NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Undangan makan malam dari keluarga Laksana datang terlalu cepat untuk disebut sopan.

Karina membaca pesan itu di ruang kerja Arga, lalu mendengus.

"Mereka baru kemarin mengirim invoice palsu lewat vendor yayasan. Hari ini mengundang makan malam? Cepat sekali bertobatnya."

Satria yang duduk di sofa tertawa pendek. "Bukan bertobat. Mereka mencium kapal Daren mulai bocor."

Alya tidak tertawa. Ia membaca nama tempatnya.

Restoran privat di hotel Senayan. Ruang VIP. Tidak ada media. Tidak ada keluarga besar.

Terlalu bersih.

Arga duduk di kursi dekat jendela dengan buku catatan obat di pangkuannya. Sejak malam Ratna datang, ia membaca semua label obat seperti orang membaca kontrak perang.

"Keluarga Laksana pemegang dua vendor klinik?" tanyanya.

"Tiga," jawab Alya. "Dua atas nama perusahaan resmi, satu lewat adik ipar mereka."

"Kamu mau datang?"

"Mereka mengundang kita berdua."

Arga menatapnya. "Itu bukan jawaban."

"Aku mau datang."

Karina langsung menoleh. "Dengan Mas Arga?"

"Mereka ingin melihat apakah Mas Arga cukup sehat untuk dijadikan pelindung baru. Jadi biarkan mereka melihat."

Arga tersenyum tipis. "Aku seperti barang pameran."

"Malam ini kamu seperti pemegang saham yang lama dikurung."

"Lebih baik."

Karina tidak terlihat tenang. "Alya, kalau Laksana benar-benar panik, mereka bisa merekam pembicaraan, memotong kata-kata Mas Arga, lalu menjualnya ke Daren."

"Bagus."

"Bagus?"

"Orang yang ingin merekam biasanya lupa bahwa mereka juga bicara."

Satria menatap Alya lama. "Aku ikut di meja sebelah."

"Tidak. Kamu tunggu di lobi. Kalau aku membutuhkan keributan, baru masuk."

"Kenapa aku selalu bagian keributan?"

"Karena wajahmu cocok."

Satria menunjuk dirinya sendiri, tidak terima. Arga batuk kecil karena menahan tawa.

Malam itu, Alya memilih kebaya modern warna hijau gelap, sederhana tetapi tajam. Arga memakai jas hitam tanpa dasi. Tubuhnya masih kurus, tetapi cara ia berjalan membuat beberapa pegawai hotel menoleh.

Bukan karena ia kuat.

Karena ia menolak terlihat lemah.

Di ruang VIP, Pak Surya Laksana berdiri menyambut mereka. Istrinya, Bu Ratih, tersenyum terlalu lebar. Anak mereka, Tegar, yang selama ini menjadi direktur vendor yayasan, langsung menundukkan kepala.

"Mas Arga, Mbak Alya. Terima kasih sudah berkenan datang."

Alya duduk setelah Arga duduk. Ia melihat piring sudah tertata, teh panas sudah siap, dan sebuah map cokelat diletakkan dekat siku Pak Surya.

Mereka bahkan tidak menyembunyikan tujuan.

Pak Surya membuka percakapan dengan doa singkat, lalu basa-basi tentang kesehatan Arga.

"Kami senang melihat Mas Arga sudah jauh lebih baik. Alhamdulillah, keluarga besar Pradipta masih punya harapan."

Arga mengangkat gelas. "Harapan untuk siapa, Pak?"

Pak Surya tersentak sedikit.

Alya menahan senyum.

Bu Ratih segera masuk. "Maksud suami saya, semua orang ingin Pradipta Group stabil. Akhir-akhir ini banyak berita tidak enak. Nama keluarga besar bisa ikut tercemar."

"Karena invoice palsu?" tanya Alya.

Sendok Tegar jatuh ke piring.

Ruangan itu mendadak hening.

Pak Surya masih mencoba tersenyum. "Mbak Alya terlalu cepat menilai."

"Saya baru menyebut invoice. Bapak sudah merasa dinilai."

Tegar menelan ludah. "Invoice itu kesalahan administrasi."

"Tiga tahun?"

"Sistem kami--"

"Sistem kalian membuat pasien fiktif menerima paket kesehatan dari yayasan. Nama mereka ada. Tanda terima ada. Barangnya tidak pernah sampai."

Bu Ratih memucat. "Mbak Alya, kami mengundang dengan niat baik."

"Niat baik biasanya datang sebelum bukti ditemukan."

Pak Surya meletakkan kedua tangan di meja. "Baik. Kita bicara terbuka. Kami tahu audit akan berjalan. Kami juga tahu Mas Daren tidak lagi bisa memberi jaminan seperti dulu."

Arga menatapnya tanpa berkedip.

"Jadi Bapak ingin pindah barisan?" tanyanya.

"Kami ingin memperbaiki kerja sama."

"Dengan mengkhianati orang yang kemarin kalian layani?"

"Bisnis butuh penyesuaian."

Alya mengambil gelas tehnya. "Itu kata yang bagus untuk takut."

Pak Surya tidak suka, tetapi ia menahan diri. "Kami punya informasi."

Ia membuka map cokelat itu. Di dalamnya ada salinan kontrak, daftar transfer, dan beberapa tangkapan layar percakapan.

