Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak Banget, Mas!
Mendengar ajakan Arsen yang begitu tiba-tiba dan blak-blakan, pasokan udara di sekitar Aira rasa-rasanya kembali menghilang. Wajahnya yang semula memang sudah merona, kini benar-benar terasa panas membara seperti terpanggang. Tatapan mata Arsen yang menggelap penuh rona asmara dan kerinduan membuat Aira tidak bisa berkutik dalam kuncian lengan kokoh suaminya.
"Mas Arsen... ih, kalau ngomong suka nggak disaring!" cicit Aira gagap dan tangannya refleks menahan dada bidang Arsen yang mulai condong mendekat ke arahnya.
Arsen terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dekat telinga Aira dan memberikan sensasi menggelitik yang membuat bulu kuduk istrinya meremang.
"Kenapa harus disaring, sayang? Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah siap dan mau. Jadi, aku sebagai suami yang baik tentu harus sigap mewujudkan keinginan istrinya," goda Arsen dengan kerlingan mata yang kian nakal.
Jarak di antara mereka terkikis begitu cepat. Arsen perlahan menundukkan kepalanya, mengincar bibir Aira yang tampak begitu mengundang di bawah temaram lampu kamar. Aira memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya bertalu-talu begitu hebat dan bersiap menyambut sentuhan suaminya yang sudah sah secara agama dan negara itu.
Namun, tepat saat napas hangat Arsen sudah menyapu permukaan bibirnya, mata Aira seketika membelalak lebar saat mengingat sesuatu.
"Eh, Mas! Tunggu! Tunggu dulu, Mas!" pekik Aira panik dan mendorong dada Arsen dengan sekuat tenaga hingga pria itu sedikit terundur ke belakang dengan dahi berkerut bingung.
"Kenapa, sayang? Ada apa?" tanya Arsen dengan suara yang sudah serak dan berat, menatap istrinya dengan pandangan bertanya-tanya.
Aira menggigit bibir bawahnya, rasa bersalah dan jengah mendadak campur aduk menjadi satu di dalam dadanya, ia tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata tajam suaminya.
"Itu... Mas... aduh, gimana ya ngomongnya," gumam Aira terbata-bata, jemarinya meremas selimut sutra dengan gelisah.
"Ngomong aja, sayang. Ada apa? Kamu masih gugup? Gapapa kita bisa pelan-pelan kok, aku janji nggak akan sakitin kamu," tanya Arsen tebaknya lembut dan mencoba meraih kembali jemari Aira untuk menenangkannya.
Aira menggelengkan kepala cepat lalu menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian, "Bukan gugup, Mas. Tapi... aku... aku lagi halangan, tadi sore sebelum mandi baru keluar," cicit Aira teramat pelan, bahkan hampir menyerupai bisikan angin.
Keheningan seketika menyergap kamar mewah itu selama beberapa detik, gerakan tangan Arsen yang hendak mengusap rambut Aira mendadak membeku di udara. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna untaian kata yang baru saja keluar dari mulut istrinya.
Begitu kesadarannya kembali utuh, gurat-gurat ga*rah dan senyuman menawan di wajah tampan Arsen seketika lenyap tanpa bekas. Sebagai gantinya, terpampang nyata raut wajah kekecewaan yang teramat sangat, begitu kentara hingga membuat sudut-sudut bibir tegasnya melengkung ke bawah.
Arsen mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat lalu menjatuhkan tubuh tegapnya ke atas kasur, telentang menatap langit-langit kamar dengan pandangan merana seolah baru saja kehilangan kontrak ekspor senilai miliaran rupiah.
"Yah... kok bisa pas banget sih, sayang?" keluh Arsen lemas, suaranya terdengar begitu putus asa hingga terdengar menggelikan di telinga Aira.
Melihat ekspresi suaminya yang tampak seperti anak kecil yang gagal mendapatkan mainan impiannya, rasa bersalah di hati Aira mendadak menguap dan digantikan oleh rasa gemas yang membuncah. Ia beringsut mendekat, lalu menopang dagunya di atas dada Arsen, menatap wajah suaminya yang sangat menggemaskan bagi Aira.
