NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Bersikap Gila

Shena menyelidiki dengan hati-hati, menatap langsung ke arah Aluna.

Ketika sebuah perusahaan kecil hampir bangkrut, Ramadhan Group yang biasanya bertangan dingin secara mengejutkan mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan. Hal ini sangat tidak biasa sehingga mau tidak mau menimbulkan kecurigaan besar.

Aluna terkejut karena Shena begitu pintar hingga bisa menebak arah permasalahannya. Akhirnya, ia memejamkan matanya dengan sedih, lalu membukanya kembali, dan mengucapkan kalimat yang seharusnya sudah ia katakan sejak lama. "Iya, dugaanmu benar."

"Sekitar tiga bulan lalu, perusahaan Ayahku disabotase oleh pihak luar, menyebabkan arus kas kami mengering dan membuat Ayah terlilit hutang dalam jumlah besar. Setelah itu, Kak Rendra membawaku untuk menemui Gavin..."

"Gavin berjanji bahwa selama aku tetap tinggal di sisinya, dia akan menyelamatkan perusahaan Ayah dari kebangkrutan. Lalu beberapa hari yang lalu, Ayah mendadak kritis dan kami benar-benar kehabisan dana. Di saat itulah Gavin memberikan sebuah kartu hitam berisi uang lima miliar rupiah."

Begitu kalimat terakhir lolos dari bibir Aluna, tangis Shena langsung pecah. Ia menatap sahabatnya itu dengan perasaan hancur. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Aluna telah memikul penderitaan sebesar ini sendirian di belakangnya.

Aluna mencoba bersikap tenang. Ia tersenyum tipis sembari mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di sudut mata Shena menggunakan selembar tisu. "Shena, kenapa kamu malah menangis? Aku tidak apa-apa, kondisiku baik-baik saja."

"Aluna..."

Mendengar respons itu, Shena tidak mampu lagi menahan emosinya. Ia langsung bangkit berdiri, berjalan mengitari meja, lalu duduk tepat di samping Aluna dan memeluknya dengan teramat erat. "Kenapa kamu bodoh sekali? Kenapa kamu tidak menghubungiku saat menghadapi masalah sebesar ini? Aku sudah meneleponmu berkali-kali kemarin, tapi kamu tidak menceritakan apa pun."

Aluna mendongak, berusaha keras menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak ikut tumpah. Ia kemudian menepuk-nepuk punggung Shena dengan lembut untuk menenangkannya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Bukankah kamu orang yang paling peduli pada penampilan kan? Jika kamu terus menangis seperti ini, riasan wajahmu akan rusak dan kamu tidak akan terlihat cantik lagi."

"Siapa yang peduli dengan penampilan dalam situasi seperti ini? Aluna, aku sangat mengkhawatirkanmu!" Shena melepaskan pelukannya, lalu berucap kesal, "Dan kakakmu, bagaimana bisa Kak Rendra bersikap setega itu kepada adiknya sendiri? Dia benar-benar keterlaluan."

"Kak Rendra... dia juga pasti memiliki pertimbangan dan alasannya sendiri," sahut Aluna dengan senyuman getir.

Sejujurnya, tidak mungkin Aluna sama sekali tidak menyimpan rasa kecewa atau dendam terhadap tindakan Rendra tempo hari. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun. Rendra tetaplah kakak kandungnya, dan bagaimanapun juga, tindakan kakaknya saat itu dilakukan demi menyelamatkan keutuhan keluarga mereka.

Setelah beberapa saat berlalu, Shena perlahan mulai bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Ekspresi wajah Shena mendadak berubah menjadi sangat serius. Ia menggenggam pergelangan tangan Aluna dengan erat sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran dengan waspada.

"Shena, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Aluna, merasa heran dengan perubahan sikap sahabatnya.

Dengan nada ragu namun penuh penekanan, Shena bertanya lirih, "Apa... apa Gavin sudah bertindak terlalu jauh dan melakukan sesuatu yang tidak pantas kepadamu?"

Di masa lalu, Aluna mungkin tidak akan langsung menangkap maksud tersembunyi dari pertanyaan sensitif seperti itu. Namun sekarang, dalam kondisi dirinya yang sedang mengandung, ia tentu saja langsung memahami arah pembicaraan Shena.

Melihat belahan bibir Aluna yang mendadak terkatup rapat dan sepasang matanya yang seketika kehilangan binar kehidupan, Shena langsung mendapatkan jawabannya. Wanita itu terdiam kaku di kursinya.

Brak!

