NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Abimanyu tak bersuara lagi, pria itu perlahan bangkit. Dengan sedikit limbung ia berjalan ke arah meja makan dan langsung duduk di atas kursi. Tangannya sedikit gemetar bergerak mengisi piring dengan nasi, Amara yang sedari tadi mengikutinya dari belakang terlihat mengerutkan kening saat ekor matanya melirik tangan Abimanyu yang bergetar. Bahkan ia baru sadar kalau wajah suaminya itu terlihat pucat.

Mukanya kenapa pucat banget? Apa gara-gara enggak sarapan tadi, hah enggak mungkin juga sih enggak sarapan.

Tak ingin ketinggalan, Amara pun mengambil nasi. Sesekali netranya mencuri pandang pada Abimanyu yang fokus pada piringnya. Dia enggak sarapan dirumah buat cari perhatian pastinya, dan diluar bisa saja dia sarapan, huh..

Amara mendengus dalam hati, bahkan ia mendelikkan matanya bersamaan dengan Abimanyu yang bergerak hendak mengambil botol air mineral. Pria itu mengernyit sesaat dan kembali fokus membuka segel botol air mineral.

Amara berdehem, gugup sendiri saat ia tengah menelisik tertangkap netra Abimanyu. "Kalau sudah mau Maghrib jangan suka tidur! Tuh lihat mukanya pucat, bersyukur enggak mimpi ketemu ke-long we-we!" Tegurnya ketus, menutupi kekhawatirannya.

Abimanyu hanya berdehem pelan. "Hm...."

Idih kayak sapi, hem.. Hem aja. Gerutu Amara yang hanya berani ia umpatkan dalam hati.

Seolah mendengar i-si hati istrinya, tiba-tiba Abimanyu menatap Amara membuat gadis itu seketika menunduk. "Kalau ada, tolong seduhin jahe pakai air panas, kasih gula merah sedikit." Ucapnya kemudian beranjak, Abimanyu meninggalkan meja makan dan Amara yang masih belum menyelesaikan makannya.

Amara tak menyahut, ia hanya menoleh sekilas menatap punggung Abimanyu. 'Ada maunya baru bersuara, dasar aneh!' gumamnya seraya menghabiskan makannya.

-

Malam telah menyelimuti apartemen dengan keheningan yang menenangkan. Dari balik jendela dapur, cahaya lampu kota berpendar lembut, menemani Amara yang masih berdiri di depan kompor. Panci kecil berisi rebusan jahe perlahan mengembuskan uap hangat, aroma khas yang bercampur manisnya gula aren dan jahe menguar memenuhi dapur hingga ke ruang televisi.

Sesekali gadis itu melirik layar ponselnya yang masih menampilkan resep dari Google, memastikan rebusan jahenya sudah sesuai dengan petunjuk.

Jujur saja, ia sama sekali belum pernah membuat minuman seperti itu. Jemarinya bahkan sempat ragu saat menakar gula aren, takut terlalu manis atau justru kurang terasa. Berulang kali ia mengaduk perlahan sambil menggigit bibir bawahnya, berharap racikan sederhana itu bisa sesuai dengan keinginan Abimanyu.

Setelah api dimatikan, Amara menuangkan rebusan jahe ke dalam cangkir yang sudah disiapkannya sedari tadi. Namun, langkahnya terhenti sebelum meninggalkan dapur. Keningnya berkerut pelan.

'Bener gak ya rasanya seperti ini?' Gumam Amara menatap cangkir yang tengah dipegangnya. 'Gimana kalau salah? Pasti orang tua itu marah-marah, dan ujung-ujungnya enggak mau sarapan lagi kayak tadi.'

Dengan sedikit rasa canggung, ia meniup permukaan minuman itu hingga uapnya tak lagi terlalu panas, lalu menyeruput seteguk kecil. Seketika wajahnya berubah, seolah sedang menimbang-nimbang rasa yang memenuhi lidahnya.

'Hm... lumayan... masih masuk akal, kan?' gumamnya lirih kepada diri sendiri.

Meski belum yakin sepenuhnya, setidaknya rasa hangat jahe dan manis gula aren berpadu cukup baik. Bismillah aja lah, kalau dia enggak suka tinggal aku yang minum biar enggak sia-sia.

Amara meletakkan ponselnya di atas meja makan, kedua tangannya menggenggam cangkir hangat itu dengan hati-hati. Ia menarik napas pelan sebelum melangkah menuju kamar, membawa secangkir perhatian sederhana untuk suaminya.

