Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPECIAL SEASON EPISODE 2: KEMBALINYA SANG PEMANGSA (PART B)
Siang itu, matahari membakar kawasan industri Tangerang dengan terik yang menyengat. Di dalam kantor darurat *A-Logistics*, suasana mendadak berubah mencekam. Alvaro berdiri mematung di tengah ruangan, memegangi gagang telepon pintar kantor dengan urat-urat tangan yang menonjol kaku.
"Apa maksud Anda dengan pemutusan hubungan sepihak, Pak?!" suara Alvaro bergetar rendah, menahan badai amarah yang siap meledak. "Kita baru saja menandatangani nota kesepahaman minggu lalu. Armada kami sudah bersiap untuk pengiriman kain besok pagi!"
Dari seberang telepon, suara manajer operasional *Artha Tekstil* terdengar kaku dan penuh rasa bersalah. *"Maaf, Tuan Alvaro. Ini keputusan dari jajaran direksi pusat. Kami baru saja menerima penawaran sistem logistik terintegrasi dari Narendra Tech yang tidak mungkin kami tolak. Biaya operasional kami dipangkas hampir setengahnya, dan mereka menjamin ganti rugi atas penalti pemutusan kontrak dengan vendor lama. Kami harus realistis."*
*Klik.*
Sambungan diputus sepihak. Alvaro perlahan menurunkan tangannya. Laptop di hadapannya menampilkan grafik arus kas *A-Logistics* yang langsung menukik tajam ke zona merah. Enam puluh persen pendapatan yang mereka andalkan untuk membayar sewa gudang dan gaji para supir raib dalam hitungan detik.
"Bajingan!" Alvaro menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja kayu palet hingga retak. *Brak!* "Devan... dia benar-benar memotong jalur napas kita."
Galang yang baru kembali dari lapangan langsung terduduk lemas di sofa usang, sementara Rafael menatap layar komputernya dengan ekspresi cemas.
"Ini bukan persaingan bisnis biasa, Al," tutur Rafael lirih. "Narendra Tech sengaja merugi di tahun pertama hanya untuk mematikan kita. Ini kartu merah versi korporasi."
Alvaro tidak menjawab. Ia menyambar kunci motor matiknya, matanya memancarkan kilatan emosi yang berbahaya. Ia tahu Devan tidak hanya sedang menghancurkan bisnisnya; Devan sedang meruntuhkan kemampuannya untuk membiayai pengobatan ayah Kayla, memaksa gadis itu untuk tidak punya pilihan lain selain menyerah.
---
Pukul empat sore, lantai eksekutif *Narendra Tower*, Sudirman.
Keheningan di ruangan CEO muda itu dipecah oleh suara ketukan sepatu hak tinggi yang terburu-buru. Pintu kaca terbuka, menampilkan Kayla Shaqueena yang berdiri dengan napas terengah-engah. Wajah manisnya pucat, dan matanya sembap karena air mata yang terus ditahannya sepanjang perjalanan dari rumah sakit.
Devan yang sedang memeriksa berkas di mejanya perlahan mengangkat kepala. Sepasang mata teduhnya menatap Kayla, tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Semuanya berjalan persis seperti algoritma yang telah ia susun.
"Kamu datang lebih cepat dari perkiraanku, Kayla," ujar Devan lembut, menutup pulpen premiumnya dengan bunyi *klik* yang elegan.
Kayla melangkah mendekati meja besar Devan, lalu menghempaskan ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari Devan di atas meja marmer tersebut.
"Kamu sengaja menghancurkan usaha Alvaro agar aku datang bersujud di sini, kan?!" cecar Kayla, suaranya bergetar hebat oleh rasa sakit hati dan amarah. "Kamu memotong kontrak *Artha Tekstil* untuk membuktikan bahwa uangmu bisa mengatur segalanya!"
Devan berdiri dari kursi kerjanya, berjalan pelan memutari meja hingga ia berdiri tepat di hadapan Kayla. Ia menatap gadis itu dengan tatapan posesif yang dingin.
"Aku tidak menghancurkannya, Kayla. Aku hanya mempercepat proses realitas," sahut Devan tenang, tangannya terangkat ingin menyentuh helai rambut Kayla yang berantakan, namun Kayla dengan cepat menepisnya kasar. Devan tersenyum tipis, tidak tersinggung.
"Alvaro butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan ratusan juta, sementara paru-paru ayahmu hanya punya waktu dua minggu. Kontrak *Associate Manager* ini..." Devan menggeser sebuah map dokumen tebal di atas meja. "...adalah satu-satunya tiket pesawat medis ayahmu ke Singapura malam ini. Tanda tangani, dan ambulans udara akan lepas landas dari Halim dalam satu jam."
Kayla menatap lembaran kertas putih dengan tinta emas di hadapannya. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia sulit bernapas. Menandatangani kontrak ini berarti ia harus mengkhianati perjuangan Alvaro, masuk kembali ke dalam sangkar besi Devan, dan membiarkan harga dirinya dibeli. Namun, bayangan wajah ayahnya yang sekarat di balik kaca ICU meruntuhkan seluruh pertahanannya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Kayla meraih pulpen di atas meja. Setitik air matanya jatuh, membasahi permukaan kertas kontrak tepat di atas kolom tanda tangan.
*Sret. Sret.*
Tepat saat Kayla menyelesaikan gumpalan tanda tangannya, pintu ganda ruangan CEO digebrak terbuka dari luar secara paksa.
*Brak!!!*
Alvaro Pramudya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan baju yang basah oleh keringat. Dua orang petugas keamanan gedung tampak kewalahan menahan tubuh tegap Alvaro yang merangsek masuk dengan tatapan mata seperti serigala yang siap mencabik mangsanya.
Namun langkah Alvaro mendadak terkunci di tempat saat matanya menangkap pemandangan di depan meja kerja: Kayla yang sedang memegang pulpen, map kontrak yang terbuka, dan Devan yang berdiri di sampingnya dengan seulas senyuman kemenangan yang mematikan.
"Kayla..." bisik Alvaro, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan, memancarkan rasa tidak percaya dan luka mendalam yang teramat sangat dari lubuk hatinya.
Kayla menoleh perlahan, menatap Alvaro dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang pucat. Kontrak telah ditandatangani, ambulans udara telah diaktifkan, dan ikatan baru yang mematikan di antara mereka bertiga kini resmi dimulai kembali di bawah atap menara elite ini.
---
Bersambung