Suara gebukan meja yang cukup keras mengejutkan Aluna. Saat ia menundukkan kepala, ia melihat telapak tangan Shena sudah menghantam permukaan meja restoran dengan sangat keras. Wajah sahabatnya itu dipenuhi oleh amarah yang membara.

"Aku akan menghabisi bajingan itu!" bentak Shena. Sembari berucap demikian, Shena langsung bangkit berdiri dan bersiap melangkah lebar keluar dari restoran.

Paham betul dengan Shena yang memiliki temperamen meledak-ledak dan nekat, Aluna didera kecemasan jika sahabatnya itu akan memicu keributan besar dengan Gavin. Ia segera bergerak maju, menahan lengan Shena, lalu memohon dengan sangat, "Shena, aku mohon berjanjilah padaku untuk tidak membuat masalah dengan Gavin, ya?"

"Aluna, sekarang aku sudah ada di sini bersamamu, lalu apa lagi yang kamu takutkan?!" Shena berbalik badan, menatap Aluna dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa kecewa atas ketakutan sahabatnya. "Lagipula, kondisi perusahaan Ayahmu sekarang sudah aman, dan aku juga sudah kembali ke Indonesia. Jika situasi memburuk, aku bisa meminta bantuan Ayahku untuk menghadapi Gavin."

"Tidak bisa, Shena!"

"Kenapa tidak bisa?" tanya Shena bingung, tidak habis pikir dengan penolakan Aluna.

Wajah Aluna seketika berubah pucat. Dengan gerakan perlahan, ia menyingkirkan bagian mantel luar yang menutupi bagian tengah tubuhnya, lalu menarik sedikit ujung kemejanya yang longgar.

Shena terpaku di tempatnya berdiri, ekspresi wajahnya mendadak kosong saat pandangannya tertuju pada apa yang ditunjukkan oleh Aluna. Penampakan perut Aluna yang kini mulai sedikit menyembul dan menonjol sukses membuat Shena tertegun layaknya tersambar petir. Wajahnya seketika merona merah karena terkejut.

"Aluna, kamu..."

"Seperti yang kamu lihat sendiri. Aku saat ini sedang hamil, usia kandunganku sudah hampir menginjak tiga bulan."

Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk menenangkan emosi Shena yang sempat syok, Aluna akhirnya kembali ke mansion tepat pada pukul tujuh malam. Namun, baru saja kakinya melangkah masuk melewati pintu utama, sebuah kekuatan besar yang tidak dikenal langsung bergerak cepat mencengkeram pinggang rampingnya dari belakang.

Sebelum Aluna sempat mengeluarkan teriakan panik, posisi tubuhnya sudah diputar balik secara paksa, dan ia berakhir mendarat dengan aman di dalam dekapan dada bidang Gavin yang terasa hangat.

"Kamu benar-benar nakal hari ini," bisik Gavin langsung di sisi telinganya.

Suara berat yang terdengar memikat itu bergema dekat sekali, namun Aluna sama sekali tidak merasa terenyuh. Sebaliknya, sekujur tubuhnya justru didera rasa takut yang nyata. Sebelum ia sempat menguasai diri atau memberikan respons, Gavin sudah mengangkat tubuhnya ke atas dalam satu gerakan dan membawanya berjalan keluar rumah.

Aluna tersentak kaget dan langsung berteriak protes, "Apa yang mau kamu lakukan?! Turunkan aku sekarang juga!"

Gavin memilih tetap bungkam dan terus melanjutkan langkah kakinya secara konstan.

Pria ini sebenarnya ingin membawaku ke mana lagi?

Begitu melangkah keluar dari teras mansion dan mendapati mobil Maybach hitam milik Gavin sudah terparkir stand-by dengan pintu terbuka di area drop-off, Aluna didera kepanikan massal. Ia berseru cemas, "Gavin, bisakah kamu berhenti bertingkah gila seperti ini?!"

Aluna berteriak histeris sembari mengerahkan seluruh tenaganya untuk meronta brutal di dalam gendongan Gavin. Namun, Gavin sama sekali tidak menunjukkan intensi untuk menghentikan aksinya. Merasa perlawanannya diabaikan, Aluna yang mulai kalap membuka mulutnya, lalu menggigit lengan Gavin dengan sangat keras melalui sisa tenaganya.

Gavin meringis menahan perih akibat gigitan tersebut, membuat langkah kakinya sempat goyah selama sepersekian detik. Aluna segera mendekap perutnya sendiri dengan hati-hati, mengira aksi nekatnya berhasil membuat Gavin menyerah. Namun pada detik berikutnya, pandangannya justru mendadak berputar.

Cklek.

