NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 (Firasat dari masalalu)

Malam di kawasan Menteng selalu memiliki cara tersendiri untuk memancarkan keanggunannya yang sunyi. Namun, di dalam kamar tidur utama Kakek Surya Raharja, keheningan itu mendadak pecah oleh deru napas yang memburu dan detak jantung yang berdegup gila. Pria tua yang menjadi patriark tertinggi dinasti Raharja itu tiba-tiba terduduk di atas ranjangnya. Keringat dingin membasahi pelipis dan punggungnya yang ringkih, sementara sepasang matanya yang mulai merabun menatap kosong ke arah kegelapan kamar dengan pancaran ketakutan yang teramat sangat.

Surya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Baru saja, sebuah mimpi buruk yang teramat riil menghantam kesadarannya. Di dalam mimpi itu, ia melihat taman belakang kediaman Menteng diselimuti kabut hitam yang pekat. Alisha berdiri di tengah kabut tersebut, mengenakan gaun putih gading sembari menggendong seorang bayi mungil yang terus menangis. Namun, sebelum Surya sempat melangkah mendekat, sesosok bayangan hitam dengan sepasang mata penuh dendam melesat dari balik pohon, merebut paksa bayi tersebut dan mendorong Alisha hingga terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar.

"Alisha... Cicitku..." bisik Surya parau, suaranya bergetar hebat di keheningan malam.

Pria tua itu buru-buru menekan tombol darurat di samping nakasnya, sebuah tombol yang langsung terhubung ke kamar Mike di lantai yang sama.

Tak sampai tiga menit, pintu kamar Surya terbuka dengan sentakan pelan. Mike melangkah masuk dengan cepat, masih mengenakan celana kain santai dan kemeja hitam yang kancing teratasnya terbuka. Wajah tegasnya tampak tegang, menyadari bahwa tombol darurat itu tidak akan pernah ditekan oleh kakeknya jika tidak ada situasi yang sangat krusial.

"Kakek? Ada apa? Apa dadamu sesak lagi?" tanya Mike dengan nada suara bariton yang sarat akan kecemasan. Ia langsung duduk di tepi ranjang, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kakeknya.

Surya menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu meraih kedua pundak Mike dengan cengkeraman tangan tuanya yang gemetar namun terasa begitu menuntut. "Mike... perketat pengamanan Alisha. Jaga dia dan calon bayimu dengan seluruh kekuatan yang kamu punya, Mike. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu sekerat inci pun."

Mike mengernyitkan dahi, tatapan matanya mengunci pandangan sang kakek. "Kakek bermimpi buruk?"

"Ini bukan sekadar mimpi biasa, Mike!" suara Surya meninggi, bergetar oleh emosi dan trauma masa lalu yang mendadak bangkit kembali. "Insting orang tua tidak pernah bohong. Rasa takut yang Kakek rasakan saat terbangun tadi... itu adalah rasa takut yang sama persis seperti malam di mana ayahmu mengalami kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Malam itu, Kakek juga bermimpi melihat ayahmu berjalan di atas pecahan kaca sebelum kabar duka itu datang."

Mendengar nama mendiang ayahnya disebut, tubuh tegap Mike seketika menegang sempurna. Rahangnya mengatup rapat, dan sepasang mata elangnya berkilat tajam dalam kegelapan. Kenangan kelam sepuluh tahun lalu, saat ia harus kehilangan sosok pelindungnya akibat sabotase kejam yang dilakukan oleh keluarga sendiri, kembali berputar di kepalanya.

"Kakek melihat seseorang di dalam mimpi itu?" tanya Mike, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang teramat dingin dan berbahaya.

"Kakek tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, Mike. Tapi sepasang mata itu... mata penuh kabut kebencian itu sangat mirip dengan mata Hardi saat dia diseret keluar dari ruang rapat pleno bulan lalu," Surya meremas lengan Mike dengan erat. "Darah Hardi masih mengalir di luar sana, Mike. Ular yang terluka tidak akan pernah mati sebelum memuntahkan racun terakhirnya."

Mike terdiam cukup lama, membiarkan keheningan malam meresap ke dalam dadanya. Jika hanya berdasarkan mimpi, mungkin pria rasional sepertinya tidak akan langsung percaya. Namun, peringatan Kakek Surya malam ini bertaut sempurna dengan laporan insting Kevin di kedai ramen tempo hari mengenai kembalinya Rendy—putra angkat Hardi—ke Jakarta secara misterius. Dua firasat dari dua orang kepercayaannya berkumpul di satu titik yang sama: Alisha dan calon bayinya berada dalam bahaya besar.

