NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Jam makan siang akhirnya tiba. Namun bukannya merasa lega karena urusan pekerjaannya selesai, Abimanyu justru semakin gelisah. Sejak pesan Amara masuk tadi, pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan yang sama.

Siapa tamu yang datang?

Mengapa Amara hanya mengatakan satu keluarga tanpa menyebutkan siapa mereka? Pria itu beberapa kali melirik jam tangannya. Bahkan ketika nasabah di hadapannya sedang menjelaskan sesuatu, fokus Abimanyu sesekali terpecah. Ia berusaha tetap profesional, tetapi pikirannya sudah melayang jauh ke apartemen.

Bagaimana kalau orang-orang itu datang dengan niat buruk? Bagaimana kalau Amara tidak mengenal mereka? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau terjadi sesuatu sementara dirinya tidak ada di sana? argh...

Akhirnya, begitu urusan nasabah selesai Abimanyu langsung meraih ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Amara, ia mengetik cepat. "Ra, tamu siapa?"

Belum sempat mengirim, jarinya berhenti. Abimanyu menghela napas, daripada menunggu balasan yang belum tentu cepat, lebih baik ia pulang dan memastikan sendiri.

Tidak sampai setengah jam kemudian, mobil Abimanyu sudah memasuki area basement apartemen. Pria itu bahkan hampir lupa membawa tas kerjanya karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal Amara. Sesampainya di depan pintu unit, ia memasukkan kode akses dengan cepat.

Pintu terbuka.

Suara tawa anak-anak langsung menyambutnya, Abimanyu mengerutkan kening. Ia melangkah masuk. "Amara?"

Tidak ada jawaban. Namun dari ruang tengah terdengar suara seorang laki-laki.

"Mas!"

Langkah Abimanyu mendadak terhenti, matanya membesar.

Seorang pria berdiri dari sofa. Wajah yang selama satu tahun ini hanya ia lihat melalui layar ponsel itu kini berdiri nyata di hadapannya. "Bima?"

Pria tersebut tersenyum lebar. "Surprise!"

Abimanyu benar-benar membeku. Untuk beberapa detik, seolah otaknya menolak mempercayai apa yang sedang dilihatnya. "Bimasena?"

"Siapa lagi?" Bimasena tertawa sambil membuka kedua tangannya.

Abimanyu tidak menunggu lebih lama, ia segera menghampiri adiknya dan memeluknya dengan erat.

"Astaga..."

Tawa kecil bercampur haru terdengar dari keduanya.

"Kenapa enggak bilang mau pulang?"

"Kalau bilang, namanya bukan kejutan."

Abimanyu menepuk-nepuk punggung adiknya. "Kamu bikin kaget."

"Memang itu tujuannya." Jawab Bimasena tergelak. Dari belakang Bimasena, seorang perempuan ikut berdiri.

"Mas..."

Abimanyu tersenyum lebar. "Zaskia." Keduanya kemudian bersalaman dan berpelukan hangat.

Belum selesai rasa haru itu, dua anak laki-laki berlarian menghampiri. "Om Abi!"

"Kok Om enggak pernah jemput kita?"

Abimanyu langsung tertawa. "Keenan! Kevin!" Ia membungkuk dan memeluk kedua keponakannya sekaligus.

"Kalian sudah besar."

"Kan Om yang jarang lihat," jawab Keenan polos.

Abimanyu tertawa. Di sisi lain, Amara hanya berdiri sambil tersenyum kikuk. Ia sebenarnya sejak tadi sudah menunggu kepulangan suaminya, tetapi begitu melihat Abimanyu benar-benar terkejut, dirinya malah ikut salah tingkah.

Bimasena kemudian menoleh kepada Amara. "Dan ini..." Pria tiga puluh lima tahun itu mengulum senyum kemudian melirik Abimanyu. Dengan tatapan jahil, sengaja ingin menggoda sang kakak. Karena sebenarnya ia sudah mengobrol banyak dengan Amara, bahkan tadi sempat video call bersama sang mama.

Amara langsung berdiri lebih tegak. "Saya Amara, Mas."

Bimasena tertawa kecil. "Enggak usah tegang begitu." Ucapnya sembari menepuk bahu sang kakak yang langsung mendengus.

Zaskia ikut tersenyum, tangan perempuan itu refleks mengusap-usap bahu Amara layaknya seorang kakak pada adiknya sendiri. "Jadi Amara ini, beneran istrinya mas?"

