Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030
Akhir Pekan di Teluk Mutiara
"Kalau ada bunga," katanya, "itu dariku."
Seraphina mengira Reynard hanya sedang mengakhiri cemburu dengan kalimat manis. Ternyata, Sabtu pagi, ketika ia tiba di Teluk Mutiara, benar-benar ada bunga di meja foyer.
Bukan buket besar yang memalukan. Hanya satu vas kaca rendah berisi melati air dan beberapa tangkai anggrek putih. Di sampingnya ada kartu kecil tanpa nama pengirim, hanya tulisan tangan yang ia kenali.
Untuk pemilik pintu ini juga.
Seraphina menatap kartu itu lama.
Sejuta datang lebih dulu daripada pemilik rumahnya. Anjing besar itu berlari dari arah ruang keluarga, berhenti tepat di depan Seraphina, lalu duduk dengan ekor menyapu lantai marmer.
"Kau juga bagian dari penyambutan?" tanya Seraphina.
Sejuta mengangkat satu kaki.
Seraphina tertawa dan menjabatnya. "Profesional sekali."
"Dia latihan sejak pagi," kata Reynard dari arah dapur.
Seraphina menoleh.
Reynard tidak memakai jas. Ia berdiri dengan kaus hitam polos, celana santai, dan apron abu-abu gelap yang membuatnya terlihat terlalu domestik untuk ukuran laki-laki yang bisa membuat satu ruangan eksekutif menahan napas. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena ia benar-benar sudah berada di dapur cukup lama.
"Kau memasak pakai apron," kata Seraphina.
"Itu fungsi apron."
"Aku sedang mencoba menyesuaikan otakku."
"Dengan apa?"
"Dengan fakta bahwa Tuan Muda Hartono terlihat seperti suami iklan peralatan dapur."
Reynard berhenti setengah detik. "Suami?"
Seraphina baru sadar kata itu keluar begitu saja. Wajahnya langsung panas. "Itu istilah iklan."
"Aku tidak keberatan dengan istilahnya."
"Rey."
"Baik. Aku kembali ke masakan."
Namun senyum tipis di wajahnya tidak hilang sampai ia kembali ke kompor.
Dapur Teluk Mutiara berbeda dari dapur apartemen Seraphina yang serba praktis. Di sini, setiap alat tampak mahal, tetapi yang mengejutkan justru aromanya: bawang putih ditumis, kaldu ayam, daun jeruk, dan sedikit cabai. Tidak ada koki yang tampak. Tidak ada asisten rumah tangga yang keluar masuk. Hanya Reynard yang bergerak di antara kompor dan meja, tenang, terampil, seolah memasak untuknya bukan acara khusus, melainkan bahasa yang sudah lama ia simpan.
"Aku bisa bantu," kata Seraphina.
"Cuci tangan. Potong daun bawang."
"Kau langsung memberi tugas?"
"Kau bilang mau bantu."
Seraphina mencuci tangan, lalu berdiri di sampingnya. Pisau dan talenan sudah disiapkan. Saat ia mulai memotong, Reynard menggeser mangkuk kecil lebih dekat tanpa bicara. Gerakannya sederhana, tetapi Seraphina menyadari hal-hal kecil seperti itu: ia tidak mengambil alih, hanya membuat ruangnya lebih nyaman.
"Menu apa?" tanyanya.
"Soto ayam bening, perkedel kentang, dan teh oolong dingin."
"Kau bangun jam berapa?"
"Enam."
"Untuk masak?"
"Untuk memastikan kaldu cukup lama."
Seraphina berhenti memotong. "Kau tahu ini terdengar tidak masuk akal?"
"Aku punya waktu."
"Kau punya perusahaan."
"Perusahaan bisa menunggu sampai Senin. Kau datang hari ini."
Pisau di tangan Seraphina berhenti lagi. Kalimat itu tidak besar, tidak dramatis, tetapi justru membuat tenggorokannya terasa penuh. Di rumah Lim, keberadaannya selalu terasa seperti gangguan pada jadwal orang lain. Di sini, seseorang bangun pukul enam untuk merebus kaldu karena ia akan datang.
Reynard menyadari diamnya. "Terlalu berlebihan?"
"Tidak," kata Seraphina. "Aku hanya sedang mencatat."
"Mencatat apa?"
"Bahwa pacarku berbahaya."
"Baru sadar?"
"Maksudku berbahaya untuk standar hidupku."
Reynard tertawa pelan, lalu mengambil daun bawang yang sudah dipotong dan memasukkannya ke mangkuk. "Standarmu memang harus naik."
Makan siang berlangsung di teras belakang, menghadap kolam kecil dan taman yang rapi tanpa terasa kaku. Sejuta berbaring di dekat kaki Seraphina, sesekali mengangkat kepala setiap kali ia tertawa. Soto itu hangat dan bersih, perkedelnya renyah di luar, lembut di dalam. Seraphina makan lebih banyak dari yang ia rencanakan.
"Jangan lihat aku seperti itu," katanya ketika Reynard memperhatikan mangkuknya.
"Aku sedang bangga."
"Karena aku makan?"
"Karena kau tidak pura-pura sudah kenyang."
Seraphina menatap sendoknya. "Aku sering melakukan itu?"
"Saat tidak nyaman."
