Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.
Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.
Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.
Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
Bertahan… atau melepaskan?
Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Terlihat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Untuk pertama kalinya, kapten basket berperawakan tinggi itu gagal mendarat dengan sempurna.
Ketika melompat tinggi untuk memasukkan bola, bahu pemain lawan menghantam sisi tubuhnya. Siku itu mengenai tepat pada lebam yang tercipta semalam. Napasnya terputus seketika dan pandangannya goyah. Begitu mendarat, lututnya gagal menopang tubuh. Bintang pun ambruk keras ke lantai.
Permainan berhenti.
Keadaan semakin kacau begitu mereka yang ada di sekitaran tempat itu mulai menggerakkan kaki ke lokasi Bintang terbaring.
Biru menjadi orang pertama yang meraih Bintang dan mendapatinya sudah tidak sadarkan diri. Ditepuknya pipi berlesung pipi itu beberapa kali, tetapi si pemilik tidak merespon.
“Gue minta maaf. Gue nggak ada maksud buat celakain Bintang.” Permohonan itu melesat dari bibir pemain yang tadi berusaha menggagalkan kapten basket ini untuk mencetak skor.
“Nggak apa-apa, Senior. Jangan khawatir,” balas Biru mewakili kakaknya. “Tolong bantu aku bawa Kak Bintang ke UKS,” lanjutnya dan dengan mudah mendapat persetujuan dari siswa itu.
Dengan bantuan beberapa pemain lain, tubuh Bintang berhasil dievakuasi ke atas ranjang pesakitan
...***...
“Gue benar-benar minta maaf.”
Suara senior tadi berbaur dengan suara kipas dalam ruang kesehatan ini. Lagi-lagi, ia mengatakannya seraya menunduk dalam. Rasa bersalah begitu jelas tampil di wajah rupawannya.
Biru meraih pundak pemuda bernama panggilan Sagara itu selagi senyumnya merekah, “Kak Saga tenang aja. Kak Bintang baik-baik saja, kok. Kakak nggak perlu khawatir.”
Biru, Aluna, dan Alea mengikuti kemana arah pandang mata Sagara yang sendu. Sosok yang terbaring dengan kelopak yang masih tertutup menjadi tumpuan netranya dalam beberapa detik.
“Kalian kembali ke kelas saja. Biar aku dan Aluna yang menjaganya sampai dia sadar,” pinta Alea selagi mengecek jam di pergelangan tangan.
Dua pemuda itu mengangguk kecil, lalu pamit dari sana. Sepeninggal mereka, Alea ijin untuk pergi ke toilet. Menyisakan Aluna dan Bintang untuk berbagi ruangan yang sama.
Keheningan yang tak sepenuhnya tenang pun hadir.
Menoleh dan memandang kasihan pada Bintang dari tempatnya yang berjarak, membuat Aluna menelan ludah. Jantungnya pun kembali berdegup tidak biasa.
Bersama rasa bimbang yang bergelayut dalam dada, Aluna mulai mengikis jarak. Ada hal yang ingin ia cari tahu tentang sosok Atmadja ini.
“Dia tidur atau pingsan, sih?” monolog batinnya begitu mendapati wajah tenang dan menggemaskan Bintang.
Tanpa Aluna sadari, senyum tipis lahir di birai merah mudanya.
Teringat kalau bukan itu tujuannya, Aluna akhirnya mengamati jersey Navira Laurelwings bernomor 23 yang melekat pada tubuh itu. Semakin lama ia mengamati, maka semakin cemas ia dibuatnya.
Dengan tekad yang dikuatkan dalam kepalan tangan, Aluna menarik dan menghembuskan napas berat.
Ada jawaban yang bersembunyi di balik kain itu.
Aluna mengangkat tangan kanannya. Meski sedikit bergetar, ia perlahan mengarahkannya pada kain yang dianggap mudah untuk disibakkan.
“A-luna?”
Aluna terkejut bukan main manakala suara serak Bintang tiba-tiba terdengar. Tangannya yang barusan diam-diam menjalankan aksi secara spontan bersembunyi.