Abimanyu menoleh kepada istrinya, lalu kembali pada Zaskia. "Iya."

Tatapan Zaskia memperhatikan Amara dari ujung kepala hingga kaki. Bukan karena tidak suka melainkan karena rasa penasaran, bagaimana Abimanyu bisa menikah dengan gadis semuda Amara. Bahkan ia sempat terkejut ketika pertama kali melihat Amara secara langsung, sebab sebelum-sebelumnya ia hanya melihat dari foto yang dikirimkan mama mertuanya, bu Halimah.

Dan aslinya sangat muda, jauh lebih muda daripada bayangannya tentang seorang perempuan yang akan menjadi istri Abimanyu. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum hangat.

"Mas Abi enggak pernah kasih lihat fotonya dengan jelas."

Amara melirik Abimanyu. "Kita enggak pernah difoto."

Zaskia tertawa.

Abimanyu hanya menggeleng kecil. "Dia memang begitu."

Amara langsung menatap suaminya. "Begitu bagaimana?"

"Enggak apa-apa."

"Om kalau ngomong yang bener, jangan suka bikin orang penasaran!"

"Enggak ada apa-apa kok."

"Bohong!" Amara menatap sengit Abimanyu, bahkan ia melupakan sepasang suami istri yang tadi membuatnya sedikit gugup dan salah tingkah.

Bimasena dan Zaskia langsung tertawa.

Abimanyu menatap istrinya dengan wajah antara gemas dan pasrah.

"Fix, kakakku akan lebih muda sepuluh tahun dari usianya." Celetuk Bimasena membuat Zaskia tertawa semakin lepas.

"Ya ampun, Mas... Sebenarnya kalian ketemu dimana sih?" Zaskia menatap Abi kemudian beralih pada Amara dengan sorot gemas.

Seolah baru sadar dengan keberadaan pasangan adik iparnya, Amara langsung tersenyum malu. Sementara Abimanyu hanya bisa mengusap wajah.

Setelah suasana lebih tenang, mereka duduk bersama di sofa. Bimasena mulai bercerita. "Rencana pulang ini sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu."

Abimanyu mengerutkan kening. "Beberapa bulan?"

"Iya." Bimasena mengangguk. "Saat mama kasih tahu mas mau menikah."

Abimanyu terdiam.

"Mama bilang, 'Kakakmu akhirnya menikah.'"

Bimasena menirukan suara ibunya hingga membuat Zaskia tertawa.

"Terus kami langsung bilang harus pulang." Lanjut Bima.

"Kenapa enggak kasih tahu?" Abimanyu menatap sang adik.

"Kalau aku kasih tahu nanti mas pasti riweuh, lagian aku juga enggak mau ngerepotin pengantin baru kok."

Abimanyu menggeleng. "Dan kalian berhasil, dari tadi pas Amara bilang ada tamu aku langsung kepikiran."

Bimasena tersenyum. "Banget, siapa dulu..."

Tatapan Abimanyu kemudian beralih kepada kedua anaknya sang adik yang sedang duduk berdekatan dengan Amara. Dimana Keenan tengah menunjukkan sesuatu di ponselnya.

"Ini game kesukaan aku."

Amara mengangguk serius. "Cara mainnya gimana?" Tanya Amara penasaran.

"Gampang, nanti aku ajarin kakak main ya." Jawab Keenan semangat, merasa mendapatkan teman satu frekuensi sebab setiap kali main game sama Kevin adiknya itu selalu menangis setiap kali ia mengalahkannya.

Menyadari Abimanyu ikut memperhatikannya, Keenan langsung menoleh. "Om bisa main?"

"Enggak.

Keenan langsung tertawa.

"Berarti kita sama, om." Kevin ikut menyela.

Mendengar pengakuan ponakan kecilnya, Abimanyu langsung mengusak puncak kepala Kevin. Di saat bersamaan pula suara bel berbunyi, Abimanyu dan Amara saling melempar tatap namun tak lama kemudian Amara langsung berdiri. Sesaat ia melirik Abimanyu lalu melangkah cepat menuju pintu.

Abimanyu yang penasaran seketika ikut berdiri mengikuti istrinya, dan itu semua tak luput dari perhatian Bima dan Zaskia. "Yang, rasanya kayak mimpi deh lihat mas Abi begitu." Bisik Zaskia pada suaminya sembari mengulum senyum.

