Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Ratna keluar dari gedung itu dengan langkah yang jauh lebih ringan.
Di tangannya terdapat sebuah map berisi dokumen pendaftaran.
Sesekali ia melihat ponselnya.
Aplikasi investasi yang baru saja dibuatkan oleh Pak Adrian sudah menampilkan jumlah saldo awal.
Rp200.000.000
Ratna tersenyum puas.
"Mulai sekarang... uang ini akan bekerja untukku."
Melisa yang berjalan di sampingnya ikut tersenyum.
"Tenang saja, Ratna. Kamu akan lihat sendiri hasilnya."
Ratna mengangguk.
"Aku berharap begitu."
Mereka kemudian berpisah di area parkir.
Sebelum masuk ke mobil, Ratna kembali melihat layar ponselnya.
Ada tulisan:
"Investasi berhasil. Selamat bergabung."
Ratna tersenyum semakin lebar.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa angka yang terpampang di layar itu hanyalah angka digital buatan.
Tidak ada emas.
Tidak ada transaksi nyata.
Tidak ada keuntungan yang benar-benar sedang berjalan.
Malam harinya...
Ratna duduk di ruang keluarga.
Sebuah cangkir teh berada di atas meja.
Ponselnya diletakkan tepat di sampingnya.
Sesekali...
Ia membuka aplikasi tersebut.
Masih ada tulisan yang sama.
Saldo: Rp200.000.000
Di bawahnya terdapat kolom kecil.
Estimasi keuntungan bulan ini: Rp40.000.000
Ratna tersenyum.
"Empat puluh juta..."
Ia bahkan mulai menghitung dalam pikirannya.
"Kalau bulan depan bertambah lagi..."
Senyumnya semakin lebar.
Saat itulah...
Danis masuk dari pintu utama.
Wajahnya tampak lelah.
Ia baru pulang dari kantor.
Ratna segera memanggil.
"Danis."
Danis berhenti.
"Ada apa, Ma?"
Ratna tersenyum.
"Kamu tidak perlu khawatir lagi."
Danis mengernyit.
"Khawatir tentang apa?"
"Uang."
Danis terdiam.
Ratna mengangkat ponselnya.
"Mama sekarang punya investasi baru."
Danis menatap layar sekilas.
"Investasi apa?"
"Emas."
Danis hanya mengangguk singkat.
"Bagus kalau Mama yakin."
"Mama sudah tanam dua ratus juta."
Langkah Danis berhenti.
"Dua ratus juta?"
"Iya."
Danis menatap ibunya dengan serius.
"Mama dapat uang dari mana?"
Ratna langsung menghindari tatapannya.
"Tabungan Mama."
Danis menghela napas.
"Ma..."
"Apa?"
"Jangan mudah percaya investasi yang menjanjikan keuntungan terlalu tinggi."
Ratna langsung tersinggung.
"Mama sudah dewasa, Danis."
"Aku cuma mengingatkan."
"Melisa sudah ikut. Bahkan suaminya juga."
Danis mengusap wajahnya.
"Itu bukan jaminan."
Ratna mendengus.
"Kamu sekarang terlalu curiga."
Danis tidak membalas.
Ia hanya mengambil tas kerjanya.
"Pokoknya hati-hati."
Setelah itu ia berjalan menuju kamar.
Ratna memandang punggung putranya dengan kesal.
"Anak itu..."
Ia kembali melihat ponselnya.
Senyumnya kembali muncul.
"Sebentar lagi Mama bisa membuktikan bahwa Mama benar."
Dua minggu kemudian...
Ratna duduk di ruang keluarga sambil menatap ponselnya.
Matanya berbinar.
Di layar terlihat angka yang membuatnya hampir tidak percaya.
Saldo investasi: Rp240.000.000
"Naik..."
Ia menutup mulutnya sendiri.
"Benar-benar naik!"
Ternyata keuntungan empat puluh juta yang dijanjikan benar-benar muncul di aplikasi.
