NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Pertemuan Pertama

Wijaya.

Nama itu membuat Seline nyaris tidak tidur sampai pagi. Saat langit Jakarta mulai pucat, ia baru memejamkan mata sebentar, hanya untuk terbangun oleh suara Darren yang menghafal rumus di sofa.

Seharian itu, Seline bergerak seperti orang yang tubuhnya ada di rumah Hartono, tetapi pikirannya tertinggal di taman malam sebelumnya. Ia membantu Darren menyusun dokumen tes, menemani adiknya membaca ulang soal, lalu ikut Bi Zheng ke pantry belakang untuk mengambil susu dan roti.

"Nona kelihatan pucat," kata Bi Zheng saat menuang air hangat.

Seline cepat tersenyum. "Kurang tidur sedikit, Bi."

"Kalau tidak kuat, istirahat. Rumah ini memang besar, tapi bukan berarti Nona harus mengerti semuanya dalam sehari."

Seline hampir bertanya apakah Bi Zheng tahu sesuatu tentang keluarga Wijaya. Pertanyaan itu sudah berada di ujung lidah. Namun ia menelannya kembali. Di rumah ini, satu nama yang salah disebut mungkin bisa berpindah dari dapur ke ruang makan dalam waktu satu jam.

"Saya baik-baik saja," katanya.

Sore menjelang ketika hujan turun tiba-tiba. Darren tertidur setelah belajar terlalu lama, kepalanya menempel pada buku. Seline keluar sebentar untuk mengambil jaket tipis yang tadi ia jemur di rak belakang. Angin membuat beberapa pakaian bergeser, dan sebuah kertas dari buku catatan Darren terbang melewati jalan setapak.

Seline mengejarnya tanpa berpikir.

Kertas itu melayang ke arah taman belakang, menempel sebentar di semak, lalu kembali terbawa angin sampai ke jalur batu yang lebih sepi. Seline baru sadar ia sudah melewati batas yang dipesankan Bi Zheng ketika melihat lampu dinding yang lebih modern, kaca tinggi, dan sebuah bangunan terpisah di belakang pepohonan.

Tempat Ko Kevin.

Ia berhenti mendadak.

"Aduh," bisiknya.

Kertas Darren masih berada beberapa meter di depan, menempel pada lantai basah dekat pintu kaca yang sedikit terbuka. Seline menimbang sebentar. Kalau ia meninggalkannya, Darren akan kehilangan catatan rumus yang ia tulis semalaman. Kalau ia maju, ia masuk ke wilayah yang sudah berkali-kali disebut tidak boleh.

Ia menarik napas, melangkah cepat, mengambil kertas itu, lalu berniat langsung pergi.

Namun dari balik pintu kaca, terdengar suara benda jatuh pelan.

Seline menoleh tanpa sadar.

Ruangan di dalam bukan ruang tamu. Lantainya kayu gelap, di satu sisi ada treadmill, alat angkat beban, dan rak handuk putih. Di sisi lain terdapat meja panjang dengan lampu baca, beberapa amplop besar, dan map hitam. Aroma samar karet, sabun mandi, dan kertas baru keluar bersama udara dingin AC.

Seorang pria berdiri membelakanginya.

Kevin Hartono.

Ia baru selesai berolahraga, terlihat dari handuk yang tergantung di leher dan lengan kemeja olahraga hitam yang sedikit basah oleh keringat. Rambutnya tidak serapi di meja makan, beberapa helai jatuh ke dahi. Namun justru dalam keadaan tidak sepenuhnya formal itu, jarak di antara mereka terasa lebih berbahaya.

Di tangannya ada amplop cokelat besar yang baru dibuka. Beberapa lembar kertas putih berada di meja. Satu lembar terjatuh ke lantai, mungkin suara itulah yang Seline dengar.

Seline seharusnya pergi.

Kakinya justru tidak bergerak.

Kevin membungkuk mengambil lembar yang jatuh, lalu berhenti. Seolah merasakan ada orang di belakangnya, ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu lewat celah pintu kaca.

Detik itu terasa terlalu panjang.

Hujan memukul daun di luar. Di tangan Seline, kertas catatan Darren mulai lembap. Di dalam ruangan, wajah Kevin tidak menunjukkan kaget yang jelas, tetapi mata gelapnya langsung mengunci Seline seperti pintu yang tiba-tiba tertutup dari jauh.

"Kamu," katanya.

Seline tersentak, lalu cepat mundur setengah langkah. "Maaf, Ko Kevin. Saya tidak bermaksud masuk. Kertas adik saya terbawa angin."

Kevin melihat kertas di tangannya, lalu melihat garis jalan setapak di belakangnya.

