NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYUSUPAN DAN KEBENARAN YANG TERBONGKAR

Setelah berjalan cukup lama di dalam kegelapan dan air yang mengalir, akhirnya mereka sampai di ujung saluran itu. Air yang tadinya deras perlahan berkurang, dan di depan sana terlihat cahaya remang-remang yang berasal dari celah-celah dinding. Dengan gerakan hati-hati dan suara yang dibuat sehalus mungkin, mereka keluar dari saluran itu dan menapakkan kaki di lantai yang kering. Pakaian mereka basah kuyup dan terasa dingin menembus kulit, tapi itu tidak menjadi halangan sedikit pun bagi mereka. Yang ada di dalam pikiran mereka hanyalah satu hal: bergerak maju dan menghentikan segala kejahatan yang sedang direncanakan.

Mereka kini berada di bagian belakang bangunan, di ruangan yang tampaknya berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang dan peralatan. Tempat itu sunyi, tidak ada orang yang terlihat lewat di sana, membuat mereka merasa sedikit lega, tapi mereka tetap tidak lengah. Mereka tahu, tempat ini adalah pusat kekuasaan orang yang mereka cari, dan setiap sudutnya pasti dijaga dan dipantau dengan ketat.

“Kita harus bergerak pelan dan selalu bersembunyi,” bisik Raka dengan suara yang hanya bisa didengar oleh teman-temannya saja.

“Jangan membuat suara sedikit pun, dan kalau ada apa-apa, langsung bersembunyi di tempat yang aman. Kita belum tahu persis keadaan di dalam sini, jadi kita harus waspada sepenuhnya.”

Semua mengangguk setuju. Mereka bergerak berbaris, Raka berjalan di paling depan sebagai pemandu dan pelindung, di sebelahnya ada Alana yang selalu mengawasi keadaan di sekeliling, diikuti oleh Gubernur William dan Rian di bagian belakang. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong yang panjang, dinding-dindingnya terbuat dari batu yang kokoh dan dihiasi dengan lampu-lampu yang menerangi sepanjang jalan. Suasana di dalam sana terasa dingin dan sunyi, hanya ada suara langkah kaki mereka sendiri yang terdengar, seolah tempat ini sudah lama dihuni oleh kesunyian dan kegelapan.

Semakin jauh mereka berjalan masuk, semakin jelas terlihat betapa luas dan megahnya bangunan ini. Ruangan-ruangan yang mereka lewati berukuran besar, perabotannya terbuat dari bahan-bahan yang mahal dan indah, menunjukkan bahwa orang yang tinggal di sini memiliki kekayaan dan kekuasaan yang sangat besar. Tapi di balik kemegahan itu, ada kesan yang menakutkan dan tidak menyenangkan, seolah setiap sudut tempat ini menyimpan rahasia kelam dan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas diketahui orang lain.

Setelah berjalan cukup jauh, dari ujung lorong terdengar suara orang-orang yang sedang berbicara. Mereka segera bersembunyi di balik tiang besar, mengintip dari baliknya untuk melihat apa yang terjadi. Di sana, ada dua orang penjaga yang sedang berdiri dan bercakap-cakap, sepertinya sedang bertugas menjaga jalan masuk menuju bagian tengah bangunan.

“Kau tahu tidak, apa sebenarnya yang sedang dikerjakan Tuan Hendra sampai ia memanggil semua orang dan melarang siapa pun mendekati ruangan utama?” tanya salah satu dari mereka dengan nada penasaran.

“Entahlah, aku juga tidak tahu persisnya,” jawab yang satunya sambil menghela napas panjang.

“Yang aku dengar saja, ia sedang menyiapkan sesuatu yang akan membuatnya menjadi orang yang paling berkuasa di seluruh negeri ini. Tapi sejujurnya, aku merasa tidak nyaman dengan semua ini. Dulu aku pikir ia adalah orang yang baik dan adil, tapi lama-kelamaan aku melihat banyak hal yang membuatku meragukannya. Banyak orang yang hilang atau mati secara misterius, dan semuanya ada hubungannya dengan perintah-perintahnya.”