Di depan pintu Amara berdiri, ia tak berani langsung masuk meskipun kamar itu pernah menjadi tempat tidurnya.

"Om! om.... Jahenya sudah jadi! Mau ditaruh mana?" Serunya kemudian mengetuk pintu. Namun sampai beberapa saat tak ada suara Abi menyahut. Amara menatap pintu, 'jangan-jangan sudah tidur lagi.' Ia menarik napas sesaat kemudian mendorong pintu, saat masuk ke dalam netranya langsung tertuju pada tempat tidur.

Di sana Abimanyu tengah menggulung tubuhnya dengan selimut. Dasar orang aneh... AC enggak dinyalakan tapi selimutan.

"Om! jahenya aku taruh di meja, jangan lupa diminum." Amara meletakkan cangkir di meja samping tempat tidur, sebelum membalikkan badan ekor matanya tanpa sengaja melirik Abimanyu. Dan seketika itu pula kakinya urung melangkah, ia mendekati sisi ranjang menatap lekat wajah Abimanyu yang memerah.

"Om, kenapa mukanya merah banget?" Amara memberanikan diri mengangkat tangan menyentuh wajah Abimanyu. "Ya Allah, panas! Om demam dari kapan?" Amara membolak-balikkan telapak tangannya menyentuh dahi dan pipi suaminya bergantian. "Iya panas," Ucapnya seraya menegakkan badan. Amara berdiri bingung melihat kondisi Abimanyu, kemudian kembali menunduk menempelkan punggung tangannya.

"Om, bangun om! kita ke dokter aja ya, ini bahaya." Rengeknya mulai ketakutan, ia berdiri kemudian melangkah mondar-mandir dan ujung-ujungnya kembali duduk di tepi ranjang menatap Abimanyu. Khawatir, takut, dan iba terlihat jelas diwajahnya.

"Mama! Iya aku telepon mama aja!" Bak menemukan harta karun, Amara bangkit kemudian setengah berlari ia keluar dari kamar hendak mengambil ponselnya.

Sesampainya di meja makan ia segera meraih benda pintar itu, kemudian menggeser layarnya hingga menyala. Jarinya bergerak lincah mencari nama sang mama mertua, setelah nama Mama Bandung muncul ia segera menekan tombol panggil.

Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung tersambung dengan suara lembut menyambutnya.

[Assalamualaikum... Iya sayang, ada apa? Tumben telepon mama malam-malam]

"Waalaikumsalam. Ma... Om Abi demam, badannya panas banget, gimana ini?" Ucap Amara, suaranya sedikit bergetar karena panik.

[Demam, dari kapan? kamu jangan panik nak] Tanya bu Halimah terdengar kaget, namun tak berselang lama suaranya kembali tenang. [Ambil air kemudian kompres pakai handuk kecil, nanti juga demamnya langsung turun. Mana Abinya mama mau bicara sebentar]

"Om Abi nya tidur ma."

[Tidur? Ya sudah enggak apa-apa, kamu enggak usah panik sayang. Abi demam mungkin karena kecapean, nanti kalau ada apa-apa telepon mama lagi ya]

"Iya ma, assalamualaikum."

Setelah mendengar jawaban salam dari mertuanya, Amara kembali meletakkan ponsel. Ia bergegas mengambil baskom dan mengisinya dengan air.

-

Kesadaran Abimanyu perlahan kembali di tengah tidurnya yang gelisah. Tubuhnya masih terasa berat, kepalanya berdenyut pelan, bahkan napasnya terdengar lebih kasar daripada biasanya. Di antara rasa pusing yang belum juga menghilang, ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh dahinya.

Sentuhan itu begitu lembut, membuat kedua alisnya berkerut tipis sebelum kelopak matanya bergerak perlahan membuka. Pandangannya masih buram beberapa saat, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang redup. Saat penglihatannya mulai jelas, ia mendapati sosok Amara duduk di sisi ranjang.

Gadis itu tampak begitu fokus mengganti lipatan handuk kecil yang mulai menghangat di atas keningnya, sehingga tak menyadari kalau Abimanyu sudah bangun dan tengah menatapnya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah takut mengganggu istirahat suaminya.

Sorot matanya tak mampu menyembunyikan kecemasan, bibirnya terkatup rapat seolah tengah menghadapi orang yang tengah kritis. Membuat pria yang tengah terlentang memalingkan wajah sesaat, menyembunyikan kedutan di bibirnya.

Perhatian juga ternyata..

