Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka 90 Hari
Sepulang dari Gedung Surya Corp, wajah Pak Herman bersinar terang, seolah ia baru saja memenangkan lotre terbesar seumur hidupnya. Cek bernilai 1 Miliar Rupiah yang kini terlipat rapi di saku dalam jasnya, membuat segala rasa takut, rasa bersalah, dan akal sehatnya lenyap begitu saja. Di dalam kepalanya, tidak ada bayangan putri kandungnya yang kini menjadi jaminan hidup, melainkan hanya bayangan mobil mewah, rumah baru, dan gaya hidup bebas tanpa hutang.
Sesampainya di rumah, Ratna, Lala, dan Johan langsung menyambutnya dengan antusias. Mereka tahu, dari sorot mata Pak Herman, misinya berhasil.
“Bagaimana, Herman?! Dapat uangnya?!” serbu Ratna tak sabar, nyaris merobek jas suaminya demi melihat cek itu.
Pak Herman tertawa lebar, mengangguk bangga. “Dapat! Tepat 1 Miliar! Alexandra Surya memberikannya langsung! Kita selamat, Ratna! Kita kaya lagi!”
Suara sorak sorai dan tawa bahagia meledak di ruang tengah. Mereka saling berpelukan, melompat kegirangan, seolah uang itu jatuh dari langit sebagai hadiah, bukan uang berdarah yang didapat dari menjual masa depan seorang gadis polos.
Aulia, yang baru keluar dari kamar mendengar keributan itu, berdiri kaku di ambang pintu. Hatinya terasa diremas kuat melihat kemeriahan itu. Ia tidak mengerti kenapa mereka terlihat begitu bahagia, padahal ia tahu betul, meminjam uang pada Alexandra Surya sama saja menggali kuburan sendiri.
“Ayah… Ibu… kalian benar-benar meminjam uang pada Tuan Alexandra?” tanya Aulia pelan, suaranya bergetar menahan takut.
Ratna menoleh, menatap Aulia dengan senyum sinis yang mengerikan. Wanita itu berjalan mendekati gadis itu, lalu mengusap pipi Aulia kasar namun dengan nada suara manis yang palsu.
“Tentu saja, Sayang. Berkat kamu, kita semua selamat. Ayahmu bilang, kamu lah yang dijadikan jaminan agar Tuan Surya mau memberi uang itu. Kamu kan anak baik, pasti kamu tidak keberatan membantu keluarga, kan?”
Darah Aulia mendidih, wajahnya pucat pasi. Kakinya lemas hingga ia hampir jatuh. Jaminan. Kata itu berputar di kepalanya bagai mantra maut. Ia menatap ayahnya, mencari penyangkalan, namun Pak Herman hanya menunduk menghindari tatapannya, lalu berbalik membantu istri dan anak tirinya menghitung angka nol di atas kertas cek itu.
“Ayah… Apa benar… Aulia jadi jaminan?” tanya Aulia lagi, suaranya pecah menahan tangis.
Pak Herman menghela napas berat, lalu menatap putrinya dengan tatapan serius, namun sama sekali tidak penuh rasa bersalah. “Kamu dengar Ibumu, Aulia. Ini demi keluarga. Hanya tiga bulan. Kalau Ayah bisa lunasi tepat waktu, kamu bebas. Tapi ingat… selama 90 hari ini, kamu tidak boleh pergi ke mana-mana, tidak boleh pacaran, tidak boleh dekat laki-laki lain. Kamu adalah milik Tuan Surya sampai utang lunas. Dia punya hak penuh atasmu sebagai jaminan.”
Kalimat itu menghancurkan jiwa Aulia lebih sakit dari ribuan tamparan. Jadi, ia bukan lagi manusia bebas. Ia kini hanyalah barang gadai. Aset. Milik orang lain. Milik pria paling kejam, paling berbahaya, dan paling ditakuti di kota ini. Alexandra Surya.
Malam itu, suasana rumah berubah drastis. Uang 750 Juta langsung diserahkan pada Toni dari Grup Macan Hitam untuk melunasi utang lama, menyelamatkan leher mereka dari jeratan tali. Sisanya, ratusan juta lainnya, langsung dihamburkan oleh Ratna dan anak-anaknya untuk belanja barang-barang mewah, pesta, dan gaya hidup hedonis. Mereka bertindak seolah uang itu tak perlu dikembalikan, melupakan fakta bahwa bunga 20% per bulan terus bertambah, membuat utang mereka makin membengkak tak terbayangkan.