“Kau benar sekali. Aku juga merasakan hal yang sama. Kita bekerja untuknya karena kita mengira kita sedang melakukan hal yang benar, dan karena kita butuh nafkah untuk keluarga kita. Tapi sekarang aku jadi takut, rasanya kita seperti sedang membantu melakukan hal-hal yang salah, dan kita bisa ikut menanggung akibatnya nanti.”

Mendengar percakapan itu, hati mereka merasa sedikit lega. Ternyata tidak semua orang yang ada di sini benar-benar setia atau tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Banyak dari mereka yang hanya mengikuti perintah karena terpaksa atau karena tidak tahu apa-apa.

Raka kemudian memberi isyarat kepada yang lain, dan mereka bergerak perlahan melewati tempat itu saat kedua orang penjaga itu sedang membelakangi dan tidak memperhatikan sekeliling. Berkat kehati-hatian dan keberuntungan, mereka bisa lewat tanpa terlihat sama sekali.

Setelah melewati lorong itu, mereka sampai di sebuah tangga besar yang menuju ke lantai atas. Dari atas sana, terdengar suara langkah kaki yang banyak dan juga suara orang yang berbicara dengan nada yang tegas dan berwibawa. Suara itu sangat mereka kenal, itu adalah suara Hendra.

Mereka segera memanjat tangga itu dengan hati-hati, dan sampai di bagian atas, mereka bersembunyi di balik dinding tebal yang ada di dekat ruangan dari mana suara itu berasal. Melalui celah-celah kecil, mereka bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Ruangan itu sangat luas dan tinggi, di tengahnya ada sebuah meja besar dan berbagai macam peralatan yang terlihat asing dan berbahaya. Di bagian paling depan, berdiri seorang laki-laki yang berbadan tegap, berambut putih, dan wajahnya terlihat tegas serta penuh wibawa. Itulah Hendra. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang berdiri dengan sikap hormat dan takut, mendengarkan apa yang ia katakan.

“Semua sudah berjalan sesuai rencana,” tutur Hendra dengan suara yang keras dan jelas.

“Segala hal yang aku siapkan selama puluhan tahun ini akhirnya akan membuahkan hasil. Besok malam saat bulan purnama tiba, semuanya akan sempurna. Dan saat itu juga, tidak ada seorang pun yang bisa melawanku lagi. Aku akan menjadi penguasa yang mutlak, dan segala sesuatu di negeri ini akan berada di bawah kekuasaanku sepenuhnya.”

“Tapi Tuan, ada kabar yang kami dapatkan,” beritahu salah seorang orang yang ada di depannya dengan nada ragu-ragu. “Raka dan orang-orang yang bersamanya itu diketahui sudah berangkat menuju ke sini. Kami sudah menyiapkan segala rintangan untuk menghentikan mereka, tapi sampai sekarang kami belum mendapatkan kabar bahwa mereka sudah binasa atau kembali. Kami khawatir kalau-kalau mereka berhasil sampai ke sini.”

Mendengar itu, wajah Hendra berubah menjadi marah dan matanya memandang tajam orang yang baru saja berbicara itu.

“Dasar orang-orang yang tidak berguna!” bentaknya dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.

“Sudah kubilang, mereka itu hanyalah orang-orang yang tidak berarti dan tidak berdaya. Bagaimana bisa mereka masih bisa bertahan dan terus berjalan? Tapi tidak apa-apa. Biarkan saja mereka datang. Kalau mereka berani sampai ke sini, maka mereka akan melihat sendiri kekuatan yang akan aku miliki, dan mereka akan menyesal seumur hidupnya karena telah berani melawanku. Mereka akan menjadi saksi bagaimana aku mencapai puncak kekuasaan, dan kemudian mereka akan menjadi korban pertama dari kekuatan itu.”

“Tapi kenapa Tuan melakukan semua ini?” tanya orang itu lagi dengan suara yang bergetar.

“Selama ini Tuan dihormati, dihargai, dan memiliki kedudukan yang tinggi. Kenapa Tuan masih menginginkan lebih dari itu, sampai rela melakukan segala cara, sampai merugikan dan menyakiti banyak orang?”

