NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Semesta Sembilan Nether – Istana Tulang Keputusasaan.

Di ujung alam semesta yang tidak pernah disinari cahaya bintang, sebuah singgasana raksasa yang tersusun dari tengkorak para Dewa Sejati menjulang tinggi. Di atas singgasana itu, Shen Yu duduk dengan mata tertutup, satu tangannya menopang dagu.

Tiba-tiba, mata yang segelap malam tanpa bintang itu terbuka.

KRAK!

Gagang singgasana tulang di bawah cengkeramannya retak. Di lehernya, naga hitam kecil Mo Yuan mendesis marah, hidungnya berdarah setelah gerbang dimensi yang hampir dilewatinya tiba-tiba runtuh menimpa wajahnya.

"Grrr... Sialan! Energi macam apa itu tadi, Shen Yu?!" raung Mo Yuan melalui telepati. "Ruang dimensinya tidak hancur oleh ledakan sihir, tapi dipaksa menutup seolah-olah alam semesta sendiri yang memaku pintunya!"

Shen Yu menatap ke arah kehampaan, pandangannya menembus miliaran lapisan dimensi menuju planet fana tempat Shi Hao berada. Sebuah senyuman dingin yang mengerikan perlahan terbentuk di bibirnya.

"Dipaku... Kau menggunakan kata yang sangat tepat, Mo Yuan," bisik Shen Yu.

Dewa Iblis itu merentangkan tangannya, dan sisa-sisa fluktuasi dari Bumi Fana yang menetralkan altar Gui Feng muncul di udara dalam wujud ilusi. Ilusi itu memperlihatkan sebuah palu kayu kecil yang mengetuk pasak dengan ritme yang sangat santai, namun membawa distorsi Hukum Kemanusiaan (Mortal Dao) tingkat Kaisar Dewa.

"Dia tidak membakar Qi untuk menghancurkan altar kita," Shen Yu menyipitkan matanya. "Dia hanya memukul sepotong kayu, dan membiarkan Urat Nadi Bumi yang mengantarkan hukum kehancuran itu. Kesederhanaan yang melampaui segala kerumitan sihir. Shi Hao... kau benar-benar telah berevolusi menjadi sesuatu."

Shen Yu berdiri, jubah ungu gelapnya berkibar memancarkan aura kematian absolut yang membuat miliaran iblis di luar istananya bersujud gemetar.

"Jika jaring laba-laba tidak bisa menangkap sang naga, maka kita harus meminum seluruh danaunya," titah Shen Yu, suaranya menggema ke seluruh Sembilan Nether. "Kirimkan perintah kepada Tujuh Jenderal yang tersisa. Tinggalkan invasi parsial. Mulai hari ini, bangun Formasi Pemakan Surga (Heaven Devouring Formation) di perbatasan semesta kita. Kita akan menelan seluruh Alam Atas dan Alam Bawah sekaligus!"

Dunia Fana – Tepi Sungai Jernih, Desa Angin Lembut.

Matahari pagi bersinar hangat, memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan Sungai Jernih yang mengalir tenang. Burung-burung pipit bernyanyi di dahan pohon dedalu yang menjorok ke air.

Di tepi sungai, tiga sosok sedang duduk berjejer menikmati kegiatan fana yang paling melatih kesabaran: memancing.

Kakek Li duduk di sebelah kiri, menghisap pipa tembakaunya sesekali. Di sebelah kanan, Gou Dan duduk di atas batu besar, membawa joran pancing bambu mahal berlapis pernis dengan keranjang umpan cacing tanah yang gemuk.

Dan di tengah-tengah mereka, duduk Shi Hao. Dia mengenakan topi caping anyaman, mata kirinya tertutup kain putih. Joran pancingnya hanyalah sebatang ranting bambu biasa.

"Heh, si Buta A-Hao," ejek Gou Dan, membusungkan perutnya. "Memancing itu butuh mata yang jeli untuk melihat pelampung bergoyang! Mana mungkin kau bisa dapat ikan? Lihat aku, umpan cacingku ini khusus dibeli dari kota! Sekali lempar, ikan mas sebesar lengan pasti menyambar!"

Kakek Li terkekeh, menghembuskan asap tembakau. "Jangan sombong kau, Gou Dan. Ayahmu bilang kau belum dapat satu ikan pun sejak musim semi tahun lalu."

Shi Hao hanya tersenyum ramah, memutar-mutar joran bambunya dengan santai.

"Tidak apa-apa, Gou Dan. Aku memancing bukan untuk mencari ikan besar, tapi untuk mencari ketenangan batin," kata Shi Hao.

Shi Hao kemudian menarik tali pancingnya dari tanah untuk bersiap melemparnya ke sungai. Saat mata Gou Dan dan Kakek Li melihat ke arah kail Shi Hao, mereka berdua ternganga.

