Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Akan Mendapatkan Restu?
Eva pergi ke dapur, menyapa pelayan disana yang dulu bekerja dengannya. Sejenak duduk di kursi meja makan hanya untuk bertukar cerita. Mbak Nur tentu tahu cerita tentang Eva dan Laila yang saling bertukar identitas hanya untuk membatalkan perjodohan.
"Jadi sekarang kamu berpacaran dengan Tuan Muda kaya itu?" tanya Mbak Nur langsung pada poin utamanya tanpa ada yang dia jeda.
Eva tidak mungkin menjawab tidak, karena kenyataannya dia memang bersama Byan sekarang. Meski itu mungkin terasa aneh bagi semua orang, karena Eva yang hanya mantan seorang pelayan dan anak dari seorang pelayan juga. Tiba-tiba bisa bersama dengan seorang Tuan Muda dari keluarga terpandang. Hal itu akan terasa aneh bagi semua orang.
"Aneh ya Mbak, karena aku bisa dengan Mas Byan. Sebenarnya hanya karena aku menggantikan Nona Laila saat itu, membuat sekarang aku bisa bersama Mas Byan"
Mbak Nur langsung menggeleng, seperti membantah ucapan Eva. "Bukan, bukan karena aneh. Mbak hanya ikut senang saja kalau Eva menemukan kebahagiaan Eva"
"Sebenarnya Mbak, ini adalah pertama kalinya aku percaya pada seorang pria setelah ... Ayah pergi begitu saja"
Mbak Nur mengangguk, dia mengusap bahu Eva dengan prihatin. Tahu bagaimana perjalanan hidup gadis ini yang tanpa dorongan dan dukungan seorang Ayah. Bahkan kasih sayang dari Ayahnya saja hilang sejak dia kecil.
"Tidak papa, Mbak yakin sekarang kamu akan menemukan kebahagiaan itu. Biarkan masa lalu itu membuat kamu lebih kuat sekarang"
Eva mengangguk sambil tersenyum, dia menghela napas pelan ketika mengingat masa lalu tentang orang tuanya. Terkadang merasa marah pada Tuhan dan bertanya-tanya, kenapa malah Ibunya yang di ambil saat Eva masih membutuhkannya. Dan Ayahnya yang sekarang entah dimana, mungkin masih hidup. Eva juga sadar jika pertanyaannya pada Tuhan seolah memang dia menginginkan Ayahnya lebih dulu meninggalkan dunia ini daripada Ibunya. Tapi, kecewanya yang besar membuat dia sampai berpikir seperti itu.
"Mbak, bagaimana keadaan disini saat Tuan dan Ibu tahu tentang kebohongan yang aku dan Nona Laila lakukan"
"Kacau" Jawaban Mbak Nur sudah bisa membuat Eva membayangkan kacaunya perdebatan keluarga ini. "Nona Laila habis di marahi oleh Tuan, banyak kekecewaan yang Tuan dan Ibu lontarkan dan menyayangkan sikapnya yang memilih bertukar denganmu. Karena Tuan sangat berharap Nona Laila bersama Tuan Muda itu, karena Tuan juga sudah berteman baik dengan orang tuanya. Mungkin sekarang yang membuat Tuan sangat marah karena dia harus menanggung malu pada teman dekatnya itu jika perjodohan ini akhirnya gagal dan batal"
Eva menghela napas pelan, hati kecilnya masih merasa bersalah. Karena jika dia tidak menyetujui permintaan Laila saat itu, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini.
"Tapi Eva, apa orang tua Tuan Muda itu sudah tahu hubungan kalian? Apa mereka merestu?"
Diam... Bahkan Eva sudah memikirkan hal ini sejak memilih menjalani bersama Byan. Tentang restu orang tuanya, apa akan bisa dia dapatkan? Untuk sekadar bertanya saja pada Byan tentang keluarganya, dia tidak berani. Eva memilih memendam semua pertanyaan ini dalam dirinya, membiarkan waktu perlahan menjawab semuanya.
"Aku belum tahu orang tuanya, belum pernah bertemu juga"
Mbak Nur langsung mengambil ponselnya, mencari data di internet tentang keluarga Danuel. Dan semua data tentang keluarga mereka muncul.