Gumam Abimanyu dalam batinnya, ia memandangnya beberapa saat tanpa berkata apa pun. Ada sedikit keheranan di balik tatapannya. Sedikitpun tidak pernah menyangka kalau Amara akan duduk di samping ranjangnya, mengompresnya dengan begitu telaten.

Keheningan memenuhi kamar, hanya terdengar detak pendingin ruangan dan napas mereka yang saling bersahutan.

Rasa dingin dari handuk itu perlahan meredakan panas yang membakar kepalanya. Namun, entah mengapa, perhatian sederhana dari gadis yang selama ini masih menjaga jarak dengannya justru terasa jauh lebih menghangatkan daripada kompres itu sendiri.

Tak ingin tatapannya di ketahui Amara dan membuat gadis itu pergi dari kamarnya, Abimanyu kembali memejamkan matanya. Ia akan pura-pura tidur dan tidak menyadari keberadaan Amara.

Jarum jam terus berdetak bersamaan dengan waktu yang terus merangkak naik, jarum pendeknya sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Suasana sunyi semakin terasa, hanya sayup-sayup suara kendaraan yang terdengar di kejauhan.

Amara masih setia duduk di tepi ranjang, menatap Abimanyu yang masih terpejam. 'Tidurnya pules banget padahal lagi demam.' Gumamnya seraya kembali menempelkan sapu tangan yang baru saja dicelupkan ke air.

Sejak tadi ia tak beranjak sedikit pun, sesekali mengganti kompres di kening suaminya, memastikan suhu tubuh pria itu perlahan menurun. Namun, tubuhnya yang sejak pagi dipenuhi berbagai kejadian akhirnya menyerah pada rasa lelah.

Tanpa ia sadari, kedua kelopak matanya perlahan menjadi semakin berat. Kepalanya terangguk pelan beberapa kali sebelum akhirnya jatuh ke depan hampir menindih tangan Abimanyu, ia tertidur dalam posisi duduk. Jemarinya masih menggenggam kain kompres yang menempel di kening Abimanyu, seolah bahkan dalam tidurnya pun ia enggan melepaskan perhatian sederhana yang sedang diberikannya.

Beberapa helai rambut menutupi sebagian wajahnya yang tampak begitu damai. Napasnya terdengar pelan dan teratur, sementara tangannya tetap berada di tempat semula, mempertahankan kompres itu agar tidak bergeser sedikit pun.

Abimanyu yang sedari tadi tidak bisa kembali tidur, merasakan pergerakan pelan disampingnya. Ia membuka matanya perlahan, demam yang masih menguasai tubuhnya membuat setiap sendi terasa berat, seolah tenaganya terkuras sedikit demi sedikit.

Meski begitu, rasa panas di kepalanya kini tidak lagi seburuk sebelumnya. Pandangannya jatuh pada sosok yang masih duduk di kursi samping ran-jang, setengah tubuhnya menelungkup di ran-jang.

Amara tertidur.

Abimanyu mengembuskan napas pelan. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, jauh lebih terasa daripada hangatnya kompres yang sejak tadi mendinginkan demamnya.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, pria itu perlahan mengangkat tangan Amara dari keningnya, lalu meletakkan kain kompres di atas nakas. Gerakannya begitu hati-hati agar gadis itu tidak terbangun.

Meski tubuhnya masih dilanda demam, Abimanyu memaksakan diri untuk bangkit. Ia meringis pelan ketika pusing kembali menyerang, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Amara.

Perlahan ia menyelipkan satu tangan ke belakang punggung gadis itu, sementara tangan lainnya menopang kedua lututnya. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, ia mengangkat tubuh Amara yang begitu ringan ke dalam dekapannya.

Sesaat dunia di sekelilingnya seperti berputar. Demam membuat langkahnya goyah, namun ia menguatkan diri. Ia tidak ingin Amara terus tertidur dalam posisi yang bisa membuat tubuhnya pegal saat bangun nanti.

Dengan napas yang sedikit memburu, Abimanyu membaringkan Amara di atas ranjang. Kepalanya diletakkan perlahan di atas bantal, lalu ia menarik selimut hingga menutupi tubuh gadis itu sebatas dada.

Amara hanya bergumam lirih dalam tidurnya, sedikit mengerutkan keningnya sebelum kembali terlelap tanpa menyadari apa pun.

Abimanyu menatap wajah polos itu beberapa saat. Ada bekas lelah yang masih tergambar jelas, seakan menjadi bukti bahwa gadis itu telah menghabiskan sebagian malam untuk menjaganya.

Tanpa sadar, sudut bibir Abimanyu terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!