NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Pagi yang Berbeda

Suara hujan sudah berhenti ketika Rubi perlahan membuka matanya.

Cahaya matahari pagi masuk melalui celah tirai besar kamar villa, membuat ruangan yang semalam terasa hangat kini dipenuhi sinar keemasan.

Untuk beberapa detik Rubi hanya menatap langit-langit.

Masih setengah mengantuk.

Lalu perlahan ingatannya kembali.

Villa.

Badai.

Dan...

Alexander.

Mata Rubi langsung membesar.

Ia refleks menoleh ke samping.

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Alexander masih tertidur.

Pria itu berbaring di sisi lain ranjang dengan posisi terlentang. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Tidak ada ekspresi dingin.

Tidak ada tatapan tajam yang sering membuat orang lain takut.

Hanya seorang pria yang sedang tertidur pulas.

Untuk pertama kalinya Rubi benar-benar memperhatikan wajah Alexander dari jarak sedekat ini.

Bulu mata pria itu cukup panjang.

Rahangnya tegas.

Dan meskipun terlihat tampan, ada bekas luka kecil di dekat pelipis yang jarang terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Rubi menatapnya cukup lama.

Sampai akhirnya sadar apa yang sedang dilakukannya.

"Ya ampun..."

bisiknya pelan.

Cepat-cepat ia memalingkan wajah.

Namun saat hendak bangun, sesuatu membuatnya berhenti.

Tangannya masih berada di atas tangan Alexander.

Rubi membeku.

Semalam ia ingat mereka berbicara sambil mengusap perutnya yang sedang aktif bergerak.

Tetapi ia tidak ingat kapan mereka tertidur.

Yang jelas sekarang tangan Alexander masih berada di atas perutnya.

Seolah pria itu tertidur sambil memastikan dirinya dan bayi tetap baik-baik saja.

Entah kenapa pemandangan itu membuat hati Rubi terasa hangat.

Sangat hangat.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara berat terdengar.

"Kau sudah bangun?"

Rubi langsung terkejut.

Alexander membuka mata.

Tatapan abu-abunya langsung bertemu dengan milik Rubi.

Dan untuk beberapa detik mereka saling diam.

Baru kemudian keduanya menyadari posisi tangan mereka.

Alexander menarik tangannya perlahan.

Sedangkan Rubi buru-buru duduk.

Pipinya terasa panas.

"P-pagi."

"Pagi."

jawab Alexander tenang.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal jantung Rubi hampir keluar dari tempatnya.

Setelah bersiap dan mandi, mereka turun ke ruang makan villa.

Beberapa pelayan sudah menyiapkan sarapan.

Ternyata sebagian anggota keluarga Dimitri juga masih menginap karena badai semalam.

Saat Rubi dan Alexander masuk bersamaan, beberapa orang langsung memperhatikan mereka.

Dan entah kenapa tatapan itu membuat Rubi merasa tidak nyaman.

Sampai ia mendengar suara seseorang.

"Sepertinya kalian tidur nyenyak."

Rubi langsung menoleh.

Kakek Dimitri.

Pria tua itu sedang duduk sambil menikmati teh pagi.

Tatapan matanya penuh arti.

Rubi hampir tersedak.

Sementara Alexander tetap tenang.

"Cuacanya mendukung untuk istirahat."

jawab Alexander datar.

Kakek Dimitri mendengus.

"Aku tidak bertanya kepadamu."

Rubi langsung menahan tawa.

Pria tua itu kemudian tersenyum kepada Rubi.

"Kau terlihat segar hari ini."

"Iya, Kakek."

jawab Rubi sopan.

"Syukurlah."

Kakek Dimitri tampak puas.

Dan entah kenapa, ekspresi puas itu membuat Rubi merasa kalau pria tua tersebut sedang salah paham tentang sesuatu.

Setelah sarapan, cuaca akhirnya membaik.

Sebagian besar keluarga mulai bersiap pulang.

Namun sebelum mereka pergi, Kakek Dimitri meminta Alexander dan Rubi menemuinya di ruang tamu villa.

"Kalian duduk."

kata pria tua itu.

Rubi langsung menurut.

Alexander juga duduk di sampingnya.

Kakek Dimitri memperhatikan mereka beberapa saat.

Lalu berkata,

"Aku sudah tua."

Kalimat pembuka yang membuat keduanya bingung.

"Tapi belum pikun."

lanjutnya.

Alexander menghela napas pelan.

Seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan.

Kakek Dimitri menunjuk mereka bergantian.

"Kalian jauh lebih baik sekarang."

Rubi langsung menunduk malu.

Sementara Alexander tetap diam.

Pria tua itu tersenyum.

"Dulu aku selalu khawatir."

"Kakek..."

Alexander mencoba menyela.

Namun tidak berhasil.

"Kau diam saja."

Alexander langsung berhenti bicara.

Rubi hampir tertawa melihatnya.

"Tapi sekarang aku lega."

lanjut Kakek Dimitri.

"Tidak peduli bagaimana awal pernikahan kalian, keluarga tetap keluarga."

Suasana mendadak menjadi lebih tenang.

Karena untuk pertama kalinya, kata-kata pria tua itu terdengar sangat tulus.

Dan Rubi tahu.

Di balik semua kekuasaan dan bisnis keluarga Dimitri, kakek tua ini hanya ingin melihat cucunya bahagia.

Satu jam kemudian mereka akhirnya meninggalkan villa.

Perjalanan menuju mansion berlangsung cukup tenang.

Rubi duduk di dekat jendela sambil menikmati pemandangan.

Sementara Alexander sedang membaca laporan kerja dari tabletnya.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Tidak lagi canggung seperti sebelumnya.

Justru terasa nyaman.

Seolah mereka sudah mulai terbiasa berada di dekat satu sama lain.

Sampai tiba-tiba...

Tap.

Rubi langsung memegang perutnya.

Alexander menoleh cepat.

"Ada apa?"

"Bayi bergerak."

Alexander langsung meletakkan tabletnya.

Dan refleks menatap perut Rubi.

Melihat reaksinya, Rubi tidak bisa menahan senyum.

"Dia aktif sekali hari ini."

Alexander terlihat berpikir.

Lalu perlahan mengulurkan tangan.

Meminta izin tanpa kata-kata.

Rubi tidak menolak.

Ia justru menggeser tangannya sedikit.

Membiarkan Alexander menyentuh perutnya.

Beberapa detik kemudian.

Tap.

Gerakan kecil itu kembali terasa.

Dan untuk pertama kalinya, Alexander benar-benar tersenyum.

Bukan senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

Tetapi senyum kecil yang nyata.

Rubi sampai terdiam.

Karena jujur saja...

Pria itu terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum.

Alexander yang menyadari dirinya sedang diperhatikan langsung kembali memasang wajah datar.

Namun sudah terlambat.

Rubi sudah melihatnya.

Dan senyum di bibir wanita itu semakin lebar.

Saat mereka tiba di mansion, para pelayan langsung menyambut.

Semua orang terlihat lega karena Tuan Muda dan Nyonya Muda kembali dengan selamat.

Namun di balik ketenangan itu, seseorang sedang mengamati mansion dari kejauhan.

Di dalam sebuah mobil hitam.

Pria yang sama seperti beberapa waktu lalu kembali muncul.

Matanya tertuju pada Rubi yang baru turun dari mobil.

Lalu berpindah kepada Alexander.

Senyum dingin perlahan muncul di wajahnya.

"Jadi benar."

gumamnya.

"Dia memang kelemahannya."

Pria itu menatap foto Rubi yang ada di tangannya.

Kemudian menyimpannya kembali.

"Kalau begitu permainan sebenarnya bisa dimulai."

Mobil hitam itu perlahan pergi meninggalkan area mansion.

Tanpa diketahui siapa pun.

Tanpa diketahui Rubi.

Dan tanpa diketahui Alexander.

Bahwa bahaya yang selama ini hanya berada di kejauhan kini mulai bergerak mendekat.

Sementara di dalam mansion, Rubi sedang tertawa karena sesuatu yang dikatakan kepala pelayan.

Dan Alexander berdiri tidak jauh darinya.

Memperhatikan wanita itu tanpa sadar.

Belum mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!