"Lihat ini" Mbak Nur memberikan ponselnya pada Eva. "Mereka memang keluarga terpandang, Tuan Muda yang bersama denganmu mempunyai satu Kakak laki-laki yang berada di Luar Negeri untuk mengurus Perusahaan disana. Ini Ayah dan Ibunya, mereka juga mempunyai Perusahaan besar disini. Namun Tuan bernama Albyan itu memilih menjadi Asisten sepupunya dan bekerja di Perusahaan sana. Entah kenapa, padahal orang tuanya juga punya Perusahaan sendiri. Hidup orang kaya memang tidak bisa di tebak"
Fokus Eva bukan hanya pada Perusahaan besar saja, tapi pada orang tua Byan. Melihat dari fotonya saja membuat dia ragu jika akan mendapatkan restu.
"Latar belakang keluarganya sangat terpandang ya Mbak, bagaimana aku bisa masuk ke dalam bagian mereka?"
Mbak Nur menepuk bahunya, memberikan semangat pada Eva. "Tenang saja, ketika cinta sudah berlabuh maka tidak ada yang tidak mungkin, Eva. Pasti kamu akan direstui, karena kamu yang dicintai anak mereka"
Eva hanya mengangguk pelan, berharap yang di ucapkan oleh Mbak Nur akan benar terjadi.
Saat masih asyik mengobrol beberapa hal, Eva juga menceritakan tentang pekerjaannya yang baru pada Mbak Nur. Mereka berdua terlihat asyik bertukar cerita setelah cukup lama tidak bertemu.
"Eva, pacarmu datang" bisik Mbak Nur saat melihat Byan yang berjalan ke arah mereka.
Eva menoleh, Byan sudah berdiri di sampingnya menglus kepalanya dengan lembut. Hal itu tidak luput dari pandangan Mbak Nur yang sudah ingin berteriak kegirangan melihatnya.
"Ayo pulang, sudah malam"
Eva berdiri dari duduknya, menyelempangkan tas di bahunya. "Mas sudah selesai?"
"Sudah"
Eva menoleh pada Mbak Nur, berpamitan padanya. "Mbak, kalo ada waktu senggang main ke rumahku ya"
"Iya Ev, nanti Mbak akan mampir. Kamu hati-hati dijalan"
"Iya Mbak"
Byan tersenyum dan mengangguk sopan pada Mbak Nur sebagai tanda berpamitan. Lalu membawa Eva keluar dari dapur. Mbak Nur menatap keduanya yang pergi.
"Semoga Eva mendapatkan hubungan yang baik dan membuatnya bahagia. Kasihan anak itu, sudah banyak melalui hal sulit selama ini"
*
Untuk pertama kalinya Byan mengantarkan Eva ke rumahnya. Sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, namun tetap terawat dan terlihat rapi. Eva membuka kunci pintu, dan mempersilahkan Byan masuk. Meski hari sudah malam, tapi pria itu tetap ingin mampir ke rumahnya. Eva tahu Byan mungkin hanya penasaran saja dengan tempat tinggalnya.
"Duduk disini dulu ya, aku ambilkan minum"
Eva menyimpan tasnya di meja, lalu pergi ke dapur. Byan yang duduk di sofa sederhana disana, menatap ke sekelilingnya. Ada beberapa foto di dinding dan di rak televisi. Byan menatapnya lucu, foto Eva saat kecil bersama Ayah dan Ibunya. Lalu foto Eva saat SMA yang bersama Ibunya.
"Teh hangat Mas, cuacanya cukup dingin"
"Terima kasih Sayang"
Eva duduk di samping Byan, mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengeceknya sekilas. Takut ada pesan atau hal lain dari pekerjaan.
"Sayang, jadi selama ini jika aku mengantarkan kamu ke rumah Om Hartanto, kamu bagaimana?" tanya Byan saat sadar jarak rumah Eva dan rumah Laila cukup jauh.
"Em, kadang pulang kalau masih ada taksi yang bisa di pesan, kalau tidak aku akan menginap disana bersama Nona"
Byan menghela napas pelan, dia mengusap lembut kepala kekasihnya dan membawanya ke dalam pelukannya. "Seandainya kamu jujur sejak awal, mungkin tidak akan seperti itu. Aku tidak peduli kau itu Laila Hartanto atau bukan, yang terpenting bagiku itu adalah kamu"
Eva tersenyum tipis, mengingat apa yang pernah terjadi, Eva juga tidak akan pernah menyangka jika akhirnya malah dia yang bersama Byan sekarang. Padahal awalnya hanya menggantikan majikannya saja.
"Sayang, kemana orang tuamu?" tanya Byan.
Eva terdiam, matanya menatap ke arah bingkai foto yang terpajang. "Ibuku sudah meninggal"
Bersambung