"BWAHAHAHA!" Gou Dan tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "A-Hao! Kau ini buta atau bodoh?! Kailmu lurus! Sebuah kawat kuningan yang lurus! Dan kau tidak memasang umpan apa pun di sana! Kau mau memancing ikan atau mau mencolok mata katak?!"

Kakek Li juga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. "A-Hao, mana ada ikan yang mau memakan kawat lurus tanpa umpan?"

Shi Hao meraba kail kawat tembaga yang sama sekali tidak dilengkungkan itu, lalu mengayunkannya perlahan. Tali pancingnya melayang di udara, dan ujung kail lurus itu jatuh menembus permukaan air tanpa menimbulkan riak suara sedikit pun.

"Jika ikannya memang ditakdirkan untukku, kail lurus tanpa umpan pun akan membuatnya rela melompat ke darat, Kakek Li," jawab Shi Hao dengan senyum misterius.

Di Dasar Sungai Jernih.

Air yang tampak tenang dari atas, ternyata menyembunyikan teror mengerikan di dasarnya.

Seekor monster berukuran raksasa sepanjang tujuh meter bersembunyi di balik lumpur dan bebatuan sungai. Makhluk itu menyerupai belut raksasa dengan sisik hitam tajam, insang yang memancarkan kabut racun, dan sepasang mata merah menyala.

Itu adalah Siluman Belut Darah Nether. Salah satu iblis yang lolos dari pembersihan malam sebelumnya dengan cara menyelam ke dasar urat air fana. Kultivasinya setara dengan Inti Emas (Golden Core) puncak. Bagi penduduk desa biasa, makhluk ini adalah bencana yang bisa menelan mereka dalam satu gigitan.

Siluman Belut itu sedang merayap naik, mencium aroma darah segar dari Gou Dan yang berada di atas batu.

"Hehehe... Manusia fana gemuk. Daging yang lezat untuk sarapan," batin siluman belut itu, bersiap melesatkan tubuhnya keluar dari air untuk menelan Gou Dan bulat-bulat.

Namun, tepat ketika siluman itu berenang mendekati permukaan... sebuah kawat tembaga lurus tanpa umpan turun dari atas, tergantung diam di dalam air.

Siluman Belut Darah itu awalnya mengabaikan kawat tersebut. Namun, ketika dia berenang melewatinya, sekelumit energi dari kawat itu tidak sengaja tersentuh oleh kumis nya.

DEG!

Waktu di dasar sungai seolah membeku.

Melalui kawat lurus itu, siluman belut tersebut merasakan fluktuasi energi yang menembus garis keturunan iblisnya, mengalirkan gambaran mengerikan langsung ke dalam otaknya. Dia melihat ilusi seorang Pria Bermata Ketiga Emas yang menghapus Jenderal Long Tu menjadi abu, lalu membelah altar Gui Feng hanya dengan ketukan palu.

Siluman Belut Darah itu mendadak berhenti berenang. Tubuhnya yang raksasa kaku sekeras batu. Matanya yang merah menyala membelalak dipenuhi ketakutan yang hampir membuat Inti Emas-nya meledak.

"P-P-Pria itu... Pria menakutkan itu ada di atas sana?!" jerit jiwa siluman belut itu. "Dia... dia sedang memancing?! Menggunakan kail lurus tanpa umpan?!"

Siluman itu tahu betul apa arti kail lurus ini. Ini bukan memancing ikan. Ini adalah pengadilan dari surga! Sang Kaisar Asura sedang melepaskan jaring karmanya. Jika makhluk di sungai ini mencoba kabur, auranya pasti akan terdeteksi dan tombak kematian itu akan menghapus keberadaannya dari Samsara!

Satu-satunya cara agar jiwanya tidak terhapus menjadi ketiadaan adalah... menyerahkan diri dengan patuh.

Dengan sisa-sisa keputusasaan yang menggelikan, Siluman Belut Darah Nether itu memfokuskan Qi Inti Emas-nya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk menggunakan sihir Penyusutan Tubuh (Body Shrinking Spell).

Tubuhnya yang sepanjang tujuh meter dengan cepat menyusut, sisik tajamnya dilepaskan paksa, racunnya dinetralkan sendiri, hingga wujudnya berubah menjadi... seekor Ikan Mas fana biasa berukuran sebesar paha orang dewasa.

Ikan Mas (mantan Siluman Belut) itu kemudian berenang dengan kecepatan penuh ke arah kail lurus Shi Hao, lalu membuka mulutnya lebar-lebar, dan secara harfiah menusukkan bibirnya sendiri ke ujung kawat lurus itu dengan gigih.

