Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERCAKAPAN YANG TERPOTONG
Beberapa hari setelah kedatangan Arga, kehidupan kembali berjalan seperti biasanya. Kirana tetap disibukkan oleh kegiatan yayasan. Danendra tetap tenggelam dalam jadwal kerja yang padat. Mereka masih berangkat dengan tujuan masing-masing setiap pagi dan kembali ke rumah yang sama setiap malam.
Namun ada sesuatu yang berubah. Bukan pada rutinitas mereka. Melainkan pada Kirana. Belakangan ini, ia lebih sering memperhatikan Danendra dibanding sebelumnya. Tanpa sengaja. Tanpa direncanakan.
Seperti sore itu, ketika mereka sedang makan malam berdua.
"Kamu besok ke kantor?" tanya Kirana sambil mengambil segelas air.
Danendra mengangguk. "Setengah hari."
"Oh."
Percakapan berhenti di sana. Biasanya Kirana tidak akan memikirkan hal itu. Namun kali ini ia justru merasa ada pertanyaan lain yang ingin ia ajukan. Tentang Arga. Tentang masa sekolahnya. Tentang cerita-cerita yang belum sempat selesai beberapa hari lalu.
Namun sebelum sempat bertanya, ponsel Danendra bergetar di atas meja. Pria itu melihat layar sebentar lalu berdiri. "Aku angkat telepon dulu."
Kirana hanya mengangguk. Dan kesempatan itu kembali lewat begitu saja.
Dua hari kemudian, Bu Rini menelepon saat Kirana sedang berada di ruang kerjanya.
"Kirana, kamu sedang sibuk?"
"Tidak terlalu, Bu. Ada apa?"
"Ibu mau minta tolong."
"Apa?"
"Beberapa dokumen yayasan yang kemarin Ibu titipkan ada di rumah utama. Kalau sempat, bisa diambil hari ini?"
"Tentu."
"Terima kasih, Nak."
Setelah percakapan selesai, Kirana memutuskan langsung pergi ke rumah utama sepulang dari yayasan. Hari sudah menjelang sore ketika mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Adipati. Suasana rumah terlihat tenang. Tidak seramai saat acara makan siang keluarga beberapa waktu lalu.
Seorang asisten rumah tangga menyambutnya di depan. "Ibu ada di dalam, Mbak."
Kirana mengangguk sambil tersenyum. Namun baru beberapa langkah memasuki rumah, langkahnya melambat. Suara tawa terdengar dari arah taman belakang. Tawa seorang perempuan. Disusul suara laki-laki yang terdengar jauh lebih pelan.
Entah kenapa, Kirana menoleh ke arah suara itu. Dan di sanalah ia melihat mereka. Danendra dan Risa.
Mereka sedang duduk di area gazebo kecil yang menghadap taman. Di atas meja terdapat beberapa cangkir teh dan map dokumen. Sepertinya mereka sedang membantu Ibu mengurus sesuatu. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang salah. Namun Kirana tetap berhenti tanpa sadar.
Risa sedang bercerita tentang sesuatu. Tangannya bergerak ekspresif saat berbicara. Sementara Danendra mendengarkan.
Lalu beberapa detik kemudian pria itu tertawa. Benar-benar tertawa. Bukan senyum tipis yang biasa ia tunjukkan. Bukan ekspresi sopan yang sering ia berikan kepada orang lain. Melainkan tawa yang ringan dan alami.
Kirana tertegun di tempatnya berdiri. Selama setahun menikah, ia belum pernah melihat Danendra tertawa selama itu. Ia bahkan tidak tahu suara tawa Danendra bisa terdengar seperti itu.
Dan entah kenapa, Kirana langsung teringat pada ucapan Arga.
“Aku senang lihat Danendra sekarang. Dia sudah berubah.”
Sisi Danendra yang ternyata bisa muncul begitu saja saat bersama orang-orang tertentu itu membuat dada Kirana terasa sedikit aneh. Bukan marah. Bukan kesal. Hanya... merasa seperti melihat sebuah percakapan yang sudah dimulai jauh sebelum dirinya hadir.
"Kirana?" Suara Ibu Rini membuatnya tersadar.
Kirana langsung menoleh. "Ibu."
"Kapan datang?"
"Baru saja."
Bu Rini tersenyum lalu menggandeng lengannya. "Ayo masuk."
Mereka berjalan menuju taman belakang. Mau tidak mau, Kirana ikut mendekati gazebo tempat Danendra dan Risa berada. Risa menjadi orang pertama yang menyadarinya.