Sementara itu, kehidupan Aulia berubah menjadi penjara terbuka. Ia dilarang keluar rumah kecuali ke kampus, dan bahkan saat di kampus, selalu ada orang asing anak buah Alex yang mengawasinya dari kejauhan. Di setiap sudut, di setiap langkah, ia merasakan bayangan hitam sang Raja Mafia itu mengikutinya.
Hari-hari Aulia berlalu dengan berat. Di kampus, ia berusaha fokus pada sketsa dan desainnya, satu-satunya tempat di mana ia merasa dirinya masih manusia. Ia menggambar baju, ilustrasi, hingga desain interior, meluapkan segala rasa takut, sedih, dan amarahnya ke dalam garis-garis pensil.
Namun, kabar buruk terus berdatangan. Setiap akhir bulan, Brian, tangan kanan Alex, selalu datang membawa surat tagihan dan perhitungan bunga yang makin menumpuk. Aulia melihat sendiri wajah ayahnya yang makin pucat tiap kali melihat angka di atas kertas itu.
1 Bulan berlalu: Utang menjadi 1,2 Miliar.
2 Bulan berlalu: Utang melonjak jadi 1,44 Miliar.
Dan kini, minggu ketiga bulan ketiga tiba. Uang 1 Miliar yang dipinjam dulu, kini telah menjadi 1,6 Miliar Rupiah.
Dan yang paling menyakitkan: Tidak ada satu pun uang tersisa di tangan Pak Herman. Semua habis, ludes terbuang untuk kemewahan sesaat Ratna, Lala, dan Johan. Mereka hidup seolah tidak ada hari esok, dan kini hari esok yang mengerikan itu akhirnya tiba.
Malam itu, di ruang tengah yang kini kembali hening dan suram, seluruh keluarga berkumpul dengan wajah mayat. Di atas meja, tergeletak surat peringatan terakhir dari Surya Corp. H-7 Hari. Batas waktu pengembalian uang tinggal seminggu lagi. Jika tidak ada uang tunai sebesar 1,6 Miliar yang disetor ke rekening Alex, maka kontrak utama berlaku.
Ratna menangis histeris, memukuli dada suaminya. “Bodoh! Kamu bodoh, Herman!! Kenapa kita habiskan semuanya?! Kita mati sekarang! Alexandra Surya tidak akan segan memotong tangan kaki kita!”
“Kau yang menyuruhku beli mobil, beli perhiasan, beli rumah baru!! Kau juga yang salah!” bentak Pak Herman balik, ketakutan dan putus asa.
Lala dan Johan hanya gemetar di pojokan, sadar bahwa mereka telah membangun neraka sendiri dengan tangan mereka.
Namun di tengah kepanikan massal itu, Pak Herman tiba-tiba diam. Wajahnya yang kacau perlahan berubah, ekspresi takutnya berganti menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan: Keputusasaan yang licik.
Ia menatap Aulia yang duduk diam di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri. Tatapan ayahnya itu membuat darah Aulia membeku. Tatapan itu bukan tatapan seorang ayah pada anak, melainkan tatapan pedagang pada barang dagangan yang bernilai tinggi.
“Kita tidak akan mati…” gumam Pak Herman pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum seram. “Kita tidak perlu mati… Karena kita masih punya satu aset paling berharga yang tersisa.”
Semua mata di ruangan itu seketika beralih menatap Aulia serentak. Mata Ratna, mata Lala, mata Johan… semuanya menatap Aulia dengan sorot mata lapar, lega, dan kejam.
Aulia mundur hingga punggungnya menabrak dinding, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia tahu persis apa yang ada di pikiran mereka.
“Au… Aulia?” bisiknya gemetar, suaranya nyaris tak terdengar.
Pak Herman bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekati putri kandungnya itu dengan langkah pasti, seolah ia baru saja menemukan jalan keluar dari kubangan maut.
“Maafkan Ayah, Aulia… Tapi, kamu tahu kan? Kamu lah satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita semua. Lagipula… Alexandra Surya menginginkanmu sejak awal. Baginya, kamu jauh lebih mahal daripada sekadar 1,6 Miliar itu. Jadi… kamu tidak akan jadi jaminan lagi, Nak. Kamu akan jadi pembayar lunas. Sepenuhnya.”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Aulia sadar, sejak detik itu, ayahnya tidak lagi berniat membayar utang itu. Ayahnya sengaja akan membiarkan waktu habis. Ayahnya sengaja akan menjualnya.
Dan harga yang ditetapkan untuk seluruh hidupnya… adalah 1 Miliar Rupiah.