Ia tidak menjawab. Reynard tidak memaksa. Ia hanya menuangkan teh lagi, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal ringan: Sejuta yang pernah mencuri sandal Jason, Stanley yang tidak pernah mau makan pedas, dan Jason yang mengaku diet setiap Senin lalu gagal sebelum makan siang.
Sore hari, mereka mengajak Sejuta berjalan di jalur taman kompleks. Teluk Mutiara pada akhir pekan terasa lebih sepi. Mobil-mobil mahal bergerak pelan, satpam mengenal Reynard, beberapa penghuni menoleh dengan sopan tanpa berani menyapa terlalu lama. Seraphina memakai topi putih dan kacamata hitam, bukan karena takut, melainkan karena rahasia mereka masih harus hidup tenang beberapa waktu lagi.
Sejuta berjalan di sisi Seraphina, tali penuntunnya di tangan Reynard. Setiap kali anjing itu ingin bergerak terlalu cepat, Reynard hanya menyebut namanya sekali.
"Dia lebih patuh padamu daripada beberapa eksekutif yang pernah kutemui," kata Seraphina.
"Eksekutif tidak bisa diberi biscuit anjing."
"Belum tentu."
Reynard menoleh, lalu tertawa.
Di ujung taman, angin membawa aroma tanah basah dari penyiram otomatis. Seraphina berhenti sebentar. Ia melihat bayangan mereka di kaca pos keamanan: seorang perempuan dengan topi, seorang laki-laki yang menahan langkahnya agar tidak terlalu cepat, dan seekor anjing besar yang terlihat seperti pengawal pribadi.
Gambar itu terlalu tenang.
Terlalu mudah membuatnya ingin percaya.
Reynard berdiri di sampingnya. "Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Sera."
Ia menatapnya. "Aku hanya tidak terbiasa dengan hari yang tidak menuntutku membuktikan sesuatu."
Reynard tidak langsung menjawab. Ia memindahkan tali Sejuta ke tangan kiri, lalu menawarkan tangan kanan pada Seraphina.
Tidak di bawah meja.
Tidak di balik dokumen.
Di jalan taman yang sepi, dengan matahari sore yang mulai turun.
Seraphina melihat sekeliling. Tidak ada orang dekat. Namun tetap ada rasa gugup, rasa manis, rasa seperti anak kecil yang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi terlarang.
Ia menggenggam tangan Reynard.
Mereka berjalan seperti itu sampai Sejuta berhenti di depan semak bougainvillea dan bersin keras, merusak momen dengan sangat tidak elegan.
Seraphina tertawa sampai bahunya bergetar. Reynard menatap Sejuta dengan wajah datar.
"Kau iri?"
Sejuta mengibaskan ekor.
"Jelas iri," kata Seraphina.
Malamnya, mereka menonton variety show Korea di ruang keluarga. Seraphina duduk di sofa besar dengan kaki dilipat, Sejuta tidur di karpet dekatnya, dan Reynard menyerahkan semangkuk popcorn asin yang ia buat sendiri.
"Kau juga membuat popcorn sendiri?"
"Itu tidak sulit."
"Semua laki-laki kaya bilang begitu?"
"Tidak. Beberapa tidak tahu letak dapurnya."
Seraphina tertawa, lalu tanpa sadar bersandar ke bahunya. Reynard diam beberapa detik, seolah takut gerakan kecil akan membuatnya menjauh. Ketika Seraphina tetap di sana, ia baru mengangkat tangan dan merangkulnya pelan.
Di layar, para pembawa acara tertawa berlebihan karena permainan tebak lagu. Seraphina biasanya akan menganggap acara seperti itu terlalu berisik. Malam itu, suara tawa di televisi justru menjadi latar yang nyaman untuk keheningan mereka.
"Aku suka ini," katanya tiba-tiba.
Reynard menunduk. "Acara ini?"
"Hari ini."
Tangannya di bahu Seraphina mengencang sedikit. "Kalau begitu kita buat lagi."
"Dengan menu berbeda."
"Kau boleh pilih."
"Dan Sejuta tidak boleh bersin di momen romantis."
Sejuta mengangkat kepala, seolah namanya dipanggil untuk penghargaan.
Reynard menatap anjing itu. "Aku akan bicara dengannya."
Seraphina tertawa lagi. Ia tidak sadar kapan terakhir kali ia tertawa sebanyak ini dalam satu hari.
Ponselnya bergetar di meja. Satu voice note dari Natasha masuk, disusul tiga pesan teks.
Tasha:
Gue baru sadar sesuatu.
Tasha:
Ko Jason terlalu tenang kemarin.
Tasha:
Besok kita rapat darurat. Kalau ternyata semua orang lebih cepat curiga daripada gue, gue akan mengamuk dengan elegan.
Seraphina menatap layar, lalu menoleh pada Reynard.
"Apa?" tanyanya.
Seraphina menahan senyum. "Sepertinya besok pacarku akan diadili sahabatku."
Reynard melihat pesan itu dan mengangkat alis.
"Dengan elegan?"
"Itu ancaman, bukan janji."
Di karpet, Sejuta menguap lebar.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke Jakarta, ancaman esok hari tidak membuat dada Seraphina berat. Ia bersandar lagi pada Reynard, mendengar detak jantungnya di bawah telinga, dan membiarkan malam Teluk Mutiara menutup mereka dari dunia luar sedikit lebih lama.