Bima mengerutkan kening, "Begitu gimana?"

"Ish, masa gak lihat. Itu lho! dibalik cueknya mas Abi dia kelihatan bucin sama Amara, cuma dia gengsi saja buat nunjukinnya. Dan karena Amara masih remaja, mungkin dia gak tahu suaminya sudah bucin." Kelakar Zaskia sembari terkekeh.

-

Empat orang dewasa serta dua anak kecil kini tengah mengelilingi meja makan, mereka menyantap hidangan yang dipesan Amara lewat aplikasi. Awalnya mereka makan dengan diam mengingat waktu istirahat Abimanyu akan segera berakhir dan pria itu harus segera kembali ke kantor.

Saat sesi makan hampir berakhir Bimasena akhirnya menyampaikan rencana berikutnya.

"Mas, sebenarnya kami cuma mau nginep dua malam di sini."

Abimanyu menatapnya. "Terus?"

"Setelah itu kami ke Bandung, kalau terlalu lama di sini kami bisa dipecat mama." Lanjut Bima kemudian terkekeh. "Hari Jum'at mas harus nyusul kesana, mama sama papa sudah menyiapkan acara kecil."

"Acara apa?"

"Tasyakuran keluarga."

"Tasyakuran keluarga?" Abimanyu membeo, dirinya yang setiap hari berkomunikasi dengan sang mama malah baru tahu rencana keluarganya.

"Hem, untuk pernikahan kalian." Jawab Bima yang diangguki Zaskia.

Tatapan Abimanyu perlahan beralih kepada Amara. Istrinya itu juga tampak terkejut.

"Mama dan Papa ingin keluarga berkumpul dulu. Soal resepsi, nanti menunggu Mas benar-benar punya waktu senggang."

Abimanyu menghela napas panjang, ia tahu orang tuanya memang sudah lama menantikan hari ketika dirinya menikah. Namun mendengar mereka bahkan menyiapkan acara untuk menyambut Amara sebagai bagian dari keluarga, dadanya terasa hangat.

Ia menatap Bima dan Zaskia bergantian, dan terakhir pada Amara yang duduk di sampingnya.

Amara menoleh. "Kenapa?"

"Enggak."

Mendengar jawaban singkat Abimanyu, Amara mendelik kemudian kembali menunduk dan fokus pada makanannya.

Bimasena tersenyum melihat interaksi sng kakak dan kakak iparnya, begitupun dengan Zaskia. Karena bagi mereka, pertemuan itu bukan sekadar kejutan melainkan sebuah kepulangan seorang adik kepada kakaknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, apartemen yang biasanya hanya berisi dua orang itu terasa benar-benar seperti rumah. Ramai, hangat, penuh suara anak-anak yang membuat hati Amara ikut menghangat.

Abimanyu melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum pendeknya hampir menunjuk ke angka satu, sedangkan jarum panjangnya sudah di angka sembilan. Waktu istirahatnya hanya tersisa lima belas menit lagi, pria itu melirik Amara kemudian berdiri. "Ra, tolong ambilkan kacamata di kamar." Ucapnya pada Amara kemudian beralih pada Bima dan Zaskia.

"Bim, Ki... Aku balik kantor dulu. Kalian pasti jetlag sebaiknya istirahat saja, biar Mara yang siapkan." Tanpa menunggu jawaban sang adik, Abimanyu langsung meninggalkan Bima dan Zaskia. Ia melangkah menuju kamarnya menyusul Amara yang diminta mengambil kacamata, yang sebenarnya cuma alibi.

Sesampainya di kamar Abimanyu menutup pintu perlahan, lalu menghampiri Amara yang tengah membuka pintu lemari. Ia berdiri dibelakangnya dengan tubuh yang menempel membuat perempuan itu terjengkit kaget. "Om, ish! Bisa gak sih apa-apa tuh jangan suka ngagetin." Ucapnya memberengut.

"Gak bisa." Jawab Abimanyu cepat, ia menarik tangan Amara yang masih terangkat. "Enggak usah diambil, enggak jadi. Di mobil juga ada kacamata kok, dan nanti barang-barangmu pindahin ke sini kamar sana buat Bima dan Kia." Bisiknya tepat disamping telinga Amara sehingga napas hangatnya menyapu leher Amara dan membuat gadis itu seketika meremang.

