Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Jawaban
Xavier tidak bertanya apa jawaban itu.
Ia hanya menutup buku di tangannya, lalu menatap Keira dari kursi dekat sofa dengan mata yang masih sedikit merah karena kurang tidur.
"Sekarang?" tanyanya.
Keira menggenggam ujung selimut. "Belum."
"Oke."
Hanya itu.
Tidak ada desakan. Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada kalimat yang membuat Keira merasa harus menjawab sebelum napasnya siap.
Justru karena Xavier berkata `oke` dengan begitu tenang, dada Keira terasa penuh.
"Kamu tidak penasaran?"
"Penasaran."
"Terus kenapa tidak tanya?"
Xavier berdiri dan mengambil gelas air dari meja. Ia menyerahkannya pada Keira, lalu duduk di ujung sofa, menjaga jarak yang membuatnya tetap merasa aman.
"Karena kalau kamu sudah siap, kamu akan bilang."
Keira menatap gelas di tangannya.
Air putih itu biasa saja. Tidak ada rasa. Tidak ada warna. Tetapi tangan Xavier yang tadi memberikannya hangat, dan kalimatnya lebih hangat lagi.
Keira minum sedikit.
"Kamu ini kadang terlalu baik," gumamnya.
"Kadang?"
"Jangan merusak momen."
Xavier menunduk, senyumnya kecil.
Pagi itu ia mengantar Keira pulang ke apartemen seberang setelah memastikan wajahnya tidak terlalu pucat. Mereka hanya berjalan beberapa langkah di koridor, tetapi bagi Keira, jarak itu terasa seperti melewati satu garis yang tidak terlihat.
Di depan pintu apartemennya, ia berhenti.
Xavier juga berhenti.
"Tidur lagi," katanya.
"Kamu juga."
"Nanti."
"Xav."
Panggilan itu membuat tatapan Xavier berubah, lembut dan sedikit terkejut, seolah ia masih belum terbiasa mendengar nama pendek itu dari mulut Keira.
Keira menelan senyum.
"Terima kasih untuk semalam."
"Untuk masakan atau sofa?"
"Untuk tidak membuat aku merasa bodoh karena takut."
Senyum Xavier hilang perlahan. Ia menatap Keira beberapa detik, lalu berkata, "Takut bukan bodoh."
Keira hampir menangis lagi.
Ia memilih kabur.
Setelah pintu tertutup, Keira bersandar di baliknya sambil memegang dada. Jantungnya tidak berdetak kacau seperti biasanya. Ada gemetar, tentu saja. Ada takut. Tetapi di bawah semua itu, ada sesuatu yang lebih tenang.
Keputusan.
Ia tidur sampai hampir siang, lalu bangun dengan satu pesan dari Angela.
`Mama sudah sampai Jakarta. Jangan lupa makan dan minum obat.`
Keira membalas singkat, lalu membuka hasil lab yang masih ia simpan di meja. Ia membaca lagi catatan dokter, meski sebagian istilah tetap sulit dipahami.
Indikator membaik.
Belum aman.
Tetap lanjut terapi.
Lebih optimis.
Keira menyentuh kertas itu dengan ujung jari.
Selama ini ia hidup seperti orang yang berdiri di depan jam pasir. Setiap keputusan harus dihitung dengan sisa waktu. Setiap rasa senang harus ditimbang dengan kemungkinan perpisahan. Bahkan saat sistem memberi poin tambahan, ia masih merasa seperti meminjam waktu dari sesuatu yang tidak ia mengerti.
Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia ingin berhenti menunggu hidupnya menjadi pasti baru berani memilih.
Karena tidak ada orang yang hidupnya benar-benar pasti.
Dan kalau ia terus menunda sampai tidak takut, mungkin ia akan kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya ingin berani.
Keira mengambil ponsel modernnya dan membuka chat Celine.
`Cel.`
Balasan datang dalam tiga detik.
`APA.`
`Huruf kapital lo bikin gue takut.`
`Lo chat duluan siang-siang. Ada plot twist.`
Keira menatap layar, lalu mengetik dengan jari yang mulai gemetar.
`Kalau seseorang mau nembak cowok, outfit-nya harus gimana?`
Pesan itu terkirim.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ponselnya bergetar tanpa henti.
`KEI.`
`KEIRA SENG.`
`LO MAU NEMBAK XAVIER?`
`AKHIRNYA OTAK LO CONNECT JUGA.`
Keira menutup wajah dengan satu tangan, tetapi ia tertawa.
Celine tidak berhenti sampai mengirim lima foto referensi outfit, tiga voice note berisi jeritan tertahan, dan satu kalimat yang membuat Keira diam.
`Pakai yang bikin lo merasa seperti diri sendiri. Bukan versi yang mau disukai dia. Dia sudah suka lo bahkan waktu lo salah masuk apartemen sambil pegang kucing.`
Keira membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia bangun dan membuka lemari.
Ia tidak memilih gaun. Tidak memilih sesuatu yang terlalu rapi sampai membuatnya merasa seperti karakter orang lain. Ia memilih blouse putih lembut, jeans biru muda, dan kardigan krem yang sering ia pakai saat menggambar. Rambutnya ia ikat setengah, menyisakan beberapa helai di dekat pipi.
Di cermin, wajahnya masih agak pucat.
Matanya masih menyimpan sisa bengkak.
Tetapi ia terlihat seperti Keira.
Itu cukup.