Di Atas Pohon Dedalu (Kejauhan).

Kelima Penjaga Teratai sedang bersembunyi sambil memantau keadaan sungai. Ketika mereka melihat Shi Hao melemparkan kail lurus tanpa umpan, mereka semua menahan napas.

"Kail lurus tanpa umpan..." Lu Bai gemetar, matanya memancarkan cahaya pencerahan (Enlightenment). "Tuan Besar tidak memancing ikan fana. Beliau sedang memancing... Karma!"

"Kak Lu Bai, lihat ke dasar air!" bisik Hong Hua, menggunakan visi spiritual tingkat Soul Transformation-nya. "Ada sisa-sisa Siluman Belut Darah Nether di bawah sana! Makhluk itu ingin menyerang penduduk desa!"

Hei Gen sudah mencabut belatinya, bersiap melesat. "Tikus kotor! Aku akan memotongnya!"

"Tahan!" Lu Bai menahan bahu Hei Gen. "Lihat apa yang terjadi!"

Di bawah pandangan spiritual lima pembunuh elit itu, kejadian paling absurd sepanjang sejarah kultivasi terjadi. Siluman Belut Darah yang ganas itu ketakutan setengah mati, menyusutkan wujudnya menjadi ikan mas fana, lalu dengan sukarela menusukkan mulutnya sendiri ke kail lurus milik Shi Hao.

Kelima elit itu langsung duduk bersila sambil memegangi kepala mereka, merasa pemahaman Dao mereka hancur lebur lalu disusun ulang secara paksa.

"M-Menaklukkan musuh tanpa bertarung..." gumam Shui Di dengan mata berkaca-kaca. "Membuat iblis kejam mengubah wujud dan menyerahkan nyawanya secara sukarela hanya dengan sebuah kawat lurus... Inilah yang disebut 'Kehendak Surga Tidak Bisa Dihindari'!"

"Tuan Besar... kebijaksanaannya melampaui dewa para dewa," puji Jin Yu sambil menggigit ujung bajunya karena takjub.

Tepi Sungai Jernih.

Shi Hao tiba-tiba merasakan tarikan kuat dari joran bambunya.

"Oh? Sepertinya takdir sudah datang, Kakek Li," senyum Shi Hao melebar.

Gou Dan mendengus. "Paling-paling kailmu menyangkut di dahan kayu lapuk di dasar sungai, si Buta!"

Dengan lambaian tangan kiri yang lembut, Shi Hao menarik jorannya ke atas.

BYURRR!

Air sungai terbelah. Seekor Ikan Mas raksasa berwarna keemasan, sebesar paha manusia dewasa dan sangat gemuk, melesat keluar dari air dan mendarat tepat di keranjang anyaman di sebelah kaki Shi Hao. Ikan itu menggelepar pelan, lalu diam sepenuhnya, menerima takdirnya menjadi makan malam dengan sangat pasrah (bersyukur setidaknya jiwanya tidak dihapus).

Gou Dan melompat dari atas batu, jorannya jatuh ke air. Matanya nyaris copot dari kelopaknya.

"A-A-APA?!" teriak Gou Dan histeris, menunjuk ke arah keranjang. "I-Ikan Mas Raja?! Dengan kail lurus?! T-Tanpa umpan?! BAGAIMANA BISA?!"

Kakek Li saking terkejutnya sampai lupa menghisap pipa tembakaunya, membuat apinya padam sendiri. "Astaga naga... A-Hao, kau... kau ini reinkarnasi Dewa Sungai atau apa?!"

Shi Hao meraba ikan besar itu, lalu tersenyum puas.

"Ikan yang sangat bagus. Dagingnya pasti sangat padat dan kenyal," kata Shi Hao polos, memanggul keranjangnya. "Sudah kubilang, Gou Dan. Terkadang, ikan itu sendiri yang ingin ditangkap jika kita menunggu dengan sabar."

Shi Hao berdiri, membersihkan celana raminya dari debu, lalu mengangguk hormat ke arah mereka berdua.

"Matahari sudah mulai tinggi. Istriku pasti sedang menunggu bahan untuk membuat sup ikan pedas. Aku pamit duluan, Kakek Li, Gou Dan. Semoga kalian beruntung dengan cacing gemuk itu."

Shi Hao berjalan tertatih menjauhi sungai, meninggalkan Gou Dan yang masih menjambak rambutnya sendiri frustrasi, mencoba memahami logika alam semesta yang baru saja menghinanya secara telak.

Di kejauhan, Lu Bai dan kawan-kawannya membungkuk hormat ke arah punggung Shi Hao yang berjalan pulang, sambil membuat catatan mental baru tentang "Teknik Memancing Karma Tingkat Asura."

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!