NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Rasa Sesal IV

...----------------...

Di luar, badai belum mereda. Gemuruh petir sesekali membelah langit, membuat suasana malam itu terasa begitu mencekam. Angin kencang menghantam jendela rumah, menciptakan melodi yang getir dan melankolis. Namun, di dalam rumah, aroma kaldu daging yang gurih menyebar ke seluruh ruangan, memberikan secercah kehangatan yang kontras dengan kekacauan alam di luar. Astrid baru saja mengangkat panci dari atas kompor ketika ketukan di pintu depan memecah keheningan. Bunyinya pelan, ragu-ragu, seolah orang di luar sana sedang menimbang-nimbang apakah ia masih punya hak untuk menapakkan kaki di sana.

Astrid meletakkan sendok besarnya, lalu berjalan menuju pintu dengan langkah yang tidak terburu-buru namun penuh rasa ingin tahu. Saat pintu kayu itu terbuka, napasnya tertahan di tenggorokan. Di sana, di bawah guyuran hujan yang ganas, berdiri Arka. Pakaian kemeja putihnya sudah lecek dan kuyup, rambutnya basah menempel di dahi, dan penampilannya begitu berantakan, jauh dari sosok suami yang dulu penuh dengan wibawa dan kesombongan.

"Astrid... maafin gue, Strid," ucap Arka dengan suara yang gemetar hebat, air matanya bercampur dengan air hujan yang mengalir deras di wajahnya. "Gue bener-bener gak layak nemenin lu di sini, makanya mak..."

"Sssttt, diem," potong Astrid cepat. Suaranya tidak penuh amarah, melainkan sebuah otoritas yang menenangkan. Matanya berkaca-kaca, namun ia menolak untuk terlihat lemah di depan suaminya yang sedang hancur. "Jangan masuk dulu."

Astrid berbalik, mengambil handuk bersih dari jemuran di dekat pintu, lalu kembali ke depan Arka. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menangani sesuatu yang sangat rapuh. "Elap dulu di situ, jangan langsung masuk, nanti lantainya becek. Habis itu, langsung mandi air hangat biar nggak masuk angin. Aku nggak mau kamu sakit, Arka."

Arka mematung. Kebingungan menyelimuti otaknya yang penat. Ia menatap Astrid dengan pandangan kosong, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. "Apa maksud lu, Strid? Kenapa... kenapa lu masih baik sama gue? Gue udah hancurin semuanya, gue bikin lu susah, gue bodoh, gue... gue pengecut yang lari dari kenyataan!" Arka kembali terisak, bahunya berguncang hebat di bawah guyuran hujan yang masih menyentuh bagian luar tubuhnya.

"Udah, gausah banyak tanya. Mandi dulu sana, cepet!" perintah Astrid lembut namun tegas.

Arka masih ragu, kakinya seolah terpaku di ambang pintu. Ia merasa tidak pantas menerima kebaikan itu. Namun Astrid menatapnya tajam, sebuah tatapan yang memintanya untuk berhenti berdebat. "Jadi, mau masuk atau mau di luar aja? Mau gue tutup pintunya?"

Arka akhirnya melangkah masuk, lalu segera menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi yang pengap, ia membiarkan air hangat membasahi tubuhnya, mencoba mencuci bersih kotoran dan dosa yang ia rasakan. Ia memejamkan mata, membiarkan uap panas memenuhi ruangan. Ia sempat mengira Astrid akan mengusirnya, memaki, atau setidaknya mengabaikannya sebagai hukuman atas segala kebohongannya. Tapi kenyataannya? Istrinya itu justru bersikap seolah ia baru saja pulang kerja, bukan pulang dari kehancuran yang total.

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan baju rumahan yang tersedia, Arka menghampiri meja makan dengan langkah berat. Di sana, sudah tersedia sup daging yang mengepul dan segelas teh hangat yang aromanya menenangkan jiwa. Astrid duduk di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa kesal, lelah, namun juga cinta yang masih tersisa di balik luka.

"Duduk, makan," perintah Astrid singkat.

Arka duduk, namun tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia ingin segera membahas masalah investasi bodoh itu, ingin segera meluapkan segalanya. Namun, Astrid memotongnya. "Habisin dulu makanannya, baru kita bicara."

Arka patuh. Ia menyantap sup itu dengan lahap, merasakan kehangatan yang perlahan menjalar ke jiwanya. Setelah tandas, ia meletakkan sendoknya. "Makasih, Strid. Makanannya enak. Maaf buat semua ini."

Astrid menjawab dengan tenang, "Sama-sama. Lagian emang sudah tugas gue buat masak untuk seseorang yang lagi berjuang buat gue."

Arka terpaku, hatinya tersentuh. "Apa... apa lu nggak marah sama semua yang udah gue perbuat?"

Tiba-tiba, nada bicara Astrid berubah. Ada kilatan kekesalan yang jujur di matanya. "Ya marah lah! Lu tuh bego banget mudah dibohongin orang! Terus gue nggak suka ya, lu tiap hari ngilang gitu aja. Lu bilang kerja jam 7, tapi sudah ilang dari jam setengah 6. Gue tiap malam buatin lu makanan, masak sampai capek, tapi lu nggak pernah makan. Lu pulang kerja langsung ngurung diri di kamar!"

Astrid mengambil napas panjang, emosinya meluap. "Tapi yang paling gue nggak suka, ketika lu ngomong kalau gue nggak mau bantuin lu gapai kesuksesan, dan lu malah nuduh gue punya cowok lain. Inget ya, Arka! Gue emang cewek yang nggak baik karena hamil di luar nikah, tapi gue punya harga diri sebagai perempuan, sebagai istri!"

