Sequel Kembalinya Sang Agen Rahasia & Heroes
Zyan kembali menjalani misi. Kali ini akan menjadi misi terakhirnya, mencari keberadaan Arkan, juniornya.
Siapa sangka kembalinya pria itu ke lapangan malah menemukan konspirasi sejumlah petinggi menggagas Project Black Lock. Diam-diam mereka mengembangkan virus yang diberi nama Regalis-V.
Ada enam target yang sedang dibidik untuk memproduksi Regalis-V. Salah satunya adalah Arsela, anak presiden.
Ketegangan semakin bertambah ketika Zyan tahu target terakhir adalah anaknya sendiri.
Bersama dengan Arkan, pria itu berjibaku, berusaha menyelamatkan target dan menghancurkan Black Lock.
Dalam aksinya, mereka mendapatkan bantuan dari seorang agen tambahan.
Siapakah agen tersebut?
Jangan lupa ikuti medsosku di
FB : Khairunnisa (Ichageul)
IG : ichageul9563
TT : @novelme @ichageul21
Threads : Ichageul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Penyusupan
Semua orang yang ada di ruangan langsung menolehkan kepalanya. Lyra memasuki ruangan seraya melemparkan cengiran.
Sedari tadi wanita itu menguping pembicaraan di depan pintu. Dia cukup penasaran dengan perkembangan perburuan para aset.
“Maaf aku sudah menguping pembicaraan kalian,” ujar Lyra sambil menarik kursi di dekat Kenzo. “Aku hanya ingin membantu saja. Bagaimanapun juga masalah ini terjadi karena penelitian yang dilakukan Ayahku. Aku hanya ingin ikut bertanggung jawab.”
“Tapi cukup riskan kalau kamu masuk ke rumah Mikhail. Siapa tahu dia mengenalimu dan melaporkannya pada Arman,” sela Sergio.
“Aku tidak mengenal Mikhail dan kita juga belum pernah bertemu. Aku yakin kalau Mikhail tidak tahu siapa aku. Lagi pula saat ini kalian tidak punya orang yang akan disusupkan ke dalam rumah Mikhail. Tidak mungkin juga Sergio didandani seperti perempuan.”
Mata Sergio langsung membelalak. Sementara Kael dan Hector tidak bisa menahan tawanya. Kenzo tersenyum tipis.
Namun usulan Lyra sepertinya bagus juga. Lyra itu wanita yang pintar. Dia bisa masuk ke kantor Vexion Pharma Global tanpa diketahui. Pasti untuk kali ini pun, Kenzo yakin Lyra bisa melakukannya.
“Usulan Lyra boleh juga. Tapi apa kamu bisa melakukan pekerjaan rumah?” tanya Kenzo sangsi.
“Aku tumbuh tanpa seorang Ibu, jadi aku sudah terbiasa mengurus rumah dan Ayah setelah Ibu meninggal. Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah.”
“Baiklah. Kamu bisa melamar ke kediaman Mikhail besok. Kael, bantu dia menyamar.”
“Oke,” jawab Kael sambil membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Mendengar keputusan Kenzo tentu saja membuat Lyra senang. Selain bisa ikut berpartisipasi dalam upaya penyelamatan aset, dia juga bisa tetap dekat dengan Kenzo. Pesona pria itu benar-benar sudah membuatnya mabuk kepayang.
Selesai rapat, Kael mengajak Lyra ke lantai atas. Dia hendak membantu Lyra melakukan penyamaran dengan tambahan beberapa barang darinya. Di ruang tengah atas, mereka bertemu dengan Arsela dan Timur yang sedang berbincang.
“Kamu tunggu di sini. Aku akan mengambil peralatan dulu,” ujar Kael seraya masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian dia kembali dengan kotak kecil di tangannya.
Kael menaruh kotak di atas meja lalu membukanya. Dia memberikan kotak kecil berisi lensa kontak. “Gunakan ini untuk menyamarkan warna bola matamu. Lalu gunakan wig ini juga,” Kael memberikan wig pendek berwarna pirang.
Pria itu mencari peralatan lain dalam kotak itu, lalu mengeluarkan gigi palsu. Dia memberikan gigi tersebut pada Lyra.
“Apa aku harus memakai ini?” tanya Lyra. Dia sudah membayangkan betapa jelek dirinya memakai gigi palsu yang membuat giginya terlihat offside.
“Tentu saja. Kalau menyamar itu harus totalitas.”
Arsela tak bisa menahan tawanya ketika melihat Kael melontarkan kalimat tadi dengan wajah tanpa ekspresinya. Ditambah lagi melihat ekspresi cemberut Lyra. Sementara Timur yang tidak mengerti apa-apa hanya menjadi pendengar setia saja.
“Oh ya, pakaianmu juga harus diganti. Jangan gunakan gayamu yang sekarang.”
“Soal pakaian, aku akan membantu,” timpal Arsela.
“Thanks, honey,” ujar Lyra sambil memeluk bahu Arsela.
Setelah menyerahkan semua peralatan menyamar yang akan digunakan, Kael membawa kembali peralatan ke dalam kamarnya. Setelahnya dia turun ke bawah.
Sepeninggal Kael, Timur meminta Arsela melanjutkan ceritanya. Timur penasaran tentang DNA haplogroup. Baru kali ini dia tahu tentang DNA haplogroup.
“Saat DNA kita diambil, apakah berbahaya?”
“Tidak. Kita seperti sedang cek darah saja. Diambil seperlunya saja,” jawab Lyra.
“Kalau memang prosesnya tidak berbahaya, kenapa aku harus sembunyi?” tanya Timur polos.
“Efeknya memang tidak membahayakan kita, tapi hasil dari DNA kita bisa membahayakan nyawa banyak orang. DNA kita dijadikan virus, dan virus itu digunakan untuk kepentingan pribadi pembuat virus.”
Timur mengangguk beberapa kali. Sedikit demi sedikit dia mulai memahami soal DNA haplogroup. Hatinya bertambah gelisah begitu mendengar penjelasan Lyra tentang pemanfaatan DNA yang diambil dari aset.
Pria itu kini mulai menyesali keputusannya datang ke Republik Verentis. Dia ingin secepatnya kembali ke negaranya. Hidup normal tanpa harus mengalami hal-hal di luar dugaan.
Timur adalah orang yang menyukai rutinitas dan keteraturan. Dia cukup kesulitan beradaptasi jika terjadi perubahan.
***
Keesokan harinya Lyra sudah siap berangkat ke kediaman Mikhail. Warna matanya yang biru sudah tertutup lensa kontak berwarna cokelat. Rambut panjangnya sudah berubah menjadi pendek sebatas telinga. Perubahan yang paling mencolok adalah gigi palsu yang dikenakan.
“Semoga kamu diterima bekerja,” ujar Kael yang bertugas mengantarkan Lyra ke kediaman Mikhail.
“Ya, semoga saja.”
Mobil yang dikemudikan Kael mulai bergerak. Dari safe house, mobil bergerak turun. Begitu sampai di jalan masuk menuju perbukitan Raven, dia mengambil arah ke kiri. Mereka melalui jalan yang mengarah ke kediaman Mikhail.
Dalam waktu sepuluh menit, mobil yang dikendarai Kael sudah berhenti di depan pagar mansion. Lyra turun sambil menyeret kopernya. Setelah menurunkan Lyra, Kael meninggalkan tempat tersebut.
Sang petugas keamanan menanyakan dulu keperluan Lyra mendatangi mansion. Pria itu menghubungi Daria lebih dulu sebelum mempersilakan Lyra untuk masuk.
Selama setengah jam lebih Lyra menjalani sesi wawancara dengan Daria. Selain wawancara, Lyra juga diminta melakukan pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya nanti. Berbekal pengalaman selama ini, wanita itu tidak menemui kesulitan.
“Baiklah, kamu diterima bekerja,” ujar Daria seraya menyalami tangan wanita itu.
“Terima kasih. Terima kasih,” Lyra menjabat tangan Daria dengan erat. Wajahnya terlihat begitu sumringah.
“Ayo kutunjukkan kamarmu. Setelahnya aku akan mengajakmu berkeliling.”
Daria mengajak Lyra menuju bagian belakang mansion. Di sana ada bangunan terpisah, khusus bagi para pekerja di mansion ini. Di dalam bangunan tersebut terdapat sepuluh kamar. Kamar untuk pekerja wanita berada di lantai atas.
Setelah menaruh barang-barangnya, Daria langsung mengajak Lyra berkeliling.
Ketika mereka sampai di halaman samping, tampak Priya sedang duduk di taman bersama dengan Alina. Keduanya tengah berbincang santai sambil menikmati camilan ringan.
Lyra membenarkan letak brosnya yang sedikit miring. Bros tersebut adalah kamera tersembunyi. Kael, Sergio dan Hector dapat memantau keadaan di mansion Mikhail melalui kamera tersembunyi yang terpasang pada bros Lyra.
“Itu siapa?” tanya Lyra pada Daria.
“Itu anaknya Tuan Mikhail, namanya Alina. Dan wanita yang bersamanya adalah dokter Priya Kapoor. Dia adalah dokter pribadi Nona Alina. Oh ya, Nona Alina mengidap penyakit asma akut. Jadi ada beberapa hal yang harus kamu ketahui.”
“Baik.”
“Sebaiknya kita kembali sekarang. Kamu sudah harus mulai bekerja hari ini. Sejak Vera mengundurkan diri, kami keteteran.”
Lyra mengangguk singkat sambil mengikuti Daria. Ketika melintasi ruang tengah, mereka berpapasan dengan Mikhail.
“Pagi, Tuan,” sapa Daria.
“Pagi.”
“Oh ya, kenalkan ini Nadia. Dia pegawai baru yang akan menggantikan tugas Vera.”
Mikhail memperhatikan Nadia dengan seksama. Jantung Lyra berdegup kencang. Takut kalau Mikhail mengenali atau curiga padanya.
***
Kenal nggak ya Mikhail?