NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Shania mencondongkan tubuh.

"Kamu benar-benar sulit dipanggil. Kakakku harus menaikkan angka sampai Rp1 miliar baru kamu datang."

"Saya datang karena Nirwana yang memanggil."

"Kebetulan sekali."

"Dunia memang penuh kebetulan."

"Aku tidak suka kebetulan."

Arka tersenyum tipis. "Saya mulai sadar."

Shania hampir berdiri, tetapi Widya mengangkat tangan sedikit. Gerakan itu halus, namun cukup membuat adiknya menahan diri.

Itu membuat Arka lebih memperhatikan Widya.

Shania memakai tekanan seperti borgol: langsung, keras, dan menuntut jawaban. Widya berbeda. Ia tidak perlu menaikkan suara. Bahkan cara ia duduk, cara ujung jarinya menyentuh gelas, dan cara matanya berhenti pada wajah Arka terasa seperti pemeriksaan yang lebih dalam daripada interogasi polisi.

Wanita ini baru kehilangan suami, baru mengambil alih grup farmasi raksasa, dan masih bisa duduk di ruang VIP klub malam dengan tenang. Kalau ia terlihat rapuh, itu bukan karena lemah. Itu karena ia cukup pintar untuk membiarkan orang lain salah menilai.

"Kamu bilang bekerja sebagai sopir Bianca," kata Widya. "Berapa ia membayarmu?"

"Honor tetap Rp100 juta per bulan. Bonus tergantung masalah."

Shania menatapnya tajam. "Sopir macam apa dibayar Rp100 juta?"

"Sopir yang bisa membaca batu, feng shui, dan kadang menyelamatkan orang."

"Kamu mengakui punya kemampuan tidak biasa?"

"Saya mengakui pekerjaan saya tidak biasa."

Widya tampak menikmati cara Arka menjawab. Ia tidak seperti pria yang gugup di depan uang dan wanita cantik. Ia juga tidak seperti preman Jaya yang bicara keras untuk menutup isi kepala kosong. Arka licin, tetapi licinnya punya tulang.

"Aku beri Rp200 juta per bulan," kata Widya.

Shania langsung menoleh. "Kak."

Widya tidak menghiraukannya.

"Bonus tetap ada. Kamu menjadi sopir pribadiku."

Arka diam sesaat.

Ia sudah menduga malam ini bukan sekadar interogasi, tetapi tawaran itu tetap terlalu langsung.

Rp200 juta per bulan bukan angka kecil, bahkan untuk Jakarta kelas atas. Banyak direktur muda di perusahaan bagus pun belum tentu memegang uang bersih sebesar itu. Widya mengatakannya seperti memesan air mineral.

Yang lebih mengganggu bukan jumlahnya, melainkan tatapan Widya setelah menyebut angka itu. Ia tidak sedang pamer uang. Ia sedang melihat apakah uang bisa menggoyahkan napas Arka.

Arka tidak suka diuji dengan cara semanis itu.

"Bu Widya, saya berterima kasih. Tapi sebagai sopir penuh waktu, saya tidak bisa."

"Karena Bianca?"

"Karena jadwal saya sudah berantakan. Bianca, Nirwana, Maya, dan beberapa urusan pribadi. Kalau saya menerima pekerjaan penuh waktu, saya sendiri yang akan mati di jalan."

Shania mendengus. "Kamu pikir kamu siapa? Kakakku sudah memberi tawaran dua kali lipat."

"Itu sebabnya saya menolak dengan sopan."

Widya mengambil gelas wine, menatap cairan merah di dalamnya.

"Bagaimana kalau paruh waktu? Saat aku membutuhkanmu, kamu datang."

"Itu juga perlu lihat waktu."

Shania menepuk meja.

"Arka!"

"Bu Shania, kalau saya sedang mengantar Bianca ke meeting penting lalu Bu Widya menelepon, apakah saya harus meninggalkan Bianca di tengah jalan? Kalau saya sedang menjalankan perintah Maya lalu Bu Widya memanggil, apakah saya harus membuat Jaya curiga? Kalau begitu, saya bukan sopir. Saya bom berjalan."

Shania terdiam sebentar karena kalimat itu masuk akal, meski ia tidak suka.

Arka melanjutkan, "Saya bisa menerima pekerjaan paruh waktu dengan janji temu. Kalau darurat, kabari. Kalau saya bisa datang, saya datang. Kalau tidak, jangan paksa saya memilih di tengah jalan."

"Kamu sedang menawar dengan Cakra Medika Group," kata Shania.

"Saya sedang menjaga agar Cakra Medika tidak membeli masalah baru."

Widya tertawa pelan.

Tawanya lembut, tetapi membuat Shania makin tidak puas.

Di meja, cahaya lampu memantul pada cincin tipis di jari Widya. Cincin itu bukan cincin kawin, tetapi Arka tetap melihat bekas halus di jari manisnya, jejak sesuatu yang pernah ada dan sengaja dilepas. Di balik senyumnya yang tenang, wanita itu masih membawa kesedihan. Namun ia tidak datang ke sini untuk menangis. Ia datang untuk mencari alat yang bisa membuatnya bertahan.