“A-apa kamu pusing?” tanya Aluna sedikit gelagapan dan segera meraih lengan Bintang yang terangkat guna memegang kepala yang terasa berputar.
Bintang mengangguk lemah. Untuk sesaat, dia diam selagi menutup mata dan menekan pelipis kanan menggunakan ujung jempol.
“Apa lagi yang sakit?”
“Tidak ada,” lirihnya.
Merasa lebih baik, Bintang berusaha mengubah posisinya menjadi duduk dengan bantuan Aluna. Punggungnya yang selalu tegap kini bersandar pada bantal yang diletakkan pada kepala ranjang.
“Masih pusing banget, ya?”
Pemuda itu menoleh dan tersenyum. “Sudah nggak,” jawabnya.
Dua tepukan ringan Bintang pada kasur menjadi isyarat halus bagi Aluna untuk duduk di sana.
“Syukurlah,” ucap Aluna pun menempatkan diri di sebelah Bintang.
Setelahnya, mereka saling diam.
Masih di posisi duduk menghadap Bintang, Aluna berusaha menekan rasa ingin tahu yang tadi nyaris terjawab. Kepalanya menunduk, sementara jemarinya sibuk mengusik kuku sendiri. Dari gesture kecil itu, tentu saja Bintang menyadarinya.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Aluna mengangkat kepala dan menggeleng kecil.
Bintang menahan pandangannya pada Aluna. Sorot matanya tidak menekan, justru terlalu lembut untuk dihindari.
“Lo sedang sembunyiin sesuatu,” lanjut Bintang. “Kenapa, eum?”
Pandangan Aluna turun sesaat. Setelah hembusan napas halus, ada jeda kecil sebelum ia menjawab, “Aku nggak sengaja lihat lebam di perutmu saat Biru dan yang lain membawamu kesini. Aku hanya mau memastikan. Jadi, sebelum kamu sadar tadi aku ingin melihatnya sendiri. Maaf, ya, karena sudah lancang.”
Aluna menggigit bibir bawahnya ketika netra Bintang tak bergeser sedikit pun. Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang tak bisa Aluna artikan.
“Jadi, lo sudah lihat?”
Aluna mengangguk ragu. “Tidak sengaja,” suaranya mengecil di akhir kalimat.
Jawaban Aluna berhasil mencuri senyum Bintang. Membuat lesung pipi di kedua pipinya menyapa manis.
Bintang meraih tangan Aluna dan berkata, “Nggak apa-apa. Itu bukan masalah besar.”
Aluna melihat sekilas ibu jari Bintang yang mengusap-usap tangannya.
“Apa …,” gantungnya selagi menatap kembali mata Bintang. “... orang-orang waktu itu yang melakukannya lagi?”
Bintang menggeleng. “Bukan.”
Aluna menunduk. Isi kepalanya tiba-tiba sibuk memikirkan sesuatu yang membuatnya termenung dalam balutan kecemasan.
Bintang pun mengeratkan genggamannya pada tangan Aluna. Paras tampan yang selalu memberinya kesan sebagai manusia yang hangat menampilkan kesungguhan yang menjanjikan.
“Lo nggak perlu khawatir seperti itu, Aluna. Masalahnya sudah selesai, kok.”
“Tolong jaga dirimu baik-baik, Bintang. Aku takut kamu bakalan terluka lebih dari ini,” ingat Aluna dengan halus juga hati-hati.
“Iya. Gue bakalan lebih hati-hati lagi kedepannya. Sudah, ya … jangan sedih kayak gini, eum.”
Sebuah usapan di ujung kepala Aluna mengakhiri kalimat Bintang yang keluar dari bibir yang tersenyum. Meski Aluna masih sesak oleh rasa cemas, tapi aksi itu berhasil membawa kehangatan dalam dada.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya mata mereka yang saling terhubung di antara napas yang saling terdengar.
Terlalu dekat untuk dianggap biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...