Pintu kabin belakang Maybach terbuka. Tubuh Aluna langsung dimasukkan dengan cepat ke atas jok mobil, dan sedetik kemudian, pintu kendaraan mewah itu ditutup kembali dengan sangat keras dari luar.

Meskipun raut ekspresi wajah Gavin tampak sangat tidak bersahabat akibat gigitannya tadi, gerakan tangan pria itu saat menaruh tubuh Aluna di kursi penumpang tetap terasa sangat lembut tanpa ada benturan kasar. Aluna bergerak panik mencoba meraih tuas pintu mobil untuk kabur, namun di luar perkiraannya, Gavin sudah ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya. Pria itu langsung memberikan perintah dingin kepada sopir di balik kemudi, "Jalan sekarang."

Seketika itu juga, seluruh sistem pintu mobil terkunci otomatis secara rapat dari dalam. Sekat pembatas tebal antara kursi kru depan dan kabin penumpang belakang perlahan naik ke atas hingga tertutup penuh, menutup habis segala akses dan upaya Aluna jika ingin meminta bantuan dari sopir.

Aluna menggertakkan giginya rapat-rapat. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap Gavin dengan sepasang mata yang dipenuhi guratan rasa benci yang kentara. "Sebenarnya apa maumu lagi, Gavin?! Kamu mau membawaku ke mana?!"

Gavin tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah sepasang mata Aluna dengan pandangan yang terasa sangat tajam dan mendingin—seperti seekor binatang buas yang sedang mengintai mangsanya dari balik kegelapan hutan. Aluna secara refleks menarik tubuhnya mundur satu langkah demi memberi jarak aman. Namun secara mendadak, sebuah senyuman tipis terukir di bibir Gavin.

"Tidurlah sebentar. Kamu akan tahu sendiri jawabannya setelah kita sampai di lokasi nanti."

Gavin bergerak perlahan mengencangkan sabuk pengaman di tubuh Aluna, lalu menggunakan jemarinya untuk merapikan beberapa helai rambut Aluna yang tampak berantakan di bagian dahi.

Karena rentetan kejadian besar yang menguras emosi berturut-turut belakangan ini, ditambah dengan kondisi fisiknya yang sedang mengandung, Aluna benar-benar didera kelelahan mental yang luar biasa. Tak lama setelah mobil melaju, kelopak matanya terasa sangat berat hingga ia akhirnya jatuh tertidur lelap di bawah pengaruh rasa letih.

Di dalam tidurnya, Aluna didera mimpi buruk mengenai hamparan ruang kosong yang gelap gulita dan terasa sangat mencekam. Semakin keras ia berusaha mencari jalan keluar untuk melarikan diri, tubuhnya justru terasa semakin tenggelam ke dalam kegelapan tersebut. Ia ingin berteriak meminta pertolongan, namun ada sesuatu yang menahan suaranya di tenggorokan. Di tengah kepanikan mimpi itu, sebuah sentuhan dingin yang sangat familier perlahan bergerak lembut mengusap bilah bibirnya.

Meskipun ego dan akal sehatnya menolak keras untuk mengakui ketergantungan tersebut, tubuh Aluna yang berada di bawah alam sadar secara refleks mulai mengendurkan posisi kaku badannya. Mengikuti insting alaminya untuk mencari perlindungan, ia menggeser tubuhnya dan meringkuk dengan nyaman di dada bidang Gavin, itu satu-satunya sumber kehangatan terdekat yang bisa ia jangkau saat itu.

Menyaksikan Aluna yang kini sudah tertidur pulas di dalam dekapannya, Gavin menurunkan tangannya untuk menepuk-nepuk bahu dan punggung gadis itu dengan gerakan konstan yang menenangkan. Sebuah senyuman puas terukir di wajah tampannya yang semula sedingin es.

Gavin menatap bias refleksi bayangan kedua tubuh mereka yang sedang berpelukan erat di kaca jendela mobil. Rasa kepemilikan absolut dan ego posesif yang selama ini berusaha keras ia sembunyikan rapat-rapat agar tidak membuat Aluna ketakutan, kini tampak terungkap sepenuhnya tanpa ada sekat pembatas lagi.

Namun, intonasi suara yang keluar dari bibirnya terdengar sangat lembut dan pelan, seolah-olah ia sedang berbicara dengan barang paling berharga di dunia.

"Tidurlah yang nyenyak, Aluna... Dan ingat, jangan pernah sekalipun berpikir untuk melangkah pergi meninggalkanku."

Suara deru mesin Maybach terdengar konstan membelah keheningan malam, membawa kendaraan mewah tersebut melaju cepat menembus jalanan kota seperti anak panah yang melesat dari busurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!