Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Mendengar bisikan merayu dan sentuhan berani dari Nada, Kelvin seketika membeku di tempatnya berdiri. Jakunnya naik-turun dengan cepat saat ia mencoba menahan gejolak gairah yang mendadak kembali menyergap dadanya. Daun telinga sang CEO agung perlahan berubah merah padam karena salah tingkah, membuktikan bahwa topeng dingin yang ia kenakan sore ini sama sekali tidak berguna di hadapan pesona Denada.
Jangan banyak tingkah, Denada. Cepat minum," ucap Kelvin ketus.
Suara baritonnya sengaja ditekankan sedalam mungkin untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak berantakan. Ia bahkan melepaskan cengkeraman tangan Nada di pergelangan tangannya dengan gerakan kaku, mencoba menegakkan kembali benteng pertahanannya yang hampir runtuh karena rayuan sang istri.
Mendengar penolakan dingin itu, Nada tidak kehilangan akal. Ia justru langsung memundurkan tubuhnya kembali ke atas tumpukan bantal. Kedua tangannya dilipat di depan dada, wajah cantiknya dipalingkan ke arah jendela, dan bibirnya mengerucut sebal dalam sebuah rajukan yang sangat kentara.
"Ya sudah, kalau Mas Kelvin tidak mau, aku juga tidak mau minum susunya," gerutu Nada dengan nada suara yang sengaja dibuat merajuk dan manja. "Biar saja badanku tetap kedinginan dan kepalaku pening lagi. Nanti kalau Mama atau Eyang masuk dan melihat susu ini masih utuh, aku tinggal bilang kalau Mas Kelvin yang galak dan tidak mau mengurusku."
Kelvin seketika membeku. Ia menatap istrinya yang sedang mogok dengan dahi berkerut dalam. Kata-kata ketus yang sudah mengantre di tenggorokannya mendadak menguap begitu saja. Kelvin benar-benar kehilangan kata-kata. Menghadapi Denada yang mode merajuk seperti ini jauh lebih menyulitkan daripada menghadapi puluhan demonstran atau negosiasi bisnis di kantor.
Jika ibunya atau Eyang Arka sampai tahu Nada kembali sakit karena ia tidak mau menemani, Kelvin yakin dirinyalah yang akan disidang habis-habisan nanti malam.
Sambil mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa pasrah dan kekalahan mutlak, Kelvin mengacak rambutnya ke belakang dengan gusar. Ego tingginya lagi-lagi harus tumbang di tangan wanita ini.
"Cukup, Denada. Jangan mulai mengancamku," ujar Kelvin akhirnya, suaranya terdengar pasrah. Ia melangkah mendekati sisi ranjang, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di tepi kasur, tepat di samping Nada. "Aku akan menemanimu di sini. Sekarang, habiskan susumu."
Mendengar kepatuhan suaminya, binar kemenangan seketika melintas di mata Nada. Ia langsung menoleh dengan senyuman manis yang mengembang sempurna, seolah rasa kesal dan peningnya menguap dalam sedetik.
"Nah, begitu dong, Suamiku yang tampan," ucap Nada riang.
Dengan patuh, Nada meraih gelas susu hangat di atas nakas dan meminumnya hingga tandas tanpa bantahan sedikit pun. Ia meletakkan kembali gelas kosong itu, lalu menatap Kelvin dengan tatapan menuntut janji.
Kelvin tidak menyahut, ia hanya mendengus pelan melihat bagaimana cepatnya perubahan suasana hati istrinya. Pria itu menggeser tubuhnya, ikut naik ke atas ranjang berukuran king size tersebut dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Tanpa membuang kesempatan, Nada langsung memiringkan tubuhnya. Ia merapatkan tubuh rampingnya masuk ke dalam dekapan Kelvin, menyurukkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami yang terasa begitu kokoh dan hangat. Kedua lengan rampingnya melingkar erat di pinggang Kelvin, memeluknya dengan sangat posesif seolah enggan melepaskannya.
Kelvin sempat menegang saat merasakan kehangatan tubuh Nada yang langsung mengunci pergerakannya. Namun, wewangian vanila yang menenangkan dari rambut Nada perlahan-lahan merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Tangan kekar Kelvin yang awalnya kaku di atas selimut, perlahan bergerak turun, melingkari bahu mulus Nada dan mendekapnya dengan lembut.
Di dalam keheningan kamar yang mulai temaram oleh cahaya sore yang meredup, keduanya larut dalam kehangatan pelukan di atas ranjang yang sama. Kelvin mengira ia sedang melindungi istrinya yang baru sembuh, tanpa ia sadari bahwa dirinya telah melangkah semakin dalam ke dalam jerat malam yang dipasang manis oleh Denada.