"Ya mana aku tahu, Mas. Namanya juga siklus bulanan perempuan, kan nggak bisa diatur-atur sesuka hati," bela Aira dengan senyum kecil yang mulai terbit di bibirnya.
Arsen melirik Aira dengan tatapan sayu yang dibuat-buat lalu melingkarkan satu lengannya di pinggang Aira dengan lesu, "Padahal aku sudah membayangkan malam ini kita bisa memulai programnya, sayang. Kita sudah sebulan lebih loh tidurnya cuma peluk-pelukan kayak guling, masa harus nunggu seminggu lagi?" gumam Arsen nelangsa.
Aira tertawa kecil, memukul pelan perut keras Arsen yang terbalut kaus santai. "Mas Arsen ih! Pikiran luar biasa mes*mnya keluar ya sekarang! Sudah, lagian Mas Arsen kan masih capek karena pekerjaan dari tadi siang. Jadi, anggap aja ini waktu buat Mas Arsen istirahat total tanpa beban," ucap Aira menasihati.
Arsen mendengus pelan, namun tidak bisa menahan senyum tipisnya saat melihat tawa tulus istrinya yang begitu manis. Ia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya dengan lebih erat, menenggelamkan wajahnya di rambut panjang Aira yang wangi.
"Iya, iya, ini tidur. Tapi awas ya, kalau sudah selesai, nggak ada alasan penolakan lagi. Aku pengen anak 5 atau 6 gitu," ucap Arsen, memberikan kecupan gemas di puncak kepala Aira.
"Banyak banget, Mas!" balas Aira.
"Kan aku mau bikin tim basket atau voli," balas Arsen santai.
"Ish, aku yang capek nanti, Mas. Aku dengar melahirkan itu sakit," balas Aira.
"Bercanda sayang, aku nggak mungkin juga egois. Semua ini tergantung kamu... Mungkin satu atau dua anak dulu, jangan banyak-banyak soalnya kita juga belum tahu gimana nantinya kan," ucap Arsen.
"Iya, Mas. Sudah, sekarang pejamkan matanya, besok harus bangun pagi," balas Aira lembut, membiarkan dirinya bersandar nyaman pada detak jantung suaminya yang beritme tenang.
Di luar, hujan Jakarta masih setia mengguyur bumi, namun di dalam kamar itu, rasa kecewa Arsen perlahan meleleh berganti kehangatan baru yang kian mengikat hati sepasang suami istri yang baru saja memulai lembaran hidup mereka.
.
Keesokan paginya, deru mesin mobil Arsen memecah keheningan pelataran rumah megah itu sejak pukul tujuh. Di ambang pintu utama, Aira berdiri dengan telaten merapikan kerah kemeja navy blue yang dikenakan suaminya.
Arsen menatap wajah istrinya dengan pandangan berat, seolah enggan melangkah pergi meninggalkan benteng kenyamanan yang baru ia bangun.
"Aku usahakan pulang sebelum makan malam, sayang. Kalau ada apa-apa atau kalau kamu butuh sesuatu, langsung telepon aku. Ingat, kalau mau apa-apa pakai kartu yang aku kasih, jangan cuma dijadiin pajangan," pesan Arsen serius, namun jemarinya sempat mencubit pelan hidung Aira hingga sang istri memekik kecil.
"Iya, Mas Arsen. Sudah sana berangkat, Gilang pasti sudah menunggu di mobil. Hati-hati di jalan ya, Mas," ucap Aira sambil meraih tangan kanan Arsen lalu mengecup punggung tangannya penuh takzim.
Arsen tersenyum puas, mendaratkan satu kecupan dalam di dahi Aira sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam mobil. Begitu mobil hitam itu bergerak mulus melewati gerbang otomatis dan menghilang di balik tikungan perumahan elite, suasana rumah seketika berubah.
Sepi, rumah berlantai dua itu mendadak terasa begitu luas dan sunyi.
.
.
.
Bersambung.....
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal