Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Senin pagi, gerbang Universitas S lebih ramai dari biasanya.
Keira baru turun dari mobil ketika beberapa mahasiswa di dekat pos satpam langsung menoleh. Bisik-bisik bergerak lebih cepat daripada notifikasi grup kelas.
"Itu Keira."
"Yang daftar Piala Gemilang?"
"Katanya dipaksa ikut?"
"Katanya mau buktiin dia bukan plagiat."
Keira menutup pintu mobil tanpa mengubah ekspresi.
Pak Chen dari kursi pengemudi melirik kaca spion. "Nona, perlu saya tunggu?"
"Tidak perlu. Saya bisa masuk sendiri."
Rolls-Royce Phantom di belakangnya berbisik angkuh, "Kalau ada yang kurang ajar, panggil aku. Aku bisa menakuti mereka dengan harga servis."
Keira hampir tersenyum.
Namun senyum itu hilang ketika tiga sosok berdiri di dekat gerbang kampus.
Gilbert Hartanto memakai kemeja putih yang terlalu rapi untuk seseorang yang baru keluar dari tahanan. Wajahnya lebih tirus, matanya kurang tidur, tetapi dagunya tetap terangkat.
Di sampingnya, Rio Sudargo memiliki plester di pelipis. Luka dari botol whiskey masih meninggalkan garis merah di tepi rambutnya. Kelvin Liem berdiri di sisi lain dengan bekas jahitan di dahi, matanya memerah karena marah yang belum selesai.
Mereka baru bebas pagi ini.
Dan jelas langsung datang mencarinya.
Mahasiswa di sekitar gerbang melambat.
Gilbert melangkah maju. "Keira."
Keira berhenti tiga langkah darinya. "Gilbert."
Rio mendengus. "Masih bisa sok tenang, ya?"
"Kepalamu sudah dijahit rapi. Syukurlah."
Wajah Rio langsung gelap. "Lu..."
Kelvin menahan bahunya. Bukan karena baik hati. Karena ia masih ingat botol bir.
Gilbert berkata kaku, "Kamu harus minta maaf."
Keira menatapnya beberapa detik, lalu benar-benar tertawa kecil.
Itu bukan tawa keras. Justru karena kecil, tawa itu membuat wajah Gilbert semakin buruk.
"Kalian bertiga melecehkan perempuan di club, ditahan tujuh hari, dan sekarang minta saya yang minta maaf?"
Rio maju setengah langkah. "Lu yang mukul gue!"
"Karena kamu menyentuh pakaianku dan menyuruhku melepas rok." Keira mengeluarkan ponsel. "Mau saya laporkan lagi? Mungkin kali ini jadi empat belas hari."
Kelvin langsung memegang lengan Rio lebih kuat.
Gilbert menekan rahang. "Kamu selalu pintar memutar fakta."
"Fakta tidak perlu diputar kalau posisinya sudah jelas."
Beberapa mahasiswa mulai merekam diam-diam. Keira melihat kamera-kamera itu, lalu menoleh kembali ke Gilbert.
"Aku sudah mengatakan di Grand Orchid. Tidak ada hubungan apa pun di antara kita. Kalau kamu masih menghalangiku di kampus, itu pelecehan lanjutan."
Kata pelecehan membuat Gilbert mundur setengah langkah.
Ia masih marah.
Tetapi tujuh hari di tahanan cukup untuk membuatnya tahu bahwa keluarga Hartanto tidak kebal terhadap semua hal.
Rio menggertakkan gigi. "Kita belum selesai."
"Benar," kata Keira. "Kalian baru mulai belajar konsekuensi."
Kelvin menarik Rio mundur. Gilbert menatap Keira lama, lalu berbalik tanpa berkata apa-apa.
Kerumunan bubar perlahan, tetapi bisik-bisik berubah nada.
Ada yang masih memandang Keira seolah ia masalah. Ada juga yang mulai ragu, karena luka di kepala Rio dan Kelvin terlalu nyata untuk ditutupi narasi manis. Tujuh hari tahanan bukan gosip, melainkan catatan yang menempel di nama mereka.
Keira tidak butuh mereka percaya hari ini.
Cukup membuat mereka berhenti merasa aman ketika memfitnahnya.
Keira tidak menunggu mereka selesai mencerna. Ia berjalan masuk kampus.
Di dekat taman kecil menuju gedung desain, suara lembut yang terlalu akrab terdengar.
"Kak Keira?"
Seline Santoso datang dari arah berlawanan, membawa map sketsa dan wajah khawatir yang sangat terlatih.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh lagi.
Seline mempercepat langkah. "Kamu tidak apa-apa? Mereka tidak menyakitimu, kan? Aku dengar mereka baru keluar dari tahanan. Aku khawatir sekali."
Nada itu sempurna.
Mata sedikit melebar. Alis turun. Suara bergetar secukupnya agar tampak tulus.
Map sketsa di tangannya berbisik pelan, "Dia latihan kalimat ini di kamar mandi tiga kali."
Keira menatap Seline.
"Kalau khawatir, kamu bisa berhenti memakai orang lain untuk membuatku terlihat buruk."
Wajah Seline kaku sepersekian detik.
Terlalu cepat untuk ditangkap orang lain.
Lalu ia menunduk. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Tentu."
Keira melewatinya.
Seline tidak mengejar. Di belakang, beberapa mahasiswa sudah memeluk narasi yang mereka suka: Seline adik baik, Keira dingin, drama keluarga yang tidak pernah selesai.
Keira tidak peduli.
Ponselnya bergetar saat ia masuk koridor gedung desain.
Wulan:
`Jadwal Piala Gemilang keluar. Rabu.`
`Ada aturan ngeselin.`
`Urutan pilih material berdasarkan ranking semester.`
Keira berhenti di depan papan pengumuman digital.
Pesan berikutnya masuk.
`Seline ranking pertama. Dia pilih duluan.`
`Lo ranking terakhir karena nilai semester lo hancur gara-gara semua drama kampus.`
`Artinya lo dapat sisa.`
Keira membaca pesan itu, lalu melihat papan pengumuman yang menampilkan aturan yang sama dalam bahasa formal.
Mahasiswa lain sudah ribut.
"Seline pasti menang kalau pilih pertama."
"Keira dapat sisa? Sudah selesai sebelum mulai."
"Kasihan juga, tapi siapa suruh daftar."
Keira mengetik balasan.
`Tidak apa-apa.`
Wulan langsung membalas:
`Jangan jawab kayak tokoh sakti. Ini serius.`
Keira tersenyum kecil.
`Justru karena serius.`
Ia mematikan layar ponsel.
Di ujung koridor, Seline berdiri di antara teman-temannya, menerima ucapan selamat seolah pemenang sudah diumumkan. Rio, Kelvin, dan Gilbert mungkin masih membawa dendam. Seline mungkin memegang urutan pertama. Kampus mungkin menunggu Keira jatuh.
Tetapi Keira hanya melihat satu hal.
Material sisa bukan berarti karya sisa.
Di tangan Liora, bahkan potongan yang dibuang orang lain bisa menemukan bentuknya sendiri.
Piala Gemilang dua hari lagi.
Seline akan memilih yang terbaik.
Keira akan mendapat sisa.
Dan Keira tersenyum, karena ia tahu, di tangan yang tepat, sisa pun bisa menjadi mahakarya.
semangat thor💪