Amara bergidik kemudian mengangguk. "I-iya." Jawabnya pendek, dan itu membuat Abi semakin gencar menggodanya dengan senyum penuh kemenangan. "Kenapa gugup?" goda Abimanyu menyentuh leher Amara dengan ujung hidungnya.

"O-om, awas jangan kayak gini!"

"Terus kayak gimana?" bisik Abimanyu, suaranya berubah parau. "Begini ya...?" Ia menge-cup leher Amara agak keras hingga meninggal jejak merah di sana. Shit... Umpatnya dalam hati saat merasakan ada bagian tubuhnya yang berontak. Niatnya hanya ingin menggoda istri kecilnya, namun senjata makan tuan karena malah dirinya yang lebih tergoda hingga membuat kepalanya puyeng sendiri.

Menyadari Abimanyu terdiam, Amara segera menarik tubuhnya dari kurungan tubuh suaminya. Ia mundur, "Lima menit lagi jam satu om." Ucapnya dengan suara yang bergetar.

"Ehm!" Abimanyu berdehem, pria itu membuang napas kasar. "Nanti jangan masak, kita makan diluar saja."

Amara mengangguk, "Kacamatanya?"

"Enggak jadi, aku balik kantor ya."

"Hm.." Amara tak bergerak, ia hanya berdehem.

Tak ingin semakin terjebak, Abimanyu segera menetralkan wajahnya. Sebelum berbalik ia menyentuh puncak kepala Amara dan mengusapnya sekilas, lalu keluar dari kamar.

"Ketemu kacamatanya?" Suara Bima menghentikan langkah Abimanyu. Pria itu mengerlingkan mata menggoda sang kakak. Abimanyu hanya mendelik, dan itu membuat Bimasena tergelak.

"Pusing, pusing dah!"

1
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Ahhhhhh maaciiih tteh syang,, 💋
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi

ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣

banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaaa itu kan sebelum Abi menikah, kalau sekarang setelah menikah ngapain juga menggilai perempuan lain, lebih baik tergila-gila sama istri sendiri.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Sekarang udah punya guling hidup, yang bikin nyaman, hangat, membuat tidur makin nyenyak😅
Emily
modus x ni om Abi
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Kalau udah punya kegiatan favorit pasti lupa segalanya nihh mantan bujang lapuk😅
Iper: wkwkwk
total 1 replies
M⃟3💋AisyahRendra
gasabar update lagiiii euyy.. makin gemas sm duo A ini 🥰🥰🥰🥰❤️❤️
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
M⃟3💋AisyahRendra: kan up untuk besok lagi teh 🥰🤣🤣
skrg bobo dluuu
total 2 replies
M⃟3💋AisyahRendra
bergetar hati bergetaaarr.. 🤣❤️❤️
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
M⃟3💋AisyahRendra: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 2 replies
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
istri kecilmu udh sukses bikin kamu makin kesengsem kn Biii🤣😅🏃🏃
🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓᑕᗴՏᵖˡᵉⁿᵍ𖤝🇳
banyak surprise 😕
Iper: mau juga di surprise in?
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hahhhhhhhhh
siapaaaa ini dateng sekeluarga.

ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
Iper: udah up noh😭
total 1 replies
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
pelan pelan ommmmm

nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Hehhhh...
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Keyyeeeennnnn om tua,
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
🦋⃟🍾⃝ ʜͩᴀᷞᴍͧɪᷠᴅͣ✿᭄ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠ᴸᴷ
Eaaa
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
M⃟3💋AisyahRendra
Tya....
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
M⃟3💋AisyahRendra
loh loh lohhhh 🙄🙄🙄
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️
M⃟3💋AisyahRendra: assseeeeeeekkkkkk❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 8 replies
Mimi Yoh
kenapa langsung wus garam ma kecapnya, nggak dicicip dulu rasanya...lagian kemaren masak sop sama tumis brokoli, rasa kayak apa ya 😁😁
Iper: Kalau masak sop sama brokoli sudah terlatih dia sama mama mertuanya meskipun rasanya entah seperti apa🤣
total 1 replies
Mimi Yoh
itu kan dulu...sekarang mah ada mara yg bisa membuat abi senyam senyum 😄😄
Mimi Yoh
dengerin tuh...malu nggak...
Mimi Yoh
ini nih temen yg ngejerumusin temen..bukannya ngingetin malah jadi setannya..
Iper: Jinnn Dasim dia😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!