Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15# Berapa Usiamu?
“Jadi… dialah Tuan Muda Valen? Lelaki yang duduk di atas kursi roda itu? Wajahnya rupanya sangat tampan, sorot matanya tajam menusuk. Benarkah dia benar‑benar Valen? Sama sekali tak tampak bahwa dia mengalami gangguan jiwa…” gumam hati Ayla tak percaya.
“Berapa usiamu?” tanya Valen yang kini telah tiba tepat di hadapan Ayla, lalu langsung melontarkan pertanyaan singkat.
“A‑aku?” jawab Ayla terbata‑bata karena terkejut.
“Memangnya masih ada orang lain di ruangan ini selain kau dan aku?” balas Valen. Matanya terus menatap lekat, meneliti setiap inci diri Ayla.
“A‑dua… dua puluh tahun,” jawab Ayla gugup. Ia tak berani lagi menatap wajah Valen untuk sementara waktu.
“Jadi kaulah wanita yang akan menjadi istriku? Tahukah kau bahwa selisih usia kita terbilang cukup jauh?” tanya Valen lagi.
“Aku tidak tahu,” jawab Ayla singkat.
“Sepertinya keluarga Gunawan memang benar‑benar ketakutan jatuh miskin, sampai rela mengorbankan masa mudamu hanya untuk dijadikan istri orang yang dianggap cacat sepertiku,” ucap Valen sengaja melontarkan kalimat demikian. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Ayla, apakah timbul rasa sesal di hati wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
“Aku sendirilah yang menginginkannya,” jawab Ayla. Kali ini ia memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Valen.
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Valen terangkat membentuk senyum tipis—begitu tipisnya hingga nyaris tak terlihat oleh pandangan Ayla. Lebih tepatnya, senyum itu justru terasa sangat menyeramkan.
“Usiaku dua puluh delapan tahun. Aku adalah lelaki yang dianggap tidak sempurna, baik dari segi fisik maupun cara berpikir. Jika di hatimu kini timbul rasa sesal, kau masih punya kesempatan untuk pergi sekarang. Aku takkan mau menikahi wanita yang tidak bersedia bersanding denganku,” tegas Valen dengan nada suara yang mantap.
“Aku bersedia sepenuh hati,” jawab Ayla tegas tanpa ragu.
Mendengar jawaban itu, rasa penasaran Valen semakin memuncak. Gadis yang baru berusia dua puluh tahun ini justru bersedia terikat pernikahan dengannya—padahal selisih usia mereka cukup jauh, dan dirinya dianggap tak sempurna oleh banyak orang.
“Sungguh menarik…” batin Valen dalam hati.
“Baiklah, kalau begitu. Masih apa lagi yang kita tunggu?” ucap Valen. Ia kemudian memutar balik arah kursi rodanya dan bergerak meninggalkan ruang tunggu itu.
Dengan perasaan yang masih berkecamuk antara bimbang, takut, dan rasa ingin tahu, Ayla segera bangkit dari duduknya lalu bergegas mengikuti Valen dari belakang.
Tiga puluh menit kemudian…
Tanpa memakan waktu lama, keduanya pun resmi menerima buku akta nikah dan tercatat sah sebagai pasangan suami istri di kantor catatan sipil.
“Jadi… inikah yang dinamakan pernikahan kilat?” gumam hati Ayla seraya menatap lembaran buku nikah yang ada di tangannya.
“Masuklah,” panggil Valen. Kini ia telah berada di dalam mobil mewah yang dikemudikan sopir pribadinya.
Saat ini Leo tak ikut hadir, sebab ada beberapa urusan penting yang harus diselesaikannya di perusahaan sebagai pengganti tugas Valen sementara waktu.
“Ada mobil penjemputanku di sana,” ucap Ayla seraya menunjuk ke arah kendaraan hitam yang terparkir di belakang mobil Valen.
“Jangan membantah perintahku,” ucap Valen sambil menatap tajam ke arah Ayla.
Karena merasa takut, Ayla pun tak berani menolak. Ia segera bergegas naik dan duduk di samping Valen, sedangkan mobil yang sebelumnya menjemputnya mengikuti dari belakang.
Dalam sekejap, kendaraan itu pun melaju meninggalkan halaman kantor catatan sipil, menuju kediaman utama keluarga Aditama.
Sementara itu, di kediaman keluarga Gunawan…
“Akhirnya, akulah satu‑satunya putri keluarga Gunawan sekarang. Segala sesuatu yang dulunya milik Ayla, kini semuanya akan menjadi milikku,” gumam Alena dengan perasaan lega, sebab mulai hari ini ia tak perlu lagi merasa harus bersaing dengan Ayla.
Segala urusan di rumah itu berjalan seperti biasa. Bastian dan ayahnya sibuk mengurus urusan perusahaan, sedangkan Tina—ibu kandung Alena—sibuk mengikuti berbagai kegiatan sosial bersama para istri pengusaha ternama lainnya.
Sementara itu, Adnan yang sesungguhnya tak terlalu serius membantu kemajuan perusahaan, justru lebih sering menghabiskan waktunya berpesta di bar bersama teman‑temannya. Singkatnya, Adnan bagaikan versi laki‑laki dari Alena: keduanya hanya pandai menghabiskan harta dan bersenang‑senang tanpa mau berusaha.
“Ayo semuanya, pesanlah apa pun yang kalian inginkan! Hari ini kita minum sepuas hati, aku yang traktir semuanya!” seru Adnan bersemangat kepada seluruh teman sepergaulannya.
“Wah, seperti biasa! Tuan Muda Adnan memang paling dermawan!” puji salah seorang temannya.
“Memang tak ada tandingannya!” timpal yang lain.
Begitulah pujian yang terus terlontar dari mulut teman‑temannya, yang merasa bangga bisa bergaul akrab dengan Adnan. Namun, lelaki itu sama sekali tak menyadari bahwa bahaya besar sedang diam‑diam mendekatinya tanpa ia ketahui.
Di tempat lain…
“Pa, apakah Kak Valen sebentar lagi akan pulang bersama wanita itu?” tanya Gavin dengan nada tak sabar.
“Kau ini, bicaralah dengan sopan. Mulai sekarang ia akan menjadi iparmu. Jaga tutur kata dan cara pemanggilanmu,” tegur Papa Hans kepada putra bungsunya itu.
Sedikit keterangan mengenai sifat Gavin:
Gavin berusia dua puluh lima tahun, tiga tahun lebih muda dibandingkan Valen. Wataknya polos, kekanak‑kanakan, dan cenderung manja kepada siapa saja yang ia kenal.
“Kalau begitu, bagaimana seharusnya aku memanggilnya?” tanya Gavin kembali dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Panggil saja dengan sebutan apa pun yang menurutmu sopan dan pantas. Jangan tanya hal yang tak perlu lagi,” jawab sang Ayah, mulai merasa jenuh mendengar pertanyaan Gavin yang terasa begitu sederhana.
“Baiklah, kalau begitu,” jawab Gavin singkat, hatinya semakin tak sabar menyambut kehadiran anggota baru di keluarganya.
Sementara itu, seorang pelayan tampak berjalan tergesa‑gesa menghampiri Papa Hans yang sedang duduk bersantai di ruang tengah kediaman megah keluarga Aditama.
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya