Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Ke Jakarta
Hari berjalan begitu sangat cepat, Belva akan pergi ke Jakarta karena dia sudah lama tidak ke makam Papanya. Kali ini Yuri ikut bersama Belva. "Bel, kita di sana berapa hari?" tanya Yuri.
"Tiga hari, kita 'kan harus hadir di acara pembukaan toko cabang kita disana," sahut Belva.
"Kamu mau bawa apa saja, biar aku yang siapin," seru Yuri.
"Gak usah banyak-banyaklah, bawa baju saja beberapa potong kita bakalan nginap di rumah Mama Venny," sahut Belva.
Yuri membelalakkan matanya. "Hah, serius kamu Bel? bukanya kamu sudah tidak mau balik lagi ke rumah itu?" tanya Yuri kaget.
"Iya, aku hanya ingin melihat reaksi mereka saja. Apa mereka bakalan kaget jika aku tiba-tiba pulang ke rumah itu," sahut Belva dengan senyuman sinisnya.
Yuri terdiam, entah kenapa dia merasa was-was dengan keputusan Belva. Tapi, dia juga tidak bisa melarang Belva karena bagaimana pun dia bukan siapa-siapa dan tidak berhak mengatur Belva. Setelah siap, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dengan sopirnya Deden.
"Berangkat sekarang, Non?" tanya Mang Deden.
"Iya," sahut Belva.
Bersamaan dengan mobil Belva keluar, ternyata mobil Abi pun keluar. "Silakan Mas, duluan!" seru Mang Deden.
"Terima kasih, Mang," sahut Abi.
"Gila, Pak Tentara itu tampan sekali apalagi pakai kaca mata hitam kaya gitu, beuhhhh....kadar ketampanannya semakin meningkat," seru Yuri.
"Mulai menggatal," ketus Belva.
"Yaelah, menggatal sedikit apa salahnya? lagipula kalau menggatal sama Tentara tampan dan single kaya Pak Abi itu justru harus banget, karena Pak Abi orangnya dingin dan cuek jadi harus wanitanya yang aktif deketin dia," sahut Yuri dengan menaik turunkan alisnya.
"Idih, percaya diri sekali kamu, memangnya dia bakalan mau sama cewek tomboy seperti kamu," ledek Belva.
"Eh, siapa tahu Pak Tentara matanya siwer dan jatuh cinta sama aku. Pokoknya kalau sampai Pak Abi suka sama aku, kamu jangan iri ya," seru Yuri.
"Idih, geli aku dengarnya juga," sahut Belva.
Yuri tertawa melihat reaksi Belva. Sebenarnya Yuri hanya tes reaksi Belva saja, karena yang dia lihat Abi itu sepertinya suka kepada Belva hanya saja dia masih gengsi mengakui. Belva dan Abi memang seperti Tom and Jerry tapi Yuri yakin kalau keduanya menyimpan perasaan satu sama lain.
"Eh, Pak Tentara itu mau ke mana? kok arahnya sama sih?" seru Belva.
"Lah, iya. Apa dia mau ke Jakarta juga?" sahut Yuri.
Abi memang pagi ini akan ke Jakarta juga untuk ke makam Mamanya. Dia sudah lama tidak datang ke makam Mamanya, mumpung weekend. Beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di Jakarta.
Belva dan Yuri langsung menuju makam, berbeda dengan Abi yang memilih untuk ke rumah Mario terlebih dahulu. "Astaga, siapa sih pagi-pagi sudah bertamu?" kesal Mario saat mendengar bel rumahnya berbunyi.
Dengan perasaan kesal, dia pun bangun dan segera menuju pintu. Mario membuka pintu dengan wajah yang masih mengantuk. "Lama banget buka pintu!" seru Abi.
"Hah, Bang Abi ngapain ada disini?" tanya Mario kaget.
Abi langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Abi memperhatikan setiap sudut rumah Mario yang terlihat berantakan itu. "Pemalas sekali kamu, rumah berantakan kaya gini!" seru Abi.
Mario menggaruk kepalanya. "Gak ada pembantu, cariin dong biar ada yang beres-beres," sahut Mario.
"Apaan, malah nyuruh Abang cariin pembantu. Meskipun kamu laki-laki tapi kamu itu harus rajin memangnya kamu pikir laki-laki harus diam saja begitu? Abang selama ini mengurus rumah tanpa pembantu, kamar Abang bersih kok," cerocos Abi.
"Iya-iya, Abang memang rajin," sahut Mario malas.
Mario duduk di sebalah Abi. "Abang tumben ke Jakarta?" tanya Mario.
"Abang mau ke makam Mama, sudah lama Abang tidak ke makam Mama jadi sekarang cepat kamu mandi dan antar Abang," seru Abi.
"Ya, sudah aku mandi dulu," sahut Mario.
Sementara itu, Belva dan Yuri sudah berada di depan makam Ferdi. Belva menatap nisan Papanya dengan sangat lama seolah-olah sedang berpikir apa saja yang mau dia bicarakan kepada Papanya. "Pa, apa kabar? maaf, Belva baru bisa ke sini lagi. Belva sekarang sudah sukses Pa, kalau Papa masih ada mungkin Papa akan bangga sama Belva," ucap Belva dengan mata berkaca-kaca.
Yuri mengusap punggung Belva menguatkan. "Om, kenalkan aku Yuri. Om sangat beruntung sekali mempunyai putri yang cantik dan baik hati seperti Belva. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan Om, aku yakin pasti Om orang yang sangat baik dan sifat Belva pasti menurun dari Om," ucap Yuri dengan senyumannya.
Keduanya memutuskan untuk berlama-lama di makam Ferdi. Di satu sisi, Tissa baru saja sampai di rumah Mario dengan tidak tahu malunya dia pun langsung masuk ke dalam rumah Mario. "Sayang, kita jalan-jalan yuk!" teriak Tissa.
Abi yang saat itu sedang memainkan ponselnya langsung menoleh ke arah pintu. Tissa kaget, Abi menatap tajam ke arah Tissa. "Tampan sekali," batin Tissa.
"Kamu tidak sopan masuk ke rumah orang tanpa permisi," seru Abi dingin.
"Ah, maaf aku tidak tahu jika ada tamu di rumah Mario soalnya biasanya rumah Mario tidak ada siapa-siapa," sahut Tissa gelagapan.
Abi bangkit dari duduknya. "Mau ada tamu atau tidak, tidak pantas seorang gadis main masuk nyelonong seperti itu ke rumah laki-laki," sentak Abi.
"Maaf," sahut Tissa menunduk malu.
Mario keluar dari kamarnya. "Tissa, ngapain kamu ke sini?" tanya Mario.
"Aku mau ajak kamu jalan-jalan, ini hari sabtu loh sayang," sahut Tissa.
Mario melirik ke arah Abi, dia tahu jika Abangnya saat ini sedang marah. "Tissa, kenalkan ini Abang aku," seru Mario.
Tissa membelalakkan matanya. "Hah, Abang kamu?"
"Iya."
"Wuidih, gila tampan sekali Abang Mario," batin Tissa dengan senyumannya.
Tissa mengulurkan tangannya ke arah Abi. "Hallo, aku Tissa," ucap Tissa dengan senyumannya.
"Jangan bawa gadis ini, cepat pergi Abang tunggu di luar," ketus Abi.
Abi melengos melewati Tissa tanpa membalas uluran tangan Tissa. Tissa merasa dongkol, dia pun menarik tangannya. "Sayang, lebih baik kamu pulang dulu nanti aku jemput sore saja," bujuk Mario.
"Aku juga mau ikut," rengek Tissa.
"Sayang, tadi kamu dengar 'kan apa yang dikatakan Abang aku? please, aku gak bisa melawan dia, bisa-bisa aku babak belur dipukulin," sahut Mario.
Tissa tampak cemberut. "Terus, aku pulang pakai apa? aku kesini tadi naik taksi," rengek Tissa.
Mario bingung, akhirnya Mario pun keluar dan menghampiri Abi. "Bang, antar Tissa pulang dulu ya? soalnya dia kesini tadi naik taksi," bujuk Mario.
Abi tidak banyak bicara, dia pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Mario menganggap jika Abangnya setuju, dia pun menyuruh Tissa untuk masuk ke dalam mobil Abi. Akhirnya dengan terpaksa Abi pun mengantar Tissa pulang dahulu ke rumahnya.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva