NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 Jaring di Malam Hari

Malam ini Selir Melati akan dipindahkan ke ruang hukuman Puri Ratih sebelum bulan naik.

Anindya membaca kalimat itu dua kali.

Pada bacaan pertama, ia merasa dingin di punggung. Pada bacaan kedua, dingin itu berubah menjadi marah yang lebih tenang.

"Mereka akan memaksanya mengaku," katanya.

Arjuna melipat kertas kecil itu. "Atau membuatnya tidak bisa bicara lagi."

Wulan menutup mulut dengan kedua tangan. "Yang Mulia..."

Arjuna berdiri. "Adi, panggil Suradi. Garuda, kirim orang ke halaman belakang Puri Ratih. Jangan masuk dulu. Hitung pintu, penjaga, dan jalan keluar."

"Siap."

"Aku ikut," kata Anindya.

Tiga pasang mata langsung menoleh.

Arjuna tidak perlu mengangkat suara. "Tidak."

"Jika Puri Timur hanya mengirim laki-laki, Ratih akan berkata kita menerobos urusan dalam perempuan. Jika aku datang sebagai orang yang hampir menjadi korban jamu, aku punya alasan meminta Selir Melati diperiksa."

"Tubuhmu belum sanggup berdiri di ruang hukuman."

"Maka aku tidak akan berdiri lama."

Arjuna menatapnya. Di wajah Anindya ada pucat, tetapi juga keputusan. Ia mengenal tatapan itu. Dalam kehidupan sebelumnya, tatapan itu muncul ketika Anindya tetap menunggu kabar perang meskipun semua orang menyuruhnya tidur.

Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan menyebut keberaniannya sebagai keras kepala.

"Kau pergi dengan tandu tertutup," katanya akhirnya. "Begitu tubuhmu melemah, Wulan membawamu kembali. Tidak ada perdebatan."

Anindya mengangguk.

"Dan kalau ada yang menghalangimu," lanjut Arjuna, "sebut namaku."

"Aku akan menyebut namaku dulu."

Untuk sesaat, ketegangan di ruangan itu retak.

Arjuna menghela napas pelan. "Baik. Sebut namamu dulu. Setelah itu, sebut namaku jika mereka masih bodoh."

***

Puri Ratih pada malam hari tidak pernah benar-benar gelap.

Lampu minyak dipasang di sepanjang lorong, tetapi nyalanya rendah. Bayangan tiang bergerak di lantai seperti tangan yang menunggu kesempatan menarik kaki orang lewat.

Selir Ningrum duduk di ruang kecil dekat taman, menyulam kain dengan gerakan lambat. Di sampingnya, Putri Kencana tertidur di tikar tipis. Dari luar, ia tampak seperti selir yang tidak punya urusan dengan badai istana.

Namun telinganya menghitung langkah.

Tiga dayang Puri Ratih lewat membawa tandu kecil tanpa lambang. Di belakang mereka, dua abdi dalem perempuan memegang kain penutup tebal.

Selir Ningrum menusukkan jarum ke kain, lalu menarik benang hitam lebih panjang daripada perlu.

Di luar jendela, seorang dayang tua mengambil baskom air bunga. Saat melewati meja, benang hitam itu jatuh ke dalam air.

Tidak ada yang melihat.

Di sisi lain Puri Ratih, Selir Melati diseret dari paviliun belakang. Mulutnya tidak ditutup, tetapi satu dayang menggenggam lengannya begitu kuat sampai kuku meninggalkan bekas.

"Hamba tidak bersalah," bisik Melati.

"Katakan itu di depan Permaisuri," jawab pengurus yang memimpin.

"Apakah Permaisuri ada di ruang hukuman?"

Pengurus itu tersenyum kecil. "Permaisuri tidak perlu hadir untuk mengetahui kebenaran."

Kata kebenaran terdengar lebih menakutkan daripada ancaman.

Sebelum mereka mencapai pintu ruang hukuman, suara langkah tandu terdengar dari lorong lain.

"Berhenti."

Wulan muncul lebih dulu, membawa lentera. Di belakangnya, Anindya turun dari tandu tertutup dengan gerakan hati-hati. Ia mengenakan selendang gelap, wajahnya pucat, tetapi sanggulnya rapi. Di belakang tandu, Tabib Suradi membawa kotak obat.

Pengurus Puri Ratih membeku. "Gusti Putri, malam sudah larut."

"Justru karena larut, aku perlu memastikan saksi perkara jamu tidak dipindahkan tanpa catatan."

"Selir Melati bukan saksi. Ia tersangka."

"Menurut siapa?"

Pengurus itu tersentak.

Anindya melangkah satu langkah. Wulan segera berada dekat bahunya, cukup dekat untuk menangkap jika ia goyah, tetapi tidak menyentuh.

"Perkara ini menyangkut tubuhku," kata Anindya. "Sampai Pengadilan Kesehatan Keraton mencatat pernyataannya, tidak seorang pun boleh memaksanya mengaku di ruang tertutup."

"Ini titah Permaisuri."

"Kalau begitu, sampaikan kepada Permaisuri bahwa Putri Mahkota meminta pemeriksaan terbuka besok pagi."

Pengurus itu membuka mulut, tetapi dari ujung lorong terdengar suara lain.

"Permintaan itu masuk akal."

Selir Utama Larasati berjalan pelan dari arah taman. Wajahnya tenang, pakaiannya sederhana untuk ukuran selir utama. Dua dayang mengikutinya dari belakang.

Pengurus Puri Ratih langsung memberi hormat. "Selir Utama."

Larasati menatap Selir Melati. Ada sesuatu di matanya yang cepat sekali hilang, seperti luka lama yang menolak disebut.

"Jika perempuan ini mati malam ini," kata Larasati lembut, "orang akan berkata Puri Ratih takut pada kesaksiannya. Permaisuri tentu tidak menginginkan itu."

Pengurus itu tidak berani membantahnya secara langsung. Larasati masih memegang sebagian urusan dalam istana, dan semua orang tahu ia pandai membuat kalimat terdengar seperti kepatuhan.

Anindya menoleh kepada Larasati. Untuk sesaat, dua perempuan itu saling memahami tanpa bicara.

"Tabib Suradi," kata Anindya, "periksa Selir Melati."

Suradi maju. Ia memeriksa nadi Melati, melihat bekas di pergelangan tangan, lalu menatap pengurus Puri Ratih.

"Saksi ini ketakutan dan lemah. Jika dipaksa malam ini, kesaksiannya tidak sah secara medis."

Pengurus itu menggertakkan gigi.

Di luar lorong, Garuda yang tersembunyi di balik taman mendengar semuanya. Ia memberi isyarat kecil kepada orangnya. Satu bayangan bergerak meninggalkan Puri Ratih, membawa kabar ke Puri Timur.

***

Ketika Anindya kembali, Arjuna sudah menunggu di depan ruang dalam.

Ia melihat wajah istrinya terlebih dahulu, bukan bertanya tentang hasil. Ada keringat tipis di pelipis Anindya.

"Kau hampir pingsan."

"Hampir tidak dihitung."

"Untukmu, dihitung."

Wulan menunduk. "Gusti Putri memang sempat goyah di tandu."

Anindya meliriknya. "Wulan."

"Hamba lebih takut kepada Yang Mulia Pangeran Mahkota saat ini," jawab Wulan jujur.

Arjuna menahan Anindya untuk duduk. Namun setelah itu, ia tidak memarahinya.

"Selir Melati aman untuk malam ini," kata Anindya.

"Untuk malam ini," ulang Arjuna.

Keduanya memahami bagian yang tidak perlu diucapkan. Selama Melati masih tercatat sebagai selir Naradewa, Ratih bisa memindahkannya, memaksanya sakit, atau membuatnya menghilang dengan alasan aturan dalam.

Suradi yang baru tiba meletakkan kotak obat di meja. "Ada cara membuat orang terlihat mati."

Ruangan menjadi sunyi.

Adi menatap tabib itu. "Tabib Suradi..."

"Aku tidak sedang bicara sembarangan." Suradi membuka kotak kecil. Di dalamnya ada botol tanah liat seukuran ibu jari. "Ramuan tidur dalam. Denyut melemah, napas tipis, kulit dingin. Jika diberi takaran tepat, orang bangun setelah beberapa jam. Jika salah, orang tidak bangun."

Wulan memucat.

Anindya menatap botol itu. "Kau pernah memakainya?"

"Untuk prajurit yang harus dikeluarkan dari medan saat musuh menghitung mayat," jawab Suradi. "Jarang. Berbahaya. Tapi mungkin lebih berbelas kasih daripada membiarkan Selir Melati mati pelan-pelan di Puri Ratih."

Arjuna tidak menyentuh botol itu.

Ia memandang Anindya.

"Ini bukan keputusan kecil."

"Tidak," kata Anindya. "Karena setelah Selir Melati mati, ia tidak bisa kembali menjadi dirinya."

Arjuna mengangguk pelan. "Darmawan punya jalur keluar melalui Pasar Sentosa. Dari sana, seseorang bisa dibawa ke rumah aman di luar Kota Raja."

"Bukan seseorang," kata Anindya.

Arjuna menatapnya.

"Seorang perempuan yang seumur hidupnya tidak pernah punya pilihan," lanjut Anindya. "Jika kita membuatnya mati, kita harus memberinya hidup, bukan hanya tempat bersembunyi."

Suradi menutup kotak obat perlahan.

Di luar, malam semakin pekat.

Arjuna akhirnya berkata, "Besok sebelum fajar, Selir Melati harus mati di mata Puri Ratih."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!