Ratna langsung menghubungi Melisa.
"Melisa!"
"Iya?"
"Uangnya bertambah!"
Melisa tertawa.
"Aku bilang juga apa?"
Ratna tertawa lega.
"Berarti aku benar memilih investasi ini."
"Iya."
"Kalau begini..."
Ratna mulai membayangkan lebih jauh.
"Aku mau tambah modal."
Melisa terdiam sebentar.
"Tambah?"
"Iya."
"Mau berapa?"
Ratna memandang saldo rekeningnya.
Masih ada sejumlah uang yang tersimpan.
Ia menggigit bibir.
"Seratus juta lagi."
Melisa langsung menjawab.
"Itu keputusan bagus."
Ratna tersenyum.
Beberapa hari kemudian...
Ratna kembali mentransfer uang.
Rp100.000.000
Kini total modal yang tercatat dalam aplikasinya mencapai:
Rp300.000.000
Ratna merasa sangat puas.
Ia mulai membayangkan keuntungan yang akan diterimanya bulan depan.
"Enam puluh juta..."
Ia tertawa kecil.
"Kalau terus begini..."
Tanpa sadar...
Ratna mulai terlena.
Ia bahkan mulai menceritakan investasi tersebut kepada beberapa teman arisannya.
"Serius, Ratna?"
"Serius."
"Keuntungannya benar-benar masuk?"
Ratna menunjukkan layar ponselnya.
"Ini buktinya."
Beberapa perempuan langsung tertarik.
"Bagaimana caranya?"
Ratna tersenyum percaya diri.
"Nanti aku kenalkan."
Tanpa Ratna sadari...
Ia mulai melakukan hal yang sama seperti Melisa kepadanya.
Meyakinkan orang lain berdasarkan angka yang sebenarnya tidak pernah bisa dicairkan.
Sebulan kemudian...
Ratna duduk di depan meja dengan wajah bahagia.
Hari itu seharusnya menjadi hari pencairan keuntungan.
Ia membuka aplikasi.
Saldo masih terlihat.
Namun ketika Ratna menekan tombol "Tarik Dana"...
Muncul pemberitahuan.
"Permintaan penarikan sedang diproses."
Ratna mengerutkan kening.
"Sedang diproses?"
Ia menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Tidak ada perubahan.
Ratna mulai gelisah.
Ia mencoba lagi.
Kali ini muncul pesan berbeda.
"Akun sedang dalam tahap verifikasi tambahan. Harap membayar biaya administrasi sebesar Rp15.000.000 untuk proses pencairan."
Ratna membelalakkan mata.
"Biaya administrasi?"
Ia segera menghubungi Pak Adrian.
Panggilan tersambung.
"Pak Adrian?"
"Iya, Bu Ratna."
"Saya mau menarik keuntungan saya."
"Tentu bisa, Bu."
"Tapi kenapa ada biaya lima belas juta?"
Pak Adrian terdengar tenang.
"Itu biaya verifikasi akhir."
Ratna terdiam.
"Setelah dibayar, uangnya langsung masuk?"
"InsyaAllah, Bu."
Ratna menggigit bibir.
Lima belas juta memang bukan jumlah kecil.
Namun di layar...
Ada ratusan juta miliknya.
"Baik..."
"Saya bayar."
Pak Adrian tersenyum di ujung telepon.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Bu."
Telepon terputus.
Ratna masih memandangi layar ponselnya.
Ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya.
Namun kemudian ia menggeleng.
"Toh setelah ini uangku kembali."
Ia tidak tahu...
Bahwa permintaan biaya tambahan itu hanyalah awal.
Dan ketika lima belas juta tersebut sudah dikirim...
Nomor Pak Adrian perlahan mulai sulit dihubungi.
*
Sementara itu...
Pagi berikutnya di PT Arga Pratama Group berjalan seperti biasa.
Karyawan mulai memenuhi setiap lantai gedung. Suara langkah kaki, percakapan singkat, dan bunyi printer terdengar dari berbagai sudut.