Hendra tertawa keras, suara tawanya terdengar dingin dan tidak ada rasa senang sedikit pun di dalamnya.

“Kau tidak mengerti apa-apa! Selama ini semua yang aku miliki itu tidak cukup! Selama ini aku harus bersembunyi di balik bayangan orang lain, aku harus berpura-pura menjadi orang yang baik dan benar, padahal aku yang sebenarnya yang berhak mendapatkan segalanya! Dulu, orang tua dan leluhurku adalah orang-orang yang memegang kekuasaan tertinggi, tapi mereka digulingkan dan disingkirkan dengan alasan yang tidak jelas. Dan sekarang, aku datang untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku dan milikku sendiri! Semua orang yang pernah merendahkan dan menyakiti keluargaku, dan semua orang yang menghalangi jalanku, semuanya harus binasa!”

“Tapi itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, Tuan,” kata orang itu lagi.

“Orang-orang yang terlibat di dalamnya sebagian besar sudah tiada, dan orang-orang yang ada sekarang ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Kenapa kau harus melampiaskan semuanya kepada mereka yang tidak bersalah?”

“Karena mereka menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku!” bentak Hendra lagi.

“Mereka hidup dengan tenang dan bahagia, sedangkan aku harus hidup dalam kesulitan dan rasa sakit yang tidak pernah berakhir. Mereka semua harus merasakan apa yang aku rasakan, mereka semua harus membayar semuanya itu! Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku, tidak ada siapa pun!”

Setelah mengatakan itu, Hendra memberi isyarat, dan orang yang baru saja berani bertanya itu langsung ditangkap dan dibawa pergi. Ia berteriak-teriak meminta pertolongan, tapi tidak ada yang berani menolongnya. Melihat kejadian itu, hati mereka yang bersembunyi di luar sana terasa semakin sedih dan marah. Mereka akhirnya tahu alasan di balik segala perbuatan jahat yang telah dilakukan Hendra. Ia melakukan semua itu bukan karena kebenaran atau keadilan, tapi hanya karena rasa dendam dan keserakahannya sendiri. Ia membenci seluruh dunia hanya karena apa yang pernah menimpa dirinya dan keluarganya di masa lalu, dan ia tidak peduli berapa banyak orang yang harus menderita atau binasa hanya demi memuaskan keinginannya sendiri.

“Ini benar-benar tidak masuk akal,” bisik Rian dengan suara yang penuh rasa kesal. “Ia hanya memikirkan dirinya sendiri saja, dan ia menganggap orang lain itu tidak ada artinya sama sekali. Selama ini aku dan kakakku berjuang untuk orang seperti ini, sungguh kami benar-benar buta dan salah langkah.”

“Dan inilah bahayanya memendam rasa benci dan dendam terlalu lama,” ucap Gubernur William dengan nada yang berat.

“Perasaan itu perlahan-lahan akan memakan habis hati dan pikiran seseorang, sampai ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Ia sudah tidak lagi menjadi manusia yang memiliki perasaan dan hati nurani, ia hanya menjadi makhluk yang dipenuhi oleh amarah dan keinginan untuk menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.”

“Kalau begitu, kita tidak bisa membiarkan ia terus melakukan semuanya ini,” kata Alana dengan suara yang tegas. “Ia sudah gila dan tidak bisa diajak bicara lagi. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan membongkar rencananya, dan membuatnya bertanggung jawab atas segala kesalahannya.”

“Benar sekali,” tutur Raka. “Tapi kita harus bergerak dengan sangat hati-hati. Ia dikelilingi oleh banyak orang dan senjata, dan tempat ini sudah disiapkan sedemikian rupa supaya sulit untuk ditembus. Kita harus mencari kesempatan yang tepat, dan bertindak secepat mungkin sebelum semuanya terlambat.”

Mereka kemudian bergerak mundur perlahan, mencari tempat yang aman untuk merencanakan langkah selanjutnya. Mereka tahu, perjalanan mereka belum selesai, dan tantangan terbesar baru saja akan dimulai. Tapi mereka juga tahu, selama mereka bersatu dan memegang teguh kebenaran, mereka akan memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi apa saja yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!