Dan malam ini, alat itu bernama Arka.

"Baik," kata Widya. "Sesuai syaratmu. Aku akan menghubungi lebih dulu. Kalau kamu bisa, kamu datang."

"Kak!"

"Shania."

Satu kata itu cukup menghentikan protes.

Arka menatap Widya. Di balik kelembutan wanita itu, ia melihat perhitungan yang rapi. Widya bukan wanita yang mudah terseret. Jika ia terus mundur, justru akan terlihat mencurigakan. Menerima dengan batas jelas lebih aman.

"Kalau begitu, saya terima sebagai pekerjaan paruh waktu."

Widya mengulurkan ponsel. "Nomor."

Mereka bertukar kontak.

Shania menatap proses itu seperti melihat kakaknya membawa pulang benda berbahaya.

Widya menyimpan nomor Arka dengan nama `Arka - driver khusus`.

Arka melirik layar itu dan berkata, "Khusus?"

"Sementara."

"Terdengar seperti masa percobaan."

"Semua orang yang masuk hidupku sedang masa percobaan."

Kalimat itu ringan, tetapi Shania mendadak diam. Arka juga tidak menanggapi sembarangan. Ia mendengar sisi lain di baliknya: suami Widya baru mati, orang-orang di sekitarnya mungkin sedang dibersihkan satu per satu, dan kepercayaan bukan barang yang bisa ia berikan gratis.

"Aku tetap akan mengawasimu," katanya pada Arka.

"Saya mulai terbiasa."

"Jangan terlalu senang."

"Tidak. Diperhatikan polisi membuat hidup lebih sehat."

Shania berdiri hampir seketika, tetapi Widya tertawa lagi.

"Kamu memang pandai membuat orang marah."

"Saya biasanya hanya menjawab."

"Jawabanmu yang berbahaya."

Setelah Arka keluar dari ruang VIP, pintu tertutup pelan. Shania langsung meledak.

"Kak, kamu serius? Kita memanggil dia untuk bertanya, bukan merekrut!"

Widya bersandar di sofa. Di bawah cahaya redup, wajahnya tampak lebih tenang daripada saat Arka masuk.

"Justru karena sudah bertanya, aku ingin merekrut."

"Dia penuh rahasia."

"Karena itu menarik."

"Menarik? Kak, Jaya Harim bukan orang biasa. Maya Santoso bukan wanita biasa. Bianca Lestari juga bukan lawan kecil. Arka berdiri di antara mereka semua. Kalau dia orang Jaya, kamu sedang mengundang bahaya masuk mobilmu sendiri."

Widya memutar gelas.

"Kalau dia orang Jaya, kenapa Bianca mempertahankannya? Kalau dia orang Bianca, kenapa Maya bisa memakai dia? Kalau dia hanya orang Nirwana, kenapa kamu begitu penasaran setelah melihat rekaman?"

Shania tidak langsung menjawab.

Widya melanjutkan, "Kamu sendiri yang memberiku video itu. Satu orang menghadapi puluhan pria bersenjata dan keluar hampir tanpa luka. Orang seperti itu entah berbahaya atau berguna. Dalam situasi Cakra Medika sekarang, aku tidak punya kemewahan untuk mengabaikan keduanya."

Shania menggigit bibir.

Kakaknya baru kehilangan suami. Di luar, direksi lama menunggu celah. Keluarga almarhum menekan dari kiri. Pesaing menunggu dari kanan. Jaya juga mencoba masuk lewat jalur gelap. Widya memang butuh orang yang bisa bergerak di wilayah yang tidak bisa disentuh direktur biasa.

"Aku bisa mengajukan perlindungan resmi," kata Shania akhirnya. "Cakra Medika perusahaan strategis nasional. Setelah kakak ipar tewas, alasan keamanan cukup kuat. Aku bisa minta izin menjadi pengawalmu sementara."

Widya menatap adiknya dengan lembut.

"Kamu mau menjagaku atau mengawasi Arka?"

"Dua-duanya."

"Baik. Aku tidak menolak."

Shania tampak sedikit lega.

Widya mengambil gelas dan menyesap wine.

"Lagipula, orang seperti Arka lebih mudah dilihat dari dekat."

"Jangan bilang Kakak mau memakai pesona."

Widya menatap adiknya, lalu tersenyum dengan tenang.

"Aku sudah menjadi janda. Sedikit pesona tidak melanggar hukum."

"Kak!"

"Aku bercanda."

"Candaan Kakak menakutkan."

Widya tertawa pelan.

"Tenang. Aku tidak sebodoh itu. Tapi kalau ingin tahu apakah seseorang manusia, serigala, atau pisau, kadang kita harus melihat bagaimana ia bereaksi saat diberi kehangatan."

Shania menatap pintu yang baru saja dilewati Arka.

"Kalau dia ternyata pisau?"

"Maka kita cari tahu gagangnya di tangan siapa."

Di luar ruang VIP, Arka baru berjalan beberapa langkah ketika melihat Bima menunggu di ujung lorong.

Wajah Bima gelap.

Beberapa anak buahnya berdiri di belakang, menutup jalan.

Arka menghela napas.

Malam ini rupanya belum puas memberinya tamu.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!