Di lantai paling atas...
Arga duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya terdapat beberapa dokumen yang harus diperiksa. Namun sejak sepuluh menit lalu... Tidak ada satu pun halaman yang benar-benar ia baca. Tatapannya justru berulang kali berpindah kepada jam di dinding.
08.42.
Arga menghela napas. "Masih pagi..."
Ia mencoba kembali membaca dokumen.
08.45.
Matanya kembali melirik jam. "Kenapa lama sekali?"
Arga sendiri langsung mengernyit. Ia baru saja mengatakan itu dalam hati ketika terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok...
"Masuk."
Pintu terbuka.
Dimas muncul membawa beberapa map. "Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani."
Arga menerima map tersebut. "Hm."
Dimas tidak langsung pergi. Ia memperhatikan atasannya beberapa detik. Kemudian...
"Pak."
"Apa?"
"Jam Bapak rusak?"
Arga mengangkat wajah. "Kenapa?"
"Dari tadi Bapak lihat jam terus."
Arga terdiam. "Mana ada."
Dimas menunjuk jam di dinding. "Baru tadi Bapak lihat lagi."
Arga langsung mengambil pulpen. "Saya sedang menunggu waktu rapat."
"Rapat dengan siapa?"
Arga membuka salah satu dokumen secara asal. "Klien. Jam sepuluh."
"Iya." Dimas mengangguk. Namun senyum kecil mulai muncul di wajahnya. "Padahal saya belum bilang rapatnya jam berapa."
Tangan Arga yang sedang memegang pulpen langsung berhenti.
Hening.
Dimas menahan tawa.
Arga akhirnya berdeham. "Maksud saya..." Ia mencari alasan. "Jadwal saya memang banyak."
"Iya, Pak."
"Jadi saya harus mengingat semuanya."
"Iya, Pak." Dimas mengangguk berkali-kali. Namun ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak percaya.
Arga menatap tajam. "Kamu mau mengatakan sesuatu?"
Dimas langsung menggeleng. "Tidak, Pak."
"Kalau tidak ada, keluar."
"Baik." Dimas berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar... Ia tiba-tiba berhenti.
"Oh iya, Pak."
"Apa lagi?"
"Bu Calista pagi ini sedang di ruang administrasi."
Arga langsung menoleh. "Calista?"
Dimas hampir tersenyum. "Iya."
Arga sadar reaksinya terlalu cepat. Ia segera mengambil dokumen. "Oh. Hanya itu?"
"Iya." Dimas mengangguk. "Baik, Pak saya keluar.."
Pintu hampir tertutup.
Namun suara Arga tiba-tiba terdengar. "Dim."
Dimas membuka pintu lagi. "Ya, Pak?"
Arga terdiam beberapa detik. "Ruang administrasi... sedang ada pekerjaan apa?"
Dimas menatapnya. Lalu tersenyum. "Kenapa Bapak ingin tahu?"
Arga langsung mengalihkan pandangan. "Saya CEO di sini kalau kamu lupa!"
Dimas menahan tawa. "Betul."
"Saya berhak tahu kondisi setiap divisi."
"Betul sekali, Pak."
Arga mengerutkan kening. "Jangan tersenyum seperti itu."
Dimas akhirnya tertawa kecil. "Maaf, Pak."
Ia segera menutup pintu. Begitu berada di luar...
Dimas langsung menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa terlalu keras. "Pak Arga..." Ia menggeleng-geleng. "Kalau mau bertemu Bu Calista, tinggal bilang saja pakai alasan segala."
Beberapa menit kemudian...
Arga masih berada di ruangannya. Ia mencoba kembali bekerja. Namun pikirannya justru melayang. Calista sedang berada di lantai bawah. Entah mengapa... Ia ingin melihat perempuan itu. Hanya sebentar. Sekadar menyapa. Tidak lebih.
Arga berdiri. Ia merapikan jasnya. Kemudian mengambil sebuah map.
"Ini alasan yang bagus."