Sebelum keluar, ia mengambil Nokia tua dari meja.
Tidak ada pesan baru.
Misi 3 masih menunggu.
Outfit couple masih belum dimulai.
Namun untuk kali ini, Keira tidak ingin bergerak karena sistem. Ia ingin bergerak karena dirinya sendiri.
Ia menyimpan ponsel itu di laci, bukan di tas.
"Tunggu dulu," katanya pada benda itu. "Yang ini urusan gue."
Koridor lantai enam belas terasa lebih panjang dari biasanya.
Padahal pintu Xavier hanya di seberang.
Keira berdiri di depannya selama hampir satu menit. Ia mengangkat tangan, menurunkan lagi, mengangkat lagi. Dari dalam, terdengar suara langkah pelan, mungkin Mochi, mungkin Xavier. Keira menarik napas panjang.
Tok.
Tok.
Pintu terbuka beberapa detik kemudian.
Xavier muncul dengan kaus hitam dan kacamata tipis yang jarang ia pakai. Rambutnya masih agak berantakan. Di belakangnya, Mochi mengeong, mencoba menyelinap keluar.
"Keira?"
Ia menatap wajah Keira, lalu pakaian Keira, lalu kembali ke matanya. Sesuatu di ekspresinya berubah, seolah ia langsung tahu kunjungan ini bukan soal kotak makan atau kucing.
"Kamu sakit?"
Pertanyaan pertama tetap itu.
Keira hampir tertawa.
"Tidak."
"Masuk dulu?"
"Tunggu." Ia mengangkat tangan, menghentikannya sebelum keberanian itu kabur lewat celah pintu. "Aku mau ngomong di sini."
Xavier langsung diam.
Koridor kosong. Lift di ujung lorong tidak bergerak. Lampu plafon menyala putih, terlalu terang untuk adegan yang membuat lutut Keira lemas. Ia menggenggam ujung kardigan, lalu memaksa dirinya menatap langsung ke mata Xavier.
"Kemarin kamu tanya aku suka kamu atau tidak."
Napas Xavier berubah sangat pelan.
"Iya."
"Aku butuh waktu bukan karena aku ragu soal kamu." Suara Keira sedikit bergetar, tetapi ia terus bicara. "Aku ragu soal diri aku sendiri. Aku takut aku tidak punya cukup masa depan untuk diberikan ke orang lain. Aku takut kalau aku menerima kamu, suatu hari aku malah jadi alasan kamu sakit."
Wajah Xavier mengeras.
"Keira..."
"Tunggu. Kalau kamu potong sekarang, aku bisa lupa naskah."
Xavier menutup mulutnya.
Keira menarik napas lagi. Kali ini lebih dalam.
"Tapi aku capek takut terus. Aku capek menghitung semua hal buruk sebelum membiarkan diri aku bahagia. Dan aku tidak mau suatu hari menyesal karena pernah ada orang yang membuat aku ingin hidup, tapi aku malah menyuruh dia menunggu di luar pintu."
Matanya mulai panas.
Ia tetap tersenyum.
"Jadi, Xavier Sia."
Xavier berdiri sangat diam.
Keira merasa seluruh dunia menyempit menjadi pintu apartemen, kucing hitam di belakang kaki Xavier, dan pria yang selama ini diam-diam menjadi alasan ia ingin menambah hari.
"Aku suka kamu," katanya.
Kata itu tidak terdengar sempurna. Napasnya patah di tengah. Suaranya terlalu kecil, tetapi cukup jelas.
"Aku suka kamu. Mau jadi pacarku tidak?"
Xavier membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Keira mulai panik.
"Kalau kamu mau bilang harusnya kamu yang nembak, aku tahu ini agak kebalik, tapi aku sudah latihan dan kalau kamu diam terlalu lama aku bisa pingsan."
Senyum Xavier muncul.
Pelan.
Lalu penuh.
Senyum yang jarang dilihat orang lain. Senyum yang membuat wajah dinginnya berubah menjadi sesuatu yang hampir tidak adil.
"Harusnya aku yang bilang itu," katanya.
Keira menutup mata sebentar. "Aku tahu."
"Tapi kamu selalu curang."
"Aku sedang romantis, jangan protes."
Xavier tertawa pelan. Suara itu rendah, hangat, dan membuat air mata Keira akhirnya jatuh satu garis di pipi.
Senyum Xavier melembut.
Ia melangkah maju, lalu menarik Keira masuk melewati ambang pintu, bukan kasar, hanya cukup untuk membuatnya berada di dalam apartemen, jauh dari koridor kosong dan kemungkinan tetangga lewat.
Pintu tertutup pelan di belakang mereka.
Mochi mengeong sekali, seperti memberi persetujuan resmi.
Keira berdiri di depannya, tangan masih menggenggam kardigan.
"Jadi?" tanyanya, mencoba terdengar berani meski air matanya mengkhianati.
Xavier mengangkat tangan, berhenti sebentar seolah meminta izin lewat tatapan. Keira tidak menjauh.
Baru setelah itu ia menyentuh pipi Keira dengan punggung jari, sangat ringan, menghapus air mata yang jatuh.
"Jawaban aku," katanya, menunduk mendekat, "ya."
Keira menahan napas.
Bibir Xavier tidak menyentuh bibirnya.
Ia hanya menunduk dan mencium kening Keira, lama, lembut, seperti menaruh janji di sana.
"Sejak lama."