"Kamu tersesat?"

Pertanyaan itu sama seperti yang Seline bayangkan akan keluar dari mulutnya. Pendek. Dingin. Tidak memberi ruang untuk alasan panjang.

"Iya." Seline memilih jawaban paling aman. "Saya salah jalan. Saya akan pergi sekarang."

Ia membungkuk kecil dan berbalik.

"Tunggu."

Seline berhenti.

Jantungnya langsung naik ke tenggorokan. Ia tidak tahu apakah Kevin akan memanggil satpam, melapor pada Tante Chen, atau sekadar mengatakan bahwa orang seperti dirinya tidak boleh berkeliaran. Apa pun itu, kesalahan ini bisa menjadi senjata baru untuk Vivian.

Kevin tidak bergerak mendekat. Ia hanya menatap sepatunya yang basah, lalu lantai kayu di dekat pintu.

"Jangan masuk dengan sepatu basah."

Seline berkedip. "Saya tidak masuk."

"Bagus."

Nada itu datar, tetapi entah kenapa terasa seperti teguran dan izin sekaligus. Seline menunduk, wajahnya panas.

"Maaf."

Kevin kembali ke meja, seolah percakapan sudah selesai. Namun saat ia mengangkat lembar kertas yang tadi jatuh, angin dari pintu yang terbuka membuat sisi kertas itu terangkat. Seline melihatnya hanya sekilas.

Gambar seorang gadis berdiri di bawah cahaya lampion, menoleh setengah ke belakang. Rambutnya tertiup angin, ujung bajunya bergerak, dan di belakangnya ada bayangan pasar malam yang dibuat tidak terlalu jelas. Warna merah lampion dibiarkan menyala di antara garis-garis lembut.

Seluruh tubuh Seline membeku.

Ia tahu gambar itu.

Bukan hanya tahu. Ia ingat malam saat menggambarnya di kamar kontrakan Surabaya, dengan kipas angin rusak, Darren tidur di lantai, dan pesan dari pembeli anonim yang meminta satu karya bertema cahaya yang hilang.

Dua tahun lalu, gambar itu ia kirim tanpa tanda tangan asli.

Hanya satu nama kecil di sudut bawah.

Tao.

Kevin memegang gambar itu seolah benda tersebut penting, dan Seline berdiri di depan pintu dengan napas tertahan.

Kevin akhirnya menyadari tatapannya.

"Kenapa?" tanyanya.

Seline tersadar. Ia cepat menunduk, tetapi terlambat. Matanya pasti sudah terlalu lama berhenti pada kertas itu.

"Tidak apa-apa."

"Kamu melihat gambar ini."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Seline merasakan kertas catatan Darren mulai hancur di genggamannya karena terlalu kuat diremas. Ia tidak boleh panik. Tidak boleh menyebut Tao. Tidak boleh bertanya bagaimana mungkin gambar itu ada di tangan Kevin Hartono, pria yang bahkan tidak pernah ia bayangkan berada di sisi lain layar ketika ia menerima pesanan dua tahun lalu.

Ia memaksa suaranya tetap biasa. "Warnanya bagus."

Kevin menatapnya lebih lama. Hujan di belakang Seline semakin deras, membuat garis air turun di kaca seperti tirai. Dalam ruangan itu, hanya ada suara AC dan napas Seline yang ia tahan sepelan mungkin.

"Kamu mengerti gambar?" tanya Kevin.

Seline hampir menjawab terlalu cepat. Ia menggigit bagian dalam bibirnya.

"Sedikit. Di sekolah dulu saya suka menggambar."

"Hanya suka?"

Pertanyaan itu membuat kulit tengkuknya meremang. Ada sesuatu dalam mata Kevin, bukan curiga sepenuhnya, tetapi cukup tajam untuk membuat orang ingin menyembunyikan tangan.

Seline menunduk lebih dalam. "Saya harus kembali. Darren akan mencari saya."

Kevin tidak langsung memberi izin. Ia masih memegang gambar itu, ibu jarinya menekan sudut kertas dengan hati-hati, seolah gambar tersebut bukan sekadar barang koleksi.

"Jalan kembali lewat kiri. Jangan lewat pintu kaca ini lagi."

"Baik, Ko Kevin."

Seline berbalik. Ia berjalan pelan lebih dulu, baru mempercepat langkah setelah yakin Kevin tidak bisa melihat wajahnya. Begitu melewati semak pertama, ia berhenti sebentar dan menekan liontin giok di dadanya, bukan karena memikirkan Wijaya, melainkan karena jantungnya hampir meloncat keluar.

Gambar di tangan Kevin adalah gambarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!