NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Udara di dalam kamar tidur itu seolah membeku.

Kalimat Akram baru saja meluncur dengan tenang, namun efeknya setara dengan ledakan bom nuklir di dalam kepala Almeera. Aturan ketiga dicabut. Milik gue. Kata-kata itu terus memantul di dinding tengkoraknya, melumpuhkan setiap fungsi rasional yang ia miliki.

Mata cokelat Almeera melebar menatap Akram yang masih duduk santai di depannya. Tangan cowok itu baru saja turun dari telinganya, meninggalkan jejak panas yang menjalar hingga ke pipi.

"L-lo... lo kesambet jin penunggu kulkas ya?!" seru Almeera akhirnya, menemukan kembali suaranya yang terdengar cempreng karena panik. Ia mundur hingga punggungnya menabrak ujung ranjang, menarik bantal terdekat dan memeluknya sebagai tameng pelindung. "Jangan ngomong ngawur! Kepanjangan main PS sama Bastian bikin otak lo konslet!"

Melihat reaksi panik istrinya, ketegangan di wajah Akram perlahan mengendur. Ia terkekeh pelan. Tawanya terdengar dalam, memabukkan, dan sangat menyebalkan.

"Gue sadar seratus persen, Al," jawab Akram santai, menumpukan sikunya di atas lutut. Ia menatap Almeera dengan sorot geli yang bercampur dengan intensitas aneh. "Gue cuma ngasih peringatan. Biar lo nggak kaget kalau tiba-tiba gue bertindak... lebih dari sekadar babysitter lo."

"Gue nggak butuh peringatan! Dan gue nggak butuh babysitter!" Almeera melempar bantal di pelukannya tepat ke wajah Akram.

Dengan sigap, Akram menangkap bantal itu dengan satu tangan. Ia berdiri, merapikan kaosnya, lalu menatap Almeera dari atas. Senyum miringnya kembali terbit.

"Habisin martabaknya. Jangan sampai lo kurus, nanti gue yang disalahin sama nyokap lo," ucap Akram. Sebelum ia berbalik menuju pintu, ia menambahkan dengan nada rendah, "Dan Al? Baju tidur lo yang gambar beruang itu... bikin lo kelihatan kayak anak SMP. Lucu."

Klik. Pintu ditutup dari luar.

Almeera mematung selama sepuluh detik penuh. Setelah yakin Akram benar-benar pergi, ia menjatuhkan dirinya ke atas karpet, menutupi wajahnya yang semerah tomat dengan kedua tangan.

"Sialan... sialan... sialan..." gumam Almeera di sela napasnya yang memburu. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa sakit. Pertahanan yang selama ini ia bangun dengan kemarahan dan gengsi tinggi, malam ini resmi hancur lebur hanya dengan satu kalimat dan satu sentuhan dari sang Ketua OSIS.

Ia benci mengakuinya, tapi perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan liar. Ia... mungkin memang sudah jatuh ke dalam pesona mematikan Akram Pradana.

Keesokan Harinya. H-1 Pensi.

Suasana SMA Bina Bangsa benar-benar kacau balau. Tenda-tenda bazaar mulai didirikan di lapangan utama. Anggota OSIS berlarian kesana-kemari dengan handy talky di tangan. Di aula utama, proses gladi bersih sedang berlangsung dengan tensi tinggi.

Almeera duduk di balik set drumnya di atas panggung, memutar stik drum di jarinya dengan gelisah. Semalaman ia hampir tidak tidur karena memikirkan ucapan Akram, dan pagi ini, cowok itu bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa saat sarapan. Akram bahkan menyuruhnya meminum susu cokelat dengan nada memerintah yang sangat menyebalkan.

"Cek, satu, dua. Check sound." Suara Nino bergema di aula. "Al, kasih gue ketukan dasar."

Almeera mengangguk. Ia menginjak pedal bas dan mulai memukul snare drum dengan ritme stabil.

Dari ambang pintu aula, masuklah rombongan inti OSIS yang dipimpin oleh Akram. Cowok itu mengenakan seragam putih abu-abu dengan lengan digulung rapi hingga siku, kerahnya sedikit terbuka, dan id card Ketua OSIS menggantung di lehernya. Wajahnya serius, memancarkan aura pemimpin yang membuat siswa-siswa lain otomatis menyingkir memberi jalan.

Pandangan Akram langsung menyapu ke arah panggung, dan matanya seketika terkunci pada Almeera.

Meski wajahnya tetap datar sedingin es, Akram menaikkan sebelah alisnya ke arah Almeera—sebuah sapaan rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.

Almeera yang melihat itu langsung salah tingkah. Ketukannya meleset satu detik. Ia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk membetulkan letak cymbal, namun telinganya sudah memerah sempurna.