"Aku mengerti, Kek," ucap Mike akhirnya, suaranya terdengar begitu mutlak bagai titah seorang penguasa tertinggi. Ia menepuk punggung tangan kakeknya untuk memberikan ketenangan. "Kakek tidak perlu cemas. Aku bersumpah demi nama mendiang Ayah... tidak akan ada satu pun iblis yang bisa menyentuh Alisha atau anakku. Aku akan membuat benteng perlindungan di sekitar mereka menjadi tak tertembus."

Setelah memastikan Kakek Surya kembali tenang dan meminum air hangat untuk meredakan syoknya, Mike melangkah keluar dari kamar tersebut. Langkah kakinya di atas koridor lantai dua terasa begitu berat dan penuh dengan aura pembunuh yang tertahan.

Mike memasuki kamarnya sendiri dengan gerakan yang sangat halus agar tidak membangunkan Alisha. Di bawah temaram lampu tidur, ia berjalan mendekati sisi ranjang. Alisha sedang tertidur lelap dengan posisi meringkuk manis, satu tangannya tanpa sadar tetap mendekap pelan perutnya yang masih rata—sebuah posisi protektif alami seorang ibu yang sedang menjaga buah hatinya.

Mike berlutut di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangannya yang besar, dengan teramat lembut mengusap untaian rambut panjang Alisha yang menutupi pelipisnya. Tatapan mata elang Mike yang biasanya dingin dan tak tersentuh kini dipenuhi oleh letupan obsesi, cinta, dan tekad perlindungan yang ekstrem.

*Empat tahun aku memenjarakan diriku dalam kesepian demi membawamu ke sini, Alisha,* batin Mike dengan dada yang bergemuruh. *Dan sekarang, setelah kamu menjadi ratuku dan membawa benih kehidupanku di dalam rahimmu... aku siap membakar seluruh dunia jika ada yang berani membuatmu meneteskan air mata kesakitan.*

Mike bangkit perlahan, berjalan menuju meja kerjanya di sudut kamar, lalu mengambil ponsel privatnya. Ia menekan satu tombol cepat untuk menghubungi Kevin, mengabaikan fakta bahwa waktu saat ini telah menunjukkan pukul dua dini hari.

Sambungan langsung diangkat pada deringan pertama—bukti bahwa Kevin pun sedang dalam mode waspada penuh.

"Ya, Mike. Ada perkembangan baru?" suara Kevin terdengar siaga di seberang telepon.

"Kevin, batalkan rencana Alisha untuk menghadiri wisuda kampusnya di gedung aula utama 2 bula lagi. Hubungi pihak rektorat, minta mereka memproses ijazah Alisha secara privat di rumah Menteng atau vila Sentul," perintah Mike tanpa basa-basi, nadanya dingin dan tidak menerima bantahan sedikit pun.

Kevin di seberang sana sempat tertegun sejenak. "Mike, apa tidak terlalu berlebihan? Itu adalah momen wisuda yang sudah dinantikan Alisha bersama sahabat-sahabatnya. Kenapa mendadak—"

"Kakek Surya baru saja bermimpi buruk, sebuah firasat yang sama seperti malam kecelakaan Ayah sepuluh tahun lalu," potong Mike tajam, membuat Kevin di seberang telepon langsung menahan napasnya. "Ditambah dengan laporanmu soal kembalinya Rendy ke Jakarta, aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Area publik seperti aula universitas terlalu terbuka dan rentan terhadap infiltrasi luar."

"Aku mengerti, Mike. Tugas dilaksanakan," jawab Kevin dengan nada serius. "Lalu bagaimana dengan ruko PAUD milik Ibu Sarah?"

"Gandakan personel pengawal rahasia di sana menjadi tiga tim. Pastikan setiap pengunjung atau orang tua murid yang mendaftar diverifikasi latar belakangnya secara hukum lewat firma Anita," Mike mengetatkan rahangnya. "Dan mulai besok pagi, Alisha tidak boleh keluar dari pekarangan Menteng atau Sentul tanpa pengawalan langsung dariku atau Alvin. Permainan catur ini sudah memasuki babak baru, Kev. Dan aku akan memastikan musuh kita mati bahkan sebelum mereka sempat melangkahkan bidak pertamanya."

Setelah menutup telepon, Mike kembali berjalan mendekati ranjang, ikut menyusup ke balik selimut hangat di samping Alisha. Ia menarik tubuh ramping istrinya ke dalam dekapan dadanya yang bidang, mengunci gadis itu di dalam pelukan protektifnya yang erat. Di tengah keheningan malam Menteng yang diselimuti kabut firasat buruk, sang tirani korporat telah sepenuhnya terjaga, siap menjadi badai paling mengerikan bagi siapa pun yang berani mengusik kedamaian istana kecil yang baru saja ia bangun dengan air mata dan cinta sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!