Ia keluar dari ruangannya.
Di koridor...
Dimas kebetulan baru saja selesai berbicara dengan salah satu manajer.
Begitu melihat Arga berjalan membawa map... Ia langsung tahu. "Pak mau ke mana?"
"Ke administrasi."
Dimas mengangkat alis. "Untuk?"
"Memeriksa laporan."
"Laporan apa?"
Arga berhenti. Ia melihat map yang dibawanya. Kosong. Tidak ada satu lembar pun di dalamnya.
Arga terdiam.
Dimas menatap map itu. Kemudian menatap wajah atasannya. "Pak..."
"Apa?"
"Map-nya kosong."
CEO yang biasanya selalu punya jawaban itu hanya diam.
Dimas menahan senyum.
Arga akhirnya berdeham. "Saya... akan mengambil dokumennya di sana."
"Dokumen apa?"
Arga menatap Dimas. "Dokumen administrasi."
"Yang mana?"
"Yang perlu diperiksa."
Dimas mengangguk pelan. "Oh..." Kemudian ia berkata dengan wajah polos, "Atau Bapak sebenarnya mau bertemu Bu Calista?"
Arga langsung membeku. Wajahnya yang biasanya tenang seketika berubah. "Apa?"
"Saya cuma bertanya."
"Tidak." Jawabannya terlalu cepat.
Dimas semakin sulit menahan tawa. "Baik, Pak."
Arga memalingkan wajah. "Jangan macam-macam."
"Siap." Dimas kemudian berjalan mengikuti Arga.
Mereka masuk ke lift.
Sepanjang perjalanan... Arga diam. Namun telinganya terasa panas.
Dimas hanya menahan senyum.
Ting...
Pintu lift terbuka di lantai administrasi.
Arga keluar terlebih dahulu. Ia berjalan dengan langkah tenang. Setidaknya berusaha terlihat tenang. Namun baru beberapa meter berjalan...
Dari ujung koridor terlihat sosok perempuan berhijab krem.
Calista.
Sedang membawa beberapa dokumen.
Langkah Arga otomatis melambat.
Matanya tertuju kepada perempuan itu.
Calista belum menyadari keberadaannya.
Dimas yang berada di belakang langsung melihat perubahan ekspresi atasannya.
Arga yang tadi terlihat begitu serius... Kini sudut bibirnya perlahan terangkat. Senyum kecil. Senyum malu-malu. Bahkan Arga sendiri tampak seperti sedang berusaha menyembunyikannya.
Dimas mendekat.
"Pak."
"Hm?"
"Dokumennya?"
Arga tersadar. Ia menatap map kosong di tangannya. Kemudian menatap Calista yang semakin dekat. "Sebentar."
Calista akhirnya melihat mereka. Ia langsung tersenyum sopan. "Selamat pagi, Pak Arga."
Arga berusaha mempertahankan wajah serius. Namun senyum kecil itu kembali muncul. "Pagi, Calista."
Calista mengangguk. "Pak sedang ada urusan di sini?"
Arga terdiam.
Dimas menunduk, pura-pura sibuk melihat ponselnya.
Arga menarik napas pelan. "Saya..." Matanya turun kepada map kosong di tangannya. "...sedang memeriksa sesuatu."
Calista mengangguk percaya. "Oh, baik, Pak."
Kemudian ia berjalan melewati mereka.
Arga mengikuti langkah Calista dengan pandangan hingga perempuan itu menghilang di balik pintu ruang administrasi.
Dimas akhirnya bersuara. "Sudah puas, Pak?"
Arga langsung menoleh. "Puas apa?"
"Sudah bertemu Bu Calista."
Arga terdiam. Kemudian ia memalingkan wajah sambil tersenyum tipis. "Diamlah, Dimas."
Dimas terkekeh. "Baik, Pak."
Namun kali ini... Arga tidak membantah. Karena jauh di dalam hatinya... Ia memang sengaja datang ke lantai itu hanya untuk melihat Calista.