"Sebagian dana yayasan tidak berhenti di vendor kami. Ada rekening penampung. Kami bisa membantu menunjukkan alurnya."

Karena ingin selamat, pikir Alya.

Bukan karena menyesal.

Arga mengambil satu lembar. Jemarinya agak gemetar, tetapi ia tetap membacanya.

"Nama Daren tidak ada."

Pak Surya tersenyum tipis. "Nama orang pintar jarang ada di kertas."

"Tapi nama orang takut ada di meja makan," kata Arga.

Tegar mengangkat wajah. "Mas Arga, kami menawarkan kerja sama."

"Tidak," kata Alya.

Semua mata beralih padanya.

Alya menutup map itu perlahan. "Kalian tidak menawarkan kerja sama. Kalian menawarkan diri untuk diselamatkan dengan imbalan bukti yang seharusnya kalian serahkan sejak awal."

Pak Surya menegang. "Kalau begitu apa yang Mbak Alya mau?"

"Kalian punya dua pilihan. Pertama, serahkan semua data ke tim audit resmi dan bersaksi. Kedua, tunggu nama kalian muncul di laporan, lalu jelaskan sendiri kepada polisi, pajak, dan keluarga pasien."

Bu Ratih hampir berdiri. "Itu akan menghancurkan kami."

"Tidak. Yang menghancurkan kalian adalah pilihan kalian sendiri."

Pak Surya menatap Arga. "Mas Arga, istri Anda keras sekali."

Arga meletakkan lembar kontrak di meja.

"Saya mendengarnya."

"Anda tidak ingin menenangkan?"

"Tidak."

Pak Surya terdiam.

Arga berkata pelan, "Selama bertahun-tahun semua orang bicara lembut sambil membuat saya sakit. Malam ini istri saya bicara keras karena ingin menghentikan itu. Saya memilih suara yang kedua."

Wajah Bu Ratih berubah. Untuk sesaat, ia tampak tidak tahu harus menyerang dari sisi mana.

Alya berdiri.

"Besok pukul sembilan, Karina akan mengirim alamat kantor hukum. Datang dengan data lengkap. Jangan bawa alasan, jangan bawa cerita sedih."

Pak Surya ikut berdiri. "Kalau kami datang, apakah nama kami bisa diselamatkan?"

Alya menatapnya.

"Saya bukan Tuhan, Pak Surya. Saya hanya memberi kalian jalan yang tidak lebih busuk dari jalan sebelumnya."

Mereka keluar dari ruang VIP tanpa menyentuh makanan utama.

Di lorong, Arga berhenti sebentar. Wajahnya pucat.

"Kamu kuat?" tanya Alya.

"Kalau aku jawab tidak, kamu akan membawaku pulang?"

"Aku akan menyeretmu ke kursi dulu, baru pulang."

Arga tersenyum kecil.

Dari balik pintu yang belum tertutup rapat, suara Pak Surya terdengar tertahan.

"Telepon Daren. Sekarang."

Alya dan Arga saling pandang.

Arga berbisik, "Mereka memilih jalan busuk?"

"Belum."

Alya mengeluarkan ponsel.

"Mereka baru menunjukkan arah lubangnya."

Di mobil, Arga tidak langsung bersandar. Ia menatap jendela gelap, melihat pantulan wajahnya sendiri yang masih terlalu pucat untuk disebut sehat.

"Kamu memberi mereka pilihan, tapi sebenarnya mereka tidak punya pilihan."

"Punya."

"Menyerahkan data atau hancur?"

"Itu tetap pilihan."

Arga menoleh. "Kejam."

"Mereka menjual nama pasien fiktif, mengambil dana yayasan, lalu ingin pindah barisan ketika kapal lama bocor. Aku tidak sedang mengajari mereka moral. Aku sedang membuat mereka takut pada akibat yang benar."

Arga diam sebentar.

"Dulu orang-orang seperti itu takut pada Daren."

"Sekarang mereka harus belajar takut pada dokumen."

Ponsel Alya bergetar.

Pesan dari nomor Pak Surya.

`Kami akan datang besok. Tapi kami minta perlindungan dari tekanan Mas Daren.`

Alya menunjukkan layar pada Arga.

"Lihat? Mereka memilih."

"Karena kamu membuat pilihan lainnya terlihat lebih mahal."

"Itu namanya negosiasi."

Arga tersenyum lemah. "Aku harus mencatat semua istilahmu. Menolak, negosiasi, menyeret orang ke kursi."

"Yang terakhir bukan istilah bisnis."

"Tapi sering berguna."

Mobil berhenti di lampu merah. Di ponsel Alya, nomor tidak dikenal masuk. Ia menyalakan mode pengeras suara.

Suara Daren terdengar tanpa salam.

"Kamu pikir keluarga Laksana akan menyelamatkanmu?"

Alya melihat Arga.

Arga mengangguk kecil.

Alya menjawab, "Tidak. Saya pikir mereka akan menyelamatkan diri sendiri dan menyeret orang yang membuat mereka takut."

Daren tertawa pelan. "Hati-hati. Orang ketakutan juga bisa menggigit tangan yang memegangnya."

"Maka saya tidak memegang tangan mereka."

"Apa yang kamu pegang?"

Alya menatap lampu merah yang berubah hijau.

"Bukti."

Ia memutus panggilan.

Arga menarik napas pelan. "Besok akan ramai."

"Besok memang dibuat untuk itu."

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!