Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.
Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Anak Tidak Berguna!
Bapak Hilman mendengus kasar, wajahnya masam berlipat-lipat saat akhirnya melepaskan cengkeramannya dari besi gerbang yang kokoh.
"Ya sudah! Cepat tunjukkan jalannya!" ucap Bapak Hilman ketus.
Salah satu petugas keamanan yang sejak tadi mengawasi dengan siaga langsung melangkah mendekati Aira.
"Bu Aira, saya temani ya," bisik petugas bernama Pak Roni itu.
Aira menoleh sejenak, menatap kerutan cemas di wajah Pak Roni, lalu beralih melirik Bapak Hilman yang sudah berjalan mendahului dengan langkah angkuh ke arah taman kompleks yang terletak tak jauh dari kediaman mereka.
Aira mengembuskan napas berat lalu menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak perlu, Pak. Saya akan mengatasi ini sendiri, tolong jaga gerbang saja dan... kalau bisa, pastikan tidak ada orang yang mengikuti saya," pinta Aira dengan suara memohon yang amat sangat.
Aira benar-benar takut, ia takut jika ada orang lain yang mendengar deretan makian, tuntutan uang atau rahasia masa lalu keluarganya yang kelam. Cukuplah dirinya sendiri yang menanggung beban rasa malu ini, jangan sampai telinga orang lain ikut merekam kebusukan perangai Ayahnya.
"Tapi, Bu...,"
"Tidak apa-apa, Pak," balas Aira meyakinkan.
Pak Roni terpaksa mengangguk patuh walau gurat kecemasan jelas tercetak di wajahnya, "Baik, Bu Aira," jawabnya.
Aira pun melangkah dengan sisa-sisa keberaniannya mengikuti Bapak Hilman menuju taman kompleks yang sore itu tampak sepi. Begitu tiba di area taman yang terlindung oleh rimbunnya pohon mahoni, Bapak Hilman langsung membalikkan badannya dengan cepat. Tidak ada lagi basa-basi, wajah tuanya langsung menegang penuh tuntutan.
"Sudah sampai di sini! Sekarang tidak usah banyak drama lagi, Aira. Mana uang lima puluh juta yang Bapak minta? Cepat serahkan sekarang!" tagih Bapak Hilman tanpa urat malu, tangannya langsung menadah di depan dada Aira.
Aira memundurkan langkahnya dan menatap nanar pada sosok pria yang seharusnya menjadi pelindungnya itu, "Aira nggak punya uang sebanyak itu, Pak. Aira di sini tidak bekerja, Aira hanya ibu rumah tangga," jawab Aira dengan suara bergetar.
"Halah! Jangan bohong kamu! Suamimu itu kaya, hartanya tujuh turunan tidak akan habis! Masa uang receh lima puluh juta saja kamu tidak punya? Kamu sengaja kan, mau pelit sama Bapakmu sendiri?" bentak Bapak Hilman, matanya melotot tajam.
"Itu uang Mas Arsen, Pak! Bukan uang Aira! Aira nggak punya hak untuk mengambil uang suami Aira secara sembarangan, apalagi untuk membayar utang-utang judi Bapak di kampung!" suara Aira meninggi, tak kuasa lagi membendung rasa perih dan sesak yang bergejolak di dadanya.
Mendengar perkataan Aira, harga diri Bapak Hilman seketika tersengat, wajahnya merah padam seketika oleh amarah yang meledak.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Aira, menimbulkan suara pantulan yang cukup nyaring di kesunyian taman. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat wajah Aira terlempar ke samping, kulit pipinya seketika berubah merah padam, menyisakan rasa panas dan berdenyut yang luar biasa nyeri.
"Kurang ajar! Berani kamu menceramahi Bapak, ya!" raung Bapak Hilman kalap.
Sebelum Aira sempat menguasai rasa syok dan perih di wajahnya, tangan kekar Bapak Hilman kembali bergerak kasar dan mencengkeram bahu Aira lalu mendorong tubuh kurus itu dengan sekuat tenaga.
"Dasar anak tidak berguna!" bentak Bapak Hilman.
Bugh!
Tubuh Aira terhuyung ke belakang dan terhempas dengan keras, pinggang bagian belakangnya menghantam sudut tajam kursi besi panjang yang tertanam di area taman, sebelum akhirnya ia jatuh terduduk di atas rumput.
"Akhh!" Aira menjerit pelan, air matanya langsung tumpah ruah.
Rasa sakit yang teramat sangat seketika menjalar dari pinggangnya, seolah ada tulang yang retak di sana. Benturan keras pada besi dingin itu langsung meninggalkan rasa nyeri yang luar biasa parah, yang Aira yakini pasti akan membekas memar kebiruan yang sangat lebar nantinya.
Aira memegangi pinggangnya sambil meringkuk di atas rumput, napasnya tersengal-sengal menahan sakit yang mendera fisik dan batinnya secara bersamaan. Sementara itu, Bapak Hilman sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Pria itu justru berdiri menjulang di atas tubuh anaknya yang kesakitan, menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan keserakahan yang tak berdasar.
"Kamu baru menikah dengan pria kaya saja sudah sombong, Aira," ucap Bapak Hilman.
"Aira kan anaknya Bapak, sifat ini juga kan keturunan dari Bapak. Bapak yang meninggalkan Ibu lalu menikah dengan janda kaya raya, setelah menikah Bapak juga sombong bahkan sering hina Aira dan Ibu, kan? Bapak lupa ya? Jadi, kalau Aira sombong sekarang, ya wajar. Orang Aira anaknya Bapak," ucap Aira.
"Kamu...," tunjuk Bapak Hilman tepat di depan wajah Aira.
"Sampai kapanpun, Aira tidak akan memberikan uang ke Bapak. Kalau Bapak mau uang, Bapak minta sama istri baru Bapak jangan ke Aira apalagi ke Mas Arsen!" potong Aira dengan suara serak sarat akan rasa frustrasi.
"Kamu nggak mau ngasih Bapak uang hari ini, nggak masalah. Tapi, dalam waktu tiga hari jika kamu masih nggak mau ngasih uang... Bapak akan ke kantor suami kamu dan Bapak akan mempermalukan suami kamu. Ingat Aira, Bapak tidak pernah main-main dengan ucapan Bapak," ancam Bapak Hilman.
Sebelum pergi, Bapak Hilman kembali mendorong Aira dengan kakinya, sebuah tendangan kasar yang mengenai paha Aira hingga tubuh gadis itu semakin terjerembap di atas rumput.
"Pikirkan baik-baik apa yang Bapak katakan, Aira! Tiga hari! Kalau uang itu belum ada, bersiaplah melihat karier suamimu hancur karena ulahmu!"
Dengan dengusan penuh kebencian, Bapak Hilman membalikkan badan. Ia menyampirkan ransel lusuhnya dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkan area taman tanpa memedulikan kondisi putrinya yang masih meringkuk kesakitan di atas tanah. Derap langkahnya yang angkuh perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara rimbunnya pohon mahoni.
Aira memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir deras dan membasahi pipi kirinya yang kini terasa panas, kebas dan berdenyut kencang akibat tamparan tadi. Namun, rasa perih di wajahnya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit yang mendera pinggang belakangnya.
Setiap kali Aira mencoba mengembuskan napas, rasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum tajam langsung menjalar dan memaksanya untuk tetap meringkuk sambil memegangi bagian tubuh yang membentur kursi besi tersebut.
"Hiks... kenapa... kenapa harus seperti ini, Ya Allah? Aku pikir, aku udah boleh bahagia," bisik Aira parau di sela isak tangisnya.
Aira merasa begitu kotor, begitu terhina dan yang paling menakutkan adalah ancaman Bapak Hilman yang ingin mendatangi kantor Arsen. Aira tahu betul watak nekat Ayahnya, pria itu tidak akan segan-segan membuat keributan di depan publik demi mencapai tujuannya.
"Gimana kalau Mas Arsen malu? Gimana kalau rekan-rekan bisnis Mas Arsen tahu kalau dia punya mertua seorang penjudi dan pemeras?" gumam Aira, pikiran-pikiran buruk itu berputar hebat di kepalanya dan menciptakan rasa sesak yang kian menghimpit dada.
.
.
.
Bersambung.....
kenapa bisa ada dokter kandungan lagi di dalam..
cari juga la suami kaya...
kalau perlu jadi jalang sekalian
🤣🤣🤣🤣🤣
mau ikutan juga Bu...
ayo bergosip lagi...
makin sip di tiap warung ...😆