Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Gedung Utama
Pagi hari di mansion Arkan dimulai dengan kesibukan yang tidak biasa. Beberapa pelayan senior di bawah instruksi ketat Bi Asih tampak dengan sangat hati-hati memindahkan barang-barang milik Aisha dan Fatih dari paviliun belakang.
Tidak ada lagi daster katun usang atau tas kain murah dari masa lalu semua yang dipindahkan adalah perlengkapan bayi premium dan pakaian elegan yang dipersiapkan khusus oleh Adrian.
Aisha berdiri di koridor lantai dua gedung utama, mendekap Fatih di dalam gendongannya.
Di sampingnya, sebuah boks bayi kayu jati berukir indah yang posisinya kini bersinggungan langsung dengan kamar utama Adrian telah siap menyambut Kael dan Fatih.
Gedung utama ini dulunya terasa seperti istana es yang megah namun tak berjiwa bagi Aisha. Setiap lantai marmernya yang mengilat seolah memantulkan kesunyian yang mencekam.
Namun hari ini, saat ia melangkah masuk sebagai bagian resmi dari penghuni inti, kehangatan fajar yang menembus jendela kaca raksasa terasa begitu menyambut.
"Apakah kamarnya sesuai dengan keinginanmu, Aisha?"
Suara bariton yang akrab itu membuat Aisha menoleh. Adrian berdiri di ambang pintu penghubung antara kamar mereka.
Pria itu baru saja selesai bersiap untuk ke kantor, mengenakan kemeja abu-abu gelap tanpa dasi, memberikan kesan maskulin yang matang namun lebih santai.
Aisha tersenyum, matanya berbinar tulus.
"Ini jauh lebih dari cukup, Adrian. Kamar ini terlalu megah untuk saya dan Fatih."
Adrian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma segar kayu cendana dari tubuhnya merengkuh indra penciuman Aisha. Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut mengusap pipi Fatih yang sedang tertidur pulas, lalu beralih menatap lekat mata bulat jernih Aisha.
"Jangan pernah merasa tidak pantas, Aisha," ucap Adrian rendah namun penuh penekanan yang mutlak.
"Semua yang ada di rumah ini adalah milikmu sekarang, sama seperti bagaimana kamu telah menjadi pemilik dari ketenangan di dalam hidupku."
Siang harinya, setelah Adrian berangkat ke kantor, Aisha menghabiskan waktu di ruang keluarga lantai dua yang terhubung langsung dengan balkon besar. Kael dan Fatih diletakkan bersama di atas karpet bulu yang lembut.
Kael tampak sibuk menarik-narik ujung baju Fatih, sementara Fatih mengeluarkan celotehan khas bayi yang membuat seisi ruangan terasa begitu hidup.
Bi Asih masuk membawa nampan berisi camilan sehat dan segelas jus buah segar untuk Aisha.
"Nak Aisha, ada surat yang datang untuk Anda. Dikirim lewat kurir khusus kepolisian."
Aisha mengernyitkan keningnya, rasa cemas tipis sempat merayap di dadanya. Ia menerima amplop putih resmi tersebut dan membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan resmi bahwa seluruh berkas perceraiannya dengan Taufik telah diputus secara hukum oleh pengadilan agama dengan status inkracht mutlak dan tidak dapat diganggu gugat kembali, mengingat Taufik kini berstatus sebagai terpidana kelas berat.
Melihat lembaran kertas itu, Aisha mengembuskan napas panjang. Beban tak kasat mata yang selama bertahun-tahun merantai pundaknya kini benar-benar telah menguap tanpa sisa. Ia kini benar-benar wanita yang bebas.
"Ada apa, Nak?" tanya Bi Asih cemas melihat perubahan ekspresi Aisha.
"Tidak ada apa-apa, Bi," jawab Aisha dengan senyuman terbaiknya, air mata kebahagiaan menggenang di sudut matanya.
"Hanya... masa lalu saya yang benar-benar telah selesai hari ini."
Malam harinya, sebuah kejutan kecil telah disiapkan di ruang makan utama. Meja makan panjang yang biasanya hanya diisi oleh Adrian sendirian dengan keheningan yang kaku, kini ditata dengan indah. Lilin-lilin aromaterapi menyala hangat, memancarkan wangi lavender yang menenangkan.
Adrian pulang tepat waktu. Begitu melangkah masuk ke ruang makan, sudut bibirnya otomatis terangkat membentuk senyuman tipis saat melihat Aisha sudah duduk di sana, dengan dua boks bayi portabel di dekat mereka yang membiarkan Kael dan Fatih ikut berada di ruangan yang sama.
Makan malam berlangsung dengan suasana yang sangat intim. Tidak ada pembicaraan tentang bisnis, tidak ada intimidasi kasta, yang ada hanyalah obrolan hangat tentang tumbuh kembang kedua putra mereka.
Setelah makan malam selesai dan para pelayan telah mengundurkan diri, Adrian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Aisha. Ia mengulurkan tangan kanannya, meminta Aisha untuk berdiri.
Aisha menyambut uluran tangan kokoh itu. Adrian menuntunnya berjalan menuju balkon besar lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman luas mansion yang bermandikan cahaya lampu hias kekuningan. Angin malam yang sejuk berembus pelan, memainkan helai-helai rambut hitam Aisha.
Adrian membalikkan tubuh Aisha agar menghadapnya. Kedua tangannya yang besar kini merangkup pinggang Aisha dengan posesif namun penuh kelembutan.
"Aisha... status hukum mu sudah bersih, kontrak kerja kita pun sudah ku hancurkan," ucap Adrian, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Aisha dengan intensitas perasaan yang begitu dalam dan jujur.
"Sekarang, tidak ada lagi batasan kasta, tidak ada lagi sekat majikan dan pelayan di antara kita."
Adrian merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian tunggal yang berkilau murni terpampang di bawah sinar bulan.
"Aku tidak ingin menjadi pria yang hanya melindungi mu dari balik layar. Aku ingin menjadi suamimu, ayah resmi bagi Fatih, dan pria yang akan menggandeng tanganmu di depan dunia hingga akhir nanti," bisik Adrian, suaranya baritonnya bergetar oleh kesungguhan yang magis.
"Maukah kamu menikah denganku, Aisha?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aisha. Di bawah kesaksian langit malam yang bertabur bintang dan detak jantung pria yang teramat dicintainya, segala penderitaan masa lalunya kini telah dibayar tunai oleh kebahagiaan yang begitu sempurna.
Aisha menatap cincin itu, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adrian dengan air mata haru yang merebak indah. Ia mengangguk perlahan namun pasti. "Ya, Adrian... saya bersedia."
Saat Adrian menyematkan cincin itu di jari manisnya dan menarik tubuhnya ke dalam dekapan yang hangat dan posesif, sebuah kecupan manis mendarat di bibirnya mengunci janji takdir baru mereka yang kini telah utuh, selamanya.
---
TAMAT / END OF SEASON 2