"Kirana!" Perempuan itu langsung tersenyum lebar. "Kamu datang."
"Iya."
"Kami lagi membantu Tante Rini."
Kirana mengangguk. Danendra menoleh ke arahnya. Tatapan mereka bertemu sesaat.
"Habis dari yayasan?"
"Iya."
"Lelah?"
"Sedikit."
Percakapan singkat. Sederhana. Namun saat itu Kirana tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu. Sebelum ia datang... apa yang mereka bicarakan? Apa yang membuat mereka tertawa seperti itu?
"Pokoknya waktu itu lucu sekali," kata Risa tiba-tiba.
"Kamu masih ingat juga."
"Tentu saja ingat."
"Sudah bertahun-tahun."
"Justru karena itu lucu."
Kirana menatap keduanya bergantian. "Tentang apa?"
Risa dan Danendra saling berpandangan sesaat. Hanya sesaat. Lalu Risa tertawa kecil. "Ah, cerita lama."
"Cerita apa?" tanya Kirana lagi.
Risa tampak berpikir. "Mmm... susah menjelaskannya."
"Kenapa?"
"Karena harus mulai dari awal."
"Tidak apa-apa."
Namun sebelum Risa sempat melanjutkan, Bu Rini sudah lebih dulu memanggilnya dari dalam rumah. "Risa, bisa bantu Ibu sebentar?"
"Oh, iya!" Risa langsung berdiri. "Nanti saja ceritanya."
Lalu perempuan itu berlari kecil masuk ke dalam rumah. Percakapan pun berakhir begitu saja. Terpotong. Dan anehnya, hal sederhana itu justru membuat Kirana semakin penasaran dan sedikit rasa kesal.
Sore menjelang malam. Kirana berhasil mengambil dokumen yang dibutuhkan dan akhirnya pulang bersama Danendra. Perjalanan berlangsung tenang. Seperti biasa. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu di luar jendela mobil.
Danendra fokus menyetir. Sedangkan Kirana sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa kali ia ingin bertanya. Tentang Risa. Tentang cerita tadi. Tentang masa lalu yang selalu muncul dalam potongan-potongan kecil. Namun setiap kali kalimat itu hampir keluar, ia kembali mengurungkannya. Entah kenapa.
Malam hari. Setelah mandi dan berganti pakaian, Kirana duduk di tepi ranjang sambil membaca buku. Atau setidaknya berpura-pura membaca. Karena pikirannya tidak berada di sana.
Danendra keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian. Pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas lalu duduk di sisi lain ranjang. Sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan. Kirana menatap halaman buku yang sama selama hampir satu menit. Lalu akhirnya menyerah. Ia menutup buku itu.
"Tadi..."
Danendra menoleh. "Hm?"
Kirana menggigit bibir bawahnya sebentar. "Tidak jadi."
Danendra mengangkat sebelah alis. "Kamu mau billing sesuatu?"
Kirana terdiam. Ya. Ia memang ingin mengatakan sesuatu. Ingin bertanya. Ingin tahu. Namun pada akhirnya yang keluar justru kalimat lain. "Hari ini capek?"
Danendra menatapnya beberapa detik. Lalu menggeleng. "Tidak terlalu."
"Oh."
Percakapan selesai. Sesederhana itu. Dan anehnya, justru hal itu membuat Kirana semakin frustrasi pada dirinya sendiri. Karena ia sadar. Bukan Danendra yang menghentikan percakapan mereka. Melainkan dirinya.
Malam semakin larut. Lampu kamar sudah dimatikan. Danendra tampaknya sudah tertidur. Namun Kirana masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap.
Pikirannya kembali pada sore tadi. Pada tawa Risa. Pada tawa Danendra. Pada cerita yang tidak sempat selesai. Pada percakapan yang terpotong sebelum ia mengetahui awalnya.
Dan untuk pertama kalinya, Kirana menyadari satu hal di benaknya. Ia ingin mengenal Danendra. Bukan sekadar sebagai suami yang tinggal serumah dengannya, atau pria yang menemaninya makan malam setiap hari. Melainkan sebagai seseorang yang memiliki masa lalu, kenangan, dan cerita sebelum dirinya hadir.
Pemikiran itu membuat Kirana mengembuskan napas pelan. Lalu memejamkan mata. Namun kali ini, sebelum tidur mengambil alih kesadarannya, ada satu perasaan yang akhirnya berhasil ia kenali. Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Dan itu mulai membuat hatinya tidak setenang dulu.