Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 2.
Langkah Velicia keluar dari mansion Kensington tidak terburu-buru. Ia tidak berlari dengan panik, bahkan tidak menoleh ke belakang.
Langit sore mulai berubah gelap saat ia melewati gerbang utama, pengawal hanya melirik sekilas. Tidak ada yang menghentikannya. Bagi mereka, Velicia hanyalah istri yang tidak dicintai oleh Tuan mereka. Dan justru karena itu… ia bisa pergi dengan mudah.
Itulah kesalahan kedua Michael.
Di luar gerbang, udara terasa berbeda. Velicia berhenti sejenak di trotoar sepi, dan menarik nafas dalam-dalam. Satu tangannya menahan perutnya yang mulai terasa berat, sementara tangan lainnya merapatkan mantel tipis yang menutupi map dokumen di balik tubuhnya.
Isi map itu bukan hanya kertas biasa, tapi struktur kekuasaan. Jalur uang dan rute distribusi. Dan celah kecil yang bisa membuat kerajaan mafia Michael retak dari dalam. Ia menatap jalan panjang di depannya, mobil hitam itu masih di sana menunggunya.
Pria di dalamnya tidak keluar, hanya suara pintu yang terkunci otomatis terdengar pelan saat Velicia mendekat.
“Masuk,” suara itu terdengar singkat dari dalam.
Velicia berhenti.
“Ini bukan bantuan,” jawabnya datar.
“Aku tidak menawarkan bantuan,” balas pria itu tenang. “Aku menawarkan pintu keluar.”
Velicia terdiam selama beberapa saat, ia pun membuka pintu mobil itu. Di dalam mobil, suasananya jauh lebih sunyi daripada mansion tadi. Tidak ada percakapan, hanya mesin yang bergetar halus.
Pria di kursi pengemudi akhirnya menoleh sedikit. Usianya tidak muda, tapi juga tidak tua. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang sudah lama berhenti terkejut oleh dunia. Matanya menatap Velicia sekilas.
“Jadi mereka akhirnya melakukan ini padamu.”
Velicia menghela napas pelan, menekan rasa sesak yang kembali menerjang dadanya. Ia pun duduk tegak, menjaga napasnya agar tetap stabil.
“Aku tidak ingin mengeluh padamu.”
Pria itu mengangguk kecil. “Aku juga tidak punya waktu untuk mendengarkan.“
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area mansion, lampu-lampu gerbang semakin jauh di kaca spion. Dan bersamaan dengan itu… satu bab hidup Velicia resmi tertutup.
“Dokumen sudah kau ambil?” tanya pria itu.
“Sudah.”
“Semua?”
Velicia mengeluarkan map itu sedikit, tidak membukanya. “Cukup untuk membuatnya kehilangan kendali.”
“Michael selalu terlalu percaya diri dengan sistem di organisasi-nya.” Pria itu tersenyum tipis.
Velicia menatap pria itu tajam. “Sekarang, dia bukan masalah utamaku.”
“Anak?” Pria itu melirik Velicia sekilas.
Tangan Velicia perlahan turun ke perutnya. “Anakku tidak akan lahir di lingkungan di mana ayahnya sendiri tidak menginginkan kehadirannya.”
Mobil melaju melewati jalanan kota yang mulai padat, lampu kendaraan seperti garis-garis merah dan putih yang bergerak tanpa arah tetap. Di kaca jendela, bayangan Velicia terlihat samar. Wajahnya tidak lagi penuh kesakitan seperti beberapa waktu sebelumnya, yang ada hanya ketenangan yang terlalu apik untuk seseorang yang baru saja dipermalukan.
“Dia akan mencarimu,” kata pria itu lagi.
“Biarkan saja.”
“Kau tidak takut?”
Velicia menatap lurus ke jalan di depan. “Demi anakku, aku tidak takut apa pun lagi.”
Pria itu menipiskan bibirnya, kalimat itu terlalu dingin untuk seorang wanita hamil delapan bulan. Namun justru itu yang membuat Velicia menarik.
Di dalam mobil yang sudah menjauh dari kota, Velicia menutup matanya.
“Menurutmu, saat ini dia sudah sadar?” tanya pria itu.
“Cepat atau lambat dia akan sadar.”
“Apa kau sengaja meninggalkan jejak kecil?”
Velicia tersenyum kecil. “Sesuatu harus tetap membuatnya terus bergerak.”
Pria itu akhirnya tertawa. “Kau benar-benar tidak berubah.”
“Kau salah... aku sudah banyak berubah. Aku tahu bagaimana rasanya ketika manusia tidak diberi kesempatan untuk memilih.” Velicia tersenyum dingin, ia mengencangkan genggamannya pada map dokumen itu. “Sekarang… aku tidak akan lagi melunak. Balas budi pada Michael sudah aku lunasi.”
Malam turun perlahan, mobil berhenti di sebuah gedung lama di pinggir kota. Tempat itu tidak mencolok, hanya pintu besi sederhana. Velicia turun tanpa bantuan. Setiap langkahnya tetap stabil, meski tubuhnya jelas tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Pria itu turun terakhir.
“Masuk,” katanya.
Velicia menatap bangunan itu. “Apa ini?”
“Tempat sementara, untuk orang yang sedang memutuskan siapa dirinya kembali.”
Velicia tidak menjawab, dia berjalan masuk. Di dalam, ruangan itu lebih luas dari kelihatannya. Beberapa monitor kecil menyala, dokumen berserakan rapi di meja. Ia berjalan pelan, matanya membaca semuanya tanpa bertanya.
Velicia berhenti di tengah ruangan, ia meletakkan map dokumen di meja. Lalu membuka satu kancing mantel pelan, memastikan perutnya tetap nyaman.
“Michael akan segera mencariku, tapi semakin dia marah… semakin bagus.”
“Dan Sania?”
Nama Sania tidak lagi membuat Velicia emosi. “Wanita itu hanya variabel kecil.”
...*****...
Di Mansion Kensington.
Michael baru kembali ke ruang kerjanya, Sania duduk di sofa, memegang teh hangat dengan ekspresi tenang.
“Dia masih disana?” tanya Michael pada pengawal.
Pengawal itu tampak ragu. “Tidak, Tuan. Nyonya Velicia sudah meninggalkan area mansion.”
Michael berhenti berjalan. “Sejak kapan?”
“Sekitar satu jam yang lalu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sania menatap Michael sekilas, lalu menunduk kembali. “Dia pasti pulang ke rumah orang tuanya.”
Namun Michael tidak menjawab, matanya tertuju pada meja kerja. Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
“Cek ruanganku,” perintah Michael tiba-tiba.
Pengawal langsung bergerak.
Beberapa menit kemudian…
“TUAN!”
Suara itu membuat seluruh ruangan menegang. “Dokumen di laci level tiga… hilang.”
Sania menegakkan tubuhnya sedikit, Michael tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri diam, lalu perlahan membuka laci lain.
Kosong.
Satu per satu.
Kosong.
Hingga akhirnya ia berhenti, tangannya mengepal. “Tidak mungkin…”
Malam itu, Michael berdiri di balkon. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi pikirannya tidak tenang. Di tangannya, satu laporan terbuka, hilangnya dokumen-dokumen penting. Dan satu fakta yang mulai mengganggu pikirannya, Velicia tidak pernah benar-benar seperti yang ia kira.
Di belakangnya, Sania mendekat pelan. “Michael… dia pasti hanya membawa sedikit dokumen. Tidak cukup untuk membahayakan kita.”
Wajah Michael tampak dingin, matanya tajam menatap jauh ke kota.
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