"Oke, persiapan panggung udah sembilan puluh persen," lapor Bastian yang berdiri di sebelah Akram, mencoret sesuatu di clipboard-nya. "Tinggal mastiin lighting buat penampilan puncak nanti."

Akram mengangguk. "Pastikan kabel-kabel di bawah panggung diamankan. Gue nggak mau ada drummer ceroboh yang kesandung terus nangis-nangis di hari H." Nada suara Akram sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke panggung.

Almeera memelototi Akram dari atas sana. Ia mengangkat stik drumnya, memperagakan gerakan mematahkan stik itu menjadi dua dengan tatapan mengancam.

Bukannya takut, Akram malah menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, menyembunyikan senyum geli yang nyaris lolos.

Namun, interaksi rahasia mereka yang menggemaskan itu harus terhenti seketika.

Pintu aula kembali terbuka. Kali ini, Reyhan melangkah masuk dengan gaya kasualnya yang khas. Jaket denim, kacamata hitam yang disematkan di kerah kaos, dan senyum menawan. Di tangannya, ia membawa sebuah kantong plastik besar berisi gelas-gelas minuman dingin dari kafe kopi ternama.

Melihat kedatangan Reyhan, wajah Akram langsung berubah 180 derajat. Senyum gelinya menguap, digantikan oleh rahang yang mengeras dan tatapan tajam setajam silet. Mode 'suami posesif'-nya otomatis menyala.

"Halo, Guys! Sorry gue telat ngecek gladi bersih kalian," sapa Reyhan ramah, melangkah mendekati panggung. "Nih, gue bawain es kopi susu buat amunisi kalian latihan."

Nino dan Baim langsung bersorak kegirangan. "Wah, Kak Reyhan emang panutan kita semua! Thanks, Kak!"

Reyhan membagikan minuman itu satu per satu. Saat gilirannya memberikan minuman kepada Almeera, Reyhan mengeluarkan satu gelas yang berbeda dari kantong plastiknya. Bukan es kopi susu, melainkan Matcha Latte dingin dengan tumpukan whipped cream di atasnya.

Di badan gelas plastik itu, tertempel sebuah sticky note berwarna kuning jambu.

"Khusus buat drummer paling sangar," kata Reyhan sambil menyodorkan gelas itu ke tangan Almeera. Ia tersenyum, matanya memancarkan ketertarikan yang tak ditutup-tutupi. "Gue inget lo pernah bilang di YouTube kalau lo lebih suka matcha daripada kopi. Semangat H-1 nya, Al."

Almeera mengerjapkan matanya, sedikit terkejut karena Reyhan mengingat detail sekecil itu. "E-eh, makasih banyak, Kak."

Di bawah panggung, suhu di sekitar Akram mendadak turun drastis hingga ke titik beku. Bastian yang berdiri di sebelahnya tanpa sadar menggeser tubuh menjauh, merasa ngeri melihat aura membunuh yang menguar dari sang Ketua OSIS.

Heera yang sedari tadi memperhatikan dari meja panitia, memicingkan matanya. Ia melihat bagaimana tangan Akram mengepal erat di sisi tubuhnya saat Reyhan tersenyum pada Almeera.

Sebelum Almeera sempat menancapkan sedotan ke gelas minumannya, sosok jangkung Akram sudah melangkah naik ke atas panggung dengan langkah cepat. Tanpa aba-aba, tangan besar Akram merampas gelas Matcha Latte itu dari genggaman Almeera.

"Eh!" Almeera memekik kaget. "Balikin! Itu punya gue!"

Akram menatap gelas di tangannya. Matanya membaca tulisan di sticky note itu. 'Semangat H-1, cantik.' Rahang Akram berkedut hebat.

Ia mendongak, menatap Reyhan dengan senyum sinis yang sangat dingin.

"Aturan gladi bersih poin keempat, Bang," kata Akram dengan nada tenang yang sangat mematikan. "Peserta dilarang membawa dan mengonsumsi makanan atau minuman berwarna ke atas panggung agar tidak mengotori properti dan alat musik."

Reyhan mengerutkan kening. Ia merasa ditantang secara terang-terangan. "Kram, lo kaku banget sih. Itu cuma minuman. Lagian anak-anak yang lain juga minum kopi di atas panggung."

"Anak-anak yang lain minumnya di pinggir panggung. Sedangkan drummer ini duduk persis di tengah kabel sound," balas Akram tak mau kalah, matanya menatap tajam ke arah Reyhan. "Sebagai Ketua OSIS, gue berhak menyita minuman ini."

