldo sambil menyimpan perasaan ini sampai mati?'
***
"Makasih udah dateng," kata Nayla pada Abas saat keduanya keluar dari Ruang Kopi. Abas mengangguk tipis.
"Jadi," kata Nayla sambil menatap Abas.
"Kita sepakat untuk menikah?" tanya Nayla. Abas menoleh cepat ke arah Nayla. Nayla tertawa kecil.
"Maaf. Bercanda," kata Nayla dengan sisa tawa.
Nayla kemudian mengulurkan tangannya. Abas menatap ke arah tangan Nayla.
"Bagaimana kalau kita berteman?" tanya Nayla.
Abas menatap Nayla. Nayla tersenyum. Abas mengulurkan tangannya menjabat tangan Nayla. Abas mengangguk tipis.
"Sepertinya aku mulai menyukaimu," kata Nayla sambil melepaskan jabatan tangannya. Abas menaikkan satu alisnya.
"Not in a romantic way, I mean," kata Nayla cepat, melihat reaksi Abas. Abas menghela napas panjang. Nayla tersenyum menahan tawa.
Sementara itu, di panggung, Melodi baru menyadari sosok Abas saat dia berjalan keluar bersama seorang wanita. Dahi Melodi sedikit berkerut.
'Mantannya? Atau...'
'Eh? Tunggu. Kenapa aku peduli?'
"Mel," panggil Panji membuyarkan lamunan Melodi.
"Hm?" Melodi menoleh ke arah Panji.
"Satu lagu lagi, break lima menit," kata Panji.
"Oke. Kalau gitu..." kata Melodi sambil menatap punggung Abas yang masih berdiri di depan pintu kafe.
"Senja Dalam Diam, Pan," lanjut Melodi sambil memainkan intro lagunya.
Abas yang sudah akan melangkah menuju mobilnya, menoleh kembali ke dalam kafe saat mendengar melodi yang dikenalnya.
"Saat pertama kita jumpa
tawamu bersinar paling cerah
menerangi duniaku yang kelam
membawa diriku pada cahaya oh..."
Nayla menaikkan kedua alisnya. Dia ikut menoleh ke arah panggung saat melihat Abas tiba-tiba kembali melihat ke dalam kafe setelah berpamitan dengannya.
"Tak pernah ku sangka
senyummu membawa dusta petaka
membuatku jatu terlalu dalam
membawa diriku kembali tenggelam oh..."
Tatapan Abas sepenuhnya terkunci ke arah Melodi yang sedang menyanyikan Senja Dalam Diam. Nayla menatap Melodi lalu kembali menatap Abas. Matanya menyipit, saat menyadari sesuatu.
"Senja... katakan padanya
luka ini kan ku bawa
tanpa suara...
tanpa kata..."
"Senja?" gumam Nayla saat mendengar chorus lagu. Dia kembali menatap Abas yang masih menatap Melodi.
"Angin... sampaikan padanya
hati ini kan ku jaga
dalam nada...
dalam diam..."
"Aku baru denger lagu ini. Lagunya siapa ya?" tanya Nayla pada Abas menyadarkan Abas dari tatapannya ke arah Melodi. Abas menarik napas dalam-dalam.
"Itu... lagu dia," kata Abas sambil membalikkan badannya.
"Dia?" tanya Nayla. Abas mengangguk.
"Penyanyi kafe itu. Itu lagu ciptaanya," jawab Abas.
"Eh? Serius? Keren banget!" komentar Nayla.
Entah mengapa, sudut bibir Abas terangkat saat mendengar kata-kata Nayla.
"Kamu kenal?" tanya Nayla.
"Eh?"
"Kamu kenal sama singernya? Bisa kenalin ke aku?" tanya Nayla lagi.
"Ehem... Sepertinya dia sedang sibuk," jawab Abas sambil melihat jam tangannya, salah tingkah. Nayla tersenyum.
"Oke. Kalau gitu lain kali kalau kita ngopi disini lagi, kenalin ya?" pinta Nayla. Abas melirik ke arah Nayla.
"Ngopi lagi?"
Nayla mengangguk.
"Bukankah kita teman?"
Abas menatap Nayla yang tersenyum. Lalu kembali menatap Melodi yang menyanyikan bagian chorus terakhir Senja Dalam Diam. Nayla melirik ke arah panggung.
"Oke. Setuju," kata Nayla sambil meraih tangan Abas dan memaksanya menjabat tangan Nayla. Abas kembali menatap Nayla, heran.
"Aku duluan ya! Ntar aku kabarin lagi," kata Nayla sambil berjalan menuju mobilnya.
Abas terdiam, menatap wanita yang seharusnya dijodohkan dengannya. Menurutnya, Nayla adalah wanita yang sempurna untuk menggantikan posisi Sabrina. Dia mandiri, terbuka, dan yang pasti bisa diajak diskusi dan negosiasi.
Abas kembali menatap ke arah panggung yang ternyata sudah kosong. Matanya mencari ke meja di dekat panggung. Di sana. Dia melihat gadis yang entah sejak kapan membuat dirinya menjadi bersikap aneh saat di sekitarnya.
Abas tak bisa mengendalikan dirinya saat berkaitan dengan gadis yang sedang tertawa di sana. Dia bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu meskipun otaknya sudah berulang kali memerintah matanya untuk berpaling.
Sementara itu, di dalam mobil, Nayla masih mengamati Abas. Sudut bibirnya terangkat saat dia merasa yakin dengan apa yang dia pikirkan. Nayla perlahan menyalakan mesin mobilnya. Dia melajukan mobilnya perlahan meninggalkan Ruang Kopi. Dari kaca spion, dia masih melihat Abas yang berdiri diam di depan pintu kafe. Nayla tersenyum.
'Dia bahkan tak menyadari perasaannya sendiri. What a nice guy!'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