Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Tidak Tahu Nomor PIN
Dua puluh menit kemudian, Aluna tiba di depan loket kasir rumah sakit.
"Halo, Mbak. Ini kartu debit saya untuk menyelesaikan administrasi biaya operasi Pak Surya."
Jari-jari petugas kasir bergerak cepat di atas keyboard, lalu dengan gerakan tak acuh ia menyodorkan mesin EDC ke atas konter. "Silakan masukkan PIN-nya, Kak."
"Oh, iya."
Aluna mengulurkan tangan dengan agak linglung. Namun, tepat saat jarinya melayang di atas tombol angka, ia mendadak tersentak. Matanya membelalak lebar. Sial, Gavin sama sekali tidak memberi tahu PIN kartu ini saat meninggalkannya di kamar tadi malam!
Melihat Aluna yang mendadak mematung, petugas kasir mulai tidak sabar. "Ada apa, Mbak? Mohon dipercepat, antrean di belakang Anda sudah sangat panjang."
"Iya, Kak. Kalau belum ingat PIN-nya, silakan minggir dari antrean dulu." Keluhan dari orang-orang di belakang mulai terdengar.
Dalam kondisi terdesak dan panik, Aluna memutuskan untuk bertaruh. 971202.
Dengan pasrah, ia menekan deretan angka tanggal lahirnya sendiri yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Nominal terverifikasi. Transaksi berhasil.
Beberapa detik kemudian, mesin EDC itu ditarik kembali. Petugas kasir dengan cepat mencetak dan menyerahkan slip bukti pembayaran beserta kartu debit hitam itu kepadanya.
Aluna melangkah mundur dengan tubuh yang sedikit terhuyung. Ia berdiri di sudut lobi sambil menatap slip pembayaran di tangannya dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Ternyata isi saldo di dalam kartu ini mencapai lima miliar rupiah, dan Gavin bahkan menggunakan tanggal lahirku sebagai PIN-nya.
Tanpa ingin larut dalam lamunan lebih lama, Aluna segera memasukkan kartu tersebut ke dalam saku mantelnya, lalu berlari dengan tergesa-gesa menuju ruang ICU.
Di depan ruang ICU, Rendra rupanya telah selesai mendiskusikan seluruh detail prosedur operasi dengan tim dokter spesialis begitu konfirmasi pembayaran masuk ke sistem rumah sakit. Setengah jam kemudian, brankar Ayahnya mulai didorong keluar untuk dipindahkan menuju ruang operasi.
"Aluna..."
Sebelum kesadarannya benar-benar menurun akibat pengaruh obat, Pak Surya memanggil nama putrinya dengan suara yang sangat lemah.
"Iya, Ayah. Aku di sini," sahut Aluna. Tangisnya yang sejak tadi ditahan seketika pecah. Ia tidak mampu lagi menyembunyikan rasa takut dan khawatirnya. Aluna melangkah cepat di samping brankar, menggenggam erat telapak tangan ayahnya yang terasa dingin. "Ayah harus kuat. Kita semua sedang menunggu Ayah di luar."
"Aluna, maafkan Ayah..."
"Jangan bicara begitu, Ayah. Sekarang Ayah fokus saja pada operasinya, jangan memikirkan hal lain."
"Mohon maaf, pihak keluarga, pasien harus segera dimasukkan ke ruang operasi agar tidak menunda jadwal," potong perawat yang mendorong brankar dengan tegas namun sopan.
Pak Surya pun segera dibawa masuk ke dalam ruangan steril tersebut.
Brak.
Pintu ganda ruang operasi ditutup rapat, dan lampu indikator berwarna merah di atasnya langsung menyala.
"Ayah, kamu harus sembuh. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu," gumam Aluna sembari menyatukan kedua telapak tangannya, merapal doa dalam hati. Namun, karena kesedihan dan kelelahan fisik yang luar biasa, keseimbangan tubuhnya goyah saat ia mencoba menoleh. Tubuhnya limbung ke arah belakang.
Melihat hal itu, sang ibu tiri, Bu Utami, tersentak kaget dan bergegas maju untuk menahan tubuh Aluna. Ia mencoba merangkul pinggang Aluna, namun tenaganya tidak sebanding dengan beban tubuh mereka. Ditambah lagi, Bu Utami yang sehari-hari hanya mengurus rumah tangga tidak memiliki kekuatan fisik yang prima. Ia justru ikut terhuyung dan hampir jatuh bersama Aluna.
Untungnya, Rendra yang baru saja kembali dari meja administrasi menyaksikan kejadian tersebut dengan sigap. Ia berlari cepat dan berhasil menangkap tubuh kedua wanita itu sebelum menghantam lantai.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Rendra cemas.
"Ibu tidak apa-apa, Rendra. Tolong cek kondisi Aluna," sahut Bu Utami terengah-engah. Ia menggelengkan kepala, lalu dengan penuh kasih sayang mengusap punggung tangan Aluna yang terasa dingin. "Aluna, kamu sebenarnya ke mana saja belakangan ini? Wajahmu terlihat sangat tirus, bahkan berdiri saja kamu sudah tidak kuat."
Mendapat pertanyaan itu, Aluna mendadak gugup karena takut rahasia hubungannya dengan Gavin terbongkar. Namun, di permukaan ia berusaha tetap terlihat tenang dan patuh. "Aku hanya sedang sibuk mengurus berkas kelulusan dan jam mengajar belakangan ini, Bu, jadi agak kurang istirahat. Ditambah lagi, beberapa hari ini memikirkan kondisi Ayah... ah, sudahlah."
"Ya sudah, kamu sudah bekerja keras, Nak. Setelah operasi Ayahmu selesai dan kondisinya membaik, kita semua akan pulang ke rumah. Ibu akan memasakkan semua makanan kesukaanmu."
"Iya, Bu. Terima kasih banyak."
Aluna menyandarkan kepalanya dengan lemas di bahu Bu Utami. Wanita paruh baya itu menepuk-nepuk punggung Aluna dengan gerakan lembut yang menenangkan. "Tidurlah sebentar, Nak. Ibu akan menjagamu di sini."
Bu Utami memang memiliki paras yang cantik sejak muda. Di usianya sekarang, dengan pembawaannya yang selalu diperlakukan dengan baik oleh suaminya, ia memancarkan aura keibuan yang lembut dan anggun, membuat siapa saja merasa nyaman di dekatnya. dia telah merawat Aluna sejak gadis itu masih berusia lima tahun dan menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Aluna pun sudah lama menerima kehadiran ibu tirinya ini dengan tulus dari lubuk hati. Namun, bagi Rendra yang usianya lebih tua saat pernikahan kedua ayahnya terjadi, ia tetap bersikap sopan dan merasa canggung untuk mengubah cara memanggilnya.
Rendra yang memperhatikan interaksi kedua wanita itu dari samping hanya bisa mengembuskan napas lega. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. Setelah itu, ia mendudukkan diri di kursi tunggu koridor dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Ayah Aluna cukup beruntung karena pihak rumah sakit berhasil menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok dan memiliki tingkat kompatibilitas tinggi di bank donor nasional. Prosedur operasi ini diperkirakan akan memakan waktu hingga lima belas jam penuh, dan mereka bertiga terpaksa menunggu dalam keheningan yang mencekam di luar ruangan.
Sementara itu, di sudut lain kota.
Gavin, yang mengenakan setelan jas perak, berdiri tegak di depan jendela kaca besar ruang kantor CEO-nya. Tangan kirinya terbenam di dalam saku celana, sementara tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang menyala. Ia menatap lurus ke arah deretan gedung pencakar langit di hadapannya.
Siluet wajahnya yang tegas diselimuti oleh bias cahaya ruangan yang temaram, memancarkan aura dingin dan dominasi yang absolut. Tatapan matanya yang tajam seolah mampu mengintimidasi siapa saja yang berani mendekat, menciptakan atmosfer tegang yang membuat orang di sekitarnya kesulitan untuk bernapas secara normal.
Tok, tok.
Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan.
"Masuk," sahut Gavin dengan suara beratnya.
Begitu izin diberikan, sosok yang sangat familier melangkah masuk. Bima berjalan menghampiri meja kerja Gavin, lalu menyerahkan selembar map dokumen yang dibawanya. "Tuan Gavin, ini adalah rincian mengenai syarat dan nominal kompensasi yang diajukan oleh pihak keluarga donor sumsum tulang belakang untuk Ayah Nona Aluna. Silakan diperiksa."
Gavin melirik map tersebut sekilas tanpa berniat membukanya, lalu menyahut acuh tak acuh, "Tidak perlu diperiksa. Lakukan saja dan penuhi apa pun yang mereka minta."
Bima mengernyitkan dahi sedikit. Ia sempat ragu-ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara, "Tuan Gavin, pihak keluarga donor tersebut mengajukan tuntutan nominal yang sangat tidak masuk akal. Mereka meminta kompensasi sebesar lima miliar rupiah. Apakah... Anda benar-benar bersedia membayar nominal sebesar itu hanya untuk hal seperti ini?"
"Jika itu jumlah yang mereka inginkan untuk menyelamatkan nyawa Ayah Aluna, aku akan memberikannya sekarang juga tanpa harus mencicil," jawab Gavin mutlak.
Hanya melalui sebaris kalimat pendek itu, Gavin secara tidak langsung telah menunjukkan kembali sisi dominasinya, sekaligus kedalaman obsesi dan perasaannya terhadap Aluna yang tidak bisa diukur dengan materi.