"Kram, lo gila ya?!" protes Almeera, wajahnya merah menahan malu dan marah. "Gue haus! Siniin minuman gue!"

Bukannya mengembalikan minuman itu, Akram justru melakukan hal yang membuat seluruh orang di aula terkesiap.

Cowok itu mencabut sticky note dari gelas, meremasnya menjadi bola kecil dan memasukkannya ke saku celana. Lalu, dengan gerakan yang sangat santai, Akram menancapkan sedotan, dan meminum Matcha Latte itu tepat di depan mata Almeera dan Reyhan.

Mata Almeera membelalak sempurna. Rahangnya nyaris jatuh.

"Manis banget. Bikin enek," komentar Akram santai setelah menelan minuman itu. Ia menatap Almeera lekat-lekat. "Minum air putih aja. Tadi pagi lo udah disuruh minum susu cokelat kan sama nyokap gue?"

Sebuah kode rahasia yang kembali diselipkan.

Almeera membeku. Otaknya berteriak mengingatkan bahwa Akram baru saja meminum dari sedotan yang akan ia pakai. Dan kode 'nyokap gue' itu... astaga, cowok ini benar-benar tidak tahu malu mempertontonkan dominasinya secara terselubung!

Reyhan menatap Akram dengan sorot mata yang mulai berubah serius. Ia bukan orang bodoh. Insting lelakinya menangkap ada sesuatu yang sangat tidak beres antara Ketua OSIS kaku ini dan Almeera. Sikap Akram bukan lagi tentang aturan sekolah, melainkan tentang teritorial.

"Oke," Reyhan akhirnya tersenyum miring, mundur selangkah. "Kalau itu aturan Ketua OSIS, gue hargai. Nanti habis pensi, kita cari minuman yang lebih enak di luar, ya, Al?"

Reyhan mengedipkan mata pada Almeera, lalu berbalik turun dari panggung.

Akram menatap kepergian Reyhan dengan napas memburu. Ia meletakkan gelas Matcha yang sudah berkurang separuh itu ke atas amplifier terdekat dengan kasar, lalu berbalik menatap Almeera.

"Sita," desis Akram pelan saat melewati Almeera, suaranya hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Dan jangan harap lo bisa pergi sama dia besok."

Setelah itu, Akram turun dari panggung dan berjalan keluar aula dengan langkah lebar, mengabaikan Bastian yang memanggil-manggil namanya dengan kebingungan.

Almeera masih mematung di kursi drumnya. Telinganya merah padam. Ia meremas stik drumnya kuat-kuat untuk menyalurkan rasa gugup yang luar biasa. Akram Pradana yang sedang cemburu benar-benar versi yang berbahaya untuk kesehatan jantungnya.

Namun, di tengah kekacauan emosi itu, Almeera tidak menyadari sepasang mata yang sedang menatapnya dari sudut aula.

Heera berdiri mematung di dekat meja mixer. Matanya yang cantik kini membelalak ngeri. Otak primadona sekolah itu sedang merangkai kepingan-kepingan puzzle yang selama ini berserakan di depan matanya.

Wangi sabun mint-musk di seragam Almeera.

Nama perangkat Almeera di smart TV apartemen Akram.

Dan barusan... tatapan penuh kecemburuan dan kemarahan Akram saat Almeera diberi minuman oleh cowok lain.

Heera menelan ludah. Tangan kanannya meremas ujung rok abu-abunya dengan kuat.

Promo minimarket apanya? batin Heera, darahnya seakan mendidih menyadari betapa bodohnya ia selama ini karena mudah dibohongi. Tidak mungkin ada permusuhan senatural itu jika tidak ada sesuatu yang disembunyikan.

Pukul 15.00 WIB, Toilet Perempuan Lantai Satu.

Almeera berdiri di depan cermin wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali. Hawa panas di pipinya enggan menghilang sejak insiden Matcha Latte tadi.

"Akram gila. Dia bener-bener gila," rutuk Almeera pada pantulannya sendiri. "Bisa-bisanya dia minum punya gue di depan umum..."

Ia meraih tisu dan mengeringkan wajahnya. Saat ia hendak membuang tisu itu ke tempat sampah, pintu toilet terbuka.

Heera melangkah masuk.

Langkah anggun sang primadona terlihat sedikit berbeda hari ini. Ada aura dingin dan penuh perhitungan di wajah cantiknya. Heera tidak langsung menuju bilik toilet, melainkan melangkah mendekati wastafel dan berdiri tepat di sebelah Almeera.

Almeera melirik sekilas, lalu bersiap untuk pergi. Berurusan dengan mantan pacar suaminya bukanlah agenda yang ia inginkan hari ini. "Duluan ya," pamit Almeera kaku.