Mendengar kejujuran itu, pertahanan Arka benar-benar runtuh. Seolah ada beban seberat gunung yang terlepas dari pundaknya. Ia tidak lagi bisa menahan diri. Air matanya menetes satu demi satu, hingga akhirnya berubah menjadi tangisan tersedu-sedu. Ia menyadari betapa kejamnya ia selama ini, menuduh istrinya yang justru menjadi orang terakhir yang masih menunggunya dengan sepiring makanan hangat, meski di dalam hati wanita itu tersimpan luka yang tak terucapkan.

Arka terus menangis, memohon ampun dengan suara yang nyaris hilang. Astrid yang melihat suaminya hancur perlahan berdiri. Ia mendekat, lalu mendekap kepala Arka, menyenderkannya ke dadanya yang hangat. Ia mengusap kepala Arka dengan lembut, sebuah gerakan yang begitu romantis dan penuh ketulusan, sebuah pengingat bahwa di antara badai, masih ada pelabuhan yang aman.

"Udah, udah... aku maafin kok," bisik Astrid dengan suara yang lembut sekali. "Udah ya, nggak usah nangis lagi. Besok kita berjuang lagi. Kita berjuang buat masa depan dedek bayi ini, sama masa depan kita berdua. Aku nggak butuh Arka yang kaya raya, aku cuma butuh Arka yang jujur sama aku."

Arka memejamkan matanya, merasakan degup jantung Astrid di dadanya. Ia merasa seolah ditarik kembali dari ambang kematian emosional. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Astrid yang tampak begitu cantik meski lelah, lalu dengan perlahan ia memegang tangan istrinya dan mengecupnya dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.

"Makasih, Astrid. Terima kasih karena sudah menjadi wanita yang paling sabar di dunia ini. Gue janji, mulai besok, gue akan jadi pria yang layak buat lu dan anak kita. Gue akan bekerja apa pun itu, gue akan hargai setiap detik yang lu kasih buat gue."

Astrid tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan setelah sekian lama. Ia mengusap pipi Arka dengan jemarinya. "Aku percaya sama kamu. Sekarang, ayo istirahat. Kamu pasti capek sekali hari ini."

Mereka berdua berdiri, dan dalam sebuah momen yang sangat romantis, Arka memeluk Astrid dari belakang, merapatkan tubuh mereka seolah takut jika ia melepaskan, Astrid akan hilang terbawa badai di luar sana. Mereka berjalan menuju kamar dengan langkah yang serempak. Kamar itu terasa berbeda malam ini. Bukan lagi tempat persembunyian, melainkan tempat di mana mereka bisa memulai semuanya dari awal.

Setelah mereka berbaring di atas tempat tidur, Arka menatap Astrid dengan intens. "Strid, kalau saja besok dunia lebih kejam lagi, jangan pernah lepasin tangan gue ya?"

Astrid tersenyum kecil, lalu ia mendekatkan wajahnya ke dada Arka dan membiarkan suaminya mengusap rambutnya. "Selama kamu tetap jujur dan tetap berjuang bersama aku, aku tidak akan pernah melepaskan tangan kamu."

Arka membelai wajah Astrid, mengusap pelan pelipis istrinya yang masih menyisakan sisa kesedihan. Ia mencium kening Astrid dengan lembut, sebuah kecupan yang mengandung janji, penyesalan, dan harapan. "Terima kasih sudah memilih untuk pulang bersamaku malam ini, meski aku adalah orang yang paling menyebalkan di hidupmu."

"Kamu memang menyebalkan," Astrid terkekeh pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arka. "Tapi kamu adalah satu-satunya orang yang aku inginkan di sampingku saat badai datang."

Di tengah malam yang masih bergemuruh, Arka merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia sadar, kemewahan yang dulu ia kejar adalah sebuah ilusi yang tidak membawa kebahagiaan. Kebahagiaan sebenarnya adalah saat ia bisa mengakui kesalahannya, memohon maaf dengan tulus, dan diterima kembali oleh orang yang paling ia sakiti. Ia menarik selimut hingga menutupi pundak mereka berdua, lalu merangkul istrinya erat-erat.

Mereka berdua terdiam, menikmati keheningan yang kini terasa begitu manis. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tidak ada lagi tembok yang memisahkan. Hanya ada Arka dan Astrid, dua jiwa yang mencoba bertahan di tengah dunia yang tak selalu ramah. Arka berjanji dalam hatinya, ia tidak akan pernah lagi membiarkan istrinya merasa sendirian. Ia akan membangun kembali segalanya, bata demi bata, keringat demi keringat, demi senyuman yang kini ia lihat di wajah istrinya saat wanita itu mulai terlelap.

Malam itu terasa begitu panjang, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka tidak merasa takut akan hari esok. Ia tahu, selama Astrid ada di sisinya, ia bisa menghadapi apa pun. Badai di luar sana mungkin sedang mengamuk, namun di dalam kamar itu, ada cinta yang sedang dirajut kembali, sebuah cinta yang lebih kuat karena pernah retak dan diperbaiki dengan ketulusan. Arka mencium kening Astrid sekali lagi sebelum akhirnya ia sendiri tertidur, membawa mimpi-mimpi tentang masa depan yang lebih baik, masa depan di mana mereka tidak lagi harus bersembunyi dari realita, melainkan menghadapinya sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!