"Tunggu," potong Heera cepat.

Almeera menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Heera yang kini sedang memandangnya dari pantulan cermin. Tidak ada senyum palsu atau nada manja di sana.

"Ada apa?" tanya Almeera defensif.

Heera memutar tubuhnya, bersandar di pinggiran wastafel sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya menyapu wajah Almeera dari atas ke bawah, seolah sedang mencari sesuatu yang berharga yang mungkin melekat pada gadis tomboi di depannya.

"Akram itu cowok yang sangat perfeksionis," Heera memulai dengan suara pelan namun menusuk. "Dia nggak pernah suka barang miliknya disentuh orang lain. Dan dia nggak pernah... bertingkah se-irasional tadi, apalagi sampai nyita minuman dari alumni cuma gara-gara lo."

Almeera menelan ludah. Alarm di kepalanya kembali berbunyi nyaring. "Lo ngomong apa sih? Dia kan Ketos, wajar dia negakin aturan."

"Aturan? Jangan naif, Almeera," Heera mendengus sinis. Ia melangkah maju satu tindak, mempersempit jarak di antara mereka. "Gue mungkin pernah percaya sama alasan konyol kalian soal promo sabun Indomaret atau insiden numpang cast laptop. Tapi gue kenal Akram lebih lama dari lo. Tatapan dia ke lo tadi di panggung... itu bukan tatapan musuh, atau sekadar babysitter."

Heera mencondongkan wajahnya, matanya menatap tajam, menelanjangi setiap kebohongan Almeera.

"Kalian tinggal bareng, kan?" desak Heera, suaranya bergetar menahan emosi.

Jantung Almeera rasanya berhenti berdetak. Bibirnya sedikit terbuka, namun ia segera mengatupkannya rapat-rapat. "L-lo halu! Mana mungkin gue tinggal bareng cowok kayak dia?!"

Heera tersenyum miring, senyum yang penuh dengan kemenangan pahit. Tiba-tiba, pandangan Heera turun ke arah dada Almeera. Tepatnya pada kancing teratas seragam Almeera yang sedikit terbuka karena aktivitas band tadi, memperlihatkan rantai kalung perak yang berkilau di bawah lampu toilet.

Sebelum Almeera menyadarinya, tangan Heera bergerak sangat cepat.

"Heh! Lo ngapain?!" Almeera memekik, refleks mundur, tapi terlambat.

Jari-jari Heera sudah menarik ujung rantai kalung itu keluar dari balik seragam Almeera. Sebuah cincin platina bertahtakan satu berlian kecil berayun di udara, memantulkan cahaya yang menyilaukan mata Heera.

Napas Heera tertahan seketika. Matanya membelalak lebar melihat cincin itu.

Cincin yang persis sama dengan cincin yang melingkar di jari manis kanan Akram, yang selama ini diklaim cowok itu sebagai 'cincin warisan keluarga'.

"Lo..." suara Heera keluar seperti cicitan tikus yang tercekik. Ia melepaskan kalung itu, menatap Almeera dengan horor bercampur amarah yang meledak-ledak. "...lo berdua udah nikah?!"

1
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si Reyhan gangguin aja 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
maaf tor Almeera sama Akram kelas berapa y
Aidil Kenzie Zie: oalah kirain kls 12 jadi kan nggak perlu lama backstreet nya 🤣🤣🥰🥰
total 2 replies
Aidil Kenzie Zie
ngaku nggak ya🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
akhirnya semua kupu-kupu 🦋🦋 terbang dari jantung 💓💓 mereka 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
dig dig dig dig apa Akram akhirnya keceplosan bilang kalau Almeera istrinya 🤔🤔🤔🤔🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
si mbak mantan sok berkuasa 😏😏
Aidil Kenzie Zie
si Mama gimana sih 😡😡 pengen hub anaknya terbongkar apa nggak sadar kalo Akram udah nikah dan tinggal disana sama istrinya 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
si Shopia udah dibilangin nyokap Al ganti parfum loundry masih aja kepo🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
si mama kok ember sich 🤭🤭🤭
Dara Sari
blm menarik banget alur cerita nya masih sedikit kaku dan kurang greget...maaf yaa Thor sedikit keritik semoga BS lbh baik kedepannya...
Moora: Makasiih tapi loh ya koreksiny... "gue suka gaya lo". Hehe jdi pelajaran kedepanny buat aku... 😊 makasiih
total 1 replies
Khusnul Khotimah
💪💪baru baca lihat bab terakhir dulu KLO menarik lanjut
Aidil Kenzie Zie
udah ngaku aja lagi PDKT 🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
jantung mereka langsung dig dug dig dig🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
siap -siap makin panas dingin Akram
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!